Memories Of Mother

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 10 October 2014

Seperti biasa. Di malam seperti ini. Seperti malam-malam yang telah lalu. Ada saja yang mengingatkan tentang mu. Tentang bagaimana kau mengajari ku di dunia yang fana ini. Tentang semua cara yang bisa membuat aku tenang dalam menghadapi sebuah perasaan yang sedang mengganjal.

Ya Allah, sudah berpuluh-puluh hari aku merindu kembali. Setelah kepergiannya, duniaku tanpanya berbeda. Tak seperti biasanya. Duniaku seperti sehelah kapas yang bertebrangan. Hampa.

Ya Allah, izinkan hambaMu ini untuk terus mengadu, mencurahkan segala kepenatan dunia yang kurasa tiada berguna tanpaMu. Begitu pun tanpanya. Jika boleh, aku titip setiap kenangan, rindu, cinta dan kasih sayang yang masih sangat dalam di lubuk hatiku. Tak ada cinta selain cinta kepadaMu, kepada beliau dan teruntuk keluarga yang begitu menyayangiku terlebih dari apapun.

Mah, rindu ini sangat menyayat hati, Mah. Kapan kita akan bertemu, Mah? Kapan? Rindu ini selalu saja sendiri. Akankah semua yang aku inginkan dapat terkabul oleh Allah?

Mah, aku kangen sama mamah. Kangen banget. Semua berbeda tanpa Mamah. Biasanya ada yang perhatian sama aku saat aku meringis merasakan sakitnya kepala ini. Biasanya ada mamah yang selalu masak, masakan yang begitu istimewa. Biasanya ada canda tawa saat kita jalan-jalan bersama. Mah, akankah semua itu dapat terulang?

Mamah pasti tahu kan? Iya mamah, anak mamah yang pertama sudah menikah. Mamah senang tidak? Semoga senang ya, Mah. Tapi tidak dengan aku, Mah. Entah mengapa, rasanya ada yang mengganjal di hati ini jika melihat dia.

Aduh, mah. Aku tidak tahu harus apalagi untuk merubah dia. Iya, dia… kakak iparku. Menantu mamah. Yang seharusnya bisa berbincang-bincang, jalan-jalan bersama atau hanya sekedar ngobrol. Tapi tidak dengan sekarang. Mamah sudah jauh. Mamah jauh meninggalkan kami sendirian tanpa mamah.

Mah, aku kangen saat mamah minta difoto-foto saat terakhir kita jalan-jalan ke Taman Mini sewaktu bersama keluarga. Di foto itu, mamah terlihat sangat bahagia. Aku senang melihatnya. Disaat aku memegang kamera dan dengan leluasanya Mamah bergaya seperti anak zaman sekarang. Aduh, Mah. Aku masih belum bisa menghapuskan bayangan tersebut. Maafin aku, mah. Maaf!

Pernah sempat, sewaktu ulang tahun mamah yang ke 45. Iya, aku pernah memberikan mamah surprise kecil-kecilan yang ku rancang sendiri. Saat itu tepat tanggal 12 oktober 2012 pukul 16:30. Aku akan memberikan kue ulang tahun sederhana yang dihiasi lilin-lilin kecil di setiap pinggirnya. Dan tepat pada waktunya, Mamah sedang mandi. Setelah menunggu Mamah mandi hampir 20 menit, aku pergi keluar rumah untuk menyalakan lilinnya, aku sedikit melirik ke dalam. Langsung saja ku nyanyikan lagu selamat ulang tahun, “Happy birthdaaay! Selamat ulang tahun ku ucapkan. Selamat ulang tahun.. dan blablabla,” Dan saat itu, aku tidak mengerti apa arti dari wajahmu. Antara syok, bahagia dan terharu mungkin. Aku memberikan doa yang terbaik untuk, “Mah, selamat ulang tahun. Aku enggak bisa ngasih apa-apa untuk Mamah. Maafin anakmu ini jika belum bisa jadi yang Mamah inginkan. Semoga panjang umur. Dan segala penyakit yang Mamah punya dihilangkan oleh Allah! Amin.” Mamah masih memperhatikan kata-kataku sembari meniup lilin ulang tahun Mamah. Setelah itu kita foto-foto. Di dalam foto itu, wajah kita sangat mirip, Mah. Ditambah kita berdua memakai kaca mata yang membaluti wajah manis kita berdua.

Tapi, itu adalah kue ulang tahun yang aku berikan untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Karena, tepat tanggal 08 Juli 2013 pukul 19:45 Allah telah memberhentikan nafas Mamah di dunia.

Ya Allah, kuatkan aku!

Sudah beribu doa ku lantunkan kepadaNya. Sudah beribu janji yang ku berikan kepadaNya. Tapi tak ada harapan. Mungkin memang jalan takdirmu, Mah.

Masih banyak kenangan yang kau buat bersamaku. Masih banyak memori-memori indah terekam dalam otakku. Entah mengapa otakku terus mengalir dalam memutarkan rekaman itu.

Desir nadi terus berjalan tanpa ku suruh. Menjalankan seluruh saraf-saraf yang menghubungkan otakku.

Masih terasa sangat pekik. Bagaikan pelukan dalam hujan yang deras mengguyur pelantaran jiwa yang kesepian tanpamu.

Ku harap, semua tentang kau akan selalu terkenang. Meski janji, tak menangis jika mengingatnya pernah ku ingkari.

Selamat jalan Mamah. (almh. Ibu Sulastri binti Yotopawiro) Semoga kau tenang disisi Allah SWT. Amin!

RIP
Senin, 08 Juli 2013
19.45

L O V E Y O U M O M

Cerpen Karangan: Syafiratna Elkhudrys
Blog: refresh-hati.blogspot.com
Facebook: Ratna Susantyningsih
Twitter : @ratnasss_

Tidak ada kata selain mengatakan bahwa aku sangat merindukan sosok super hero dalam hidupku. Dan selain mengatakan bahwa aku sangat mencintaimu, Mah…

Izinkan anakmu ini untuk bisa melanjutkan hidup. Menepati janji yang telah ku ucap terhadapmu. Doakan anakmu untuk terus berjuang mengarungi dunia yang nantinya akan merajut sebuah kebahagian. Amin!

Cerpen Memories Of Mother merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ingin di Samping Mu, Tuhan

Oleh:
Anak kecil itu berusaha tetap tegar menghadapi kota yang sangat kejam. Ia berumur 10 tahun Rendi namanya anak malang yang ditinggal pergi oleh kedua orangtuanya. Menyemir sepatu itulah pekerjaannya

12 Warna

Oleh:
Aku pernah ditanya seorang guru kelas saat masih duduk di kelas 2 SD. Ia bertanya kepada setiap siswa tentang cita-cita. Sejenak, aku sempat berpikir bahwa aku ingin menjadi guru.

Tentang Ayahku

Oleh:
Ayahku berdeda dengan ayah kalian. Ayahku bekerja sebagai petani. Dia bekerja mengurus kebun dan sawah dari pagi hingga sore hari. Ketika musim hujan dia kehujanan dan jika musim kemarau

Mimpi Merajut Misteri

Oleh:
Gontai kuberjalan. Galau hati tak menentu. Keramaian saat itu di sekeliling, mulai hilang satu per satu. Kulayangkan pandang pada sebuah tangga berbahan bambu. Kupegang tangga itu lalu kujadikan tempat

Kenapa Mamah dan Papah Pisah?

Oleh:
Saat itu aku masih berusia 6 tahun dan belum mengerti arti sebuah perpisahan atau perceraian. Bahakan ketika di saat aku duduk di sebuah kursi bersama nenek ku menyaksikan sidang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *