Mengarang Tapi Tak Jadi Pengarang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 16 June 2016

Maafkan aku, Kek. Ayahku belum sempat membaca tulisanmu atau bahkan membaca nasihat darimu yang kau tulis untukknya 54 tahun yang lalu. Dia bahkan tak pernah membuka buku harianmu yang bertumpuk dalam sebuah kardus di dalam gudang rumah. Dia terlalu sibuk untuk membaca tulisan-tulisan yang tak terlalu penting baginya. Tapi aku membaca semuanya, hampir semuanya. Tulisan dalam buku harian Kakek dan buku-buku karya Kakek yang berjajar di perpustakaan kota.

Kakek memang benar. Zaman sekarang memang sudah jauh berbeda dari yang dulu. Orang-orang sudah punya mobil pribadi, tak perlu lagi naik angkutan kota. Tambang emas juga sudah mulai digali, dan masih banyak lagi yang benar. Dan tentang nasihat Kakek itu. Ayah memang tak jadi seorang pengarang, seorang astronot ataupun insinyur pertambangan. Ia bekerja di balik layar, mengotak-atik gambar lewat satu set komputer. Aku rasa ayahku juga kelelahan saat bekerja. Keriput mulai terlihat di wajahnya dan kantung matanya sudah mulai menghitam, matanya juga rabun sehingga dia harus pakai kacamata minus. Tapi yang aku lihat, Ayahku memang tak berminat menjadi seorang pengarang. Ia lebih pandai dalam bidang yang ia geluti sekarang.

Tapi Kek, apa aku boleh jadi seorang pengarang seperti Kakek dulu? Tanpa orangtuaku ketahui. Aku sudah banyak mengirim naskah ke berbagai majalah dan koran. Entah berbentuk sajak atau cerpen. Tapi hanya sedikit yang dimuat, bahkan di salah satu majalah tak pernah memuat karya-karyaku. Jadi aku masih belum mendapat banyak honor dalam profesiku sebagai pengarang amatiran.

Oh iya, menjadi pengarang tidak akan menjadi profesi tetapku. Aku takut nasibku akan berakhir seperti temanmu itu, jika aku masih tetap menjadi pengarang. Setidaknya profesiku tak akan merugikan diriku atau bahkan kehidupan orang banyak. Aku nantinya akan bekerja sebagai guru untuk membantu banyak anak nantinya. Dan aku tidak akan meninggalkan kebiasaanku untuk terus mengarang. Menghibur banyak orang yang gemar membaca. Lewat media kertas ataupun media elektronik. Intinya, aku tidak akan jadi pengarang tapi aku akan terus mengarang. Mengarang seperti Kakek dan bekerja seperti Ayah.

Cerpen Karangan: Ayu Gita
Facebook: Ayu Gita
Kalau kalian pernah baca cerpen karangan Motiggo Busye “Nasehat untuk Anakku”, cerpen ini dibuat untuk menjawab nasehat itu. Meskipun si penulis belum begitu mahir menulis tapi ia mencoba menuangkannya pikiranya dalam cerpen ini.

Cerpen Mengarang Tapi Tak Jadi Pengarang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kesabaran Dan Perjuangan Putri

Oleh:
Pada sore itu Putri bermain dengan teman temannya di perkampungan yang ia tempati selama bertahun tahun itu. Banyak orang menyebutnya dengan Desa Pusi. Ia bersyukur bisa bertempat tinggal di

Aku Rindu

Oleh:
Debu-debu berserakan, seakan menjadi penghias di kampung sudut kota. Menuangkan diri ke suasana desa yang cukup ramah dan penuh kesunyian. Entah apa yang para penduduk itu lakukan, mungkin sebuah

Kepingan Tentang Dia

Oleh:
Aku merasa iri pada seorang wanita. Wanita yang mana? Siapa? Tentu saja pada dia! Sesosok wanita penginspirasi hidup, dia wanita yang cantik, berhati lembut, penyayang, saleha, penyabar, begitu sempurna.

Usap Rambut Ku, Ma

Oleh:
Belaian tangan Ibu sangat dirindukan gadis kecil itu. Ia kesepian, tak hadir sayang yang dia harapkan. Ayahnya sudah wafat lebih dulu dua tahun silam. Hanya Babysitter yang setia menemaninya

Romantic Love From SulTeng

Oleh:
Aku sedang berjalan di antara kerumunan siswa-siswa lain yang ingin mengetahui bahwa mereka lulus atau tidak. Tahun ini aku sudah akan lulus dari sekolah menengah pertama. Dan saat ini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *