Mentari Berkabut

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 28 August 2016

Pagi itu suasana hari sangat cerah, seperti hatiku yang sedang berbahagia mendapatkan hadiah dari sang ayah, hadiah yang sangat aku idam-idamkan hadiah yang tidak akan pernah aku lupakan dan selalu kusimpan serta kujaga. Waktu menunjukkan pukul 06.30 wib aku segera bersiap siap untuk pergi ke sekolah dengan seragam putih-biru memakai dasi dan memakai sepatu yang bersih walau sudah tak layak pakai, aku berpamitan kepada ayah dan ibuku, baru saja kaki ku melangkah ke luar menuju pintu rumah, ayah memanggilku “hey nak tunggu sebentar ayah akan mengantarkanmu ke sekolah” entah ada angin apa yang merasuki ayahku sehingga ia tiba-tiba ingin mengantarkanku ke sekolah, sembilan tahun aku duduk di bangku sekolah baru kali ini ia ingin mengantarkanku ke sekolah, betapa bahagianya hatiku sembari mengatakan “oke yah, aku tunggu”.

Selang beberapa menit kemudian brm… brm… brm… brm terdengar suara sepeda motor tua milik ayahku yang paling ia banggakan “mari nak kita berangkat ke sekolahmu” aku berlari kecil menghampiri ayahku “ayo ayah kita berangkat”

Selama di perjalanan aku begitu menikmati keindahan kotaku, aku memeluk erat ayahku, aku bangga kepadanya, ia adalah pahlawanku. Terasa waktu begitu singkat dan cepat sehingga tanpa terasa sudah sampai di depan sekolahku, aku berpamitan dan mencium tangannya yang begitu kasar akibat bekerja keras demi kami sekeluarga, aku mengatakan “terima kasih ayah” aku masih tetap berdiri di depan sekolahku menunggunya hingga tak tampak lagi setelah itu aku berlari kecil menuju ruang kelasku.

Aku adalah sosok murid yang sangat heboh dan periang sehingga teman teman banyak yang menyukaiku termasuk guru guruku, beberapa menit setelah aku masuk ke ruang kelasku lonceng tanda masuk mata pelajaran dimulai, kami berebut duduk di kursi dengan rapi sambil menunggu guru kami masuk, tak lama kemudian guru kami masuk dan kami memulai pelajaran dengan tertib dan nyaman.

Tok, tok, tok, terdengar suara ketukan pintu kelasku, guruku segera keluar menemui orang yang mengetuk pintu kelas, selang beberapa menit setelah percakapan mereka di luar aku dipanggil untuk menemui wali kelasku di ruang guru. Dengan sigap dan cepat aku segera menemui wali kelasku, dengan perasaan cemas dan takut karena aku belum membayar uang buku.

Setelah aku sampai di ruang guru aku langsung menemui wali kelasku.
“permisi bu, apakah ibu memanggil saya tadi?”
“iya nak, silahkan duduk”
“iya terima kasih bu, oh iya saya ada salah apa bu, kok tiba tiba saya dipanggil kesini apakah karena saya masih menuggak uang buku ya bu?”
“tidak kok nak, kamu tidak mempunyai salah apapun nak, ibu hanya ingin memberikan kamu kabar berita saja”
“kabar berita apa buk?”
“tetapi kamu harus janji dengan ibu bahwa setelah kamu mendengarkan kabar berita dari ibu kamu jangan marah sama ibu, jangan sedih dan putus asa”
“iya bu saya janji tidak marah dan tidak putuss asa bu, sebenarnya ada apa ya bu?”
“ayahmu…”
“iya, ayahku kenapa bu”
“ayahmu telah meninggalkanmu untuk selamanya”
“ha… tidak mungkin bu, tidak mungkin ia tadi baru saja mengantarkanku ke sekolah bu, ibu jangan mengarang!”
“tidak nak ibu tidak mengarang, baru saja ibumu menelepon ibu dan mengatakan bahwa ayahmu telah meninggal dunia, setelah mengantarkanmu ke sekolah ia mengalami kecelakaan di persimpangan jalan menuju rumahmu”

Aku masih tak percaya dengan kejadian ini semua ayahku seorang pahlawan bagiku, kini telah meninggalkanku untuk selamanya, tanpa pikir panjang aku berlari sekencang kencangnya menuju rumahku setelah sampai di rumahku air mataku tak lagi mampu untuk kubendung, aku menyesal… aku menyesal mengapa aku tidak menolak ajakan ayahku tadi sewaktu ingin mengantarkanku.

Kini Sepeninggal ayah tiada lagi yang menjadi kepala keluarga di rumah kami, ibuku sudah tua dan tak berdaya untuk menjadi kepala keluarga, sedangkan kedua adikku masih duduk di bangku sekolah dasar, akhirnya aku yang menggantikan ayahku menjadi kepala keluarga, mencari nafkah, dan membiayai kedua adikku yang sedang duduk di sekolah dasar agar cita-citaku dapat diteruskan oleh adik adikku.

Cerpen Karangan: Mohammad Oktavino
Blog: oktavino131096.blogspot.co.id

Cerpen Mentari Berkabut merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bloon (Pabrik Kaos Kutang)

Oleh:
Jam 22.46 nampak di Hp Aulia. Opik dan Aulia memojok ke tembok sambil ketakutan setengah mati. Hp Aulia hanya satu-satunya cahaya di tempat tersebut. “duh gimana ni Pik?, ini

Kejutan

Oleh:
“Huff… masih lama lagi ya, nyampenya?” Gerutuku pelan. Aku sudah mulai bosan duduk di kursi pesawat yang sudah menempuh perjalanan selama beberapa jam. Aku ingin bersekolah kembali di Indonesia.

Bandung In Love

Oleh:
Semenjak kejadian itu aku tak pernah menangis lagi, hanya tersenyum yang bisa aku lakukan. Saat itu aku sedang duduk di taman bunga di kampus indahku, ya ITB. “Hai Lili?”

Antara Cinta dan Persahabatan

Oleh:
Mentari dan rembulan, mereka tak pernah bertengkar, mereka tak pernah bertabrakan saat muncul di langit, mereka tak bersahabat tapi saling melengkapi. lalu bagaimana dengan persahabatan di bumi? mereka selalu

Ketika Genggaman Telah Terlepas

Oleh:
“Ra pagi ini langit terasa indah dan cerah ya…” melalui telefon “Ia cha”, balasku. “Mungkin karena hari akhir UAN kali ya?” Ujarku menambahi. “Ra terus tersenyum untukku di akhir

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *