Midnight Clown (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 16 March 2014

Aku terus menerus menangis menyesali perbuatanku. Aku sama sekali tidak menduga jika badut itu adalah ayahku sendiri. Lantas apa yang terjadi pada Ayahku? sebenarnya apa yang mau disampaikan olehnya padaku?. Apa penyebab kematian Ayahku sampai orang-orang yang berada di dekatnya, tidak mengetahui jika ia sebenarnya sudah meninggal.

“Aku sangat yakin, jika badut yang sering menemuiku itu adalah Ayah kandungku, Sam?” kataku.
“Apa… Yaa Tuhan? Mengapa kamu bisa seyakin itu, Nay” Tanya Sammy sambil mengendarai mobilnya.
“Batin… ini, aku yakin batin aku tidak akan berbohong”. Badut itu semakin dekat di hati ku, ia ingin merasuki kehidupanku. Tapi aku telah mengusirnya, Sam? Aku telah mengusir Ayahku kandungku sendiri?” kataku yang masih menangis tersedu-sedu.
“Berarti Ayah kamu sudah meninggal Nay? lantas mengapa tidak ada seorang pun yang tahu, kalau ia sudah tidak ada di dunia ini lagi?” Tanya Sammy.
“Itulah yang aku sesali, Sam. Sepertinya Ayah ingin mengungkapkan suatu rahasia, tetapi sepertinya dia ragu padaku. Mungkin karena dia takut aku tidak akan mempercayainya. Jika badut itu adalah Ayahku yang sebenarnya”, jelasku.
“Sabar… ya sayang” ujar Sammy.
“Sepertinya dia mati penasaran, Sam roh dia tidak tenang. Apa yang telah terjadi pada Ayahku, pasti dia ingin aku dapat membantunya. Yaa…Tuhan, apa yang harus aku lakukan saat ini aku ingin bertemu dengan Ayahku lagi, Sam? Aku ingin bertemu dengan badut itu, Aku ingin membantunya agar dia tenang di alamnya”, jelasku.

Aku harus menolongnya, yaaa… Aku akan mencari tahu apa penyebab kematian Ayahku. Aku harus kuat, aku ingin membuatnya bahagia. Muncullah Ayah, walaupun hanya di dalam mimpiku, aku rindu padamu? Aku akan membantumu, Kataku dalam hati.

Sesampai di rumah, Papa dan Mama menanyakan tentang keberadaan orangtua kandungku. Sepertinya mereka juga ingin tahu, apakah aku telah berhasil bertemu dengan mereka. Aku menjelaskan keadaan yang sebenarnya, aku mengatakan bahwa kedua orangtuaku sudah tiada. Papa dan Mama memelukku, serta berusaha untuk menghiburku.
“Kamu juga anak, Mama sayang. Kami berdua adalah orangtua kamu juga, Mama dan Papa sangat sayang sekali padamu. Kamu jangan berubah yaa sayang, tetaplah menjadi Nayla yang baik, cantik, pintar yang Mama dan Papa kenal” isak Mama.
“Iyah… Ma, Nayla tidak akan berubah. Rasa sayang dan cinta Nay, tetap sama pada Mama dan Papa”, bisikku sambil menciumnya.

Aku termenung di depan jendela kamarku. Malam ini aku ingin menunggu kedatangan ayahku. Apakah ia akan datang, sudah berkali-kali aku mencoba untuk memanggilnya, tetapi aku tidak mendapatkan petunjuk apapun darinya. Apakah Ayah benar-benar marah dan kecewa padaku. Dari mana aku harus memulai untuk membantunya.

Keesokan harinya, aku berusaha untuk menghubungi teman-temanku yang berkerja di rumah sakit pemerintah. Aku meminta tolong pada mereka untuk mencari data-data orang-orang yang di bawa ke rumah sakit yang meninggal akibat kecelakan, atau pun yang di bawa dalam keadaan meninggal, pada tahun dan bulan yang sama dengan menghilangnya Ayahku. Aku memberikan ciri-ciri tubuh dan wajah Ayahku yang mengenakan pakaian dan berpenampilan seperti seorang badut.

Hari-hari sudah berlalu, di setiap malam aku selalu menunggu kedatangan badut itu, yang tidak lain adalah Ayahku. Di sepanjang malam aku menantinya, tetapi ia tetap tidak datang juga. Aku sangat menyesal telah mengusirnya, mungkinkan Ayah tidak akan muncul di hadapan aku lagi. Malam ini aku menunggu kedatangannya di teras depan rumah, hingga aku tertidur sampai pagi hari. Ia tetap tidak muncul di hadapanku, hati ini pun mulai hancur.

Keesokan harinya, aku berangkat ke rumah sakit. Cuti liburku sudah berlalu, kini aku harus berkerja lagi membantu orang-orang yang sedang memerlukan pertolongan. Aku melihat Rini yang sedang asyik bermain game di sela-sela pekerjaannya. Pikiranku masih melayang memikirkan, dimanakah Ayahku berada. Tiba-tiba ponselku berbunyi, aku langsung mengangkat dan menyapa seorang temanku.
“Gue menemukan data seorang pria yang meninggal akibat tabrak lari, di tahun dan bulan yang sama dengan orang yang loe cari, Nay” kata Ferdy.
“Benar… Fer?” tanyaku untuk memastikannya.
“Mudah-mudahan benar, Nay loe ke rumah sakit gue aja? Nanti gue kasih data-datanya”, jelas Ferdy.
“Oke… thanks yaa, Fer. Setelah bekerja, gue pasti akan kesana” jawabku.
Aku menutup ponselku dan melihat Rini yang sedang serius memandangi diri ini.
“Ada apa, Rin?” tanyaku.
“Loe baca saja, apa yang sedang gue pikirkan saat ini?” kata Rini penasaran.
“Gue tidak apa-apa kok?” jawabku sambil tersenyum.
“Bohong…? sebenarnya ada apa Nay, gue sudah memperhatikan loe dari kemarin-kemarin, pasti loe menyembunyikan sesuatu kan?” Tanya Rini lagi.
“Wow… ternyata sekarang, loe juga bisa membaca pikiran orang lain yaa?” candaku sambil tertawa.

Karena Rini sangat memaksa ingin tahu, apa yang sedang aku alami saat ini. Akhirnya aku menceritakan kejadian yang menimpahku. Rini pun terkejut dan tidak mempercayainya.
“Jadi… Badut yang kemarin gentayangan di sini dan yang dilihat oleh para perawat kemarin adalah bokap kandung loe?” teriak Rini tidak percaya.
“Iya…” jawabku.
“Balon dan coklat itu juga pemberian bokap loe?” Tanya Rini lagi.
Aku tersenyum sambil menganggukan kepala.
“Ihhh… serem banget sih” kata Rini.
“Loe mau ikut gue nggak, ke rumah sakit Ferdy abis jam praktek kita selesai?” tanyaku.
“Iyah… iyah, gue ikutan” jawab Rini.

Setelah tugasku selesai di rumah sakit. Aku dan Rini pun beranjak pergi ke sebuah rumah sakit pemerintah, dimana tempat Ferdy bekerja. Sesampai di sana aku langsung menemui temanku itu, dan mengecek data-data yang diberikannya.
“Ada sepuluh orang yang tidak dikenal, yang datang ke rumah sakit ini dalam keadaan tidak bernyawa, Nay” jelas Ferdy.

Dengan hati-hati aku membaca data-data, serta melihat foto-foto orang-orang yang tidak di kenal itu. Betapa terkejutnya aku ketika melihat data dan foto urutan nomor enam. Seorang pria memakai pakaian badut dengan ciri-ciri yang sama dengan Ayahku. Yaa… dia mirip sekali dengan foto Ayah yang diberikan oleh Ibu Yayah. Aku terjatuh duduk lemas di atas lantai. Benar itu adalah Ayah kataku dalam hati. Rini yang tahu tentang kejadian ini, langsung berusaha untuk menenangkan ku, sedangkan Ferdy terlihat panik dan bertanya-tanya, apa yang sebenarnya telah terjadi.
“Fer… semua orang-orang yang tidak dikenal ini di makamkannya dimana?” tanyaku.
“Rumah sakit ini punya lahan tanah, untuk kuburan orang-orang yang tidak dikenal hmmm… gue tanya dulu yaa sama orang yang mengurusinya”, jawab Ferdy sambil berjalan meninggalkan aku berdua dengan Rini.

Tidak lama kemudian Ferdy kembali dan memberikan aku sebuah alamat, tempat pemakaman orang-orang yang tidak dikenal. Aku dan Rini segera pergi dari rumah sakit itu dan mencari tempat pemakaman yang di maksud. Aku ingin melihat dimana tempat Ayahku di makamkan. Siapa tahu saja dari sana, aku dapat menemukan petunjuk yang lain, kataku dalam hati.

Sesampai di sana, aku dan Rini saling berpandangan. Aku melihat tempat pemakaman yang sepertinya kurang terawat, hanya ada gundukan-gundukan tanah yang meninggi dan sebuah batu besar sebagai patokan adanya kuburan. Tidak ada nisan atau tanda lainnya. Aku tertunduk lemas, sepertinya aku tidak akan menemukan dimana letak makam Ayahku.
“Bagaimana Nay, sepertinya kita kurang beruntung saat ini” kata Rini.
“Dimana makan Ayahku berada, Rin, aku tidak tega membiarkan ia dimakamkan seperti ini” tanyaku.
“Jangan menyerah ya… Nay? pasti ada jalan keluarnya, gue akan selalu ada di dekat loe dan membantu loe”, bisik Rini.
Rini memelukku dengan erat, lalu ia mengajakku untuk pulang dan beristirahat. Dengan terpaksa dan berat hati aku pun meninggalkan tempat pemakaman orang-orang yang tidak dikenal dan yang terlupakan itu.

Seminggu sudah waktu berlalu, aku terus menunggu dan menunggu kedatangan Ayahku di tengah malam. Menyerah, itulah yang ada di benakku sekarang, aku tidak tahu harus berbuat apa. Pikiran ini sangat mengganggu pekerjaanku. Sammy dan Rini pun menjadi sedih melihat keadaanku yang seperti ini.

Setelah mengisi buku laporan harianku, aku pamit pulang dengan Rini yang saat itu sedang mendapat tugas jaga malam, di rumah sakit. Aku mengendarai mobil di tengah malam menuju rumah. Sehabis memakirkan mobil di dalam garasi, sekelibatan aku melihat seseorang sedang berdiri di depan rumahku. Jantungku berdetak kencang, aku memberanikan diri untuk menghampirinya. Yang berdiri mematung itu bukan lagi seorang badut, tetapi seorang pria berkulit putih bersih dan berwajah tampan. Aku menatapnya, lalu pria itu tersenyum manis kepadaku.
“A… Ayah…?” sapaku terbata-bata.
Pria itu menganggukan kepalanya dan masih tetap tersenyum padaku. Tidak terasa airmata ini kembali menetes melihat kedatangannya. Aku menangis tersedu-sedu di hadapannya. Ingin sekali aku memeluknya, tetapi itu tidak mungkin terjadi karena kami sudah berlainan dimensi.
“Jangan menangis, anakku” kata Ayah.
“Maafkan Nayla, Ayah” aku telah mengusirmu kataku sesenggukan.
“Tidak apa-apa, Ayah yang bersalah sudah membuatmu takut dan merasa terganggu” jawabnya.
“Apa yang telah terjadi pada Ayah? mengapa Ayah seperti ini?” Tanyaku.
“Ayah hanya ingin memastikan kamu dalam keadaan baik-baik saja, sebelum Ayah pergi untuk selamanya” jelas Ayah.
“Nayla akan membantu Ayah, apa yang Ayah inginkan? mengapa orang-orang tidak ada yang tahu, kalau Ayah sebenarnya sudah meninggal” kataku.
“Ayah adalah korban tabrak lari, Nay. Mungkin ini sudah menjadi takdir Ayah. Kematian Ayah tidak di ketahui oleh orang-orang yang mengenal Ayah”.
“Siapa yang menabrak, yah? mengapa mereka tega sekali, membiarkan Ayah seperti ini”, isakku.
“Semula Ayah marah dan dendam pada mereka, tetapi ketika melihat mereka sangat menyayangimu, Ayah sadar jika kamu berada di tangan yang tepat untuk dibesarkan oleh mereka?” Jelas Ayah.
“Apa…? Yaa Tuhan berarti… Berarti yang menabrak Ayah itu adalah orangtua angkatku sendiri?” teriakku tidak percaya.
Ayah menganggukan kepalanya.
“Tidak… tidak mungkin, mengapa harus terjadi seperti ini?” teriakku lagi.
“Mungkin ini sudah menjadi takdir kita berdua, Nay, jangan kamu menaruh dendam pada orangtua mu, sebenarnya mereka juga sangat menderita. Kini sudah saatnya kamu mengetahui semuanya yang terjadi. Ayah berjanji sebelum kamu menikah nanti, Ayah akan membuka semua rahasia ini, agar Ayah bisa pergi dengan tenang” jelasnya.
“Apa yang diderita oleh Papa dan Mama? Seharusnya yang menderita itu Ayah, dan Papa harus bertanggung jawab atas perbuatannya”, tanyaku bingung.
“Malam itu, setelah Ayah menghibur diacara seorang anak yang sedang merayakan ulang tahunnya, hujan turun sangat deras. Karena terburu-buru dan tidak sabar untuk bertemu dengan kamu, Ayah pulang masih mengenakan baju badut yang sangat berat. Di dalam kegelapan dan rintikan hujan yang deras, Ayah mengenjot sepeda dengan semangat. Sampai akhirnya di sebuah tikungan yang gelap, ada sebuah mobil yang sepertinya sangat terburu-buru menyerempet sepeda Ayah. Ayah kehilangan keseimbangan karena memakai baju yang sangat berat itu, lalu Ayah terjatuh terperosok ke dalam parit besar. Kepala Ayah terbentur benda yang sangat keras, kejadian itu berlangsung sangat cepat”.
“Lalu, apa yang membuat Ayah yakin, jika yang menabrak itu adalah Papa?” tanyaku penasaran.
“Roh Ayah terlempar jauh keluar dari jasad Ayah, tubuh ini terasa sangat ringan, seperti terbang melayang. Karena kebingungan dengan apa yang telah terjadi, akhirnya roh Ayah mengikuti mobil itu. Ayah ingin meminta pertanggung jawabannya mereka. Walaupun entah bagaimana caranya”, jelas Ayah kembali.
“Lantas Ayah melihat Papa dan Mamaku?” tanyaku lagi.
“Iya… mobil mereka berjalan menuju rumah sakit”. Ternyata mereka berjalan terburu-buru saat itu, karena Mama kamu sedang hamil tua dan ingin melahirkan. Entah apa yang terjadi bayi yang dilahirkan itu tidak dapat diselamatkan, dan ia terlahir dalam keadaan meninggal. Mama kamu juga harus merelakan rahimnya untuk diangkat, dan tidak bisa mempunyai keturunan lagi. Melihat kejadian itu, Ayah merasa senang, mungkin itu adalah karma untuk mereka atas perbuatannya pada Ayah”.
Yaaa… Tuhan, aku sangat terkejut mendengar cerita Ayah.
“Ayah kembali untuk melihat jasat Ayah, yang Ayah tinggalkan begitu saja” tetapi sesampai di sana Ayah tidak dapat menemukannya. Roh Ayah jadi terombang-ombing tidak tentu arah. Ayah kembali untuk memutuskan balas dendam Ayah pada pasangan itu. Berbulan-bulan Ayah mengikuti mereka, sampai suatu hari mereka datang ke yayasan panti asuhan, dan mereka mengangkat kamu menjadi anaknya. Ayah sangat terkejut melihat kamu, Nay? Orang yang sudah membuat Ayah menderita seperti ini, telah membesarkan anak kandungku sendiri dengan baik. Mereka sangat sayang sekali padamu, Nay. Dan akhirnya Ayah sadar, jika ini adalah takdir, Hidup dan dibesarkan oleh mereka adalah sebuah anugerah hingga kamu menjadi seperti ini sekarang”, jelas Ayah sambil tersenyum.
Aku menangis sedih serta terharu mendengar cerita Ayah. Papa dan Mama tidak tahu, jika anak yang mereka besarkan itu adalah anak dari orang yang mereka tabrak sendiri. Apakah ini adalah bentuk tanggung jawab dari mereka karena telah menyakiti Ayahku.
“Jangan menangis dan menyesali takdir kita, Nay mungkin ini adalah jalan yang terbaik, yang diberi oleh Tuhan untukmu?” Kata Ayah sambil tersenyum.
“Apakah Ayah masih dendam dan marah dengan Papa dan Mama?” tanyaku.
“Tidak… Ayah sudah mengiklaskan semua ini. Tetapi Ayah berjanji akan memberitahu hal yang sebenarnya padamu. Dan sekarang Ayah merasa lega, karena janji Ayah sudah Ayah tepati. Kamu jangan dendam dengan kedua orangtuamu ya, mereka sama sekali tidak mengetahui hal ini, Ayah sudah memaafkannya. Kehidupan itu sangat berwarna, bukan?” Jelas Ayah.
“Apakah Ayah juga mengetahui jika aku mempunyai kelebihan, yang tidak dapat di miliki oleh orang lain” tanyaku penasaran.
“Iyah… Ibu mu yang menurunkan, indera keenamnya padamu” jawab Ayah sambil tersenyum kembali.

Sepanjang malam aku mengobrol dengan Ayah. Mungkin jika ada orang yang melihatku, pasti mereka mengira aku sudah gila, karena aku berbicara, tersenyum dan tertawa sendirian di malam itu. Aku merasakan kehangatan di dekatnya, walaupun alam kami sudah berbeda. Sepertinya ada beberapa sifatku yang diturunkan olehnya. Ayah bercerita mengapa ia bekerja menjadi badut, ia juga bercerita tentang betapa cantiknya wajah ibuku. Yaa… Tuhan, mungkin malam ini adalah malam yang terindah, dan malam yang tidak akan pernah aku lupakan selama hidupku. Menjelang fajar Ayah menghilang di hadapanku. Ia melambaikan tangannya dan tersenyum manis padaku. Hmmm… Aku pasti akan sangat merindukannya.

Aku merebahkan tubuhku di atas ranjang, rasa kantuk ini pun sudah tidak tertahan lagi. Hmmm… Masih ada hal yang sangat mengganjal di hati ini. Yaitu tentang kematian Ayahku yang disebabkan oleh Papaku sendiri. Apakah aku harus menaruh dendam pada orangtua yang telah membesarkan aku dengan kasih sayangnya, dan mendidikku hingga aku menjadi seorang dokter seperti saat ini, kataku dalam hati. Apakah aku harus mempertanyakan tentang kejadian tigapuluh tahun yang lalu pada Papa dan Mama. Aku memikirkan hal itu hingga aku tertidur.

Pagi harinya aku terbangun, karena sinar matahari yang menyilaukan masuk ke dalam kamar, ketika Mama membuka tirai jendelaku. Mama tersenyum sambil mencium kening ini.
“Selamat pagi sayang… wah… ada orang yang mengikat balon lagi di depan kamarmu” teriak Mama sambil tertawa.
Hmmm… Pasti itu balon pemberian Ayah, kataku dalam hati sambil tersenyum.
“Ayo bangun, Sammy sudah menunggu kamu di bawah?” kata Mama.
“Sammy…?” tanyaku.
“Lho… bukannya minggu pagi ini, Sammy sudah berjanji mau datang kesini, pas kamu off kerja?” kata Mama
Yaaa… ampun, aku lupa dengan janjiku sendiri.

Setelah selesai mandi dan berpakaian santai, aku pun melangkahkan kaki ini menuruni anak tangga menuju ruang keluarga. Aku lihat Papa, Mama dan Sammy sedang asyik mengobrol. Apakah aku tega untuk menghancurkan kebahagiaan ini dengan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan membuat jantung kedua orangtuaku berhenti? Tanyaku dalam hati.
“Sayang… Ayo kesini” ajak Papa sewaktu melihat aku telah berada di dekatnya.

Aku tersenyum lalu duduk di samping Papa sambil tertawa mendengar ocehan Sammy yang lucu. Siang itu kami mengobrol membahas tentang pernikahan aku dan Sammy yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Di dalam hati aku berjanji, aku tidak akan menaruh dendam pada Papa dan Mama. Tapi sebaliknya aku akan tetap menyayangi dan mencintai mereka berdua. Itulah pesan Ayah padaku di malam itu, hmm… aku akan menempati janjinya.

Dua hari kemudian, aku datang ke tempat pemakaman itu lagi, Ayah sudah memberitahuku dimana letak makamnya. Aku memindahkan makam Ayahku ke tempat dimana Ibuku dimakamkan, aku ingin mereka berada di satu liang yang sama. Aku ingin membuat mereka bahagia. Sammy dan Rini hanya mengetahui, jika Ayah kandungku adalah korban tabrak lari. Aku tidak mau berbagi rahasia dengan mereka. Biarlah rahasia ini aku miliki sendiri di sepanjang hidupku.

Dan di hari ini, aku duduk berdampingan dengan Sammy di depan penghulu yang akan menikahiku. Aku sangat bahagia ketika aku melihat seorang pria dan wanita yang tiba-tiba hadir di acara akad nikahku. Dialah orangtua kandungku yang sudah tiada, mereka sangat tampan dan cantik, berpakaian serba putih. Aku menitikan airmata ketika melihat mereka berdua tersenyum manis padaku. Aku berdoa semoga kedua orangtua kandungku berbagia dialam sana, begitu juga dengan Mama dan Papa, orangtua yang sudah membesarkanku hingga aku menikah. Aku sangat mencintai mereka semua.

(Tamat)

Cerpen Karangan: Ayu Soesman
Facebook: Hikari_gemintang[-at-]yahoo.com

Cerpen Midnight Clown (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Greatest Story Ever Told

Oleh:
Pada suatu hari, pangeran dan putri bertemu di waktu yang tidak disengaja, bahkan tidak direncanakan. Tapi yang tiba-tiba, bisa jadi selamanya… Mamaku seorang pemimpi, kalau kubuka lemari kamarnya penuh

Remi dan Sepeda Kumbang

Oleh:
“ke mana si remi? Jam segini kok belum pulang! Mau jadi apa dia tiap hari main aja kerjaannya?” kata pak amir kepada bu narsi yang baru saja meletakkan kopi

Kisah Sederhana

Oleh:
Manusia dengan manusia menikah, kemudian hidup bersama. Tapi kau adalah wanita yang menikahi hujan, maksudnya, kau seperti suami istri dengan hujan, saking dekatnya. –pagi itu cuaca sedang tidak menjadi

Hantu Bermata Merah

Oleh:
Aku Kyle Wright. Aku seorang pria berusia 23 tahun. Aku sedang sibuk belakangan ini, untuk mencari pekerjaan dengan adik kembarku, Kyla Wright. Aku ingin menjadi seorang sekretaris di sebuah

Kenapa Selalu Adik?

Oleh:
Hari ini mungkin hari yang paling bahagia dalam hidupku. Adik perempuanku telah lahir. Kedua orangtua ku akhirnya sepakat memberikan dia nama Bunga Ayu Pratiwi yang bisa dipanggil Bunga. Awalnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

7 responses to “Midnight Clown (Part 3)”

  1. Julyanniza Anindya says:

    Kerennnn… ceritanya aku sampai terharu. Sedih bangeet… Hiks

  2. Ayu Soesman says:

    Terima kasih Julyanniza Anindya 😀

  3. mutmainnah says:

    mengharukan…jdi ingat sosok ayah jga…

  4. Balkis says:

    ceritanya sedih banget dan bagus banget…

  5. desy says:

    Ya allah.. sedih banget, aku nangis bacanya.. ngga bisa kbayang gimana sedihnya ayahnya waktu nayla ngusir dia.. sedihhhhh, tapi happy ending pas akad nikah.. :’)

  6. nakita (bukan nikita) arani y. says:

    sedih…

  7. arsinta says:

    keren bgt
    tpi bikin nangis ….
    sedih bgt

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *