Menghargai Makanan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 13 October 2018

Malam itu dalam sebuah rumah minimalis tampak seorang wanita paruh baya sedang menyajikan makanan di atas meja. Wanita itu mengatur menu makanan yang disajikannya dengan rapih dan sederhana. Dua buah piring bersih diletakkan serta beberapa lauk seperti ikan goreng dan sayur-mayur, sangat sederhana.

“Glooo!!”
“Gloo sini turun makan dulu, nak” Si Ibu memanggil kembali anaknya karena tak ada respon dari panggilannya yang pertama. Tak berapa lama kemudian sang anak datang dengan langkah yang dihentak keras lalu duduk di meja makan bersama ibunya. Raut wajah Glo jadi lebih cemberut saat melihat menu makanan yang disiapkan ibunya. Ibu memberikan piring pada Glo dengan senyuman tulus. Glo menerima piring itu tanpa mempedulikan senyuman ibunya. Glo akhirnya mengambil makanan yang disediakan.

Sang Ibu menatap anaknya yang sedang makan dengan penuh perhatian, dalam hati seorang ibu tak ada yang segembira melihat anaknya makan makanan yang dibuatnya, sampai tiba-tiba Glo memuntahkan keluar makanannya.
“Kenapa sayang!?” tanya sang ibu dengan wajah terkejut.
“Gak enak, aku nggak mau makan, makanan ini gak cocok buat lidahku” ucap Glo sambil menyeka mulutnya dengan kain. “Mama gimana sih, masa makanan busuk kayak gini dikasih ke aku!”
“Glo kamu nggak boleh ngomong kayak gitu, kita harus menghargai makanan sebagai berkat yang diberikan Tuhan, makanan ini nggak busuk kok nak, ini mama sendiri yang masak cobain lagi deh”
Glo menghempaskan tangan mama yang menaruh makanan di piringnya sehingga membuat sebagian makanan di atas meja tumpah ke lantai, Mama melihat Glo dengan mata berkaca-kaca sementara Glo melenggang pergi masuk ke kamarnya tanpa rasa penyesalan di mukanya.

Keesokan harinya…
Glo sedang berjalan bersama beberapa temannya salah satu teman Glo datang membawa beberapa kue dan snack mereka membagikannya pada masing-masing orang begitupun Glo yang mendapat bagiannya. Mereka sering bercerita dan tertawa sambil menyantap kue mereka, rasa jijik mulai timbul dalam diri Glo saat mereka melewati seorang pemulung yang sedang menyantap makanan dari tempat sampah. Karena tidak tahan Glo membuang makanannya yang masih banyak itu sambil menatap jijik pemulung yang dilewatinya. Teman-temannya menegur dia karena membuang makanannya yang masih banyak itu, namun teguran temannya cuman diabaikan Glo seperti angin berlalu.

Sesampainya di rumah Glo melihat sepucuk kertas yang ditempelkan ibunya di pintu kulkas
“Tunggu mama ya, kita makan malam bareng”
Sesaat membaca tulisan Ibunya Glo masuk ke kamarnya untuk membaringkan diri. Tasnya dilempar sembarang begitu juga sepatu dan barangnya yang lain bahkan bajunya pun berserakan di lantai kamar. Tak tampak niat Glo untuk membereskan semua barangnya, bahkan diumurnya yang sudah bisa dikategorikan dewasa seringkali sang ibu yang membereskan dan merapikan kamarnya.

Beberapa jam kemudian saat Glo nyaman dengan tidurnya, ternyata sang ibu telah tiba di rumah, setelah mengecek Glo yang sedang tertidur pulas, ibu langsung menuju dapur mengeluarkan belanjaannya sembari mulai menyalakan kompor dan memotong-motong beberapa daging untuk persiapan makan malam mereka. Tak lama setelah itu terdengar derap langkah kaki ke arah dapur membuat ibu menoleh. Ternyata Glo telah bangun. Ibunya tersenyum manis namun seperti biasa anaknya langsung meraih air untuk diminumnya. Glo membuka penutup makanan yang telah disediakan ibunya di atas meja, matanya membesar bahagia karena ibunya menyajikan salah satu makanan favoritnya.

Tak hitung menit Glo langsung mengambil piringnya dan menyendok nasi yang banyak ke piringnya serta hampir seluruh lauk favoritnya. Ibunya sangat senang melihat anaknya yang dengan lahap menyantap hidangan yang dibuat ibunya, tapi lama kelamaan sang ibu mulai berbicara padanya.
“Nak pelan-pelan aja makannya, mama nggak makan kok, itu mama buat khusus buat kamu, kan kasian kalau kamu ambilnya banyak gitu terus nanti nggak di habisin, dosa loh buang-buang makanan.”
“ah! mama cerewat, suka-suka aku dong ma” jawab Glo sambil terus melahap makanannya.
“iya mama tau, tapi mama nggak mau anak mama nanti jadi kebiasaan ambil banyak terus nggak dihabisin, makanan kalau kita buang bisa nangis loh, ntar kamu susah nyari makan.” Ibunya terus menasehati Glo namun tidak didengar karena keenakan menyantap makanannya.

Benar saja belum berapa lama setelah itu Glo melepas sendok makannya dan bersandar di kursi menandakan bahwa dia sudah selesai makan. Sisa makanannya banyak, nasinya hampir separuh nggak habis, sebenarnya Glo sudah makan banyak tetapi yang diambilnyapun sangat banyak sehingga tak mampu dihabiskannya. “tuh kan udah mama bilang, kalau mau makan ambilnya diukur nanti kalau habis ditambah” ujar mama. “ihhh, mama ikhlas nggak sih ngasih aku makan? Kalau nggak ikhlas bilang aja biar aku cari makan di luar!” balas Glo pada Ibunya. Ibu menggeleng-geleng kepala pada Glo. “Mama bukan nggak ikhlas, udah kewajiban mama mendidik anak mama biar nggak salah jalan. Membuang-buang makanan itu nggak baik nak, itu termasuk dosa. Masih banyak orang di luar sana yang nggak bisa makan sementara kita dikasih berkat Tuhan buat makan, masa kita buang gitu aja.” Ujar mama menasehati Glo sambil memegang pundaknya. Glo mendecak “ahh udahlah ma, aku males berantem aku dah ngantuk, mau tidur, makasih ya masakannya, lain kali masak kayak gini lagi biar Glo mau makan.” Glo berjalan meninggalkan ibunya sendirian di dapur dengan hati yang rapuh melihat sikap anaknya.

Hari itu terasa berbeda dari sebelumnya buat Glo, tak terdengar suara ribut-ribut di luar kamarnya, dia melihat jam di HP-nya sudah menunjukan pukul 9:35 pun suaranya ibunya tak terdengar biasanya sang ibu akan membangunkan dia lebih cepat dari jam sekarang. Glo keluar dari kamar untuk mengambil air memuaskan dahaganya, kondisi rumah sangat sunyi tak ada tanda-tanda keberadaan ibunya, berhubungan hari ini tanggal merah sang ibu tidak masuk kerja. Saat selesai meneguk minumannya, glo berjalan memeriksa dapur namun tetap tidak dapat menemukan ibunya. Dia pergi mengecek garasi siapa tau mobil ibunya tak ada, anehnya mobil tersebut masih terparkir manis di dalam garasi. “hm” Glo berpikir di mana ibunya berada.

Tiba-tiba terdengar suara keras dari dalam rumah. Glo berlari cepat kedalam untuk memeriksa, tidak ditemukan barang yang jatuh atau apapun yang dapat menimbulkan bunyi sekeras itu. Sementara mencari-cari sumber suara tadi, Glo mendegar suara lagi kali ini dari kamar ibunya. Dia berjalan menuju kamar sang ibu yang ternyata kamarnya tidak terkunci.
Glo terkejut ketika melihat ibunya terkapar dengan wajah yang pucat di lantai. “Mama..!” pekik Glo
tanpa pikir panjang Glo memeluk ibunya “Ma..! bangun ma..! mama kenapa.” suara Glo mulai berubah. Air matanya mulai menetes. Usahanya membangunkan ibunya tidak berhasil. Dengan langkah berat Glo mengambil Handphone Mamanya untuk menelepon bantuan.

Glo terduduk diam di lobby rumah sakit, air matanya tak mau berhenti mengalir. Dalam pikirannya terbayang skenario-skenario buruk yang akan menimpa dirinya dan ibunya. Tadi dirinya sempat berbicara dengan dokter bahwa ibunya sangat beruntung langsung di bawa kerumah sakit kalau tidak, mungkin akan lebih parah jadinya.

Beberapa saat kemudian dokter yang berbicara dengannya tadi keluar.
“Dok, gimana keadaan ibu saya?” Tanya Glo cemas.
“Kami sudah melakukan yang terbaik yang kami bisa, sisanya kita cuman bisa menyerahkan ke yang Maha Kuasa.” Jawab Dokter dengan nada hati-hati sambil memegang pundak Glo lalu pergi.

Kaki Glo seakan tak mampu menahan berat tubuhnya, serasa dirinya akan tumbang jika saja tangannya tak sigap menahan di tembok. Air matanya bercucuran keluar, dia tak kuasa menahan tangis. Dalam tangisnya terbesit kenangan indah bersama ibunya dimana sang ibu sangat menyayanginya serta mencintainya meskipun dengan sifatnya yang keras kepala dan kasar, atau bahkan sering membantah dan menyakiti hati ibunya. Beberapa menit dirinya menangis mengingat memori itu secercah rasa penyesalan mulai timbul. Dia pun mulai memberanikan diri masuk ke dalam ruangan dimana ibunya dirawat. Tampak sang ibu tertidur lemah dengan selang infus tartancap di tangannya dan beberapa alat medis lainnya. Hati Glo semakin teriris melihat keadaan ibunya yang tak berdaya, pelan-pelan dia mendekati ibunya yang sedang tak sadarkan diri, digenggamnya tangan sang ibu sambil menangis, tak ada satupun kata keluar dari mulut Glo selain pekikan tangisnya.

Sebuah tangan terasa menepuk-nepuk pundak Glo membangunkannya dari tidur. Ternyata seorang suster yang ingin mengecek kondisi ibunya. Mata Glo bengkak karena menangis semalam suntuk sampai-sampai ketiduran saking capeknya nangis. Dia membasuh mukanya beberapa menit lalu melihat suster sudah selesai mengecek Ibunya. Glo melihat ibunya sejenak lalu menggenggam tangannya dan pergi keluar. Dalam perjalanannya balik ke rumah yang ada dalam pikiran Glo hanya memikirkan kondisi ibunya sampai tak terasa dia sudah berdiri di depan rumahnya. Begitu membuka pintu rumah Glo merasa kesunyian yang mulai menyergap tubuhnya. Dia duduk di di atas sofa sambil memeluk bantal. Dia merasa sangat tertekan dengan kondisi sekarang, ini pertama kalinya Glo mengalami kondisi seperti ini. Setelah termenung beberapa saat perut Glo mulai berbunyi. Dibukannya tudung saji di meja makan namun apa daya taka da makanan yang tersedia, dia pun kembali mengingat bagaimana dulu ibunya selalu menyediakan makanan di meja biar dirinya tak pernah kelaparan karena selalu ada makanan, mata Glo mulai berkaca-kaca mengingat itu semua. “Ma, cepat sembuh Glo bener-bener kangen mama.” Ucap Glo dalam hati.

Setelah selesai membersihkan dirinya Glo masuk lagi ke dapur untuk memasak. Begitu tiba di depan kompor Glo menjadi kaku, dia tak pernah memasak sekalipun. Dirinya selalu mengandalkan ibu dan tak pernah mau belajar memasak. Kondisi perutnya yang tak bisa ditolerir membuat dirinya terpaksa harus keluar membeli makanan, meskipun dengan uang yang seadanya Glo berjalan mencari warung makan yang bisa disinggahinya untuk mengisi perut. Cukup jauh Glo berjalan namun semuanya nihil, kadang rumah makan yang ditemuinya tutup, ada juga yang buka tetapi uangnya yang tidak cukup. Glo terus berjalan sambil matanya jelajatan mencari rumah makan yang bisa disinggahinya.

Dalam perjalanannya Glo mulai merasa pusing dan capek, dia duduk di pinggiran trotoar jalan, tiba-tiba matanya tertuju pada seseorang yang tidak lain adalah pemulung yang dijumpainya waktu itu. Waktu dia membuang makanannya seketika saat melihat pemulung itu. Dipandangnya pemulung itu yang ternyata sedang melahap makanan yang ditemukannya di tempat sampah. Hati Glo terasa sakit kembali ketika dia teringat perlakuannya waktu itu dan kata-kata ibunya untuk menghargai makanan, benar-benar saat itu Glo sadar bagaimana rasanya kelaparan dan menghargai makan.

Dia langsung beranjak ke rumah sakit, dalam hatinya hanya ingin bertemu ibunya. Berlari-lari hingga akhirnya sampai di ruangan ibunya, Glo langsung memeluk ibunya dan menangis tersedu-sedu. “Ma… a.. aku.. mi.. minta maaf..” ucap Glo terbata-bata karena tangisannya yang sudah memuncak. “ma, jangan tinggalin aku, aku udah sadar aku salah sama mama, aku minta maaf ma..” Air mata Glo membasahi baju pasien biru milik ibunya. Glo terus menangis dalam pelukan ibunya yang masih belum sadar. Dia menangis sejadi-jadinya, seakan inilah saat terakhir dia akan melihat ibunya.

Dalam tangisannya itu Glo berkata namun tidak jelas karena tertutup oleh suara tangisannya, sampai akhirnya tangisannya mulai mereda ketika sebuah tangan membelai rambut panjang hitam miliknya. Dia mengangkat kepalanya dan menemukan ibunya yang sudah siuman namun masih dalam kondisi lemah. “Mamaa…” Glo terkejut namun bahagia “mama udah sadar ma, aku kira mama bakal tinggalin aku, aku minta maaf ma, aku udah sadar aku salah..” ucap Glo sambil kembali memeluk ibunya. Dalam kelemahannya ibu Glo menyungginkan senyum bahagia dan membelai anaknya yang akhirnya sadar akan kesalahannya.

Cerpen Karangan: Matthew Liling
Blog / Facebook: Matthew Liling

Cerpen Menghargai Makanan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Di Antara Dua Sahabat

Oleh:
Kaira anak yang duduk di bangku kelas enam. Dia sedang melamun di meja kelasnya. Tiba tiba “dor” kata fira “aduh fir.. Kamu ngapain sih ngagetin aku … Aku kaget

Kenapa Aku Sebodoh ini, Tuhan?

Oleh:
Dari kejauhan tampak seorang cowok berkacamata sedang duduk sendirian di tepi danau. Tangan kanannya memegang handphone. Sementara kepalanya tak berhenti celingak-celinguk sedari tadi. Sepertinya dia sedang menunggu seseorang. Dan

I’m Sorry

Oleh:
Aku adalah seorang superstar yang sedang naik daun. Namaku Aldy saputra Septiansyah, nama“septiansyah” di ambil dari nama ayahku. Aku memiliki seorang sahabat, namanya Denies Firdaus. Dia juga seorang superstar

Kuis Pak Guru

Oleh:
Sudah menjadi kebiasaan Pak Rachmat untuk memberikan kuis pada murid-muridnya di setiap pelajarannya. Mereka amat senang bermain kuis. Terutama Erin, sang juara kelas. “Siapakah Presiden Republik Indonesia yang ke-3?”

Sepeda Kejutan

Oleh:
Dengan di antar Ruli, sore itu Danang pulang ke rumahnya sambil menangis. Wajahnya penuh ketakutan ketika ibunya dengan heran menanyakan apa yang terjadi. Danang tidak bisa menjawab, bibirnya bergetar,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *