Mengapa Harus Ayahku?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Patah Hati, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 12 November 2013

Siang itu panas begitu menyengat, matahari seakan ingin membakar seisi dunia. Tak terkecuali di pangean, kampung tempat dimana aku tinggal dan dilahirkan. Dimas, begitu orang-orang memanggilku. Lengkapnya Dimas Randika.

Ketika itu aku tengah asyik SMSan dengan seorang cewek yang baru saja aku kenal lewat handphone. Aku nggak tau awalnya gimana, cuma pas waktu itu nomor cewek itu sudah ada saja dalam handphone ku. Namanya Dewi Purwati, Dia tiga tahun lebih tua dari aku. Katanya dia tinggal dekat dengan kampungku. Belum sempat aku kenalan lebih jauh, tiba-tiba saja terdengar suara ibuku memanggilku
“Dimas, makan dulu, ntar makanannya dingin lagi” Panggil ibuku
“Iya bu, bentar lagi” Sahutku yang masih saja asyik dengan handphoneku
“Sudah, nanti kan masih bisa dilanjutin mainnya” Ujar ibuku kembali

Akhirnya dengan agak sedikit kesal, aku menuju ruang makan.
“Bapak mana bu?” Tanya ku yang tak melihat ayahku makan bersama kami
“Bapakmu tadi ada perlu, makanya dia nggak bisa makan sama-sama dengan kita” Kata ibuku sambil mengambilkan nasi untukku.

Biasanya Ayahku selalu menyempatkan diri untuk makan bersama kami walaupun ada keperluan, tapi kali ini mungkin urusannya penting banget, sehingga ayahku tak sempat lagi makan bersama dengan kami” Pikirku dalam hati
Yaa begitulah keluargaku, tidak begitu mewah tapi rukun dan aku sangat bahagia dengan keadaan di rumahku. Saat itu aku merasa rumahku bagaikan surga bagiku yang membuat aku begitu betah di rumah.

Waktu terus berlalu, nggak terasa aku sekarang sudah kelas 1 SMA. Hari-hariku pun terasa lebih berwarna dengan hadirnya seorang wanita dalam hidupku, Dewi, cewek yang dulu pernah ku kenal lewat handphone. Dia sudah jadi pacarku sekarang. Hampir setiap saat aku dan dia selalu berbagi cerita. Aku bahagia punya pacar kayak dia.

Namun dibalik semua itu, aku sedih dengan keadaan keluargaku. Ayahku sudah jarang sekali di rumah, jarang sekali ngumpul bareng aku dan adek-adekku, makan bersama bareng kami. Ia lebih suka keluar, dan akupun gak tau kemana dan ngapain ayahku.

Sekarang pun aku lihat udah nggak ada lagi ketentraman di rumahku. Ayah dan Ibuku juga udah sering bertengkar. Bahkan di depan aku dan adek-adekku pun mereka nggak segan adu mulut. Entah apa penyebabnya, aku pun nggak tau. Hal ini membuat aku jadi males mau ngapa-ngapain, aku serasa nggak semangat lagi. Namun aku ngerasa aku masih punya dewi yang kurasa masih mampu membuat aku tersenyum dan hilang sejenak dari problema keluargaku.

Sore itu aku sengaja gak pergi ngaji, aku mau di rumah aja. Aku nggak tau entah kenapa aku nggak mau tau lagi rasanya kehidupan di keluargaku. Tapi disisi lain aku juga memikirkan adik-adikku. Aku nggak ingin mental adik-adik aku jatuh karena semua ini. Sejenak aku terhanyut dalam lamunan, mengapa keluargaku seperti ini? Mengapa semuanya berubah begitu cepat?. Ayah dan ibu, maengapa kalian lebih mementingkan ego kalian masing-masing?

Tininit-tittit… tininit-tit… Tiba-tiba saja ada suara yang mengusik lamunanku. Sekilas ku tengok keluar, ohh ternyata bunyi nada pesan masuk di handphone bapakku. Entah apa yang membuat aku terseret untuk melihatnya. Dengan sedikit ragu dan perasaan was-was kuraih handphone itu. “Satu pesan diterima” Begitu yang kulihat di layar hanphone bapakku itu. Dengan penasaran ku buka pesan yang masuk kehandphone bapakku itu.
Sreekhh.. Aku terkejut melihat pesan di handphone tersebut, Seakan darahku serasa berhenti mengalir, Jantungku berhenti berdetak.
“Sayaang, Kamu lagi ngapain? Aku kangen ni sama kamu…” Begitu tulisan yang kubaca di handphone bapakku itu.
Jadi ini penyebabnya kenapa ayahku berubah, ternyata ia punya cewek lain di luar sana. Pantaslah ibuku sering marah-marah padanya dan mereka sering bertengkar. Ternyata karena ini.

Dengan perasaan kesal dicampur dengan emosi, ku ambil nomor cewek itu dan aku bermaksud untuk menelponnya malam ini, supaya ia tidak mengganggu keluargaku lagi.
Namun apa?
Aku begitu terpana dengan kenyataan yang kuterima saat aku menyimpan nomor itu di handphoneku, Kali ini darahku bukan cuma berhenti mengalir, namun serasa berserakan di lantai, hatiku serasa disayat sembilu berbisa.

Kenapa tidak..
Ini nomor Dewi pacarku, berarti dia juga… Oh tuhan.. Mengapa semua ini harus tejadi padaku, dan mengapa harus ayahku yang menjadi aktor ketiga dari semua ini. Seakan aku pun nggak percaya semua ini terjadi.

Dewi yang selama ini menemaniku, Dewi yang selama ini selalu mengisi hari-hariku, yang selalu memberi warna tersendiri dalam hidupku, Ternyata juga memberi warna tersendiri dalam kehidupan ayahku dan juga kehidupan keluargaku. Warna kelabu bahkan boleh dibilang warna hitam pekat yang diukirnya dalam kehidupanku, ayahku dan keluargaku.

Aku tertunduk tak berdaya dengan semuanya, tanpa terasa air mata jatuh membasahi handphone yang sedari tadi ku genggam..
Aku jatuh..
Aku rapuh..
Cuma itu yang kurasakan sekarang…

Cerpen Karangan: Andri Rikardo
Facebook: Andry Ricardo

Cerpen Mengapa Harus Ayahku? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ambisi Warga Yang Salah

Oleh:
“Mimpilah kau ingin seperti mereka!” suara Yanto mengagetkan seorang anak yang sedang memperhatikan jalan. Ketika anak itu sedang melihat orang-orang yang berlalu lalang di jalan dan akan menuju mall

Kotak Impian

Oleh:
Kampung bahagia, tempat Ryan melewati hari-hari bersama ibu dan adiknya. Hidup tanpa kehadiran seorang ayah tak membuatnya kehilangan semangat, meskipun dalam kondisi ekonomi yang kurang memadai. Ryan yang masih

Bahagia Ku Bersama Mu

Oleh:
Setiap manusia tidak ada yang tahu kapan malaikat maut akan menjemputnya dari kehidupannya. Tidak ada manusia yang abadi dan kekal, kita harus menerima apa yang memang seharusnya kita terima.

Tegar, Ikhlas dan Bersyukur

Oleh:
Aku adalah seorang pria yang boleh di bilang lugu, cupu dan kurang pergaulan, Semasa aku smk aku di kenal sebagai anak yang biasa saja tapi aku mempunyai mimpi dan

Relakan Semua

Oleh:
Di luar masih hujan. Aku hanya berdiam diri di dalam kamar, terbaring lemah dengan selimut tebal yang nyaris menutupi seluruh tubuh. Sudah dua hari aku tak masuk ke sekolah,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *