Mengapa Aku Berbeda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 5 May 2017

Hari-hari yang kulalui semenjak menginjak bangku Tsanwiyah lumayan menyibukkan. Tugas demi tugas yang harus kuselesaikan di setiap pertemuan. Tak jarang aku memiliki waktu untuk sekedar holiday. Bahkan untuk sarapan saja aku sering lupa.

Saat jam istirahat, saya lebih senang berada di perpustakaan hanya untuk menyempatkan diri membaca buku. “ndra’ mau ke mana?” tanya lidya padaku, “oh ini, mau keperpus. Kenapa? mau ikut?” jawabku dengan ramah. “gak kok. Btw kamu gak kekantin?” tanya lidya lagi padaku. “tadi aku sudah sarapankok di rumah, jadi agak kenyang gitu” jawabku. “oh, kalau gitu aku duluan yah” kata lidya sambil beranjak pergi.

1 minggu telah berlalu. Mama dan papa, hari ini juga harus berangkat ke singapura untuk rapat dengan kliennya. Dengan berat hati kulambaikan tangan perpisahan dengan mereka saat berada di bandara. Ahh… aku sungguh cengeng, mengapa air mata ini terus mengalir padahal mereka hanya pergi selama 2 pekan saja. Sepulang dari bandara, ternyata Nenek sudah ada di rumah untuk menemaniku selama mama dan papa pergi.

Sudah 2 jam mama dan papa pergi, tetapi kenapa mereka belum menghubungiku? Padahal 30 menit yang lalu mereka sudah tiba di singapura. Tiba-tiba terdengar suara nenek yang memanggilku dari luar.
“yahh, ada apa nek?”. Tanyaku pada nenek, tetapi nenek tak berkata apa-apa seakan mendengar hal buruk yang terjadi. Wajahnya kelihatan pucat.
“nek, nenek baik-baik saja kan?” tanyaku dengan sedikit nada panik. Sambil duduk di samping nenek.
“nenek baik-baik saja nak’ tapi mama dan papamu, Pesawat mereka kecelakaan” jawab nenek dengan suara yang sedikit serak karena menahan tangis. Bagai petir disiang bolong Tubuhku terasa sangat lemas Nafas ini hampir tak berhembus lagi. Dan akhirnya aku tak tahu apa yang terjadi pada diriku.

Alam bawah sadar
“mama, papa?” teriakku disuatu tempat yang sama sekali, tempat itu sangat asing bagiku.
Kulambaikan tanganku kepada mama dan papa agar ia melihatku dan menghampirku di sini. Entah mengapa aku sangat rindu dengan mereka. Tetapi mengapa mereka tak menghiraukanku? Seakan tak mengenaliku? Mah pah? Ini sandra anak papa dan mama. Kenapa kalian tega meninggalkanku sendiri di sini?. Dunia terlalu keras untuk sandra lewati sendiri.
Entah berapa jam aku pingsan karena kabar buruk tentang mama dan papa. aku mulai sadar, Dan perlahan mulai membuka mataku, ternyata di sampingku sudah banyak sanak saudara mama dan papa yang datang. “Mama dan papa betul-betul telah meninggalkanku” laraku dalam hatiku.
Suara mobil ambulance terdengar semakin keras di telingaku, jenazah mama dan papa sudah tiba di rumah. Beberapa orang telah terisak dengan tangisannya. Tapi tidak denganku yang terlihat masih shock karena peristiwa ini. Tak ada tangisan yang menemaniku hari ini, inginku menangis tetapi tak bisa. Dan aku menjadi teringat akan tissue pemberian mama 4 hari yang lalu.
“ambil tissue ini sandra. Tissue ini adalah penghapus air matamu” kalimat yang sempat kuingat saat mama memberikannya padaku. Mama ternyata benar katamu, hingga proses pemakamanmu selesai aku juga tak meneteskan air mata.

Sekarang jum’at 17/06/16. Kehidupan yang benar-benar kosong tanpa orangtua, nenek yang tak bisa lagi menemaniku karena jatuh sakit setelah kematian Papa Membuatku semakin kesepian disini. Sahabat karibku, Rasya telah pergi melanjutkan studynya di bandung. Sekarang aku telah berbeda. Seorang anak yang sangat beda dari anak yang lain. Tak memiliki orangtua dan bahkan tak memiliki sahabat.
Sebulan lebih aku tak masuk sekolah. Hari ini kuberanikan diriku untuk menginjakkan kaki di sekolah dan memulai rutinitas seperti dulu lagi. Tapi semangatku seakan tak membara seperti dulu lagi.

Kulewati gang sempit ini, sebagai jalan pintas untuk sampai kesekolah. Yahh sekarang tak ada lagi supir yang bisa menghantarku kemana-mana. Mobil milik ayah juga sudah ditarik oleh perusahaan. Hampir 30 menit aku jalan kaki. Keringatku mulai bercucuran, matahari pagi ini cukup menyengat. Terlihat dari kejauhan sana gerbang sekolah yang dulu adalah surgaku, tempatku menjadi orang paling ceria di jagat raya ini. Tetapi sekarang semua berubah. Bahkan untuk sekedar senyum saja dengan pak satpam sudah tak bisa kulakukan.

Semenjak kejadian itu aku sudah sangat susah untuk tersenyum. Dunia ku berubah menjadi abu-abu kelabu. Entah ini takdir atau cobaan? tapi aku bersyukur atas semua ini.
Kumasuki kelas yang sangat kurindukan dalam hati kecilku ini. Ternyata aku terlamabat 2 menit.
“assalamualaikum, maaf saya telat bu” ucapku pada bu luna, yang terkenal kejam itu. “waalaikumsalam, silahkan duduk. Ibu mengerti dengan keadaanmu” jawab ibu dengan nada yang sedikit lembut.
Kududuki kursi yang sudah lama tak pernah aku dudukki itu, tapi tidak dengan kehadiran rasyah. Dia tak lagi berada disampingku. “I miss you”, keluhku dalam hati kecilku.

Jam pelajaraan pun berjalan, aku berusaha konsentrasi dengan penjelasan bu luna tetapi mengapa aku juga tak bisa mengerti, entah pelajaraannya yang susah atau otak saya yang sudah lama mogok. Ahh entahlah semua seakan sudah berubah.

Bel istiraht pun berbunyi murid yang berada di kelas pun berhamburan keluar. Aku masih saja berdiam diri di kelas sendirian, mengapa saat ini tak ada lagi orang yang care denganku? kemana lidya yang selalu mengajakku makan ketika jam istirahat? Kemana vera yang selalu mengajakku belajar bareng di perpustakaan?. Tuhan mengapa harus aku lalui masa seperti ini? Saat tak ada lagi orang yang peduli denganku.

Aku beranjak pergi meninggalkan kelas untuk melihat suasana diluar, tetapi apa yang terjadi? “ayahku seorang koruptor” tulisan bodoh apa lagi ini yang ditepelkan anak-anak nakal itu di punggungku. “dasar anak seorang koruptor” sindir vera padaku. “asal kalian tahu ayahku bukan seorang koruptor” jawabku pada mereka yang berdiri di situ dengan nada yang sedikit membentak. “yaelah, ayah kamu bawah lari uang 5 M ke singapura dan yaah alhamduillah Tuhan berkehendak lain dan menjatuhkan pesawat yang ditumpangi orangtua kamu” jelas dimas padaku. Ku berlari meninggalkan mereka tak kuasa dengan apa yang dimas katakan sebelumnya, mengapa ayah tega melakukan ini. Ayah yang selalu kubangga-banggakan ternyata seorang koruptor. Kenapa hidupku betul-betul hancur saat ini?

Hari ini aku bolos sekolah dengan memanjat pagar belakang sebagai jalan keluarku. entah hal ini konyol atau kelewatan aku tak tahu, inginku bunuh saja diriku ini agar tak kurasakan sakit seperti ini lagi. Sesampai di rumah, ku melihat rumah itu juga sudah di sita oleh bank. kemana aku harus pergi?
Kuberjalan menyusuri jalan panjang ini, berharap anugrah tuhan datang kepadaku. Aku terus memikirkan semua yang terjadi di hidupku, kenapa begitu berat cobaan ini tuhan?. Tak kusangka mobil dengan kecepatan 140 km/jam dari arah kanan menabrakku, dan saat itu kurasakan semuanya gelap.

01 july 2016
Aku berhasil melewati masa kritisku, setelah hampir 1minggu aku tak menyadarkan diri. Kulihat di sekelilingku semua berwarna putih, “aku di mana?” teriakku, “nak, tenang kamu sekarang ada dirumah sakit” kata lelaki yang berdiri di sampingku itu. “kamu siapa? Aku siapa?”.kataku dengan panik kepada mereka. Siapa aku? Mengapa aku sama sekali tak mengenali diriku sendiri. Mereka memperkenalkan kepadaku bahwa mereka adalah orangtuaku, dan aku adalah anak mereka. Apa itu benar? Mengapa sama sekali aku tak mengingat apa yang terjadi padaku.

Sarah, itu namaku, kulalui hari-hari bersama mama dan papa dengan kehidupan yang bisa di bilang sangat mencukupi. Bahkan sekolahku sekarang merupakan salah satu sekolah unggulan di bandung. Di sana aku memiliki sahabat bernama nayla, sampai akhirnya setelah aku lulus SMP aku harus berpisah dengannya, tapi aku yakin perpisahan ini akan mengajariku bagaimana cara kita mengenang seseorang saat ia telah jauh pergi meninggalkan kita.

2 tahun kemudian…
Hari ini 11 november tepat ulang tahunku yang ke-16 tahun. Mama dan papa merayakannya dengan meriah maklum saja aku hanya anak tunggal dari mereka. Hampir seluruh siswa SMAN tunas bangsa datang di acaraku. Sungguh meriah, kulihat di sekelilingku tamu yang hadir sangat menikmati pesta ini. usai acara peniupan lilin, aku mulai beranjak pergi meninggalkan keramaian.

Di kamar, tepat pukul 00.07. kubuka jendelaku dengan cukup lebar, malam ini tak seperti biasanya serasa ada seseorang yang kurindukan, bahkan sangat kurindukan. Wajahnya sering terbayang di benakku tapi tak bisa aku menggapai untuk mengingat wajahnya “siapa dia?”. sosok itu terus melayang-layang di pikiranku hingga aku tertidur..

Pagi ini, SENIN. jam wekerku sudah bunyi lebih 20 menit yang lalu
Terdengar suara mama yang dari tadi menggedor-gedor pintu kamarku “sarahh bangun nak nggak sholat?” teriakan mama yang seakan kudengar secara samar-samar. Segera ku terbangun, berjalan sepoyongan untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat subuh. rutinitas ini sudah mereka ajarkan padaku dari dulu. pagi ini papa tak bisa mengantarku untuk ke sekolah karena ada meeting dengan kliennya, “kalo begitu sarah naik taksi aja pah” ucapku sedikit kecewa tapi aku memaklumi itu, papa tersenyum manis padaku tapi aku tahu ia juga merasa berat untuk tak mengantarku ke sekolah. usai pamit dengan mamaku beranjak keluar dan ternyata di depan sudah ada taksi yang menungguku, langkahku sedikit kupercepat tak ingin taksi itu menunggu lama. Setelah 10menit perjalanan akhirnya aku sampai juga di depan gerbang sekolah. Berjalan dengan sedikit terburu-buru upacara bendera 5 menit lagi akan mulai.

Aku berada di barisan ke dua dari depan, tempat itu memang selalu aku yang menempatinya. ketika amanat pembina upacara, yang akan di sampaikan oleh Bapak kepala sekolah. Tanpa telintas di benakku ternyata namaku di panggil sebagai juara 1 Matematika yang ku ikuti 1 pekan lalu kunaiki podium itu, rasa bangga mulai kurasakan tak hentinya hati ini mengucap syukur pada-Nya. penyerahan piala, piagam dan sebuah bingkisan dari ketua panitia pelaksanaan olimpiade itu.

Selesai upacara, semua siswa bergegas ke kelas. “rah, hari ini ada murid baru loh” kata aura padaku “bagus dong” balasku padanya seraya tersenyum. sesampai di kelas kami duduk di bangku masing-masing tanda kami siap untuk mengikuti pelajaran. ibu Nurul yang terlihat berjalan ke arah kelas kami dengan menggandeng seorang siswi. Ibu memperkenalkan siswi baru itu di depan kami katanya namanya “rasya”. oh tuhan nama itu, kepalaku sedikit pusing saat kulihat wajahnya, yah itu wajah tak asing bagiku. dia mulai melangkah ke arahku dan duduk di sampingku yang kebetulan kosong. “Sandra?” sapaan yang diberikan padaku saat ia melihatku wajahnya terihat berseri-seri tak setegang saat ia memperkenalkan dirinya, tubuhku di peluk olehnya “aku rindu banget sama kamu” tambahnya dengan kegirangan. genggamannya mulai terlepas. “kk.. kamu siapa? Siapa sandra? maaf aku ini sarah” jawabku padanya, kenapa di menyebutku sandra? Siapa aku sebenarnya. “jangan main-main deh ndra, aku ini rasya teman kecil kamu, sahabat kamu, sebelum aku pindah ke bandung” tambah dia dengan wajah penuh keyakinan. “MAAF mungkin kamu salah orang, aku nggak pernah kenal kamu” jelasku padanya. Ketika aku berkata seperti itu ia tak lagi mengajakku bicara sampai bel pulang berbunyi.

Sambil menunggu papa menjemputku aku duduk di halte depan sekolah, tiba-tiba dari arah kanan, tampak mobil sporty singgah di depanku “sandra, ayo naik. Ini aku rasya” ajaknya padaku. “tidak papaku akan akan datang menjemputku” balasku padanya dengan sedikit ketus. Kulihat messengerku yang ternyata pesan dari papa “sarah, papa tidak bisa menjemputmu masih ada meeting 1jam lagi”. yah papa, taksi juga jam segini sudah nggak ada, rasya yang masih stay di depanku, terpaksa aku akan nebeng dengannya. dalam perjalanan semua hambar tak ada obrolan antara aku dengannya. sampai di rumah aku hanya bilang makasih saja dengannya tampak dia hanya menganggup pelan ke arahku, tampak sekali di wajahnya dia sedang bingung padaku. sebenarnya dia itu siapa?

Setiap hari rasya itu memanggilku dengan sebutan “sandra” nama yang bagus. Tapi beberakali ku menegurnya dan menegaskan padanya kalau namaku SARAH bukan SANDRA. sampai suatu hari sepulang sekolah ia mengajakku ke rumahnya, sangat jelas foto yang ada di ruang tamu rasya itu adalah fotoku berdua dengannya, perlahan ingatan itu mulai muncul. terbayang moments bersama rasya. ingatan lebih mendalam saat ia menguatkanku saat aku kehilangan orang yang paling aku sayangi, yah itu mama dan papa, ingatanku seperti kembali seperti dulu, disertai dengan air mata yang terus bercucuran. rasya melihatku hari itu tak kuasa menahan tangisnya juga. “aku sudah mengenalmu sya” ucapku terbata-bata. “dari dulu aku sudah yakin kalau kamu itu sandra,sahabatku”jelas rasya. Ternyata aku baru sadar Mama dan papa yang ku tempati tinggal selama 3 tahun ini dia orang yang menabrakku dulu, mereka bukan orangtuaku yang sebenarnya. Memory saat mama dan papa pergi untuk selamanya semua kembali muncul. aku sangat merasakan sakit yang amat dalam saat itu. SAKIT
Rasya menenangkanku, menghapus air mataku. Sebenarnya hari itu aku tak ingin pulang lagi ke rumah itu, tapi rasya yang memaksaku untuk pulang.

Sesampai di rumah, tak ada yang kuajak bicara aku hanya bersikap sewajarnya saja memasuki kamar kemudian mengguncinya. mama datang menggetuk pintu itu tapi aku tak menggubrisnya. sampai berkali-kali mama melakukan itu. dan akhirnya aku membukanya. “kamu kenapa sayang?kalo mama punya salah, mama minta maaf dehh” ucap mama padaku, dia itu lembut aku tahu kalau dia sangat menyayangiku bahkan seperti dengan anak kandungnya sendiri, wanita ini bahkan rela memberikan segalahnya padaku. “mama…” ku menangis dalam rangkulannya. ingin ku ceritakan padanya semuanya, aku tahu kalau mereka mengetahuinya tapi mereka berusaha menyembunyikannya dariku. “kamu sakit? Atau ada masalah di sekolah?” tanya mama dengan nada khawatir padaku “tidak mah, aku hanya butuh mama” ucapku singkat

MAMA, mama disini yang kubutuhkan adalah mama kandungku, seorang wanita yang melahirkanku dan merawatku dari kecil bukan mama yang sekarang ada di pelukanku. Tapi aku menghargai itu, aku menghargai perasaan mama.
Problem itu mulai aku tak pikirkan lagi. aku mulai fokus dengan sekolahku yang sisa 3 bulan lagi aku akan UN. bimbel demi bimbel aku ikuti, tak jarang aku sering membuka situs quipper untuk bercengkrama dengan guru-guru di situs itu. mama dan papa sangat messupportku dalam hal ini bahkan mereka janji padaku kalau aku berhasil mempertahankan rangkingku, mereka akan menghadiakanku sebuah mobil.
Rasya yang sekarang menjadi teman akrabku lagi, kami bahkan sering pergi jalan-jalan untuk mengisi waktu kosong dan ketika aku bosan berada di rumah.

Suatu ketika kami sedang asyik main di taman, sambil belajar bersama tetapi perasaanku berubah jadi tak enak “sandra, kamu kenapa?” tanya rasya panik padaku. Darah segar dari hidungku mengalir begitu deras, kepalaku pusing, pandanganku tampak kabur hingga aku tak mengingat apa-apa lagi.

2 minggu aku di rumah sakit, alat bantu penafasan ini sangat menjengkelkan bagiku. Setiap hari jarum suntikan ini menusuk tulang-tulangku.obat yang telah menjadi makanan setiap hariku. “leukimia” penyakit itu yang menggerogotiku, penyakit itu membatasi aktifitasku. kenapa tuhan? Kenapa harus kau berikan aku cobaan seperti ini? Aku sangat merindukan mama dan papaku tapi aku tak ingin menyusulnya dulu, aku belum pernah membuat mereka tersenyum bahagia karenaku di surgamu itu. ujian nasional tinggal bebarapa minggu dan aku harus sembuh. teman-teman yang menguatkanku setiap hari sebenarnya aku tak akan sampai di titik ini tanpa mereka, tak akan pernah bisa melewati day by day menyakitkan seperti ini.
“hidup itu pilihan, tapi seringkali kita memilih suatu jalan untuk hidup ini tapi tuhan tak mengizinkan kita berada pada jalan itu”.

UJIAN NASIONAL
Mama dan papa menghantarku ke ruangan ujian, aku harus semangat untuk 4 hari kedepannya. tak sia-sia perjuanganku untu belajar selama ini, soal yang di sajikan menurutku hanya ada 2-3 nomor yang susah dari 100 nomor.
4 hari itu telah berlalu, kondisiku kembali drop bahkan aku sempat koma selama 3 hari. mama kelihatan sangat panik saat itu. Jalan satu-satunya adalah operasi dan itu berhubungan dengan hidup dan matiku. mama tak kuasa menandatangani surat perjanjian untuk tidak menuntut jika terjadi sesuatu dalam operasi itu, aku memaksanya itu menandatangani. “sarah, kamu harus kuat nak, lepas ini kamu harus bangun lagi” ucap mama di sampingku sebelum aku aku dibawah ke ruang operasi”.

Saat operasi
Semuanya gelap, hanya lampu yang berada tepat di atasku yang menyala. hingga aku terbaring di kasur itu dan tak mengingat apa-apa selain engkau rabb.
2 jam telah berlalu. aku tak kunjung sadar dari operasi itu, terdengar samar-samar suara orang-orang di sekitarku yang menantiku bangun. hinggah hidayah itu ada, tuhan kembali membukakan mataku untuk melihat indahnya alam ini. aku diponis sembuh dari penyakit leukimia yang terkenal ganas. mama dan papa tak henti-hentinya memberikan kepadaku pengobatan terbaik, aku tahu itu mahal aku sudah menekankan padanya untuk menyudahi pengobatan ini tapi mereka membantahnya. Tuhan orangtua sepertinya yang aku cari orangtua yang mengaggapku seperti anaknya sendiri.

3 minggu lebih aku menjadikan rumah sakit sebagai rumah, dan akhirnya aku diizinkan untuk pulang. besok adalah hari yang paling menegangkan hasil ujian nasional akan diumumkan di depan seluruh orangtua siswa dan pastinya mama dan papa akan hadir ke acara itu. pagi-pagi aku sudah prepare untuk ikut menyaksikan walaupun sempat dilarang oleh mama tapi aku ngotot mau ikut. ketika aku masuk wc untuk mencuci wajahku, kelihatan dari cermin darah segar itu mengalir lagi dari hidungku. aku segera membasunya dengan air, hal ini tak boleh mama dan papa ketahui.

Sesampai di sekolah, teman-teman mengerumungiku, banyak dari mereka yang merindukanku terutama rasya. salam hangat mereka semua ku terima dengan senang hati. pak kepala sekolah membuka acara ini yang sekaligus di rangkaikan dengan acara perpisahan. tepuk tangan yang sangat meriah dan jelas ini disaksikan oleh 1000 orangtua siswa, rasa bangga dan syukur berada dalam hatiku ketika namaku di sebut sebagai juara UMUM 1 tingkat provinsi, bersama mama dan papa kunaiki podium kebanggan itu. ucapan kesan pesan yang disampaikan mama dan papa di atas sangat menyentuh perasaanku. aku ini memang anak yang berbeda dan sejak kecil aku sudah mengetahui itu, tapi perbedaan ini membuatku indah, kita tak pernah tahu apa rencana tuhan yang akan ia berikan kepada hamba-hambahnya kadang kita berfikir tentang sesuatu yang amat pedih yang kita akan lalui tapi tuhan tak menghadirkan itu dalam hidup kita, karena tuhan sayang sama kita…

Ucapan selamat dari ibu dan bapak guru, yang merupakan rasa hormat dan tanda terimah kasih ku padanya. dan juga untuk teman-teman. Usai acara selesai, aku kembali ke rumah kondisiku kembali down bahkan detak jantungku sudah sangat lemah, aku tak henti-hentinya mimisan saat berada di mobil hinggah sampai dirumah. Ketika ku berjalan memasuki kamar ternyata disitu akhir dari penjuanganku selama ini, akhir dari kisah hidup seorang anak yang BERBEDA. aku telah pergi untuk selamanya meninggalkan mama, papa dan teman-teman termasuk rasya. Usia yang hampir memasuki sweet seventeen yang banyak di tunggu oleh anak muda sekarang. batas ku untuk berada di dunia ini cukup sampai sini. Selamat tinggal kanker ganas, rupanya kau lebih kuat dari aku, dan selamat tinggal sahabat…

The end

Cerpen Karangan: Wyna
Facebook: Wyna

Cerpen Mengapa Aku Berbeda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bukan Harapan Palsu (Part 2)

Oleh:
Pada jam istirahat aku sebenarnya enggan keluar kelas, tapi lulu mengajak ku ke kantin untuk membeli makanan dan kebetulan aku juga lupa membawa bekal ku. Sesampainya disana anak-anak dikantin

Gerimis Menemani Ceritaku

Oleh:
Pagi kembali datang, jalanan, rerumputan dan lainnya basah akibat hujan semalam. Gerimis masih saja turun menemani perjalananku ke sekolah dan aku sangat menikmatinya. Terasa sangat sepi jalanan kali ini,

Persahabatan yang Kokoh

Oleh:
Siang ini aku nongkrong dengan sahabat–sahabatku. Kami terdiri dari 5 orang yaitu aku (Ikhwan), Kayla, Fandi, Dimas, dan Riani. Kami sudah bersahabat sejak 4 tahun kira kira dari SMA.

Harapan yang Tak Sesuai (Part 1)

Oleh:
Ini aku. Seorang yang sangat suka berkhayal. Entah itu berkhayal tentang mimpi ataupun berkhayal tentang masa depan. Dan, suatu hari, saat aku sedang asyiknya berkhayal, tiba-tiba aku didorong oleh

Kesedihan Yang Melanda

Oleh:
Pada suatu hari di sebuah hutan yang sangat lebat hiduplah berbagai macam hewan salah satunya ialah si anak kelinci yang bernama Lulu, Lulu adalah anak kelinci yang barusan lahir

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *