Mereka Yang Kubutuhkan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 12 December 2014

Aku terperangkap di ruangan yang gelap gulita, tiada cahaya sedikitpun. Aku tidak tahu harus kemana aku berlari dan apa sebenarnya tujuanku. Aku sendirian, aku menjerit meminta pertolongan namun jeritan yang kukeluarkan sekuat tenaga itu malah hampir tidak terdengar oleh telingaku sendiri. Aku sesak, menangis, takut, sekelilingku tidak ada sesuatu yang dapat menunjukkanku arah yang pasti, semua gelap.
Hingga kutemukan suatu titik cahaya putih. Kulihat, kuperhatikan cahaya putih itu semakin lama semakin membesar dan terus membesar hingga cahayanya begitu menyilaukan. Aku terkejut, kulihat ada empat orang yang muncul di cahaya putih itu. Aku sangat mengenal mereka, senyum dan tawa mereka menemani setiap langkahku selama ini. Mereka tidak lain dan tidak bukan adalah ibu, ayah, kakak dan adikku.
Namun, aku merasa aneh, mereka berempat melambaikan tangan kepadaku dan sembari mengatakan “sampai jumpa”. Aku sedih, airmataku tak terbendung lagi, aku bertanya,
“Kalian mau kemana?” Rintihku dengan suara tertatih-tatih
Namun tidak kutemukan jawaban dari mereka, kemudian cahaya itu kembali mengecil, mengecil, hingga terus mengecil sampai akhirnya tidak terlihat lagi, aku kembali menjerit memanggil mereka, aku tidak ingin sendirian, aku ingin ikut dengan mereka, aku terus memanggil mereka hingga…
“Astaghfirullah, aku bermimpi”

Aku terbangun dengan sekujur keringat di tubuhku, baru kusadar bahwa saat ini aku sedang berada di tepi sungai. Kuingat, satu jam yang lalu aku mendapati perlakuan yang tidak adil dari kedua orangtuaku, aku ingin dibelikan mereka sepeda seperti kakakku, tetapi mereka tidak mengindahkan permintaanku. Aku merajuk, lalu aku memilih menyendiri di tepi sungai hingga aku tertidur di atas bebatuan tepi sungai.

Kuingat kembali mimpiku barusan, aku menjadi takut apabila itu menjadi sebuah kenyataan. Aku langsung berlari ke rumah dan yang terbayang di benakku hanya cahaya putih yang ada dalam mimpiku tadi. Sembari berlari tanpa tersadar airmataku ikut jatuh, aku tidak tahan apabila sampai di rumah nanti yang kutemukan hanya rumah kosong, tanpa penghuni dan ayah, ibu, kakak dan adikku telah pergi dariku. Aku bahkan tidak memikirkan sepeda yang kuimpikan itu, aku rela tidak mendapatkannya asalkan mereka jangan meninggalkanku.

Sampai di depan rumah aku berhenti sejenak, kuperhatikan rumahku sepertinya tidak ada yang berubah, kulihat di sekeliling halaman tidak ada satu orang pun. Biasanya sore begini Ayah sering memberi makan ikan di kolam, kakak sering menyirami taman, adik dengan ligatnya bermain dengan kucing peliharaan, dan ibuku biasanya senantiasa menyiapkan hidangan sore hari di teras rumahku.
Mengapa mereka tidak ada? Mengapa sore ini tak seperti biasanya? Apa yang ada di dalam mimpiku tadi benar-benar menjadi kenyataan? Apa aku memang harus rela kehilangan mereka semua?

Aku semakin takut, langkahku kini menuju pintu rumahku. Kubuka pintu pelan-pelan yang tidak terkunci itu. Ku dorong perlahan pintu itu hingga terbuka lebar dan…
Surpraaaiiise
Aku benar-benar terkejut melihat keempat orang yang berada dalam mimpiku tadi berbaris menyambutku. Aku sendiri lupa, hari ini ternyata ulangtahunku yang ke sepuluh dan tak kusangka mereka semua mengingatnya. Satu lagi yang membuatku terkejut ternyata Ayah telah menyiapkan sepeda untuk kado hadiah ulangtahunku jauh sebelum aku mengemis meminta-minta kepadanya.
Betapa bahagia aku hari ini, aku senang mempunyai keluarga seperti mereka, dan aku tidak sepantasnya bersikap egois seperti yang kulakukan satu jam sebelum ini.

Cerpen Karangan: Raufi Yakub
Blog: raufiyakub.blogspot.com

Cerpen Mereka Yang Kubutuhkan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hujan Yang Turun Sepanjang Hari

Oleh:
“Aku percaya hujan yang turun akan selalu membawa ingatan, juga perihal rindu yang datang dari masa lalu.” Koran Pagi: “Air jatuh ke bumi dengan kecepatan yang rendah karena titik

Jalan Pulang

Oleh:
Samar-samar kudengar dehasan nafas Ayahku. Kami sedang mendaki sebuah gunung menuju rumah tempat kami bercerita, tempat kami melepas piluh, tempat kami tertawa. “Ayah, biarkan Aku Jalan sendiri Yah.” mintaku

Ella

Oleh:
Pagi itu, Ella kembali mengikat tali sepatunya dengan tangkas. Seperti hari-hari sebelumnya, ia harus sampai di sekolah sebelum pukul setengah tujuh. Tak ada sosok yang setia menghantarkannya. Ketidakterlambatannya datang

Gara Gara Telat

Oleh:
Pada saat liburan kenaikan kelas, keluarga Ratna, anak perempuan yang duduk di bangku kelas 5 SD, merencanakan sebuah liburan keluarga sekaligus merayakan ulang tahun Ratna. “Bagaimana kalau kita pergi

Malam Jumat ke 13

Oleh:
“Aku gak butuh kamu, aku bisa mengurusnya sendiri” ucap lelaki paruh baya itu “ck, jangankan mengurusnya menyempatkan waktu untuk dia saja kau tak pernah” jawab seorang wanita dengan wajah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *