Mimpi Sebelum Pergi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Nasihat, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 11 July 2021

Malam itu aku mendapat telepon dari bibiku. Katanya, kondisi bapakku semakin parah. Ia hanya bisa tiduran di atas ranjang tapi tatapan matanya kosong menerawang.

“Pulanglah sebentar, bapakmu sangat membutuhkanmu, mungkin ini.. sudahlah yang penting kau segera pulang untuk melihat bapakmu”
“Iya bi, aku akan ke sana dengan suami dan anakku”
Telpon kututup, aku bergegas ke rumah bapak bersama suami dan anakku. Hatiku sudah tidak karuan, ingin rasanya aku berlari tapi apa daya lampu merah selalu menghentikan mobilku.

Sesampai di rumah bapak, ku lihat bapakku terdiam, menatap ke atas, entah apa yang dia lihat di sana. Kupeluk tubuh bapakku yang terdiam, air mataku pecah tak tertahan. Aku terus berlinang air mata sambil memeluk erat tubuh bapak tapi entah mengapa tiba-tiba aku terlelap dalam sebuah mimpi singkat. Dalam mimpi itu, aku merasa seperti sedang berada di sebuah tempat yang tak kukenal. Di sana, kulihat bapak dengan wajah yang berbeda. Beliau lebih segar, tegap tapi aku sulit menjabat tangannya.

“Pak, jangan pergi. Aku masih ingin bersamamu”
“Dengar, pintu itu telah terbuka itu tandanya kita harus berpisah”
“Tapi pak aku masih belum bisa menjadi anak yang baik buat bapak”
“Nak, setiap manusia harus berpulang pada Sang Pencipta. Tidakkah kau melihat aku telah menua, tubuhku renta tak kuat seperti saat kau kutimang. Lagipun Tuhan juga telah menghiasi tubuhku dengan penyakit pencabut dosa. Jantungku membesar, paru-paruku bernoda dan bengkak sebelah, bahkan sekarang kakikupun telah menghitam. Masihkah kau rela melihatku hidup terdiam di atas ranjang dengan nafas tersengal?”
“Tidak pak. Tapi, apakah dengan memasuki pintu itu bapak akan bahagia?”
“Tentu nak. Jika bapak memasuki pintu itu bapak akan melepaskan semua beban derita raga. Tak kan ada lagi nafas tersengal bahkan bapak bisa terbang melayang”
“Pak, jika aku rindu padamu, bagaimana caraku menemuimu?”
“Kau bisa temui bapak lewat do’amu karena hanya itu yang bisa bapak terima. Jika kau ada waktu luang, kunjungi pusara bapak, doa’akan bapak supaya bapak tenang di sana tapi ingat jangan meruntuhkan air mata di atas pusara bapak”
“Kenapa pak”
“Karena air matamu adalah api buat bapak”
“Baik pak. Aku akan berusaha menahan air mataku di atas pusaramu”

“Anakku sebelum bapak pergi, bapak ingin berpesan padamu. Ingatlah pesan bapak ini baik-baik. 30 tahun sudah bapak membesarkanmu sudah banyak hal yang kita lewati bersama. Kau tentu tahu kekurangan dan kelebihanku, maka bapak ingin kau mengambil pelajaran dari setiap apa yang telah kita lewati bersama. Bapak ingin kau menjadi anak, istri dan ibu yang baik. Binalah keluargamu sebaik mungkin agar bapak tetap tertawa mekipun kita telah berbeda alam”
“Iya pak, aku akan berusaha menjalankan pesan bapak”

“Nak, Dia sudah datang, maka ini saatnya bapak menghadap Yang Maha Kuasa”
“Pergilah pak. Semoga bapak tenang di sana. Aku akan di sini membahagiakan bapak lewat perbuatan baik dan do’a. Pergilah pak”

Aku terkesiap dari mimpiku kulihat bapakku di atas ranjang. Tubuhnya dingin, denyut nadinya melemah tapi masih kudengar kalimat-kalimat toyyibah dari bibirnya. Sempat kudengar bapakku membaca la..ilaha illa allah kemudian bapakku terdiam, nafasnya sudah tak bisa kudengar. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Pergilah pak, damailah di sana, semoga bapak khusnul khotimah. Al- Fatihah..

Cerpen Karangan: Hamida Rustiana Sofiati
Facebook: facebook.com/zakia.arlho

Cerpen Mimpi Sebelum Pergi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tak Disangka

Oleh:
Di sebuah kota besar yang berada di antara benua asia dan Australia,pada pagi hari seperti biasa seorang pekerja serabutan berangkat dengan gesit langsung memenuhi kewajibanya sebagai seorang kepala keluarga

Petani yang Setia

Oleh:
Angin sejuk berhembus melewati celah jendela kamar sore itu. Sang fajar sudah siap untuk menutup hari lelah itu, begitu banyak yang telah kulewati hari ini, lalu kuingat kembali apa

Aku (Bukan) Orang Gila

Oleh:
Hijau itu membuat daun jambu yang melambai padaku terasa menyegarkan. angin yang berhembus di antara ruas ruas rambut sebahuku terasa bisu. aku hanya dapat merasakan rumput yang membelai lembut

Percayalah

Oleh:
Sayup-sayup sorotan cahaya itu mulai tampak di antara ribuan uapan air laut yang akhirnya menjadi rintikan air hujan. Sorotan cahaya itu tampak segera menghindar dan meneduh di teras rumah

Rindu Sahabatku

Oleh:
Dulu kita selalu bersama-sama, menghabiskan waktu bersama. Kita selalu lupa waktu jika sedang bersama. Kadang itu yang membuat Ibuku tak suka denganmu karena dikira jika aku bersamamu aku jadi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *