Midnight Clown (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 16 March 2014

Mengapa aku tidak bisa melihat masa lalu dan masa depanku sendiri, lantas buat apa Tuhan memberikanku suatu kelebihan, jika aku tidak bisa menolong diriku sendiri, pikiranku pun masih terbang melayang entah kemana. Setiba di rumah sakit, aku langsung menuju ke dalam ruang kerjaku. Aku terkejut ketika melihat sebuah balon berwarna merah jambu, terikat melayang di bangku dan ada sebatang coklat kesukaanku yang tergeletak di atas meja kerjaku. Pikiran ini langsung tertuju pada badut itu.

“Ci…yeee… sepertinya, sekarang ada yang punya penggemar gelap nih? Waduh gue harus beritahu Sammy, kalau dia harus hati-hati sekarang. Jangan sampai ceweknya berpindah ke lain hati?” Canda Rini sambil tertawa, yang membuyarkan lamunanku.
“Loe lihat siapa yang menaruh balon dan coklat ini, Rin?” tanyaku.
Rini menggelengkan kepala sambil mengangkat kedua tangannya.
“Dari tadi pagi sudah ada di situ?” Coba loe tanya saja sama perawat yang ada di depan, kata Rini.
Aku menarik napas panjang, aku tidak tahu harus berbuat apa? Aku bingung dengan hal-hal yang terjadi padaku saat ini, aku syok… aku tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Jantung ini berdetak makin cepat, dadaku terasa sesak dan sulit untuk bernapas. Pandanganku tiba-tiba kabur dan berkunang-kunang, lalu lama kelamaan menjadi gelap, akhirnya aku pun terjatuh tak sadarkan diri, aku hanya bisa mendengar samar-samar suara Rini yang berteriak-teriak memanggil namaku.

Di dalam ketidak sadaran ini, aku melihat sosok badut yang sama tengah berada di depan ranjangku. Sepertinya sejak lama ia sudah berada di sana dan memperhatikanku, wajahnya tidak dapat terlihat dengan jelas olehku.
“Kamu tidak apa-apa?” tiba-tiba badut itu bertanya padaku.
“Kamu siapa?” apakah kamu Iwan? tanyaku dengan ketus.
Badut itu hanya tersenyum memandangku. Dia sama sekali tidak mau membuka identitasnya sampai saat ini, melihat sikapnya yang seperti itu, aku pun menjadi kesal dengannya.
“Jangan pernah lagi, kamu menampakan wujud kamu di hadapanku? kamu telah menggangguku. Alam kita berbeda, pergilah…?” aku berteriak dengan kesal kepada badut itu.
Tiba-tiba wajah badut itu berubah menjadi murung, kali ini ia memandangiku dengan tatapan yang sendu. Ini pasti ulah jin jahat yang menyerupai sosok badut. Aku tidak akan tertipu dengan wajah dan prilakunya, kataku dalam hati.
“Pergi…? aku tidak mau melihat kamu?” teriakku lagi.
Dalam sekejap badut itu lalu menghilang di hadapanku. Tiba-tiba aku merasakan belaian lembut tangan seseorang yang mengusap-ngusap rambutku. Aku mencoba untuk membuka perlahan-lahan mata ini, aku melihat Sammy sedang duduk di sampingku, yang sedang terbaring di ranjang.
“Kamu sudah siuman, sayang?” bisik Sammy.
“Yaa… ampun, apakah aku pingsan?” tanyaku.
“Iyah… tadi Rini meneleponku, katanya kamu pingsan? terus aku langsung datang ke sini. Dari tadi kamu mengigau terus, apa yang kamu rasakan?” Tanya Sammy.
Aku terdiam memandang Sammy, apakah aku harus menceritakan semuanya pada Sammy? kataku dalam hati.

“Nay… Loe sudah sadar? hmm.. tadi sewaktu loe datang ke sini, wajah loe pucat banget. Terus enggak lama kemudian, loe ambruk” celoteh Rini sambil memberikan aku segelas teh hangat.
“Gue enggak apa-apa kok, mungkin cuma kelelahan saja” jelasku.
“Nih, surat ijin cuti untuk beberapa hari. Tadi gue sudah urus semuanya? Loe istirahat dulu ya Nay, kayanya loe memang kecapaian deh” jelas Rini sambil tersenyum.
“Thanks… ya Rin” kataku.
“Ayo… aku antar pulang?” ajak Sammy.
“Lho… kamu bukannya masih sibuk”. Tanyaku.
“Hari ini aku masuk pagi, sekarang sudah boleh pulang” jawab Sammy sambil merangkul pundakku dan menuntunku berjalan.

Selama dalam perjalanan, aku banyak terdiam. Pikiranku masih tumpang tindih, aku memikirkan tentang surat adopsi yang aku temukan tadi dan aku juga memikirkan tentang apa maksud kedatangan badut itu ke dalam alam mimpiku.
“Kamu kenapa Nay?” Tanya Sammy sambil menatapku.
“Aku pusing, Sam” jawabku pelan.

Sesampai di rumah, dengan ragu-ragu aku menumpahkan perasaan dan pikiranku semua pada Sammy. Airmata ini deras menetes di pipi ketika aku menceritakan tentang surat adopsi yang aku temukan.
“Aku bukan anak kandung Mama dan Papa Sam?” kataku terisak-isak.
“Sabar… sayang” kata Sammy sambil mengusap airmataku.
“Pasti kamu kecewa, kalau ternyata aku hanya anak adopsi kedua orangtuaku, yang mungkin tidak jelas asal usulnya?” jelasku pelan.
“Yaa… ampun sayangku, aku tidak akan berpikiran secetek itulah?” dari dulu sampai sekarang aku menerima kamu apa adanya kok. Rasa sayang aku masih sama pada kamu. Kamu jangan berpikiran seperti itu lagi ya? jelas Sammy sambil memandangiku.
“Lantas… siapakah diri aku ini? Aku anak siapa Sam, siapa dan dimana orangtua kandungku. Apakah kamu masih tetap ingin menikahiku?” Tanyaku yang masih saja terisak-isak
“Nayla… kamu ini seorang dokter, kamu anak baik dan sangat pintar. Siapa pun orangtua kamu, aku tetap akan menikahimu” jelas Sammy sambil menatap tajam diri ini.
Aku memeluk erat Sammy. Ada sedikit perasaan lega di hati ini, aku yakin dan percaya pada Sammy.
“Kamu Istirahat dulu yaaa, pejamkan mata kamu aku akan menunggu kamu disini sampai Mama dan Papa kamu pulang”, bisik Sammy sambil tersenyum.
Aku menganggukan kepala sambil merebahkan diri ini di atas sofa ruang keluarga. Karena terlalu lelah berpikir, akhirnya aku pun tertidur di temani oleh Sammy yang sedang asyik menonton Tv.

Aku terbangun ketika mendengar suara mobil Papa masuk ke dalam halaman rumah. Sammy menatapku sambil menggelengkan kepalanya.
“Jangan sekarang, Nay?” bisik Sammy.
“Tidak Sam, aku harus bertanya tentang keberadaan orangtua kandungku sekarang juga” jawabku.

Mama dan Papa sangat terkejut dan Syok, ketika aku bertanya tentang statusku yang sebenarnya saat ini. Ku lihat Mama menangis sedih dan Papa hanya duduk terdiam menundukan kepalanya.
“Pa… jawab Pa?” aku ini anak siapa, tanyaku sambil terisak-isak.
“Sudah sayang kamu jangan memaksa… kamu harus sabar” bisik Sammy yang berusaha menengahi pertanyaan-pertanyaanku.
“Pa… Ma… sebentar lagi aku akan menikah?” aku harus tahu dan mencari kedua orangtua kandungku, isakku lagi.
“Kami berdua tidak tahu dan tidak mengenal orangtua kandungmu Nay?” jawab Papa Pelan.
“Mama dan Papa mengadopsi kamu di panti asuhan, sewaktu kamu berumur tujuh bulan” jelas Mama sambil memelukku.
“Panti Asuhan mana, Ma?” tanyaku.
“Apakah kamu mau meninggalkan Mama dan Papa?” kali ini Mama yang terisak-isak bertanya padaku.
“Tidak… Ma, Nayla tidak akan meninggalkan Mama dan Papa? Mama dan Papa berdua juga orangtuaku. Nayla sayang sama Mama”, jelasku.
“Lantas mengapa kamu ingin mencarinya, Nay? Mama takut kehilangan kamu ”isak Mama lagi.
“Biar bagaimana pun mereka adalah orangtua kandung aku, Ma, mereka yang melahirkan Nayla. Nay harus mencarinya dulu, sebelum Nay menikah? Siapa tahu saja hidup mereka saat ini sangat sulit, Nay ingin menolongnya Ma. Mama jangan khawatir, Nay tetap jadi anak Mama? Nay akan selalu berada di dekat Mama dan Papa”, jelasku sambil berusaha untuk tersenyum.

Papa lalu memberikan alamat panti asuhan dimana mereka telah mengadopsiku. Aku berjanji di dalam hati untuk mencari orang tua kandungku sampai bertemu, sebelum aku menikah nanti. Dan aku pun berjanji tidak akan meninggalkan Mama dan Papa. Walau bagaimanapun, mereka adalah tetap menjadi orangtua yang sangat aku sayangi dan aku cintai. Merekalah yang membesarkanku, menyayangiku dan mendidikku hingga aku menjadi seorang dokter. Aku memeluk erat tubuh Mama dan Papa. Kami bertiga pun saling berpelukan, ku lihat Sammy tersenyum melihat pemandangan yang sangat mengharukan ini.

Libur cutiku yang hanya di berikan beberapa hari itu, aku mamfaatkan untuk mencari kedua orangtua kandungku. Pertama-tama aku melangkahkan kaki ini menuju panti asuhan seorang diri. Aku menemui kepala yayasan panti yang sudah sangat tua. Setelah menjelaskan tentang permasalahanku, aku pun di beri sebuah alamat rumah yang masih berada di derah Jakarta. Tetapi itu bukan alamat rumah kedua orangtuaku, melainkan alamat seorang wanita yang menitipkan aku di panti ini.

Keesokan harinya, aku dan Sammy mencari alamat tersebut. Aku berharap dan berdoa, alamat yang akan aku cari itu ditemukan dan masih di tempati oleh orang yang sama. Aku melirikan mata ke arah Sammy yang sedang meyetir, ia tersenyum padaku. Dengan setia Sammy menemaniku, Yaa… Tuhan, betapa beruntungnya aku mempunyai kekasih seperti dia kataku dalam hati.

Setelah bertanya-tanya dengan beberapa orang, akhirnya aku dan Sammy menemukan perkampungan kumuh yang berada di pinggiran kota. Sammy memakirkan mobilnya di pinggir jalan, lalu kami berdua berjalan menyelusuri gang-gang sempit yang padat dengan rumah-rumah semi permanen. Tidak ada sinar matahari yang masuk ke dalam perkampungan itu. Yaa… Tuhan rumah-rumah ini sangat tidak sehat, kataku dalam hati.

“Ini dia rumahnya, Nay?” kata Sammy sambil mencocokan alamat itu sekali lagi dengan tulisan yang ada di kertas, yang ia pegang.

Dengan gemetar aku mengetuk pintu rumah yang sudah lapuk itu. Tidak lama kemudian seorang Ibu-Ibu yang sudah berumur, membuka pintu dan bingung menatap keberadaan kami berdua.
“Apakah ibu bernama Yayah?” tanyaku ragu-ragu.
Ibu itu menganggukan kepalanya, sepertinya ia masih tampak bingung dengan kedatanganku. Diam-diam aku pun bisa bernapas dengan lega, karena sudah menemukan Ibu Yayah. Dialah yang menjadi saksi kunci asal-usul hidupku.
“Ada apa, kalian mencari saya?” Tanya Ibu Yayah.
“Saya mau menanyakan sesuatu pada Ibu” bisakah kami mengobrol dengan Ibu sebentar? Tanyaku.

Ibu Yayah mempersilakan Aku dan Sammy masuk ke dalam rumahnya, yang amat sangat sederhana itu. Aku mulai bertanya-tanya tentang kejadian tiga puluh tahun yang lalu padanya. Ibu Yayah tertunduk, Aku pun berusaha untuk membuatnya agar tidak panik dan tidak takut.
“Saya adalah anak yang Ibu titipkan dulu, ke panti asuhan itu?” jelasku sambil berusaha tersenyum pada Ibu Yayah.
“Jadi… kamu… Kamu Nayla?” kata Ibu Yayah dengan terbata-bata, ia memandangiku.
Aku menganggukan kepala. Lalu Ibu Yayah mendekatiku, sepertinya ia mencari sesuatu yang berada di belakang leherku. Mungkin ia ingin memastikan jika aku benar-benar anak yang di titipkan itu.
“Benar, kamu Nayla” kamu mempunyai tahi lalat yang sama, yang berada di belakang leher, kata Ibu Yayah dengan mata berbinar-binar.
“Benar Bu, saya adalah Nayla” kataku
“Kamu sudah besar Nak, kamu sekarang menjadi wanita yang sangat cantik” kata Ibu Yayah sambil memelukku.

Setelah keadaan semakin bersahabat, Aku mulai memberanikan diri untuk menanyakan keberadaan orangtua kandungku yang sebenarnya. Ibu Yayah tertunduk lagi, lalu sesaat kemudian ia mulai menceritakan tentang keadaan yang sebenarnya.
“Saya adalah tetangga dekat orangtua kandung kamu, Nay” kedua orangtua kamu adalah pasangan suami istri yang saling menyayangi dan mencintai, walaupun kehidupan mereka sangat sederhana. “Mama kamu sudah meninggal, setelah beberapa hari ia melahirkan kamu?” jelas Ibu Yayah.
“Apa… Ibu kandungku sudah tidak ada?” kataku terbata-bata sambil meneteskan airmata ini.
“Iya…” Jawab Ibu Yayah sambil memandangku.
“Lalu dimana Ayah kandungku sekarang berada?” tanyaku.
“Ayah kandungmu tiba-tiba saja menghilang”. Bagaikan ditelan bumi, ia tidak dapat ditemukan sampai saat ini. Ayah kamu sangat menyayangi kamu, Nay? Ia selalu menggendong dan menciumi kamu, sebelum ia berkerja dan menitipkan kamu pada Ibu. Di sabtu sore itu ia menitipkan kamu, dengan senang hati ia berkata bahwa ada orang kaya yang memanggilnya untuk bekerja. Lalu tidak lama kemudian Ayah kamu berangkat meninggalkan kamu, dengan mengenjot sepedanya”, Jelas Ibu Yayah.
“Mengenjot sepeda? Ayah saya bekerja di mana Bu?” tanyaku penasaran.
“Ayah kamu adalah seorang badut? ia bekerja untuk menghibur anak-anak yang sedang berulang tahun”, jawab Ibu Yayah.
“Ba… badut…? Ayah saya seorang badut”, teriakku terkejut dan terbata-bata.
“Iya… bukahkah menjadi seorang badut juga pekerjaan yang mulia, apakah kamu malu?” Tanya Ibu Yayah.
“Tidak… saya tidak malu, Bu” jawabku yang masih tidak bisa mempercayainya.

Yaaa… Tuhan, mungkinkah badut yang suka mematung di tengah malam dan memandangi jendela kamarku itu… badut yang suka memberikanku balon berwarna merah jambu itu… dan badut yang telah aku usir dengan kasar itu adalah Ayah kandungku sendiri?. Aku menangis… aku merasa bersalah dan sangat berdosa pada Ayah kandungku sendiri. Aku bisa merasakan kesedihannya, jika ia datang dan berdiri di tengah malam, di depan rumahku. Aku bisa merasakan kepedihan jika menatap wajahnya. Yaa… Tuhan aku adalah anak yang sangat durhaka. Sekarang aku sangat yakin jika badut yang sering menemui aku itu, adalah Ayahku sendiri. Batin ini semakin terasa dekat dengannya, dan aku tahu jika Ayah kandungku juga sudah tidak ada di dunia ini lagi. Aku dapat meraba-raba dan membaca sedikit demi sedikit tentang masa laluku. Aku menangis menyesali perbuatanku. Sammy berusaha menenangkan diri ini, dia terus menerus memeluki ku.

“Sabar ya, Nay” kata Ibu Yayah sambil meneteskan airmatanya.
“Lalu mengapa ibu menitipkan saya di panti?” tanyaku penasaran.
“Maafkan ibu, Nay Semenjak itu Ibu menunggu kepulangan Ayah kamu, sehari, seminggu, sampai sebulan, dia tidak kembali juga. Ibu sampai berfikir, apakah Ayah kamu pergi jauh dan tidak sempat berpamitan pada ibu. Sampai kamu berumur empat bulan, Ayah kamu belum juga kembali. Waktu itu kamu sakit keras, karena keterbatasan ekonomi Ibu yang sangat miskin, Ibu bingung mau membawa kamu ke rumah sakit. Akhirnya dengan berat hati, ibu minta tolong dan menitipkan kamu di panti. Agar kamu dapat dirawat, hidup layak, dan mungkin dapat mempunyai orangtua baru, yang akan membesarkan kamu dengan baik. Ibu berpesan pada pemilik panti, agar tidak mengganti nama kamu, setelah nanti kamu diadopsi? Ibu juga meninggalkan alamat rumah Ibu padanya, agar suatu saat kamu dapat mencari ibu. Dan ternyata sekarang kamu berada disini mencariku. Maafkan Ibu Nay… maafkan saya?” Jelas Ibu Yayah sambil menangis tersedu-sedu.
“Lalu sampai sekarang, Ayah kandung Nayla belum pulang dan tidak ada kabarnya juga Bu?” Tanya Sammy.
“Ia belum kembali, entah berada di mana ia sekarang” jawab Ibu Yayah lesu.
“Siapa nama Ayah saya Bu?” tanyaku.
“Dia bernama, Agus Yossi” jawab Ibu Yayah.

Ibu Yayah masuk ke dalam kamarnya, tidak lama kemudian ia keluar sambil membawa sebuah foto. Ibu Yayah lalu memberikan Foto itu kepadaku. Aku melihat gambar pria yang sangat tampan sedang tersenyum lebar dan menggendong seorang bayi mungil yang sedang tertidur di dalam pelukannya.
“Itu foto kamu dan Ayahmu” kata Ibu Yayah pelan.
Melihat foto Ayah, aku pun terisak-isak kembali. Aku menangis memandangi foto itu. Yaa.. Tuhan dia adalah pria yang baik dan bertanggung jawab. Aku bisa merasakan hangatnya pelukan itu, walaupun hanya dalam sebuah gambar. Rasa rinduku pun menjadi-jadi.

Setelah mengobrol cukup lama dengan Ibu Yayah, tidak lama kemudian aku dan Sammy pun pamit pulang. Aku mengucapkan terima kasih banyak padanya, dan berjanji akan sering-sering mengunjunginya. Biar bagaimanapun juga, Ibu Yayah adalah orang yang sangat berjasa dan merawatku sedari aku bayi.

Cerpen Karangan: Ayu Soesman
Facebook: Hikari_gemintang[-at-]yahoo.com

Cerpen Midnight Clown (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ketika Perjalanan Adalah Cerita

Oleh:
‘Naik kereta api tutt.. tutt.. tut.’ Siapapun pasti tidak asing dengan lagu itu. Sampai sekarangpun, masih banyak anak yang gemar menyanyikan lagu tersebut. Kereta api adalah transportasi yang merakyat

Akhir Mimpi

Oleh:
Malam minggu yang kelabu. Mengapa? 1. Karena aku masih sendiri 2. Karena belum kutemukan pangeranku Mia, teman sekelasku mengundangku ke acara prom nightnya. Di bagian akhir kartu undangannya, terpampang

Kalau Kaya, Pasti Bahagia?

Oleh:
Kalau ditanya dahulu, tentu saja aku mau punya banyak uang, pergi berlibur keluar pulau naik pesawat, menginap dan makan di five stars hotel. Tapi sekarang setelah semuanya terwujud, mengapa

Bunda, Aku Tidak Bohong!

Oleh:
Matahari bersinar terik menampakkan wajahnya pada dunia. Angin berhembus menggoyangkan dedaunan, menyejukkan cuaca siang ini. Seorang anak laki-laki berusia delapan tahun berjalan sendirian dengan seragam sekolah yang sedikit basah

Diary Mama

Oleh:
“Pokoknya Naila tidak mau punya mama seorang pembantu.” Kataku tegas. “Tapi nak, mau dari mana kita dapat makan?” Kata mama memelas. “Coba kalau papa tidak meninggal, pasti tidak usah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *