Menggapai Mimpi Walau Tanpa Ayah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 14 August 2017

Di suatu hari ada rumah yang cukup besar yang berisi dua keluarga yaitu anak dan ibu, tidak ada sesosok ayah yang dapat menjadi kepala keluarga. Mereka berdua telah berpisah karena perbedaan pendapat yang tidak dapat diselesaikan, ayahnya meninggalkan anaknya dari umur 1 tahun. Nama anak itu adalah Ldya Azzahra yang kerap dipanggil Zahra ia berumur 13 tahun dan sekarang Ia mendudki bangku Smp kelas 2, cita citanya adalah menjadi orang sukses, Ia selalalu dimarahi oleh ibunya walau itu hal sepele.

Pada saat malam Ia tidak sengaja menyenggol cermin milik ibunya, ibunya itupun kaget dan langsung memarahinya “Kamu gak lihat ya kalau jalan? Lihat itu cermin ibu pecah!!” “Maafin ibu Zahra tidak sengaja menyenggolnya dan itu kan cuman hal sepele saja” “Hal sepele katamu?” “Kaca itu kan bukan barang berharga tidak seperti emas kan?” “Terserah kamu saja, malam ini jangan bicara kepada ibu!!”

Zahra berjalan menuju kamarnya untuk mengurung diri Ia menangis dan bila ia sedih ia langsung mencurahkan kesedihannya di buku diary kesayangnnya itu “Tuhan mengapa ibu selalu memarahiku? Apa ibu tidak menyayangiku? Apa aku tidak pantas ada di dunia ini? Mengapa aku selalu salah dalam hal apapun?” Itulah isi buku diary yang Ia tulis.

Malam pun telah berlalu fajar pun terbit saatnya Ia sekolah, Zahra bersiap siap untuk sekolah, 10 menit kemudian Ia heran makanan sudah siapa tetapi ibu mana?, Ia segera bergegas mencari ibunya itu, Ternyata ibunya itu berada di ruang depan sedang menonton Tv “Ibu Zahra pamit ya” Ibu tidak menghiraukan omongan anaknya “Ibu masih marah sama Zahra?, Mengapa?” “Sudah pergi sana jangan ganggu ibu” “Assalammualaikum ibu” Zahra pun berangkat ke sekolah dengan wajah muram.

Sesampainya Ia di sekolah Ia disapa oleh 2 sahabatnya yang bernama Icha dan Reika “Hai” Ia tidak menghiraukan kata kata temannya dan terus berjalan menuju ke kelas, sahabatnya heran mengapa Ia berubah untuk hari ini, dua sahabatnya pun ikut berjalan ke kelas dan menghampirinya “Zahra kamu kenapa?” “Tidak apa apa Icha” “Jam istirahat kita ke kantin ya” “Baiklah Reika”

Selama pelajaran hari ini Ia tidak memperhatikannya sama sekali, saat jam pelajaran Bahasa Inggris Ia di marahi oleh gurunya “Zahra kamu kenapa tidak fokus dengan pelajaran ibu?” “Maafin Zahra bu” “Oke ya udahlah”

Bel pun berdering menunjukkan waktunya istirahat, mereka bertiga pun jalan ke kantin, setelah sampai ke kantin 2 sahabatnya itu memesan makanan tetapi Zahra tidak sahabanya itu membujuk untuk Zahra memesan makanan “Zahra kamu gak pesen?” kata Icha “Enggaklah masih kenyang” “Yaelah aku teraktir deh, Ayolah” Setelah beberapa lama dibujuk zahra pun mau memesan makanan.

20 menit kemudian makanan itu habis dan Icha bertanya “Zahra kenapa kamu? Gak banyak ngomong hari ini? kamu gak papa? “Aku gak papa cuman males ngomong aja” “Ayolah cerita kita kan udah jadi sahabat kamu masa kamu gak mau cerita?”, akhirnya ia pun mau bercerita tentang kejadiannya semalam. Akhirnya kedua sahabaynya mengerti apa permasalahan Zahra dan menyuruh dia untuk sabar, Selesai bercerita mereka kembali ke kelas, setelah berjam jam akhirnya bel pulang pun datang, Zahra segera bergegas pulang.

Ia sampai di rumah mengucapkan salam kepada ibunya dan meminta maaf “Assalammualaiku ibu, maafin Zahra tadi malam ya ibu” “Iya Zahra maafin ibu juga, ibu juga salah telah memarahi kamu masalah kaca itu, setelah kamu ganti baju ayo kita ke meja makan ibu udah masakin buat makan siang. Zahra pun lega mendengar ibunya sudah tidak marah lagi kepada Zahra. Hari pun berlalu Ia tetap saja dimarahi oleh ibunya dan selalu salah di mata keluarganya masih sama ia selalu mengurung dirinya ke kamar menangis dan selalu menulis isi hatinya di buku diary kesayangannya. Ia selalu bertanya tanya mengapa ayahnya tidak pernah memberi kabar kepada Zahra, Ia ingin mempunyai ayah yang baik dan bisa menjadi teman curhat selain ibunya, Ia sangat iri kepada teman temannya yang memiliki ayah yang selalu perhatian kepada anaknya, Ia juga ingin menelepon ayahnya tetapi selalu dilarang oleh ibunya dan ia akan berjanji selalu sayang kepada kedua orangtuanya walaupun mereka sudah hidup masing masing.

Pada hari itu Ia baru merasakan perasaan aneh terhadap seseorang yang bernama Andri, apakah Ia jatuh cinta terhadap Andri yang telah menjadi sahabatnya 2 tahun mengapa Ia merasakannya batu sekarang? Hari demi hari ia merasakan nyaman dan yakin Andri bisa membuatku bahagia yang ia tidak pernah rasakan bersama keluarganya tetapi hal itu berbalik Andri meninggalkan Zahra setelah Ia memberikan harapan palsu untuknya. Zahra menyesal dan berkata “Mengapa Ia begitu? Aku menyesal mengharapkan dia, rasa sayangku sesungguhnya hanyalah kepada ayahku yang sudah lama aku tak pernah rasakan aku sangat rindu kepada ayah, aku yakin aku akan bertemu ayah di suatu saat nanti, aku akan membanggakan kedua orangtuaku aku juga akan menunjukkan piagam penghargaan kepada ayahku suatu saat nanti, aku rela mengorbankan nyawaku bila kedua orangtuaku membutuhkannya, aku sangat menyayangi mereka, aku juga akan menunjukkan kepada ibu bahwa aku bisa membanggakan ibu, bila aku bertemu ayah aku akan menunjukkan rasa rinduku dan sayangku sepenuh hati” itulah komitmen Zahra.

Sesampainya di rumah aku mencium bau enak di rumahku sendiri, Aku mencari ibu, ternyata ibu di dapur aku kaget ia memasak makanan kesukaanku, ternyata Ia ingat hari ulang tahunnku dan ternyata yang paling menngagetkanku ia membaca semua diaryku selama ini “Assalammualaikum ibu, ibu masak makanan apa kok baunya lezat?” “ini sayang ibu masak makanan kesukaanmu” “masak makanan kesukaan Zahra? Untuk apa?” “Hari ini ulang tahunmu kan? sekarang umur kamu lengkap 14 tahun. Maafin ibu ya nak ibu selalu memarahi Zahra (Memeluk Zahra), ibu tau kamu selalu sedih dan mencurahkan kesedihanmu tentang ibu ke buku Diarymu itu, dan bukan mencurahkan isi hatimu ke ibu dan maafin ibu karena melarang kamu bertemu ayah” “Makasih ibu, Sudah ibu tidak usah meminta maaf kepada Zahra seharusnya Zahra yang harus meminta maaf kepada ibu, Zahra tidak membenci ibu, saat ibu tersenyum Zahra melupakan rasa marah itu dan rasa marah itu makin lebih sayang kepada ibu, soal buku diary Zahra tidak mau menyusahkan ibu karena zahra selalu kangen sama ayah” Rasa pelukan ibu kepada zahra sudah lama tidak dirasakan dan sangat dirindukan selama ini.

“ngomong ngomong soal ayah, ibu ada kejutan untuk kamu” Ting tong bel rumah berbunyi sesosok pria yang gagah dan tangguh yang selama ini aku rindukan kembali muncul Zahra berlari dan memeluk erat ayahnya “Ayah mengapa kau menghilang di kehidupanku?, aku sangat rindu kepada ayah, apakah ayah tidak rindu denganku selama ini?” “Maafkan Zahra ayah, Ayah tidak bermaksud begitu, ayah hanya tidak ingin kamu mengingat ayah di kehidupan kamu kedepannya” “Tetapi ayah, ayah janji kan akan selalu bersamaku?” “Iya Zahra, ayah sangat rindu bersamamu”

Akhirnya pun ibunya kembali seperti dulu yang selalu menyayangi zahra dan tidak melarang untuk bertemu Ayahnya

Cerpen Karangan: Icha Azizah
Facebook: Icha Azizahsyangmama
Hay terimakasih telah membacanya , Add fb saya ya Icha azizahsyangmama, follow ig saya Icha Azizah96 dan invinite bbm saya D2B872BE

Cerpen Menggapai Mimpi Walau Tanpa Ayah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Adik Kelas Nekat

Oleh:
Siang itu, ada pelajaran Matematika. Della dan Tresno ribut saja siapa yang mau maju. Aku pun pasrah saja mendengar ocehan mereka. “Gua nomor tujuh.” ucap Tresno. “Gua yang nomor

Hujanku Matahariku

Oleh:
Satu, dua, kuhitung tetes demi tetes air dari langit yang mulai berjatuhan.. Lama, semakin lama, semakin banyak, hingga kusadari bahwa sebenarnya aku tidak bisa menghitung banyaknya air yang turun

10 November (Part 1)

Oleh:
Hari ini hari upacara bendera dan seperti biasanya aku terlambat, akhirnya aku dihukum berdiri di tengah lapangan sampai pelajaran pertama selesai. Astaga, bayangkan saja di terik matahari pagi walaupun

Aku

Oleh:
Hujan kembali datang, membawa angin dan petir. dan aku masih di sini, duduk di sebuah kursi kayu dibalik jendela yang kacanya mulai terlihat mengembun. aku mulai mencoba menikmati udara

Pelangi Arka dan Rain (Part 3)

Oleh:
Tiba-tiba pintu terbuka dan terdengar suara letupan. Ray menutup mata karena terkejut. Namun, ketika ia membuka mata, ia telah di hujani kertas warna warni dari konveti. Ketika ia melihat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *