Minggu Sore di Supermarket

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 21 May 2017

Sebagai seorang perempuan, naluri berbelanja ada di dalamku tentunya. Meskipun memang orangtuaku selalu membatasi uang jajanku setiap bulannya dan dimintai laporan keuangan setiap akhir bulan, ya perempuan tetaplah perempuan yang tidak tahan melihat barang yang bagus. Keuanganku tidak pernah surplus, cuma mimpi aku bisa punya tabungan untuk sesuatu yang lain.
Mama selalu kesal dengan gayaku yang berbelanja online. Hanya menggerakkan jari di layar tab, tahu-tahu tiga hari kemudian barang datang dan mungkin tidak sesuai selera.

“Mama ini memang tukang belanja, tapi tukang belanja yang berkualitas.” kata mama sambil menyirami tanaman di kebun depan rumah.
Aku menelan ludahku mendengar kata ‘berkualitas’ dari mulut mama. Menggelikan sekali. Sejak kapan gaya hidup berbelanja memiliki kualitas begitu. “Apaan sih ma, belanja pakai kualitas segala.”
“Iya mama bukan pemalas yang sok ga ada waktu belanja ke toko, pasar, atau mall begitu. Mama juga sibuk kerja di kantor dan ngurus kalian, tapi mama tetap usahain datang langsung, pilih langsung, dan bahkan nyobain langsung.” Mamaku sesekali memandangku sambil menggunting tanaman pagar.
“Zaman kan udah beda, ma. Ini generasi Z.” Kataku sambil mencabut-cabut rumput di depanku.
“Eh, eh.. Mama lebih ngerti masalah zaman. Jangan coba-coba bicarain zaman.” Mama memang paling tidak bisa ditipu, kerja di bagian informatika membuat aku dan adik-adikku kalah gaul dengan dia.
“Kamu itu mah bukan tukang belanja. Seseorang yang hobi belanja akan rela menyisihkan waktunya untuk mencari barang yang berkualitas. Rasa puasnya itu tidak tertandingi.” Mama lagi-lagi yang berbicara.
“Ada tiga manfaat kamu berbelanja langsung.” Mama menunjukkan tiga jarinya yang kemudian diikuti oleh cekikikanku.
“Astaga, ma. Udah kayak dosenku di kampus saja.” Aku bicara sambil tertawa.
“Dengar dulu. Pertama, kamu bisa milih langsung dengan panca indra kamu yang diciptain Tuhan. Kedua, kecil penipuan. Kamu ketemu langsung penjualnya dan dapat barangnya langsung. Ketiga, daya sosialisasi kamu lebih peka. Biar kamu ga jadi anak muda yang cuma hidup dengan jari dan tab kamu saja.” Mama terus bicara sementara aku masih saja mencabut-cabut rumput di depanku.
“Jangan-jangan kamu cari pacar juga lewat online, ya.” Mama sekarang yang cekikikan menatapku.
“Enggak dong, ma. Aku itu mengharapkan ketemu dengan jodoh aku itu dengan cara yang romantis. Ketemu langsung dengan ditembak langsung. Kayak di tivi-tivi itu.” Aku mulai menatap langit yang biru minggu sore itu.
“Buat hal yang kecil seperti berbelanja aja kamu masih online, gimana kamu bisa ngarep dapat jodoh yang ga online. Hahaha…” Mama lagi-lagi menertawaiku. “Daripada kamu cabutin rumput jepang mama itu, mending kamu belanja sepatu sana. Katanya sepatu sneakers kamu udah kekecilan kan. Ajakin adik kamu si Ajeng tuh. Dari tadi tengkar mulu sama pacarnya.”

Aku dan Ajeng memasuki supermarket yang lumayan dekat dari rumahku. Aku memandang toko demi toko sementara si Ajeng masih saja melihat handphonenya dengan muka kesal.
“Loe tuh ya. Belanja ya belanjalah. Matiin tuh hape. Nanti dulu urusan rumah tangganya.” Kataku sambil mematikan handphonenya lalu memasukkan ke tasku.
Ajeng menggerutu. “Iya deh nona Eva yang ga punya rumah tangga.”

Aku melirik ke lorong sebelah kananku. Kelihatannya ada toko sepatu yang menarik. Aku menarik tangan adikku ke sana.
“Ada yang bisa dibantu adik-adik?” seorang karyawan cowok yang melambai mendatangi aku yang memandangi beberapa sepatu olahraga yang dipajang di depan toko.
Ajeng terlihat menahan tawa. Sementara aku masih sibuk memilih bahan dan ukuran yang cocok dengan kakiku.
“Kalau mbaknya kan masih muda dan imut gitu, cari yang warnanya cerah aja pasti makin imut. Nah, ini yang bagus warna pink muda. Sedang ngetrend di kalangan anak-anak gaul. Kemarin anak-anak sekolahan rame-rame beli ini katanya sih biar kembaran gitu. Nah kalau mbak-“
“Stop mas. Saya ini bukan anak sekolahan. Sudah kuliah, lagi skripsi juga. Saya mau yang warnanya biru tua, ada?” kataku hampir melotot, sementara Ajeng sudah mulai cekikikan.

Akhirnya sore itu aku berhasil membeli sepasang sepatu dengan cara berkualitas versi mama.
“Terus gimana nih? Pulang?” aku dan Ajeng keluar dari toko itu.
“Gila aja jauh-jauh dateng ke sini tapi cuma beli sepatu loe doang.” Ajeng berhenti di depan sebuah tempat ngopi yang ternama, lalu tersenyum.
“Ngopi nih?” aku langsung berjalan mencari tempat duduk yang kosong diikuti Ajeng.
“Mau pesan apa? Biar gue yang ke kasir.” kata Ajeng sambil melirik dompet.
“Loe yang bayar? Kalau gitu gue pesan apa aja, deh.” Aku kemudian memandang sekitar cafe sementara Ajeng pergi.
Aku membuka tasku lalu memeriksa handphoneku kemudian membuka sosial media, membalas chat beberapa teman, dan membuka-buka instagram, siapa tahu ada yang menarik.

Setengah jam berlalu, Ajeng belum juga hadir. Padahal pesanan bisa saja ditinggal, toh ada nama pemesannya nanti. Mungkin, dia sekalian ke toilet, batinku.
Ajeng kemudian muncul dengan muka yang lumayan cemberut dengan dua cup di tangannya.
“Loe darimana aja sih? Foto-foto di instagram udah banyak banget gue like, loe belum juga datang.” Aku menyeruput kopiku, kemudian aku sadar Ajeng sepertinya lagi ada masalah.
“Gue baru putus sama Rio.” Ajeng kemudian mencicipi kopinya sedikit. “Gue lihat dia sama cewek lain di cafe yang sana.” Ajeng menunjuk ke arah cafe ini.
“Loe gapapa?” tanyaku dengan penuh simpati.
“Udah, gue entar malam aja nangisnya. Sekarang have fun aja dulu.” Ajeng kemudian tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa. “Hahaha… Itu persis banget sama yang di sinetron-sinetron itu tau. Loe harusnya lihat tadi.”
Aku cuma bisa terdiam. Ajeng. Bisa-bisanya dia menganggap ini hal yang sepele.
“Loe sih kak kelamaan jomblo. Ga tau masalah putus-putusan begini udah biasa di kalangan remaja.” Ajeng mencicipi kopinya lagi. “Eh, loe lihat ga mas-mas di toko perhiasan itu? Dari tadi lihatin loe mulu.” Kata Ajeng sambil menggerakkan kepalanya menunjuk toko perhiasan di seberang cafe ini.
“Apaan sih. Gak ah.” Kataku sambil menatap Ajeng walaupun mataku sedikit melirik ke arah toko itu.

“Eh, ngomong-ngomong soal perhiasan, gue mau cerita sama loe.”
Aku mengeluarkan sebuah kotak perhiasan kecil dari tasku, kemudian membukanya. Tampaklah sebuah kalung emas putih.
“Itu punya loe?” kata Ajeng sambil menatap kalung itu.
“Hmm.. Sebenarnya ini pemberian seseorang.” Kataku sambil menatap inisial yang diukir di kalung itu. DN.
“Kok inisialnya bukan nama loe? Hayo, siapa nih yang kasih?” Ajeng melotot ke arahku, lalu meraih perhiasan itu. “Gue belum pernah dikasih kalung kegini sama pacar. Em, mantan maksudnya.”
“Ada cowok yang deket sama gue. Namanya Dimas.” Kataku dengan mata setengah berkhayal. “Selama ini udah chatting dan telponan terus. Di kampus dia selalu nyempetin ketemu gue, buat nanya-nanyain kabar guelah, apalah yang sebenarnya ga penting hahaha…”
“Doi udah bilang kalau doi cinta sama loe?” Ajeng memotong pembicaraanku.
“Udah. Dia juga bilang gue ini penyemangat dialah, gue ini beda sama cewek lainnya. Begonya lagi, dia selalu tau gue ini lagi kenapa dan lagi ngapain. Ya walau ga semuanya bener sih.” Kata-kataku membuat Ajeng terdiam dan memandangku gemas.
“Kakak gue yang bentar lagi katanya mau wisuda ternyata bego juga. Itu cowok udah cinta gitu jangan di pehapein dong. Ih.” Ajeng mencubit pipiku dengan wajahnya yang semakin melotot. “Atau cowok itu jelek ya?”
“Sebentar gue tunjukin foto dia di instagram.” Aku membuka handphoneku, mengutak-atik, lalu menemukan salah satu foto Dimas.
“Wah, pantesan namanya Dimas, mirip banget sama Dimas Beck yang artis itu.” Ajeng memandangi foto Dimas lama sekali.
“Sekarang nih ya, kata dosen pembimbingku, kalau mau tau keseriusan dia nih ya, gue harus cek kalung ini beneran emas putih apa ga.” Aku menatap emas putih itu lagi.
“Elo ngomongin masalah pribadi gini ke dosen pembimbing elo?” Ajeng menunjukkan wajahnya yang kaget bukan main.
Aku mengangguk. “Lah iya dong. Dosen gue.”
“Ya udah, mumpung di sana tuh ada toko perhiasan. Cek aja, itu emas putih apa bukan.” kata Ajeng sambil mencicipi kopinya lagi.
“Bentar ya.” Aku berjalan menuju toko perhiasan itu.

“Mas, saya mau cek kalung ini bener emas putih apa ga, boleh ga?” aku bertanya sambil menunjukkan kalung yang diberikan Dimas itu.
“Gila. Loe beneran Eva?” mas-mas itu setengah berteriak sambil menatapku tak percaya.
“Iya, mas siapa ya?” kaget juga ada yang mengenaliku di keramaian supermarket ini.
“Om, lihat deh cewek ini. Ini Eva, gebetannya Dimas itu.” Mas-mas itu memanggil seorang pria separuh baya yang sedang sibuk membakar emas.
“Oh iya, iya. Saya ingat wajah kamu, Dimas pasang banyak foto kamu di kamarnya. Hahaha…” sore ini benar-benar mengagetkanku. Toko ini? Dimas?
“Eva, nih ya. Kalung ini emas putih murni asli! DN itu langsung diukir sama Dimas sendiri.” Mas-mas itu memandangku sambil tersenyum.
“Oke, well. Sekarang itu udah ga penting. Bisa dijelaskan, mas ini siapa dan kenapa bisa kenal Dimas?” aku memandang mereka dengan gurat wajah masih keheranan.
“Hahaha… Jangan tegang gitu, dong.” Dia tertawa sambil berpandangan dengan pria separuh baya tadi.
“Maklum jurusan hukum toh. Iya kan kamu hukum? Sama kayak si Dimas. Hahaha…” kata pria separuh baya itu.
“Eva, kenalin saya Nathan. Sepupunya Dimas. Dan ini om Moses. Kita bertiga biasanya kerja bareng di sini. Tapi Dimas lagi kurang fit. Jadi, dia di rumah sekarang.” Nathan bicara tanpa putus-putus.
“Dimas? Kerja?” aku masih saja menunjukkan wajahku yang keheranan.
“Lah, kamu selama ini udah diceritain apa aja sama Dimas?” ganti om Moses yang kebingungan.
“Oke, kelihatannya kamu banyak ga tau ya.” Nathan sekarang memandangku. “Dimas itu asli Malang. Karena keterima kuliah di Jakarta, akhirnya dia tinggal di rumah om Moses yang adalah teman papaku, bareng sama aku. Ya, untung-untung buat uang tambahan, kita bantu om Moses kerja di sini. Ada pertanyaan, nona anak hukum?”
“Dimas? Dia bukannya tinggal di apartment dekat kampus? Aku pikir dia anak-anak kota yang suka main-main skateboard gitu, terus balap-balapan ngabisin duit orangtua.” Aku masih tidak percaya dengan fakta ini.
Nathan dan om Moses tertawa keras sambil berulang-ulang menatapku.
“Ya udah deh. Saya balik dulu ya. Mas. Om.” Aku pun berjalan ke arah Ajeng.

“Gila, baru tau gue ngecek emas gitu sampe setengah jam.” Ajeng menatapku yang masih senyum-senyum. “Loe baru ngomong apa ke mereka? Astaga, loe digombalin mas-mas itu? Woy.. woy..” aku diam tidak peduli dengan Ajeng.
“Yuk, kita pulang aja.” Aku menarik tangan adikku menuju keluar supermarket lalu berjalan setengah berlari ke parkiran mobil.
Di tengah jalan, Ajeng menanyaiku terus-terusan. “Loe kenapa sih?”
“Selama ini, gue baru sadar kalau gue ga tau apa-apa tentang Dimas.” Kataku sambil mengarahkan stir mobil.
“Sebenarnya, loe kenapa sih ga suka sama Dimas?” Ajeng menatapku penasaran.
“Karena, ya karena gue pikir dia itu sama aja kayak cowok lain. Selain itu, dia juga agak agresif. You know lah.” Kataku dengan wajah yang masih senyum-senyum.

Sesampai di rumah, aku langsung ingin buru-buru ke kamarku.
“Gimana belanjanya? Berkah ga?” mama teriak ke arahku sambil membawa kopi buat papa di ruang TV.
“Berkah ma. Aku putus sama Rio karena ngelihat dia selingkuh.” Ajeng setengah teriak ke arah mama.
“Wah, good. Papa juga ga suka sama itu Rio.” Papa melirik mama sambil tersenyum.
Aku terdiam melangkah ke kamarku. Bisa-bisanya usulan belanja dari mama ini menjadi berkah buat kisah cintaku.

Aku berguling di tempat tidur lalu mulai mencari nomor handphone Dimas.
“Halo, Dim.”
“Eva, kok kamu duluan yang nelpon aku?”
“Kamu cepet sembuh ya.”
“Loh, kok kamu tahu aku lagi sakit?”

Selesai

Cerpen Karangan: Rosa D S
Blog: morningdew95.wordpress.com

Cerpen Minggu Sore di Supermarket merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Malaikat Malaikatku

Oleh:
Malam ini sangat sunyi. Jangkrik sekalipun tak terdengar kali ini. Bulan tak lagi menyinari. Aku bingung melihat semuanya. Terbaring di rumah sakit, aku tak mampu melakukan apa-apa. Hanya dapat

Bangun Ayah, Jangan Tinggalkan Aku

Oleh:
Saat itu langit tampak mendung, aku masih di kampus untuk mengerjakan tugas yang diberikan dosen namun saat aku mengerjakan tugas aku merasa tak tenang, fikiranku terbayang pada sosok ayah

Cinta Dalam Novel

Oleh:
Aku Kirana, kerap disapa Nana. Aku siswi kelas 12 IPA di salah satu SMA favorit di Bali. Aku baru setahun di sekolah ini. Iya.. aku pindahan dari SMAN 7

Kado Natal Yang Terindah

Oleh:
Hari ini suasana sangat ramai. Semua orang sibuk dengan aktivitasnya. Yandri terus menunggu dengan sabar jemputannya ke kampus. Meski berasal dari keluarga yang berkecukupan, Yandri lebih memilih naik bus

Antara Ayah, Ibu, Dan Anaknya

Oleh:
Seperti pelangi menunggu hujan reda, itulah sebuah gambaran perasaan Puput Sri Asrianti perempuan cantik beranak satu, ia dengan setia memandang langit Kota Makassar menunggu dengan sabar sang suami pulang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Minggu Sore di Supermarket”

  1. David Aji says:

    Intinya berarti jangan nyuekin orang yang perhatian sama kita ya?

    Eh ternyata Dimas bukan seperti cowok kebanyakan. Dia adalah pekerja keras bukan cowok alay yang suka selfie sambil ngulurin lidahnya, hahaha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *