Mereka Bilang Aku Gila (Part 1)


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 7 July 2013

Huh. Lagi-lagi masalah ini yang di bahas. Tahu tidak apa yang membuatku semakin kesal? Vater menyuruhku untuk membaca buku semacam Self Help yang dipopulerkan oleh M. Scott Peck. Well, lelaki yang lahir di sebuah kota yang terkenal dengan Empire State Building ini memang pernah menjadi salah satu penulis buku terbaik. Tetapi, apakah Vater dan uma benar-benar berpikir bahwa aku ini sudah lack of knowledge? Aku bukan orang yang aneh. Aku juga bukan orang yang pemalu atau mudah depresi. Bukan sama sekali. I’m just an introvert. Introverts process their emotions, thoughts, and observations internally. They can be social people, but reveal less about themselves than extroverts do. Ah, sepertinya percuma juga kalau aku berbicara seperti itu di depan mereka. Aku bukan tipikal orang yang NATO (No Action Talk Only). Aku sudah berusaha untuk menunjukkan bahwa apa yang aku lakukan memang harus dilakukan. Duh, aku tidak boleh mengeluh seperti ini. Ada baiknya kalau aku meyakinkan mereka lagi bahwa apa yang aku lakukan ini memang untuk kebaikan. Bukan hanya untuk aku. Tetapi, hal ini aku lakukan untuk dunia. Bukan hanya untuk manusia yang tinggal di bumi. Hewan dan tumbuhan pun aku selamatkan. Nah, inilah yang di anggap menjadi masalah oleh kedua orang tuaku.

Oh ya, kalian jangan bingung kalau aku memanggil ayah dan ibuku dengan sebutan Vater dan uma. Kakekku adalah seorang insinyur robotika sekaligus aktivis pencinta lingkungan yang berasal dari Jerman. Hmm… Aku tak bisa membayangkan bagaimana kakekku bisa meluangkan waktunya untuk menjadi aktivis pencinta lingkungan selagi berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Aku memang sangat mendukung kakekku untuk menjadi aktivis pencinta lingkungan. Bagiku, hal itu adalah hal terkeren yang bisa dilakukan oleh manusia di dunia. Mencintai sesama dan ciptaan Tuhan lainnya tentu saja sangat menakjubkan. Tetapi, bagaimana ya cara kakekku membagi waktunya dengan baik? Pekerjaan seorang insinyur robotika menyita waktu yang banyak dan juga sulit. Pekerjaan ini membutuhkan kesabaran yang luar biasa karena mengalami perubahan setiap harinya. Kebutuhan manusia akan robot yang canggih selalu berkembang. Pasar dunia berlomba-lomba untuk menciptakan inovasi robot yang terbaru. Semangat kakekku yang membara ternyata tumbuh di dalam diriku.

Sayangnya, ayahku tidak memiliki semangat yang menggelora seperti kakekku. Ayahku adalah ayah yang super duper malas dan bossy. Dari skala 0 sampai 10, aku berikan nilai 0,99 atas kemiripan sifat yang dimiliki oleh Vater dan kakekku. Satu hal lagi yang tak aku suka dari dirinya. Too much. Ya, dia berlebihan. Vater selalu saja tak setuju dengan apa saja yang aku lakukan, terutama dengan ambisiku untuk mencintai alam. Ia suka ‘menghujani’ diriku dengan berbagai ‘kicauan’ yang begitu mengesalkan dan terlalu berlebihan. Aku pernah menegurnya untuk tidak menggunakan Air Conditioner (AC) dalam jangka waktu 86.400 detik per hari. Tolong beri garis bawah dan cetak tebal pada tulisan ’86.400 detik per hari’ ya. 86.400 detik itu adalah waktu yang sangat lama. Faktanya, percuma saja kita menggunakan AC terus-menerus. Semakin sering kita menggunakan AC, semakin panas juga suhu bumi ini. Ada sebuah penelitian yang membuktikan bahwa enam persen dari pemanasan global disebabkan oleh penggunaan freon pada AC. Ada sebuah majalah yang menjelaskan dengan gamblang mengenai bahayanya penggunan freon pada AC. Freon adalah sejenis bahan kimia yang mengandung Chloro Fluoro Carbon atau yang sering kita sebut dengan CFC. Pengaruh sinar matahari menyebabkan senyawa klorin mengalami penguraian menjadi klor yang sangat reaktif dan segera bereaksi dengan ozon yang memang tidak stabil. Hasilnya akan membentuk klor monoksida. Buruknya, klor monoksida juga kurang stabil dan akan melepaskan klornya untuk bereaksi kembali dengan ozon. Sementara oksigen yang lepas dari klor monoksida tidak kembali membentuk ozon lagi. Proses yang berlangsung terus-menerus ini menyebabkan lapisan ozon di atmosfer terus menipis. Mengapa demikian? Tentu saja karena terjadinya reaksi penguraian ozon yang tidak diikuti dengan reaksi pembentukannya.

Aku sudah mencoba untuk menjelaskan semua fakta yang ada kepada Vater. Fakta-fakta yang selama ini tidak pernah dipedulikan oleh manusia. Pada akhirnya pun kita mengeluh: “Panas… Panas… Panas!!!” atau “Huh, panas sekali hari ini! Ini pasti efek dari Global Warming. Makanya, jangan menebang pohon terus-menerus dong!” Banyak hal yang kita keluhkan, tetapi banyak hal juga yang tak kita sadari. Kita tak pernah sadar bahwa hal-hal sepele yang kita lakukan adalah penyebab terjadinya Global Warming. Vater dan uma menjadi ‘korban’ dari kebutaan ini. Orang yang ‘buta’ sudah sepantasnya dituntun agar tidak tersesat dan jatuh ke dalam lubang yang tak terhingga dalamnya.

“Memang siapa yang membeli AC dan membayar tagihan listrik di rumah kita? Kalau kamu sudah bisa membeli dan membayarnya dengan uangmu sendiri, alles was du willst (ya terserah kamu saja),” kata Vater sembari membakar sampah plastik di halaman belakang rumah. Ergh. Jawaban yang paling aku benci sedunia. Tentu saja aku tak bisa membayarnya. Aku saja diperlakukan seperti burung yang tinggal di sangkar emas. Kamu mengerti maksudku, bukan? Walaupun seorang burung tinggal di sangkar emas, burung akan jauh lebih bahagia jika ia terbang di alam bebas. Huh, nasib sial burung itu turut aku rasakan juga. Aku selalu ‘dikurung’ dan dimanjakan dengan kemewahan yang ada di rumahku. Nah, makanya aku pasti tidak bisa bekerja untuk mendapatkan uang. Sebenarnya, aku tak ingin bergantung dengan uang yang dimiliki oleh orang tuaku. Aku ingin menjadi independent girl. Independent girl yang suka berpetualang, merawat lingkungan, dan menjaga hewan-hewan dari perburuan liar. Aku ingin sekali merasakan kebebasan itu. Mencintai alam semesta yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia itu pasti sangat menyenangkan.

Hampir seluruh ruangan di rumahku menggunakan AC, kecuali toilet dan halaman belakang rumahku. Coba bayangkan. Sudah berapa besar energi listrik yang terbuang begitu saja karena penggunaan AC di sangkar emas ini? Sudah berapa banyak hal yang keluargaku lakukan untuk memicu kehancuran bumi di masa mendatang? Apalagi uma yang sangat suka menggunakan hair dryer dan hairspray. Uma selalu ingin tampil cantik dengan rambut indah terurai. Duh, sebenarnya kebutuhan primer manusia itu kecantikkan atau oksigen ya? Secara tidak langsung, penggunaan hair dryer dan hairspray juga turut menghantarkan bumi ke depan gerbang kehancuran. Hairspray mengandung propellant aerosol yang tentunya sangat berbahaya bagi lingkungan. Penggunaan hairspray yang berlebihan mengakibatkan lapisan ozon semakin tipis dan rusak. Hair dryer juga turut memicu kerusakan lingkungan.

Selain Vater, uma juga tak setuju dengan hal-hal yang aku lakukan. Aku memanggil ibuku dengan sebutan uma karena ibuku adalah wanita yang berasal dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Meskipun kedua pasangan ini berasal dari dua negara yang berbeda, pola pikirnya tak jauh berbeda. Egois, egois, dan egois. Sumber daya yang Tuhan berikan ini hanyalah titipan. Jangan bangga kalau dirimu memiliki ratusan rumah dan investasi dimana-mana. Jangan pernah bangga, kecuali kamu sudah bertanya kepada Tuhan bahwa sebenarnya titipan itu diberikan kepada dirimu untuk apa. Bisa saja besok kita sudah kehilangan waktu untuk melakukan hal yang berguna. Selagi ada kesempatan, mengapa kita tidak mencoba untuk memanfaatkannya dengan cermat? Selagi masih ada waktu, mengapa kita tidak meluangkan seperempat waktu yang kita miliki untuk menyayangi bumi? Kita sudah sering mendengar kata ‘sayang’, bukan? Terutama kaum muda. Kata ‘sayang’ kerap kali dikumandangkan ketika berpacaran dengan lawan jenisnya. Klasik. Rasa sayang tidak hanya diungkapkan untuk seorang pacar. Bagaimanakah dengan anugerah yang diberikan oleh Tuhan? Sempatkah terbersit sebuah pemikiran untuk memberikan kasih sayang kepada sebuah tempat? Pernahkah kau ‘terbangun’ dari mimpi kenikmatan dunia yang tak pernah usai?

Cerpen Karangan: Wulan Puspa Indah
Facebook: Wulan Puspa Indah
Halo teman-teman yang suka membaca dan menulis :). Nama saya Wulan Puspa Indah. Saya merupakan seorang remaja yang sangat suka membaca dan menulis. Saya mulai menulis cerita pendek sejak saya duduk di bangku kelas 1 SD. Mungkin judul cerita pendek ini terlihat kurang cocok dengan isi cerpennya. Namun, kalian bisa menyimpulkan mengapa mereka mengatakan bahwa tokoh ‘aku’ gila setelah membaca seluruh partnya :). Mohon maaf apabila ada beberapa kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja. Jika kalian ingin memberikan komentar, saran, kritik, dan ingin berdiskusi dengan saya, kalian bisa hubungi saya melalui:

Twitter: @WulanandWulan
Wattpad: wulanpuspaindahc
Instagram: wulanpuspaindah

Terima kasih banyak :). God bless!

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Inspiratif Cerpen Keluarga Cerpen Lingkungan

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply