Merajut Mimpi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Pengalaman Pribadi, Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 26 December 2018

Rasanya semakin hari waktu semakin cepat berlalu. Tak terasa kini aku sudah duduk di bangku SMA Tingkat Akhir, tingkat sekolah yang kini sedang aku jalani semoga bertingkat pula kesabaran dan kedewasaanku.

Tetapi, kebaikan apa yang sudah aku lakukan? Kebanggaan apa yang sudah aku berikan?
rasanya sampai saat ini aku masih belum melakukan dan memberikan apa yang seharusnya aku lakukan dengan baik.
Aku terlahir di keluarga yang sederhana, kesederhanaan inilah yang membuat aku kuat dan semangat untuk melewati hidup, kami pun tidak lupa selalu bersyukur kepada sang Maha Kuasa.

Mengingat ke masa lalu saat aku masih kecil dan duduk di bangku SD dulu aku tinggal di kota Pameungpeuk Cibalong-Garut yang jauh dengan keluarga, aku tinggal bersama Ayah, ibu, kakak laki-laki dan adik perempuan.

Ayah jarang ada di rumah, karena lebih banyak waktu bersama pekerjaannya. Sedangkan di rumah kami selalu berempat, kami pernah sampai kekurangan ekonomi tapi tidak dengan makanan, stok makanan alhamamdulilah selalu ada.
Warga yang ada di tempat tinggalku sangat ramah, walaupun hanya sekedar tetangga akan tetapi rasa berbagi satu sama lain selalu ada.

Dulu ketika ibuku sudah tidak memegang uang, ibu bukan langsung meminta uang kepada ayah.
Tapi dia selalu berfikir bagaimana caranya agar mendapatkan uang tanpa menyusahkan yang lain.

Karena saat itu gorengan ibu laris di warung, ibu langsung berfikir untuk dijual keliling di sekitar kampungku saja, dan aku lah yang harus berjualan keliling, rasa gengsi di hati malu karena jadi bahan bullyan teman teman.

Tapi ibuku selalu berkata “nak, jangan malu yang penting kita tidak melakukan hal yang jelek, jika maling barang orang itu yang harus malu”
Mendengar ucapan ibuku aku mencoba untuk Kuat, aku paham dan aku mulai merasakan kehidupan yang sesungguhnya.

Hidup ini perih dan sangat menyakitkan, aku malu ketika ibuku tak pernah mengeluh dengan keadaan dan selalu bersemangat, kenapa denganku yang masih muda akan tetapi selalu bermalasan?

Iya itu ibuku, aku dididik, dibesarkan oleh kasih sayangnya dari dulu aku diajarkan olehnya tentang Berwirausaha.
ketika aku duduk di kelas 2 SMA aku mulai berfikir kenapa aku tidak berjualan seperti dulu yang pernah aku lakukan saat masih SD?

Kemudian aku berbicara kepada ibuku aku ingin meneruskan berjualanku di sekolah.
Ibu mengelak dan berbicara aku sudah besar dan mungkin akan malu, tidak pernah sedikitpun malu yang penting aku tidak melakukan hak jelek.

Ibu langsung tersenyum dan langsung mengiyakan apa yang aku pinta. Dan sampai saat ini aku masih berjualan di sekolah tetapi bedanya sekarang aku berjualan Makroni.

Apa yang membuat aku Semangat dalam berwirausaha? Karena ibu adalah orang pertama yang mengajariku mengenal Allah SWT, ibuku adalah orang pertama yang mengajariku menjadi muslimah sejati, dan dia adalah salah satu alasanku untuk bertahan hidup sampai saat ini.

Ibu usiamu sudah tak semuda dulu. Terimakasih kuucapkan telah mampu membesarkan 3 malaikat kecilmu hingga sebesar ini.
Prinsip ibuku “Seburuk apapun kondisi, sesulit apapun ekonomi, agama dan pendidikan harus diprioritaskan”

Selesai

Cerpen Karangan: Neneng Pindi
Facebook: Neneng Pindi

Cerpen Merajut Mimpi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kejutan Air Mata

Oleh:
Si jantan berkokok saat fajar terbit dari ufuk timur. Kini saatnya memetik buah kesenanagan setelah kian lamanya menanam dan menunggu di penjara suci. Usianya kini 13 tahun, rasanya seperti

Ke Rumah Presiden

Oleh:
Adik perempuanku selalu belajar dengan rajin. Ingin bertemu Presiden, katanya. Walaupun baru kelas III SD, setiap aku bangun pagi buta untuk belajar, Adik ngotot ingin belajar juga. Ketika aku

Kesia Siaan dan Kekecewaan

Oleh:
Saat aku lulus smp di tahun 2013 aku kepingin masuk ke sebuah sma favorit di kotaku sobat, tapi suatu ketika aku mendengarkan kabar bahwa aku bersama keluarga bakalan pindah

Segelas Kopi di Kedai Pontianak

Oleh:
Hujan sore-sore di hari Sabtu betul-betul menjadikan suasana rumah sendu berkepanjangan. Ketiga anakku duduk tenang tanpa ekspresi yang biasanya cerah ceria. Terlelap tenggelam dalam gemuruh butiran hujan menimpa atas

Ayah

Oleh:
Hanya satu hal yang kutahu. Orangtua pasti menyayangi anaknya. Baik itu ibu maupun ayah. Mungkin hanya cara mereka menunjukan kasih sayangnya saja yang berbeda. Seperti ayah yang mencari uang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *