Mencari Rumah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 4 November 2015

Entah, sudah untuk keberapa kali aku diajak Ayah untuk melihat-lihat rumah. Kami sekeluarga memang berencana untuk pindah dan mencari rumah baru. Sebelumnya kami menempati apartemen kalibata city di daerah duren kalibata, pancoran. Apartemen itu kecil dan sempit untuk kami sekeluarga yang berjumlah delapan orang. Ditambah lagi keponakan aku yang berumur empat belas bulan sudah pandai berjalan kesana-kemari. Ruang geraknya bermain pun menjadi sempit dan terbatas. Lingkungan apartemen yang kurang nyaman untuk anak-anak balita menjadi faktor tambahan untuk Ayahku. Oleh karena itulah, kami memutuskan untuk pindah dan mencari temtap tinggal yang baru.

Namun, yang paling lucu menggemaskan adalah pengalaman yang terjadi pada hari Sabtu, 18 November 2012. Pagi itu seperti biasanya Ayahku mengajak sekeluarga untuk pergi melihat-lihat rumah. Kami berkeliling dari ujung satu daerah ke daerah ujung lainnya. Terkadang kami baru pulang malam harinya. Rasanya membosankan, cape dan lelah setiap hari sabtu dan minggu mencari rumah secara terus-menerus. Namun ujung-ujungnya tidak membuahkan hasil. Mencari rumah di daerah bekasi, lenteng agung, TB Simatupang, pasar minggu, perumahan kalibata indah, BSD Tangerang, jalan Kali Deras, dan sebagainya. Namun, tetap saja tidak ada yang sesuai minat. Kata orang, memang harus sabar. Aku sih memang tidak pernah komentar apapun. Duduk diam sambil main HP itulah yang menjadi kebiasaanku. Biasanya yang memberi komentar adalah Kakakku dan Ibuku tentang rumah yang dipilih.

Sampai akhirnya pilihan orangtua aku jatuh pada sebuah rumah yang terletak di daerah pasar minggu, komplek jatipadang baru, dekat SMUN 28 Jakarta. Rumah itu besar sekali dengan luas 600 m2 x 400 m2. Bertingkat dua dengan gaya zaman dulu. Rumah lama memang, tetapi struktur bangunannya masih kokoh. Lantai satu terdapat dapur, ruang keluarga, kamar mandi dan kamar. Kamar utama dilengkapi bathtub dan toilet seperti yang ada di hotel. Pintu kamar pun dibuka dengan cara diputar persis seperti yang ada di hotel juga.

Di seberang dapur pun terdapat kamar pembantu dan kamar mandi. Ada serambi depan juga ternyata. Lantai dua terdiri dari tiga kamar dan satu kamar mandi. Di depan kamar mandi ada wastafel dengan kaca yang besar. Di samping kanan dan kirinya, masing–masing terdapat serambi. Dari kamarku, aku bisa melihat ke halaman luar, ke orang-orang yang lalu lalang di jalan raya serta sungai kali yang ada di depan rumah kami. Ayahku memang menyukai rumah ini sejak pertama kali melihatnya. Begitu pula dengan Ibu dan Kakakku.

Usut punya usut, ternyata rumah ini milik penyanyi jazz terkenal bernama Iwan Fals. Memang sih Ibunya yang punya sertifikat tanahnya, jadi Ibunya yang mengurus jual-beli rumah ini. Katanya rumah ini dijual karena tidak ada yang mau menempati. Dan dulunya juga rumah ini bekas punya tentara angkatan darat juga. Dibangun sedemikian rupa, namun kemudian ditinggali begitu saja, karena anak-anaknya sudah memiliki rumah sendiri. Alhasil rumah ini kosong melompong. Harga rumah ini sangat fantastis. Jauh di bawah jangkauan kami. Ayah aku sempat ragu sewaktu melihat harga rumah ini. Takut uangnya tidak mencukupi. Maka dari itu, Ayah aku berkeliling untuk mencari rumah lainnya sampai tiga kali. Aku yang biasanya diam membisu, akhirnya mulai membuka suara.

“Gak jadi pa, kenapa?” Tanyaku.
“Mahal, nanti dulu deh. Kita cari yang lain dulu, siapa tahu ada yang lebih murah.” Jawab Ayahku singkat.
“Itu ternyata ada rumah dijual lagi. Siapa tahu murah, pa. Telepon aja. Sini biar aku yang hubungi.” Jawabku sok tahu, bermaksud ingin ngebantuin Ayahku.

Tanpa tahu rumah yang ku tunjuk itu adalah rumah yang tadi, yang barusan dilihat dan dibicarakan Ayahku. Ayahku hanya diam membisu. Aku pun menunggu reaksi Ayahku. Kemudian tiba-tiba aku tersadar.
“Loh, ini bukannya rumah yang tadi ya, pa.” Tanyaku.
“Iya Riris. Ini memang rumah yang tadi.” Jawab Ayahku tertawa.
“ah, iya juga ya.” Ujarku malu.

Sontak keluargaku yang ada di mobil pun tertawa terbahak-bahak, karena menyadari kepolosanku yang tidak nyambung, jika diajak bicara. Aku pun tertawa karena malu. Betapa bodohnya aku. Kakakku bilang,
“Makanya jangan sibuk main HP, ris. Lihat kita dong lagi sibuk ngapain.” Jawab Kakakku seadanya.
“Iya deh, kak.” Jawabku malu.

Beberapa bulan kemudian, setelah tiga kali proses tawar-menawar harga, Ayahku pun jadi membeli rumah itu. Kami sekeluarga akhirnya pindah dari apartemen kalibata city dan menempati rumah baru tersebut.

Cerpen Karangan: Rezky Gustri Febriani
Facebook: Princess_rezki[-at-]yahoo.com

Cerpen Mencari Rumah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Terima Kasih, Ibu

Oleh:
Ibu, setiap pagi dengan senyum mengembang kau menuntun sepeda tuamu menawarkan pisang ke rumah-rumah penduduk. Keringat letih membasahi tubuhmu tetapi tidak terkalahkan oleh semangatmu untuk mencari nafkah. Dengan menuntun

Janji

Oleh:
Suara embusan angin sepoi terdengar, mengalun syahdu bersama melodi klasik yang diputar. Mataku terpejam sesaat, menikmatinya tenang. Pelan-pelan, cahaya senja masuk melalui jendela kayu yang engselnya bergerak, nyaris terbuka

Salah (Part 3)

Oleh:
Di perjalanan kak revi selalu memperhatikanku lewat kaca spion motornya. Entah mengapa aku merasa risih. Aku tidak suka dia melihatku terus. “ada apa kak? Kok melihatku dari kaca spion

Kertas dan Pena

Oleh:
Waktu begitu kejam tak pernah mempedulikan siapa pun, ia terus berjalan tanpa beristirahat barang sedetik saja. Meninggalkan mereka yang lalai. Dan berjalan beriringan dengan mereka yang sangat menghargainya. Tanpa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *