Midnight Clown (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 16 March 2014

Aku menatap dengan perasaan sedih dan iba, ketika melihat seorang wanita tua yang sudah tidak berdaya, di atas tempat tidurnya. Yaa… Tuhan, sebentar lagi pasti ia akan meninggalkan dunia ini untuk selamanya? dan tinggal menunggu waktunya saja, kataku dalam hati sambil menarik napas panjangku ini.

Namaku Nayla, aku adalah seorang dokter muda yang bekerja di sebuah Rumah Sakit Swasta. Aku di tempatkan pada bagian ICU, yang mengharuskan diri ini Standbay setiap saat. Mengapa aku bisa memastikan wanita tua yang terbaring lemah itu, tidak lama lagi akan meninggal?. Selain kondisinya yang semakin menurun, aku juga bisa melihat aura wajahnya, yang semakin lama semakin gelap semenjak ia dirawat di Rumah Sakit.

Entah ini adalah sebuah anugerah atau kesialan yang aku miliki. Sejak berumur lima tahun, aku mengalami hal yang aneh dibandingkan anak-anak lainnya yang seumuran denganku. Yaa… aku diberikan oleh Tuhan suatu kelebihan, yaitu indera keenam. Aku bisa merasakan dan melihat hal-hal yang gaib, yang tidak dapat dilihat dan dirasakan oleh orang lain. Aku menjerit-jerit untuk pertama kalinya, ketika aku melihat seorang sosok wanita yang amat menyeramkan tengah berdiri di depan ranjangku, sewaktu aku terbangun di tengah malam. Waktu itu aku masih sangat kecil, aku sangat tidak siap menerima kelebihan yang aku miliki. Setiap saat, setiap waktu dan dimana saja aku berada, selalu saja aku dapat melihat makhluk-makhluk aneh dan menyeramkan. Aku bisa jatuh pingsan berkali-kali karena ketakutan, sampai akhirnya seorang ustad membimbing langkahku untuk menjadi orang yang siap menerima kelebihan, yang Tuhan berikan.

Ketika aku duduk di sekolah tingkat pertama, aku sudah mulai terbiasa dengan hal-hal gaib yang aku lihat dan aku rasakan. Contohnya aku dapat merasakan pundak di sebelah kiriku pasti terasa berat serta kesemutan, ketika aku berada di tempat yang memiliki aura kurang baik. Seperti ketika aku berada di sebuah toko, sewaktu aku hendak membayar barang yang aku beli di kasir. Aku bisa merasakan tubuh ini menjadi lain, karena ada aura yang tidak baik. Hmmm… kemungkinan hal itu ditimbulkan, karena pemilik toko ini mempunyai sesuatu yang bisa membuat orang-orang pada tertarik untuk masuk ke dalam tokonya, dan membeli barang yang ia jual. Sehingga toko itu menjadi laris.

Ada hal lain yang membuat diriku cukup puas, jika aku diajak oleh Mamaku berbelanja di pasar tradisional. Ada suatu pemandangan yang menarik perhatianku, yang tidak bisa dilihat oleh orang lain di tengah-tengah keramaian pasar itu. Aku sering melihat sosok mahluk bertubuh kerdil dan berkepala plontos alias gundul. Dialah tuyul, para tuyul-tuyul itu sangat nakal, mereka selalu mencuri uang para pedagang. Walaupun hanya selembar uang kertas, yang tidak terlalu besar nilai nominalnya, dan aku yakin, para pedagang itu tidak akan menyadarinya jika uang mereka telah dicuri. Tetapi bisa dibayangkan, jika para tuyul itu mengambil selembar uang dari beberapa pedagang yang berbeda, di setiap harinya. Sudah pasti, para pemilik tuyul itu akan cepat menjadi kaya raya. Kejahilanku pun muncul karena geram melihat tingkah laku para tuyul itu. Diam-diam aku suka menjitak kepala mereka, atau mengejar-ngejarnya. Para tuyul itu pun sangat terkejut dan langsung berlari ketakutan.

Hmmm… itulah sebagian pengalaman yang aku alami. Aku bisa melihat masa depan orang lain, tetapi aku tidak bisa melihat masa depan diriku sendiri dan masa depan keluargaku. Seperti aku tidak bisa melihat kotoran yang berada di dalam mataku sendiri, aku pun harus meraba-raba tentang masa depanku. Itulah bentuk perumpamaannya.

Bekerja di Rumah Sakit dan menjadi Dokter, adalah cita-citaku sedari kecil. Aku ingin membantu orang-orang yang menderita dan membutuhkan pertolongan. Tiga tahun sudah aku bekerja di Rumah Sakit ini, berbagai pengalaman sudah pernah aku alami. Baik yang mengharukan, menyenangkan, menyedihkan bahkan menyeramkan. Aku bisa melihat aura-aura wajah orang-orang yang sedang sakit, hmmm kadang aku bisa menjadi stress jika melihat aura mereka, ada yang makin lama makin bersinar terang, ada juga yang makin lama semakin redup auranya, dan akhirnya mereka akan meninggal dunia.

“Yaa… ampun, Nay? Tadi gue ngeliat orang bertubuh besar, hitam dan jenggotnya panjang banget” teriak Rini sambil berlari ketakutan menghampiriku.
“Hahahahaha… loe ngeliat dimana, Rin?” tanyaku sambil tertawa, menatap raut wajahnya yang sangat ketakutan.
“Itu… dia, dia berdiri di samping pintu Lab” jawab Rini pucat.
“Hmmm… enggak apa-apa” dia enggak ganggu kok jelasku.
“Enggak ganggu, bagaimana?” Dia tuh bikin gue ketakutan, kalo tadi gue pingsan siapa yang mau tanggung jawab? teriak Rini.
Aku tertawa melihat rini, sahabatku yang masih terlihat panik ketakutan dan sedang berusaha untuk mengatur napasnya yang terengah-engah.
“Gila… rumah sakit ini seram banget sih?” jangan-jangan, ini rumah sakit bekas kuburan dulunya gerutu Rini.
“Namanya juga rumah sakit, Rin” banyak makhluk-makhluk gaib yang iseng menampakan dirinya, menyerupai sosok yang menyeramkan untuk menakut-nakuti, orang-orang yang penakut kaya loe? jelasku.
“Ahhh… loe Nay, ngeledekin gue aja.” Loe jangan jauh-jauh dari gue yaa? mohon Rini.
“Hahahah… mangkanya, jangan jadi dokter?” kalau enggak mau kerja di rumah sakit, candaku yang masih saja tertawa.

Aku melirikkan mata ke arah jam yang berada di tangan kiriku, hmm sudah jam setengah tiga pagi kataku dalam hati. Malam ini memang agak berbeda dari malam-malam yang sebelumnya. Malam ini tampak mencekam dan terasa begitu sangat panjang. Sudah tiga kali aku memergoki, seorang wanita berbaju putih dan berambut panjang sedang mengintip dan menggoda diri ini, dari balik pintu ruangan kerjaku. Uhh… aku pun tidak mempedulikannya. Tidak lama kemudian seorang perawat datang menghampiriku dan berkata, bahwa pasien di ruang ICU bernomor empat itu tiba-tiba ngedrop dan tidak sadarkan diri. Aku dan Rini langsung berlari, masuk ke dalam ruangan besar serba putih itu. Dengan sekuat tenaga, aku dan dokter-dokter lainnya berusaha untuk menyelamatkan nyawa seseorang yang sudah tidak berdaya lagi. Setelah hampir dua puluh menit berjuang, akhirnya wanita tua yang aku lihat auranya tadi menghembuskan napas terakhirnya, tepat di jam tiga pagi.

Keesokan harinya, giliiran aku mendapatkan tugas siang untuk menangani pasien-pasien yang berada di ruang ICU. Aku bisa bernapas lega, begitu melihat keadaan pasien-pasienku dalam keadaan aman. Ini berarti aku bisa bersantai-santai sejenak, menenangkan pikiran dan tubuh ini. Aku tertawa ketika melihat jadwal Rini, yang mendapat tugas jaga di malam ini, hmmm… aku bisa membayangkan pasti dia akan panik dan ketakutan untuk pergi kemana-mana, jika tidak bersama denganku.

“Nay… kamu lagi santai kah?” Tanya seseorang. Sambil tersenyum, lalu pria itu masuk ke dalam ruanganku.
“Sammy…” teriakku sambil tertawa melihat kedatangannya.
Sammy lalu memeluk dan mencium keningku dengan mesra.
“Mau makan siang bareng?” Tanya Sammy.
“Boleh… kebetulan posisi aku lagi aman nih” jawabku sambil tersenyum.

Setelah pamit dengan perawat yang sedang menjaga ruangan, Aku dan Sammy lalu berjalan menuju cafe yang berada di sebelah utara rumah sakit. Sammy adalah kekasihku, aku sudah dua tahun berpacaran dengannya dan empat bulan lagi kami akan segera menikah. Sammy juga seorang dokter, dia mengambil spesialis jantung. Sammy jauh lebih senior dibandingkan denganku. Senang rasanya berkerja di rumah sakit yang sama dengannya. Walaupun setiap harinya, bisa dikatakan kami berdua susah sekali untuk bertemu dan meluangkan waktu bersama meskipun hanya sesaat.

“Tanggal berapa kamu off, di hari sabtu atau minggu, Nay?” Tanya Sammy.
“Memangnya kenapa, Sam” kataku sambil meneguk minumanku.
“Aku mau main ke rumah, sudah lama aku enggak bertemu dengan Mama dan Papa kamu? kita kan juga harus mempersiapkan keperluan untuk pernikahan kita nanti” jelas Sammy.
“Hmmm… sepertinya bulan depan di minggu terakhir, aku libur di hari minggu” jawabku sambil tersenyum.
“Oke… nanti aku samakan dengan jadwalku, dan aku akan main ke rumah kamu?” kata Sammy.
“Lagi banyak pasien yaa, Sam?” tanyaku.
“Hari ini hanya ada tiga pasien”. Mangkanya aku bisa ngajak kamu makan di luar. Hmm… tapi nanti malam aku ada jadwal operasi besar jelas Sammy sambil tersenyum menatap diriku.
“Mudah-mudahan berjalan lancar ya, operasinya” kataku, memberikan semangat untuknya.

Setelah mengobrol dan bersenda gurau cukup lama dengan Sammy. Akhirnya kami berpisah karena tugas yang sudah menantikan kehadiran kami berdua. Rasa rindu ini pun masih terasa. Ingin rasanya suatu hari nanti, aku pergi berlibur selama beberapa hari dengan Sammy. Hmmm pasti seru, jika bisa mengekspresikan diri berdua, di tempat yang jauh dari embel-embel dokter serta tanggung jawab yang besar, yang sudah menjadi sumpah kami sewaktu lulus dari Universitas dulu.

Jam menunjukan pukul sebelas malam, kini saatnya aku bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Huaahhh selama di dalam perjalanan aku pun sudah berkhayal, untuk segera mandi dengan air hangat dan merebahkan tubuhku ini di atas ranjang yang sangat empuk juga lembut. Aku mengendarai mobilku masuk ke dalam sebuah komplek perumahan. Setelah membelokan stir mobilku ke arah kiri, tiba-tiba dari kejauhan, aku melihat seseorang sedang berdiri di depan rumahku. Aku mengerutkan keningku. Hmmm… itu bukan seorang manusia, tetapi makhluk halus yang menyerupai seorang badut. Ia berpakaian berwarna merah dan kuning cerah bermotif polkadot, perutnya membuncit, memakai wig keribo berwarna hijau. Ada bola kecil berwarna merah yang menempel di hidungnya, bersepatu sangat besar, serta memakai makeup yang menyerupai seperti badut-badut lainnya, yang sering kita temui di taman rekreasi.

Aku menghentikan laju mobilku, lalu aku memperhatikan badut itu dari kejauhan. Tatapan matanya menampakan kesedihan yang amat mendalam. Yaa.. aku bisa merasakan kesedihannya. Ia memandangi jendela kamarku yang berada di lantai atas. Siapakah dia? Tanyaku dalam hati. Ketika aku ingin menegur dan mengajaknya berkomunikasi melalui telepati, Tiba-tiba badut itu menghilang dari pandanganku. Hmm.. sepertinya ia kaget ketika aku melihatnya.

Keesokan malam harinya, aku memergoki keberadaan badut itu lagi sepulang dari rumah sakit. Seperti biasa, ia berdiri mematung di depan rumahku, dan memandangi jendela kamarku. Sebenarnya apa yang diinginkan dari badut jadi-jadian itu, kataku dalam hati.

Ketika aku terbangun dari tidurku. Di pagi harinya aku melihat sebuah balon berwarna merah muda sedang terbang melayang-layang ditiup angin. Balon itu terikat dengan benang di pagar rumah, tepat di depan jendela kamarku. Aku menatap balon itu dari kamar, mengapa aku merasakan keberadaan seseorang, yang sepertinya sangat dekat denganku?. Apakah balon ini ada hubungannya dengan badut yang suka berdiam diri di depan rumah ini, pikirku dalam hati.

Beberapa hari sudah, kejadian itu terus berlangsung. Kebetulan akhir-akhir ini aku jarang mendapat dinas malam di rumah sakit. Jadi terkadang aku suka mengintip dari balik jendela kamarku, ketika badut itu datang tepat di tengah malam. Diam-diam aku suka menunggui kehadirannya, serta menunggu pemberian balon berwarna merah muda di pagi harinya.

Di malam ini, aku tidak dapat memejamkan mataku. Aku melihat jam di dinding menunjukan pukul setengah dua belas malam, apakah badut itu akan datang lagi? tanyaku dalam hati. Sebenarnya siapakah dia? Mahluk itu sangat tertutup dan tidak mau menunjukan identitasnya. Apakah ia membutuhkan pertolonganku? Apakah ia mau menyampaikan sesuatu yang penting padaku?.

Malam pun semakin larut, aku melangkahkan kakiku menuju jendela kamar. Aku mengintip dari balik tirai, aku melihat badut itu datang dan berdiri menatap jendela kamarku. Aku mencoba untuk memberanikan diri membuka tirai jendela kamarku perlahan-lahan. Kini aku bisa menatapnya dengan jelas dari atas, aku mencoba untuk mengajaknya berkomunikasi sekali lagi. Badut itu tetap diam, dan memandangi diriku dari bawah. Kami berdua pun saling bertatapan. Aku mencoba melambaikan tanganku kepadanya. Akhirnya aku dapat melihat badut itu tersenyum, tetapi sesaat kemudian ia meneteskan airmatanya, lalu menghilang bersama hembusan angin yang kencang di tengah malam.

Melihat badut itu meneteskan airmatanya, hatiku menjadi terenyuh. Tidak terasa airmataku pun ikut berlinang di pipi. Mengapa aku dapat merasakan kesedihan yang luar biasa, ketika melihat kesedihan yang dialami badut tadi. Yaa Tuhan, sebenarnya siapakah dia, mengapa aku tidak bisa menembus pandanganku untuk mengetahui identitas dan keberadaannya sekarang, tanyaku dalam hati.

Keesokan harinya aku mendapat dinas malam di rumah sakit, setelah aku selesai memeriksa keadaan pasien-pasien, aku kembali ke dalam ruangan kerjaku untuk menyelesaikan beberapa laporan yang belum selesai. Kebetulan malam ini aku sedang sendirian di dalam ruangan. Sesekali aku mendengar suara para perawat yang sedang mengobrol di depan ruang kerjaku. Ketika sedang asyik-asyiknya menyusun file-file yang berada di atas meja, tiba-tiba mata ini sepertinya ada yang mengarahkan pandanganku menuju ke arah whiteboard, yang berada di depan sebelah kananku. Aku menatap tajam spidol yang berada di bawah, spidol itu perlahan-lahan terbang melayang ke arah whiteboard. Aku menahan napasku dan tetap fokus menatap alat tulis itu. Hmm… sepertinya ada yang ingin menuliskan sesuatu. Spidol itu pun menari-nari di depan whiteboard menuliskan huruf demi huruf sampai terbentuk sebuah kalimat. AKU… SAYANG… KAMU. Aku terkejut membaca tulisan itu. Yaa Tuhan, siapakah dia? Tanyaku sambil menelan air ludahku. Siapakah yang sedang menggodaku di malam ini?. Tidak lama kemudian aku mendengar beberapa perawat yang berada di depan menjerit-jerit ketakutan. Aku segera keluar untuk mengetahui apa yang sudah terjadi.
“Ada… ada badut, Dokter?” teriak mereka.

Aku berlari mengejar badut itu ke arah yang ditunjukan para perawat tadi. Aku berlari menyelusuri lorong-lorong rumah sakit yang sangat sepi. Sumpah, aku sangat penasaran sekali dengan badut itu. Aku terus berlari dan mencarinya sampai ke tempat parkiran mobil. Aku mengatur napasku yang terengah-engah sambil berdiri di depan mobil-mobil yang sedang terparkir. Aku memandang tajam ke arah sekelilingku, dimanakah badut itu? Mengapa ia sekarang mulai mempermainkan aku? Sebenarnya apa yang ia inginkan? Kataku dalam hati.

Aku menoleh ke arah belakang, Lalu aku melihat badut itu sedang berdiri beberapa meter di hadapanku, ia memandang tajam diri ini sambil tersenyum.
“Kamu siapa?” tanyaku.
Badut itu tetap diam dan tidak menjawab pertanyaanku, lalu ia tersenyum kembali, dan menghilang lagi di hadapanku. Aku tertunduk lesu, ketika tidak bisa melacak keberadaannya.
“Nayla…? Ngapain malam-malam kamu berada disini,” tanya Sammy yang tiba-tiba saja berada di dekatku.
“Sam… Sammy, kenapa, kamu juga ada di sini?” kataku terkejut.
“Tadi aku melihat kamu berlari kencang, di lorong rumah sakit, karena aku takut kamu kenapa-napa, jadi aku mengikutimu?” jawab Sammy yang terlihat sangat cemas.

Aku duduk lemas di atas trotowar parkiran. Lalu Sammy tersenyum sambil duduk di samping menemaniku.
“Ada apa, Nay?” bisik Sammy penasaran.
Aku mulai menceritakan hal yang terjadi padaku di akhir-akhir ini. Sammy yang sudah lama mengetahui tentang kelebihan yang aku miliki itu, mengerutkan keningnya ketika mendengar penjelasanku.
“Kamu sama sekali tidak bisa menembus dan mengetahui identitasnya? Nay”, tanya Sammy.
Aku tertunduk sambil menggelengkan kepalaku.
“Badut itu sangat tertutup sekali,” jawabku.
“Ehhh… Nay, kamu masih ingat dengan Iwan kan?” tanya Sammy sambil menatap tajam diriku.
“Iwan… anak yayasan, yang meninggal setahun yang lalu?” jawabku.
“Iyah… hmm… bukannya dia suka memakai baju badut” jika sedang menghibur anak-anak yang mengidap penyakit kanker di Yayasan Bunda, di rumah sakit ini?. Jangan-jangan, badut yang selama ini kamu lihat itu adalah Iwan, jelas Sammy.
Aku memandang Sammy. Benar juga… jangan-jangan badut itu adalah Iwan? Apa yang terjadi dengan Iwan, apakah dia memerlukan pertolonganku saat ini? mengapa ia gentayangan dan selalu menghindar ketika aku ingin berbicara dengannya, pikirku dalam hati. Tidak lama kemudian aku dan Sammy pun kembali lagi keruangan ICU.

Keesokan harinya, di siang ini sebelum berangkat ke rumah sakit, aku sibuk membongkar isi meja belajarku serta beberapa file dokuman-dokumen penting. Aku mencari surat izin praktekku yang ingin aku serahkan pada professor nanti. Dimana surat itu, tanyaku dalam hati. Aku lalu melangkahkan kaki ini masuk ke dalam kamar orangtuaku, kamar itu tampak rapih. Kedua orangtuaku sudah sedari pagi telah pergi ke kantor. Aku membuka file-file yang tersusun di rak buku Papa, mungkin suratku terselip disini kataku dalam hati. Sudah hampir sepuluh menit aku mencari surat izinku, tetapi surat itu tidak aku temukan. Tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah amplop berwarna coklat yang sudah berdebu, dan tertindih di antara tumpukan berkas-berkas yang lain. Mengapa batin ini ingin sekali membuka amplop itu. Dengan ragu aku mengambil amplop yang telah usang dimakan waktu dan membukanya.

Yaa… Tuhan ini adalah surat adopsi yang ditujukan kepada orangtuaku. Tiba-tiba jantungku berdetak sangat kancang. Bagaikan tersambar petir, tubuhku lemas tidak berdaya mengenggam kertas itu. Airmataku pun menetes di pipi. Aku masih tidak percaya dengan apa yang aku baca di siang ini. Sebagai anak tunggal, aku pun percaya jika bayi yang dimaksud itu adalah aku. Aku berlari menuju kamarku sambil membawa amplop coklat itu. Ribuan pertanyaan ada di dalam benak ini. Sampai-sampai aku tidak ingat kembali dengan surat yang aku cari. Dengan perasaan sedih yang amat mendalam, serta pikiranku yang masih kacau balau ini. Akhirnya dengan terpaksa aku melangkahkan kaki ini menuju rumah sakit untuk menjalani kewajibanku.

Cerpen Karangan: Ayu Soesman
Facebook: Hikari_gemintang[-at-]ahoo.com

Cerpen Midnight Clown (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


I Love You My Brother (Part 4)

Oleh:
Aku mengambil satu dari baju-bajunya itu. Aku menciumnya dan memeluknya untuk bisa menghilangkan rasa rinduku ini. Setelah itu aku perhatikan satu persatu foto-fotonya yang ada di dinding kamarnya yang

D, Tinta Merah (Part 1)

Oleh:
‘Jangan kau pikirkan apa yang telah terjadi. Jangan pernah. Karena itu hanya akan membuatmu terpuruk pada masa lalu.’ 10 tahun yang lalu … Hidupku berbalik 180 derajat akibat tinta

Secarik Kisah Zainab & Fauzan (Part 2)

Oleh:
Purnama menggantung cerah di kaki langit. Di beranda kecilnya Zainab duduk termenung. Lamunannya membawanya kembali ke masa dua belas tahun silam. Di malam cerah berbintang seperti inilah ia pertama

Pelangi Sederhana

Oleh:
Elsia adalah namaku Pagi buta.. bunyi kericikan air wudlu membangunankanku. Seperti biasa ibuku bangun lebih awal. Bahkan dia bangun sebelum suara adzan subuh berkumandang. rumah kecil ini hanya ada

Anak Salah Ibu Sadar

Oleh:
Lama berjalan, akhirnya aku sampai di sekolah. Namaku Djibran, sekarang aku duduk di bangku kelas 5 SD. Ayahku meninggal 2 tahun yang lalu. Ibuku menikah lagi dengan seorang Pria.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *