Menjebak Pencuri Mangga

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 9 July 2013

Entah ide apa yang ada akan dilakukan Roni. Saat ini, ia sangat kesal dengan ulah pencuri mangga. Meskipun sudah diberi pagar berduri, pencuri masih tetap nekat “membersihkan” pohon mangga yang lebat berbuah. Padahal, roni dan ayahnya susah payah merawat pohon mangganya.
“Yah, nanti malam kita coba menjebak pencuri. Sudah saatnya kita bertindak. Pencuri mangga itu sudah keterlaluan,” usul Roni. Ayahnya setuju.

Malam yang dinantikan tiba. Sehabis salat berjamaah di masjid, Roni dan ayahnya mengendap-endap di balik gubuk kecil —tempat melepas lelah— yang tidak jauh dari pohon mangga. Keadaan di sekeliling cukup gelap.
Kresek! Tiba-tiba terdengar suara. Di bawah sinar bulan yang samar-samar, dua sosok tampak mendekati pohon mangga. Gerak-geriknya mencurigakan.
“Ini dia pencurinya,” gumam Roni.

Semakin dekat, sosok itu kian jelas. Dua orang anak. Yang satu agak tinggi dan satunya lagi agak pendek sambil membawa karung plastik. Anak yang bertubuh tinggi membawa bambu yang ujungnya bercabang. Mungkin untuk memudahkan mengambil mangga itu.
“Uh, dasar pencuri licik! Kita sudah lelah merawatnya, eh sudah berbuah dengan seenaknya mereka mengambil mangga,” bisik Roni kepada ayahnya.
“Perhatikan baik-baik dua anak itu. Siapa mereka?” bisik ayah.

Tiba-tiba, ide menjebak pencuri mangga itu hilang.
Roni sangat kenal dengan dua anak itu. Ia sering bermain dang mengaji bersama di masjid. Roni dan ayahnya tidak sampai hati menjebak dan menangkap mereka. Akhirnya, anak dan ayah itu membiarkan kedua pencuri itu leluasa mengambil mangga.
“Kita pulang saja,” usul ayah.
Sambil menggandeng Roni, ayah berrbisik, “Ron, kita lihat dan tanyai saja besok pagi. Mereka kan sering melewati rumah kita.”
“Setuju!” timpal Roni.

Benar apa yang diduga, sehabis shalat Subuh, Roni dan ayah mengintip di balik kaca jendela. Udin dan Dudi membawa setengah karung plastik mangga.
“Mungkin, mereka akan ke pasar, menjual mangga-mangga itu,” bisik ayah kepada Roni. “Kasihan mereka. Ibunya sedang sakit keras. Ayah dengan Pak RT pernah menengoknya.”
“Kita juga merasa bersalah sebab membiarkan tetangga yang sedang sakit keras. Kita hanya memikirkan diri sendiri,” sesal ayah. Roni terdiam.
“Nanti siang, kita ke rumah Udin dan Dudi lagi ya, Yah. Roni kira ibu Udin dan Dudi tidak sedang sakit sebab mereka kalau mereka mengaji di masjid tidak pernah bercerita,” kata Roni, yang kini mulai mengerti mengapa ayah kurang bersemangat dengan ide Roni; menjebak pencuri mangga.
“Iya, sekalian ajak Ibu.”
“Oya, Yah, bukannnya mencuri itu di larang agama?”
“Betul, tetapi Udin dan Dudi mungkin terpaksa mencuri untuk menolong ibunya yang sedang sakit dan sangat membuuthkan biaya obat.”

Siang itu, ayah, ibu, dan Roni mengunjungi rumah Udin dan Dudi. Di sudut ruangan, ada dipan yang tampak kusam. Di atasnya, tubuh kurus tengah berbaring lemas.
“Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikum salam!”

Ketika pintu dibuka, Udin dan Dudi mendadak pucat. Ada rasa takut pada raut wajahnya. Roni mencoba menenangkan mereka.
“Kok nggak pernah ngasih tahu kalau Ibu kalian sakit?” ujar Roni mengalihkan perhatian. Di sudut ruangan, tampak kerabat orang tua Roni sedang berdoa demi kesembuhan ibu Udin dan Dudi.
Udin dan Dudi masih tampak ketakutan. Tingkahnya sangat kaku.
“Ma … ma … kami, Ron,” ucap Dudi gugup.
“Kamilah yang mencuri mangga-mangga milikmu. Kami terpaksa karena kehabisan uang untuk membeli obat,” sesal Udin.
“Kami menyesal,” tambah Dudi sambil tertunduk lesu.
“Sudahlah, aku sekeluarga sudah memaafkan kalian, tetapi jangan diulangi lagi. Bukankah Pak Ustad pernah bilang, kalau mencuri itu perbuatan yang tidak diridai Allah?”

Sepulang dari rumah Udin dan Dudi, keluarga Roni merasa terharu, sekaligus bahagia sebab sekarang semua warga tahu kalau ibu Udin dan Dudi sakit keras. Atas inisiatif warga, termasuk keluarga Roni, ibu Udin dan Dudi kini mendapat perawatan di rumah sakit.

“Semoga Allah memberi ketabahan dan kekuatan bagi keluarga Udin dan Dudi,” doa Roni sehabis shalat malam.

Cerpen Karangan: Edi Warsidi
Facebook: Edi Warsidi

Cerpen Menjebak Pencuri Mangga merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bad Luck Keynes

Oleh:
Keynes adalah seorang anak dari keluarga kaya. Ia berusia 13 tahun. Keynes adalah satu murid SEOUL INTERNATIONAL SCHOOL. Disekolahnya kaynes adalah salah satu murid yang terkenal karena kepintarannya. 3

Album Kenangan

Oleh:
Besok adalah hari perpisahaan kelas 3 SMP Taruna. Masing-masing anak diperbolehkan memberikan kenang-kenangan kepada teman-teman sekelas maupun bukan. Sebelum perpisahaan Celli membeli kenang kenangan di Toko Sweet. Toko yang

Secarik Surat Untuk Billy

Oleh:
“Billy sahabatku teman terbaikku. Aku ingin minta maaf padamu, atas semua kesalahanku dulu kepadamu. Aku tahu kau pasti sakit hati atas semua itu. Billy aku yang sekarang bukan aku

Aisyah

Oleh:
Suasana terasa sangat dingin. Bukan faktor cuaca. Hanya suara jangkrik yang terdengar. Hening namun tiada khidmat. “Bapak tidak mengerti jalan pikiranmu. Selama ini bapak membiarkanmu berteman dengan siapapun karena

Salam Rindu

Oleh:
Biarkan kata-kata itu terbang, terbawa angin semilir menyelusup liang-liang bawah tanah, naik ke surga bersama dengan rinduku padamu wahai penikmat surgawi” Ku berteduh di bawah pohon yang rindang di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *