Mengejar Matahari

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Motivasi, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 25 December 2016

“Uhuuk.. Uhuuk.. Uhuuk…!!”. Juleha yang menyunggi nampan yang berisi jajanan pasar, menahan batuk dengan tangan kanannya, lantas ia mencoba menaruh sunggihannya di atas meja. Mendengar suara batuk-batuk dari sang nenek, keluar lah Andy dari balik selambu kamar di sudut ruangan, ia berusia sekitar 15 tahun mengenakan kaos putih kusut dan agak kumal, lantas ia menghampiri sang nenek dan membantu menurunkan nampan yang di sunggi sang nenek tersebut dan lanjut ia membantu mendudukan sang nenek yang telah berumur 65 tahun itu ke bangku lapuk di sebelah meja.

“Nenek sakit ya, kalau nenek sakit nenek jangan berjualan dulu, biar Andy yang berjualan hari ini, nenek istirahat saja di rumah ya”, Cakap Andy sambil menuangkan air putih yang ada di meja lalu memberikan air putih itu kepada sang nenek dan sesegera Juleha mengambil segelas air itu dari tangan cucunya.

“Nenek tidak apa-apa Ndi, nenek baik-baik saja, sudah sekarang kamu siap-siap berangkat sekolah sana, dari pada nanti kamu telat. Oh iya, itu ada singkong rebus kamu makan dulu sana”. Tegas nenek kepada Andy agar tidak mengkhawatirkan keadaannya yang sedang sakit.

“Udah, nenek istirahat saja, biar Andy yang jualan dan nenek harus istirahat di rumah..!”. Andy menepuk bahu sang nenek untuk menyakinkannya menggantikan berjualan dan merelakan untuk tidak masuk sekolah di pagi itu.

Andy tidak memiliki ayah dan ibu, bisa dibilang ia anak Yatim-Piatu. Ia sudah lama ditinggal oleh kedua orangtuanya. Saat ia berusia 5 tahun ia ditinggal oleh ayahnya, bukan karena ayahnya meninggal dunia namun karena ayahnya pergi dengan wanita lain dan meninggalkan Andy dan ibunya. Setelah sang ayah pergi, Ibunyalah yang menggantikan tugas sang ayah untuk mencari nafkah sebagai buruh cuci dan ia harus berjuang sendiri untuk menghidupi keluarga. Seiring berjalannya waktu, upah dari buruh cuci tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan untuk sekolah Andy. Demi bisa menghidupi dan menyekolahkan anaknya, saat Andy menginjak umur 7 tahun ibunya memutuskan pergi menjadi TKW karena mau tidak mau ekonomi dan kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi untuk tetap bertahan hidup saat itu.

Narti, sang ibu memutuskan untuk menjadi TKW di Hongkong dan berharap bisa mengangkat ekonomi keluarga dan yang pasti Andy bisa tetap terus bersekolah. Andy sangat menyayangi Narti ibunya, sangat berat hati Narti harus meninggalkan anak semata wayangnya yang dimana anak seumuran Andy sedang butuh-butuhnya kasih sayang seorang ibu. Namun bagaimana lagi, mau tidak mau keputusan Narti sudah bulat dan ia harus menjelaskan pada anak semata wayangnya itu untuk mengerti akan keadaan keluarga. Dan akhirnya Andy dititipkan kepada Juleha yang tak lain adalah nenek Andy.

Waktu terus berlalu, tidak terasa lima tahun lebih sang ibu telah bekerja di negara orang. Dan syukur kehidupan mereka mulai meningkat dari kebutuhan hidup dan sekolah untuk Andy. Namun tidak untuk tahun ke-7 awal januari, Juleha nenek Andy mendapat kabar yang mengagetkan dari kepolisian setempat bahwa putrinya yaitu Narti meninggal di Hongkong karena kecelakaan kerja, Narti jatuh dari gedung apartemen saat ia mau menyelamatkan anak sang majikan yang terjepit di pagar jandela apartemen lantai 12. Alhasil dari aksi heroiknya Narti harus rela menukarkan nyawanya dengan anak sang majikan. Setelah hampir satu minggu sejak berita kematian Narti, akhirnya jasad Narti tiba di Tanah Air dan langsung dikebumikan.

Tiga tahun telah berlalu setelah kepergian Narti, Andy dan Juleha neneknya harus berjuang hidup sendiri. Juleha berjualan jajanan pasar dan ia jual berkeliling kampung, sedang Andy di sela kegiatan belajarnya setelah pulang sekolah, Andy menyempatkan diri berusaha mendapatkan rupiah dengan menjadi seorang pemulung demi memembantu dan meringankan beban nenekmya untuk mencari nafkah.

Na’as memang, namun harus mereka lakukan demi isi perut dan keinginan Andy yang kuat untuk tetap bisa sekolah. Meski dalam keadaan kekurangan Andy termasuk anak yang rajin dan sangat pandai di sekolahnya, ia selalu medapat ranking pertama dan juara dalam berbagai perlombaan cerdas cermat yang ia ikuti untuk mewakili sekolahannya. Kehidupan memang sangat kejam dan tidak bersahabat, namun semua itu tidak menyurutkan hati dan mimpi Andy untuk tetap maju dan merubah keadaan mereka. Juleha selalu mengajarkan Andy agar ia bisa selalu mensyukuri setiap nikmat yang diberikan oleh Tuhan. Jeluha selalu berkata dan menjelaskan nilai kehidupan pada Andy, agar si cucu bisa selalu tabah dan menyukuri nikmat dari-NYA dalam keadaan apapun.

“Andy nikmat Tuhan itu tidak selamanya harus berupa harta atau apapun yang terlihat oleh mata. Ingat kesehatan kita dan bahagia kita itu juga termasuk nikmat yang diberikan Tuhan untuk kita. Kita memang serba kekurangan tapi kalau hati ini lebih bisa bersyukur, maka diperkayalah hati dan pikiran kita dan itu adalah kebahagian yang tak ternilai”. Ucap si nenek kepada Andy yang berada duduk di sampingnya.

Dengan memakai kaos puith yang sedikit kusam dan sandal jepit warna hijau yang ia pakai, Andy menyusuri sudut-sudut jalan untuk menjajakan dagangannya menggantikan sang nenek, ia memutuskan untuk tidak bersekolah hari itu dan membantu tugas neneknya. Tidak mudah untuk menjual dangangannya, ia harus berjalan lebih dari 3 kilometer untuk bisa menghabiskan dangangannya itu.

Jam telah menunjukan pukul 13.15 WIB, Andy yang telah berjalan tanpa henti akhirnya berhenti sejenak untuk melepas lelah tubuh kecilnya itu di pinggir terotoar Taman Raya. Ia menaruh nampan yang telah kosong itu di sampingnya. Ya, Andy sangat bersyukur hari itu karena dagangannya habis terjual namun ia menyisihkan satu bungkus roti dagangannya itu untuk ia santap sebagai makan siang.

“Terimakasih Ya Tuhan, untuk nikmat-MU hari ini, sepotong roti ini pun sudah cukup untuk mengenyangkan perutku”. Andy tersenyum sambil ia memandangi roti yang mau ia makan itu.

“Nak, kasiahan nak, cucu kakek belum makan”, Seorang kakek-kakek dengan menggendong anak kecil yang usianya sekitar lima tahun tiba-tiba menodongkan tangannya di hadapan Andy meminta belas kasih. Andy yang semula berniat memakan sepotong roti itu, tanpa pikir panjang ia langsung memberikan roti yang seharunya jatah makan siangnya kepada kakek itu.

”Ini kek, aku Cuma punya sepotong roti, semoga ini bisa sedikit membantu masalah kakek”. Serah Andy kepada kakek itu.

“Terimakasih banyak nak, semoga Tuhan membalas budi luhurmu”, ucap kakek itu perlahan meninggalkan Andy dan kakek itu sesegera memberikan sepotong roti yang diberi Andy kepada cucu yang digendongnya tadi, dan langsung dengan cekatan anak kecil yang digendongnya itu memakan dengan lahap roti pemberian Andy. Lantas Andy memandangi anak kecil itu sambil mengelus-elus perutnya dan sesekali lidahnya menjilat kecil bibir bawahnya.

“Hmm… Sabar ya perut, nanti kau juga akan mendapat nikmatmu, Maaf bukan aku tak peduli denganmu, tapi cucu kakek itu lebih membutuhkannya dari pada aku”. Andy berbicara halus kepada perut yang ia elus-elus dengan tangannya. Lima menit berlalu, hanya air putih yang ia bawah dari rumah yang dapat mengisi perutnya siang itu.

“Hey bocah, kamu ini sebenernya pintar atau benar-benar bodoh, Heh..!”. Bisik pelan seoarang pria asing yang memakai kemeja hitam dan membawah tas ransel di belakangnya. Ia lalu nyelonong duduk disamping Andy. Andy tercengang akan kehadiran pria itu dan sedikit bingung melihat seseorang yang tidak ia kenal sebelumnya tiba-tiba duduk di sampingnya.

“Ini roti, aku tadi beli 2 potong.. Eh, ternyata rotinya Gede banget, Nggak habis aku, dari pada aku buang mending buat kamu..!”. Pria itu mengeluarkan dua potong roti dari dalam tas ranselnya sambil ia melepas senyum kepada Andy.

“Sudah jangan bengong gitu, ini makan..”. Pria itu menyodorkan sepotong roti pada Andy yang masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat, namun kemudian tanpa ragu-ragu Andy yang sudah kelaparan meyambut sepotong roti pemberian pria itu dan lantas ia langsung melahap roti tersebut tanpa rasa curiga sedikit pun.

“Pelan-pelan kalau makan…”. Pria itu tersenyum melihat Andy yang makan dengan cekatnya.

“BuNG, Aksih anyak ya Uhuk Oinya”. Cakap Andy dengan mulut masih penuh dengan roti.

“Heeey, telan dulu baru ngomong Bocaaah, aku tidak mengerti dengan bahasa planetmu itu tau..”. Sindir pria itu pada Andy, lalu ia menyodorkan air putih yang dibawanya. “Ini minum dulu”. Andy menerima botol air itu dan langsung meminumnya.

“Hmm.. Makasi ya Bang buat rotinya”. Tutur Andy sambil ia mengelap bibirnya dengan tangan dan menaruh botol air minum itu di samping nampannya.

“Iya sama-sama, Oh ya.. nama kamu siapa?”. Tanya pria itu pada Andy.

“Andy om…”. Jawab singkat Andy sambil membereskan nampan yang ada di sampingnya itu.

“Hey… tadi panggil Bang, sekarang panggil Om, nggak punya pendirian banget sih kamu Ndy”. Goda pria itu memperhangat percakapan mereka. Tawa memang mudah menular dan itu menular pada Andy yang tadinya lemas kaku.

Dari pertemuan itu mereka mulai akrab dan sering bertemu untuk belajar dan sekedar bercanda gurau beberapa bulan terakhir. Andy sangat menyukai si Roy karena dia sudah sangat baik dan mengerti akan Andy.

Roy, R-O-Y itu nama pria yang telah memberikan sepotong roti pada Andy waktu itu. Karena kerakatan tersebut Andy sudah menganggap Roy seperti kakaknya sendiri, begitu pun juga Roy. Mungkin karena mereka cocok dan saling membutuhkan satu sama lain. Andy butuh seorang kakak dan Roy butuh seorang adik.

Dua minggu telah berlalu, Andy yang pulang sekolah seperti biasa ia melanjutkan kegiatannya untuk memulung. Setelah ia selesai dengan kegiatannya itu, ia bergegas ke tempat kontrakan Roy dan berharap bisa bertemu dengan Roy untuk mengajarinya belajar setelah ia selesai mulung. Namun disayangkan sesampainya ia di tempat kontrakan, Roy ternyata sedang tidak ada di tempat. Setelah beberapa menit memastikan bahwa Roy tidak ada di tempat, Andy langung balik kanan dan bergegas untuk pulang ke rumah. Butuh waktu tiga puluh menit dengan berjalan kaki, jarak antara rumah Andy dan kontrakan si Roy. Dan 30 menit telah berlalu, sampailah Andy di rumah kesayangannya itu.

“Nek, Andy pulang”, Sapa Andy memasuki rumah dan menaruh karung plasik yang digunakannya untuk memulung itu di sebelah pintu masuk rumahnya.

“Nek.. Nenek..,” Andy mencoba memanggil sekali lagi sang nenek karena tidak kedapatan balasan dari nenek, “Ah, mungkin nenek sedang beristirahat”, ucapnya dalam hati, lalu ia menuju kamar sang nenek dan betapa kagetnya Andy kedapatan neneknya yang tersungkur di bawah tempat tidur. Dengan perasaan panik ia menghampiri sang nenek yang tergeletak di lantai kamar.

“Neeek, neneeek…”.

“Neenek, kenapa neek… Neeek…”. Andy yang langsung panik mencoba menggoyang-goyangkan tubuh sang nenek. Namun tidak ada tanda-tanda Juleha bergerak sekali pun. Terlihat bercak darah di bibir Juleha dan seketika itu semakin panik pula Andy melihat kondisi neneknya yang tak berdaya.

“Tolooong… Tolooooong… “. Tanpa berpikir panjang Andy berteriak dan menjerit sekuat-kuatnya dengan air mata yang mulai bercucuran membasahi pipinya, berharap ada yang mendengar teriakannya dan segera membantunya.

“Tolooooooong, Toloong nenek sayaaa…”, Andy mencoba menjerit sekali lagi namun belum ada satu pun orang yang mendengar dan datang untuk membantunya. Andy menangis, bingung dan bercampur panik, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Akhirnya ia berinisiatif berusaha membangunkan dan membopong tubuh kecil si nenek. Andy menggendong si nenek ke luar rumah sambil ia tetap berteriak meminta tolong tapi tetap saja tidak ada satu pun orang yang menghampiri dan menolongnya.

Andy terus berjalan tanpa alas kaki dengan tetesan air matanya yang jatuh tepat pada tubuh sang nenek. Ia mencoba membawa sang nenek ke Puskesmas terdekat dan berharap bisa mendapat pertolongan disana. Panas terik ia tetap berjalan dan terus berjalan. Tidak ada satupun orang yang peduli melihatnya dan akhirnya setelah berjerih payah menggendong neneknya, ia berhasil membawa Juleha sampai pintu Puskesmas yang berada tak jauh dari rumahnya.

“Tolooong.. Tolong nenek saya”. sambil menangis ia meminta tolong pada bidan yang jaga di Puskesmas itu.

“Andy, nenek kenapaaa?”. Salah satu bidan yang mengenal Andy dan Juleha berusaha menolong, ia membopong Juleha dari tangan Andy dan segera ia bawah Juleha ke ruang pemeriksaan.

“Lusy, Tolong segera periksa kondisi Nenek Juleha”, Bu Aprelia memberi intruksi kepada bidan lain untuk segera bergegas menangani nenek Juleha. Lantas Bu Aprelia kembali menemui Andy.

“Sudah kamu sekarang tenang dulu, biar Ibu Lusi tangani nenekmu”, Ibu Aprelia menepuk bahu Andy, ia mencoba membopong Andy yang telah kelelahan menggendong sang nenek dan didudukanlah Andy di bangku ruang tunggu.

“Sudah kamu jangan nangis, nenek kamu akan baik-baik saja, sekarang kamu berdo’a agar nenekmu baik-baik saja”. Ibu Aprelia mengusap air mata Andy dengan kedua tangannya dan lekas ia segera mengikuti masuk ke ruang periksa.

Beberapa menit berlalu, Ibu Aprelia keluar dari ruang periksa dengan keadaan wajah yang pucat pasi. Lalu ia menghampiri Andy yang berada di ruang tunggu, perlahan ia duduk di samping Andy dan lantas ia langsung memeluk Andy dengan hangat.

“Andy, kamu harus kuat dan bersabar ya, semua ini sudah kehendak-NYA…”, Bu Apriani memeluk Andy dengan rapat, tak sanggup ia berkata lagi untuk mengabarkan bahwa neneknya telah meninggal dunia. Ia hanya memeluk Andy dan meneteskan air mata. Sedang Andy hanya diam seribu bahasa, tanpa tangisan dan dengan tatapan mata yang kosong, ia sadar dan tau benar apa pesan yang telah disampaikan Bu Aprelia bahwa neneknya tidak tertolong lagi. Andy terdiam bak patung dan tatapan kosongnya memandang langit-langit Puskesmas. Lalu…

“Aaaaaaaahhh, Aaaaaarghh… Huaaaaa ha, ha, haa, haaaa haaaa!!!”. Andy berteriak sekencang-kencangnya dan sekuat tenaga ia menjerit melepaskan semua sedih dan amarahnya yang bercampur aduk menjadi satu.

“Sabaaar, Andy Sabaaaar…”. Tangis Bu Aprelia sambil ia memeluk tubuh Andy dan mencoba menenangkan diri Andy yang shock dengan meninggalnya sang nenek. Tiba-tiba tubuh Andy yang tadinya tegang dan menjerit tak karuan menjadi lemas, berakhir terkapar tidak sadarkan diri di pelukan Bu Aprelia.

“Andyyyy, Andyyyy Banguuuun Ndyy, Ya Tuhaaan…”. Andy yang tak kuat menahan letih dan kesedihannya akhirnya mencapai puncak lelah dan ia pun pingsan.

Setelah kejadian di Puskesmas itu Andy tidak sadarkan diri selama dua hari dan ia harus dirawat di rumah sakit karena shock berat yang dialaminya. Bagaimana ia tidak shock, Juleha adalah keluarga dan sekaligus satu-satunya orang yang ia miliki di dunia ini. Entah bagaimana perasannya sekarang, umur 5 tahun di tinggal pergi sang ayah, lanjut kepergian ibunya saat ia berusia 7 tahun dan sekarang ia harus kehilangan nenek yang dicintainya. Kehidupan ini memang tak adil, yang sejahtera tetap sejahtera dan yang menderita tetap menderita bak kehidupan di hutan rimba, siapa yang kuat, dialah yang berkuasa.

Jam telah menunjukan pukul 15.00 WIB. Suasana rumah sakit saat itu begitu dingin dan sunyi. Andy mulai membuka matanya perlahan, ia mulai sadarkan diri dengan penglihatan yang masih samar-samar. Ia mencoba menengokkan kepala ke kanan kiri memastikan dimanakah ia berada sekarang. Ia berusaha bangun dan bersandar di sandaran tempat tidur dimana ia menginap. Ia masih bingung dengan tempat yang terasa asing baginya. Ia melihat terdapat tumpukan rangkaian buah terdapat di meja, Televisi LCD disudut kamar, lemari es yang berada di dekat televisi dan nusansa interior ruang yang indah tak seperti rumah sakit pada umumnya tapi malainkan lebih mirip sebuah kamar hotel. Maklum itu adalah ruang VIP nomor I di rumah sakit itu tempat Andy dirawat.

“Sudah bangun kamu ternyata…”. Sahut seseorang yang datang dari balik pintu dengan membawah kotak makan di tangannya.

“Kak Roy… Dimana aku?”. Tenyata orang masuk ke ruangan dan menyapa Andy adalah Roy.

Roy? Kenapa tiba-tiba ada Roy dan kenapa dia ada di rumah sakit itu dan apa yang sebenarnya sudah terjadi?

Tiga hari yang lalu…
Sore itu Roy datang ke rumah Andy berniat mengajak Andy untuk pergi jalan-jalan dan mencari beberapa buku di toko buku di kota. Namun saat Roy memasuki gang jalan rumah Andy, terdapat bendera kuning yang terpampang di pinggir gang yang terikat bambu yang menjulang 30 ke arah jalan. Roy penasaran dan bertanya pada orang-orang yang telah berkumpul sekitar area gang tersebut.

“Maaf pak, siapa yang meninggal?”. Tanyanya pada salah satu warga dengan perasaan yang sedikit cemas.

“Itu mas, Nek Juleha yang biasanya dagang jajanan pasar, ia meninggal siang tadi di PUSKESMAS karena menyidap sakit jantung”. Setelah mendengarkan jawaban dari warga tadi, Roy langsung bergegas menuju arah rumah Andy dengan menerobos kerumunan warga yang berbela sungkawa sesambil ia memanggil-manggil nama Andy. “Andy… Dy… Andy…”. Namun ia tidak menemukan Andy dan jasad nenek Juleha di rumah itu, disitu hanya ada beberapa warga yang berbela sungkawa dan memanjatkan do’a di ruang tamu.

Jelas saja ia tak menemui jasad sang nenek untuk ia lihat dan memberikan penghormatan yang terakhir kalinya, karena Roy datang setelah nenek Juleha dikebumikan di TPU terdekat. Akhirnya Roy duduk disudut ruangan itu dan air matanya pun jatuh membasai pipinya. Ia tak tau kemana dan dimana Andy sekarang, bagaimana kondisinya dan betapa sedihnya perasaan Andy melihat kenyataan ini. Roy terus memikirkan hal itu dalam benaknya, kemudian ada seorang wanita separuh baya menghampiri Roy yang sedang dalam keadaan terpukul dan bingung itu.

“Andy masih ada di Puskesmas, ia pingsan…”. Dan panjang lebar wanita itu menceritakan semua kejadian siang itu kepada Roy. Roy hanya terdiam dan menahan sesak di dadanya karena menahan air mata kesedihan dalam lupuk hatinya. Setelah mendengar penjelasan dari wanita separuh baya itu, Roy langsung pergi untuk menjemput Andy di Puskesmas, namun sebelum ia menuju ke Puskesmas tempat Andy berada sekarang, ia menyempatkan diri untuk mengunjungi makan Si Nenek yang berada di TPU sejalur dengan jalan ke Puskesmas untuk mendo’akan dan meminta restu untuk mengajak Andy bersamanya. Ya, Roy berniat memindahkan Andy ke rumah sakit di kota agar bisa mendapatkan perawatan yang lebih insentif dan sekaligus untuk bisa sedikit menenangkan hatinya yang sedang kacau karena sepeninggal sang nenek. Setelah selesai berdo’a untuk mendiang nenek Juleha, Roy segera menjemput Andy dan langsung membawanya ke rumah sakit terbesar dikota yang jauh dari perkampungan tempat tinggal Andy.

“Kamu ada di rumah sakit sekarang, kamu sudah duaa hari tidak sadarkan diri sejak di Puskesmas…”. Roy menjelaskan apa yang terjadi sambil ia menaruh kotak makan itu dimeja.

Sesaat Andy mengingat apa yang telah terjadi pada neneknya.

“Nenek.. Neneeeek… Aaaaaargh…!!!”. Andy memegang kepala dengan kedua tangannya yang telah mengingat apa yang terjadi pada neneknya, lalu ia menarik jarum infus yang ada di tangannya kemudian ia menjerit sambil berlari ke luar ruangan.

“Neneeeeeeek”. Ia berlari sekuat tenaga, sedang Roy langsung mengejarnya dari belakang, ia berlari mendekati Andy, lantas ia menarik tangan Andy kuat-kuat.

“Sudah Ndy, Sudaaaah”. Roy yang berusaha menyadarkan diri Andy yang tidak terkontrol di lorong rumah sakit.

“Lepaskan tangankuu… Nenek sedang membutuhkanku sekarang, lepaaaas”. Andy yang berontak mencoba melepaskan tangannya dari tangan Roy.

“Andy sadarlaaah.. Nenekmu sudah meninggal, Aku tau kau sedih, tapi bukan berarti kamu harus menyakiti dirimu sendiri Ndy, Ikhlaskan nenekmu Ndy”. Roy menarik tubuh Andy dan membawah dalam pelukannya. Andy yang masih lepas kontrol mendorong tubuh Roy sampai ia terjatuh.

“Tau apa kau tentang kesedihanku kak. Tauuu apaaaa… Kau tau! tak ada seeorang pun yang mau membantuku, peduli dengan nenekku… tau apa kau tentang semua kesediahanku itu Haah!!!.” Tepis Andy menatap tajam pada Roy lalu ia berbalik membelakangi Roy dan berlari menyusuri lorong rumah sakit itu. Roy yang tidak tinggal diam ia lantas lari mengejarnya dan mencoba menangkap Andy. Jarak 50 meter Roy berhasil menyusul Andy dan meraih kerah baju belakang Andy dan tersungkurlah mereka berdua di lantai lorong rumah sakit itu.

“Andy tenanglah”. Roy berusaha menahan Andy yang meronta-ronta dengan cara menindih badan Andy yang terlentang dan mencengkram kuat-kuat kerah baju Andy dengan kedua tangannya.

“Lepaskan akuu, lepaskaaan…”. Andy mencoba melawan sekuat tenaga untuk melepaskan tubuhnya dari tindihan tubuh Roy. Namun usahanya sia-sia, tubuh mungilnya tidak dapat berkutik karena tubuh Roy yang lebih besar dan kekar itu menekan tubuhnya agar tidak bisa keluar dari cengkraman.

“Andy dengarkan kak Roy”.

“Apaaa, Apa yang harus aku dengarkan, tidak ada yang bisa dijelaskan. Kau tak mengerti kak, Kauuu tak mengerti perasaanku…”.

“Kak Roy mengertii Ndyy.. kakak mengerti bagamana sakit dan sedihnya perasaanmu sekarang… Kakak mohon tenanglah Ndy.. tenanglah…”. Tanpa sadar air mata Roy keluar dan jatuh menetes tepat pada wajah Andy. Seketika itu Andy yang merasakan tetes air mata kesedihan yang keluar dari mata Roy begitu dingin hingga membuat perasaan Andy sedikit tenang.

“Kak Roy sangat menyayangimu Ndy, kamu sudah kakak anggap sebagai adek kakak sendiri. Kakak harap kamu tenang. Kamu tak sendiri, masih ada kak Roy disini”. Andy pun menangis mendengar ucapan dari Roy.

“Tapi kenapaaa kaaak, Kenapaa ini semua terjadiii.. Tuhan tidak adil kak… Tuhan TIDAK ADIIIL”.

“Tarik kata-katamu itu Ndy, Tuhan Maha Adil.. kamu masih punya kakak, kamu masih punya kesehatan dan mimpi… Apa kau tak melihat semua itu, masih banyak orang di dunia ini lebih menderita darimu Ndy.. Ingat ituuu… Apa kamu lupa dengan mimpimu hah”… Roy melepaskan genggaman di kerah baju Andy.

“Kamu pernah bilang pada kakak kan, jika kau besar nanti kau ingin menjadi Pengacara yang handal dan jujur, membantu orang-orang yang lemah dan menegakan keadilan di atas segala-galanya. Apa kau lupa itu Ndy!!! Apa kau ingin membuat nenekmu kecewa dengan tingkahmu sekarang!!!”. Roy menatap tajam ke arah mata Andy, dan Andy pun menggelengkan kepalanya yang mengisyaratkan menerima akan perkatan Roy.

“Kamu harus bangkit Ndy, ikhlaskan nenekmu dan buat nenekmu bangga telah merawatmu selama ini, kakak janji akan membantumu meraih semua impianmu, kakak janji…!!!”.

Mendengar perkataan itu, Andy menagis tersedu-sedu, ia bangun dan langsung memeluk tubuh Roy yang ada di depannya itu. Ia melampiaskan kesedihannya di setiap tetes air mata yang ia keluarkan dan ia memeluk rapat-rapat tubuh Roy.

“Andy sangat sayang kak Roy…”. Tangis Andy.

“Menangislah Ndy, menangislah. Keluarkan semua kesedihan dan kekecewaanmu bersama air mata”. Roy membalas pelukan Andy dengan penuh kehangatan dan kasih sayang.

“Andy, ingat kata-kata kak Roy. Kenyataan hidup ini memang keras dan menyakitkan tapi kau harus ingat dan tahu Apapun yang akan kamu hadapi, kamu tidak boleh menyerah dan semua itu takan menyurutkan semangatmu jika kamu YAKIN akan semua mimpimu. Seperti yakinnya matahari yang selalu muncul dari ufuk timur. Jika kau ingin terus maju, maka kejarlah mimpimu seperti layaknya kau MENGEJAR MATAHARI”.

“Iya kak…”.

SEKIAN

Cerpen Karangan: M. Fahmi N.H
Blog / Facebook: pij-karyakita.blogspot.com / F’Days

Cerpen Mengejar Matahari merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


And I Hope

Oleh:
Hai nama saya Ilona, aku berasal dari keluarga yang menjunjung tinggi agama islam. Ya beginilah aku, seorang muslimah cantik yang tinggal di dusun kecil Aku memang terkenal dengan keramahanku,

Terima Kasih Ayah

Oleh:
Namaku Olivia temanku biasa memanggilku dengan nama Oliv, sekarang aku menyukai hobi menulis cerita semenjak diberi tugas buat bikin cerpen aku semakin bersemangat menulis cerita itu, umurku 12 tahun,

Senja Untuk Ayah

Oleh:
Aku Dita, usia ku 12 tahun, aku lupa kejadian terakhir yang menyebabkan saat ini aku harus dirawat di Rumah Sakit, ayah ku bilang aku kemarin pingsan dan sempat mimisan

Benih Apel

Oleh:
Menatap senja di dinginnya malam, menatap lurus pada gemerlap bintang serta benderang bulan. Ibuku telah lama tiada, kini hanyalah bingkaian memori tentangnya yang terus menemaniku. Namaku, Geraldine Scott. Scott

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *