Menyesal

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 20 September 2018

Di dedikasikan untuk semua ibu…

Hari raya pada waktu ini, Rea ingin mengajak ibunya ke rumah ustadzahnya. Rea berharap ibunya mau pergi bersamanya.
“Bu, Nanti kita ke rumahnya ustadzah ya,” pinta Rea pada ibunya yang sedang menonton televisi.
“Kamu sama adikmu aja. Masa’ harus sama ibu sih?” jawab ibunya.
“Kok malah sama adik sih bu. Kan Rea maunya sama ibu,” jelas Rea.
“Sama adik aja. Kamu kan udah besar. Masa’ selalu sama ibu terus!” jawab ibunya bersikeras tidak mau.
“Kan ibu itu ibunya aku. Wajar dong kalo aku ke rumah ustadzah ngajak ibu. Pokoknya ibu harus temenin aku silaturrahmi ke rumah ustadzah,” ucap Rea dan langsung meninggalkan ibunya. Rea pikir ibunya akan langsung menyetujuinya untuk silaturrahmi bersama ke rumah ustadzah. Ternyata, ibunya bersikeras tidak mau.

Keesokan harinya, Rea mencoba kembali bicara kepada ibunya untuk silaturahmi bersama ke rumah ustadzah dengan cara baik-baik. Tapi, ibunya tetap pada jawabannya kemarin. Dan keesokan harinya lagi, tetangga sebelah rumah Rea sakit dan di bawa ke rumah sakit. Rea masih ada hubungan keluarga dengan orang yang sakit. Rea waktu itu sedang tidur siang. Dan saat ia bangun ibunya tidak ada di rumah.

“Ibu ke mana dek?” tanya Rea pada kedua adiknya.
“Ke rumah sakit. Jenguk tetangga yang sakit,” jawab Bayu.
“Kok kakak nggak tau ya? Kapan berangkatnya?” tanya Rea lagi.
“Waktu kakak tidur siang tadi,” jawab Vera.
“Oh.. Udah maghrib tapi kok belum pulang ya?” gumam Rea.

Tak lama, ada tetangga Rea datang. “Rea, tadi ibu kamu nelepon dan pesen buat ambilin baju ganti. Nanti, teteh kan mau jenguk sekalian bajunya di titipin teteh,” ucap Teh Indah saat masuk ke rumah Rea.
“Loh? Jadi, ibu nginep di rumah sakit ya teteh?” tanya Rea terkejut.
“Iya atuh neng Rea. Ibunya tadi bilang kayak begitu,” jawab teteh Indah, “Ya udah ya. Teteh mau siap-siap dulu. Ntar kalo bajunya udah dibungkusin rapi anter aja ke rumah teteh!” lanjut teteh Indah dan bergegas pulang ke rumahnya.
“Yah.. Nggak jadi silaturahmi lagi ke rumah ustadzah dong kalo ibu nginep di rumah sakit,” gumam Rea dan segera membungkus baju ganti milik ibunya. Rea mengantarkan baju itu ke rumah teteh Indah.

“Teh, ini baju gantinya ibu,” ucap Rea saat berada di rumah Teteh Indah.
“Oh iya. Siniin,” jawab teteh Indah dan menerima bungkusan yang diberikan Rea.
“Ya udah teh. Rea pulang dulu. Makasih ya Teh!” ucap Rea dan bergegas pulang.

Sebenarnya hati Rea sangat berkecamuk saat mengetahui ibunya akan menginap di rumah sakit. Padahal, Rea sudah beberapa kali memintaibunya untuk ikut silaturahmi ke rumah ustadzahnya. “Giliran urusan orang lain aja mau!” gerutu Readan memasuki kamarnya.

Tak berapa lama, suara deru sepeda motor mendekat ke arah rumahnya dan suara motor itu berhenti. Rea melonjak dari kasurnya dan melihat siapa yang datang. Ternyata ibunya. “Katanya nginep di rumah sakit?” tanya Rea pada ibunya yang baru turun dari sepeda motor.
“Nggak jadi. Tadi, anaknya si Nino datang,” jawab Ibu Rea dan meletakkan tasnya.
Rea melihat ke arah jam yang masih menunjukkan pukul 6.40 malam. Rea berpikir bahwa ibunya pasti mau jika ia meminta untuk silaturahmi ke rumah ustadzah. “Ya udah kalo gitu kita ke rumah ustdzah aja sekarang,” usul Rea disertai senyuman.
“Kan udah ibu bilang sama adek kamu aja. Ibu sekarang capek. Besok harus balik lagi ke rumah sakit jam setengah tujuh buat gantiin Nino jagain ibunya,” jelas ibunya membuat hati Rea semakin sakit.
“Kok ibu gitu sih? Giliran Rea aja minta ibu temenin silaturahmi ke ustadzah ibu nggak mau. Lah sekarang disuruh buat jagain ibunya orang lain sakit aja mau,” ucap Rea dengan nada kesalnya.
“Ya kan kamu bisa sama adek kamu. Ibu kan jagain orang sakit Rea!” tutur ibunya lagi.
“Rea nggak mau tau!” ucap Rea kesal. Rea bergegas menuju kamarnya.

Rea sangat kesal dengan ibunya. Rea seperti merasa tak dianggap oleh ibunya. Rea menangis terisak di kamarnya. Ia hanya mau dengan ibunya tapi, ibunya tidak mau dan lebih mengedepankan orang lain. Rea kecewa dengan sikap ibunya. Rea terus terisak dan akhirnya ia terlelap.

Pagi hari… Ibu Rea membangunkan Rea. Kemudian, Rea bangun dan mengambil air wudlu untuk melaksanakan sholat shubuh. Rea sudah melupakan kekesalannya pada ibunya meski hatinya masih terluka. Rea juga menyadari bahwa ibanya sedang capek karena baru saja jagain orang sakit. Setelah menunaikan kewajiban sholat shubuh, Rea berjalan menuju dapur dan berniat akan membantu ibunya. “Ibu jadi ke rumah sakit?” tanya Rea.
“Nggak jadi. Nanti ibu masak buat wetonnya tetangga kita yang sakit,” jawab ibu Rea.
“Lah, nggak jadi ke rumahnya ustadzah dong?” tanya Rea mulai jutek.
“Udah, sama adek kamu aja Rea. Ibu sibuk!” jawab ibunya.
“Rea bingung deh sama ibu. Seharusnya ibu itu mau nemenin Rea silaturahmi ke rumah ustadzah. Sekarang ibu harus sibuk karena tetangga yang sakit,” jelas Rea kesal.
“Ya silaturahmi kan bisa sama adek kamu Rea!” jawab ibunya bersikeras.
“Kan lebih pantesnya sama ibu. Ibu nggak pernah ngepentingin anak. Ibu selalu aja ngepentingin orang lain!” kesal Rea pada ibunya.
“Penting mana silaturahmi sama orang sakit?” ibu Rea malah bertanya.
“Padahal Rea udah minta ibu dari jauh-jauh hari. Tapi ibu nggak mau. Anaknya yang minta malah di keterbelakangin. Giliran orang lain yang minta aja di keterdepanin. Pentingan mana sih anak sama orang lain?” jelas Rea lagi.
“Buat apa anak bendel dipentingin?” jawab ibu Rea sedikit nada bercanda.
“Rea kecewa tau nggak sama ibu. Ibu nggak pernah ngepentingin urusan anak ibu. Ibu lebih milih orang lain ketimbang anak. Rea bener-bener kecewa sama ibu!” jelas Rea kesal dan kini Rea tak kuat lagi membendung air matanya.
“Ya kan orang sakit harus dipentingin Rea. Besok aja silaturahmi ke rumah ustadzah kalo urusan ibu udah kelar!” jelas ibunya.
“Besok-besok mulu. Padahal udah berapa hari Rea minta? Hati Rea sakit bu kalo ibu nggak ngepeduliin Rea!” jelas Rea berkaca-kaca. Rea berlari menuju kamarnya dan mengurungkan niat untuk membantu ibunya. Entah, apa yang dirasakan Rea. Yang pastinya hati Rea sakit. Hanya satu kata di benak Rea. Kecewa. Ya, Rea kecewa dengan ibunya.

Rea bersiap-siap akan pergi ke rumah ustadzahnya. Ia sudah berniat ke rumah ustadzahnya sendirian. Ya, meskipun berharap ibu bersamanya. Rea berpikir itu tidak mungkin terjadi. Saat Rea melajukan motornya, Sebuah mobil hitam menabraknya dan Rea terluka parah. Rea segera dilarikan ke rumah sakit untuk perawatan. Di sisi lain, ibu Rea baru mengetahui kabar kecelakaan Rea saat seseorang tetangganya memberitahu. Ibu Rea barhambur meninggalkan pekerjaannya dan bergegas menuju rumah sakit dengan suaminya. Namun, saat ibu Rea sudah berada di rumah sakit, ia harus melihat putrinya dalam keadaan tak bernyawa. Ibu Rea sangat menyesal. Ia menyalahkan dirinya sendiri. Andai, ia mau menemani putrinya saat putrinya meminta agar ia menemani silaturahmi ke rumah ustadzah. Andai, ia lebih mementingkan urusan putrinya daripada orang lain Andai, ia tahu bahwa putrinya akan seperti ini Ia menyesal. Ia menangis tersedu-sedu di dekat jenazah putrinya.

Tamat

Cerpen Karangan: Nadya Talitah Rokhma
Blog: nadya03.blogspot.com
Nadya Talitah Rokhma lahir di Mojokerto pada 03 Desember 1999 di Mojokerto. Saat ini menempuh pendidikan di SMKN 1 Kemlagi.
Menyukai menulis sejak berumur 9 tahun dan mulai sejak itu banyak sekali karya tulis seperti puisi dan cerpen yang ia buat.
Dan saat ini, ia mulai membuat novel. Kalian bisa baca di wattpad N Titia Alie.

Cerpen Menyesal merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Halaman Baru Yang Meliputi Hujan

Oleh:
Matahari kian meninggi. Tidak terasa hari sudah beranjak, sekarang pukul 07:00 WIB membantu banyak pekerja di bumi yang semakin meningkat. Di antara ribuan serta milyaran orang yang memiliki masalah,

Derita Di Penghujung Usia

Oleh:
Ia hanya terbaring lemah tak berdaya. Tubuhnya tak bertenaga lagi. Tak sejaya dulu saat berusia 30an. Kini wajah cantiknya yang selalu terpoles sepabrik bedak kosmetik itu mulai keriput. Rambutnya

Nasi Goreng Malapetaka

Oleh:
hari itu hari Minggu, 29 juli 2012. Saat itu semua keluarga Anneke berpuasa kecuali Anneke. Yah,,, maklum lah masalah perempuan. Saat semua orang sahur, Anneke tidak ikut terjaga dan

Perjuangan Ibu Untuk Anaknya

Oleh:
Embun pagi menyelimut kota seribu menara itu, pada saat pagi hari ada seorang ibu menggunakan sepeda sedang mengantar anaknya ke TK yang mungkin sekitar 3 km dari rumahnya sang

Mentari Pergi

Oleh:
Di sebuah desa terpencil di pinggir jalan hidup seorang gadis yang cantik dan periang. Dia tak mengenal kata putus asa. Setiap hari dia selalu membantu pekerjaan kakeknya. Gadis tersebut

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *