Misi Sekelompok Keluarga ke Italia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Liburan
Lolos moderasi pada: 13 February 2017

Di kota Santa Monica tinggal keluarga dengan 4 anaknya, yang pertama bernama Alina, Alina umur 18 tahun, dia sangat susah untuk diajak bercanda, orangnya sangat serius tidak tahu bagaimana membuatnya ketawa, susah. Anak keduanya laki-laki, Sam, masih kelas SMA, orangnya sangat baik, menawan, sopan, seperti mamanya. Mama bernama Annabeth, atau dipanggil Anna, Anna adalah orangtua yang sangat sabar dengan anak-anaknya dan sangat menyayai mereka. Tetapi Anna juga bisa tegas, terutama kepada anaknya yang ketiga, Tom, sangat ceroboh, selalu ceria, tapi jika menggunakan barang-barang sangat ceroboh, jatuh, rusak, luka; Tom mempunyai kembaran perempuan, Sabrina. Sabrina sangat malu, terlihat seperti anak kecil yang tidak bersalah, dan sangat sopan kepada semua orang. Sabrina sangat menyukai bonekanya, kemana-mana dia bawa, selalu bermain dengan bonekanya.
Dengan ibunya yang bernama Annabeth atau biasa dipanggil Anna, adalah seorang ibu yang sangat sabar, terutama dengan anak-anaknya. Mereka kadang-kadang bisa nakal, tidak sopan, sangat merepotkan. Tetapi Anna tetap sabar dengan kasih sayang yang sangat besar kepada mereka. Namun dengan kesabarannya, Anna juga tegas dalam menangani anak-anaknya, mungkin menangani suaminya juga; Mark, dia adalah orang yang sangat pintar, sekolah di Stanford, Amerika Serikat. Mark penuh dengan senyum setiap hari, kebiasaanya setiap hari adalah becanda, kepada siapapun, selalu terlihat gembira. Mark memiliki kejutan tiket pesawat ke Itali untuk keluarganya. Setelah dia bekerja keras berbulan-bulan, Mark ingin berbagi hasil kerjanya dengan keluarganya.

Keeseokan hari, Mark pulang dari kantor, di rumah “Di mana keluargaku ini?”, dia menanyakan.
“Kita di ruang tamu, Mark” Anna menjawab.
“Aku ada kejutan untuk kalian semua…”
“Apa itu ayah?”, Sabrina bertanya,
“Aku punya tiket pesawat ke Italia untuk kita semua minggu depan, ada yang tidak mau ikut?”,
“Ikut-ikut-ikut!” anak-anaknya semangat menjawab.
“Yeay, akhirnya kita ke Eropa!” Alina berkata dengan perasaan yang sangat senang.

Setelah itu, setiap hari mereka bersiap-siap untuk ke Italia, berkemas pakaiannya. Alina sangat mementingkan penampilan, setiap hari pakaiannya harus sempurna, sehingga kopernya sangat penuh.

Suatu saat bunda masuk ke kemar Alina, Alina sedang berkemas baju-bajunya, “Alina, kamu bawa berapa baju? 100? Kopermu mau meledak nak” Anna bertanya,
“Baju-baju Alina yang penting bun, aku sudah rencanakan pakaianku setiap hari di Itali nanti, semuanya sudah aku taruh di koper.” Alina menjawab,
“Tapi koper kamu penuh sekali nak, nanti tempat buat oleh-oleh di mana? Di baju-baju kamu itu?” Anna berkata sambil tertawa,
“Kurangi baju-baju ya Alina”
“Siap bunda!” Alina menjawabnya dalam bercanda.

Seminggu sudah berlalu, sudah waktunya untuk berangkat ke Italia. Mereka ke bandara pada malam hari, lalu check-in, kemudian melewati imigrasi, dan sedang menunggu di tempat tunggu.

“Bun, aku mau ke toilet” Sabrina berkata ke Anna, lalu mereka ke toilet dekat tempat tunggu. Kemudian suara peringatan menyatakan “Pesawat menunju kota Roma sudah mulai boarding.”
“Bunda sama Sabrina di mana?” Mark bertanya dan panik, karena pesawatnya sudah mulai boarding dan butuh mengantri untuk masuk ke pesawat. Antriannya akan panjang, dengan itu Mark ingin bergegas untuk mengantri.
“Mereka ke toilet yah” Tom menjawabnya. Lalu beberapa menit kemudian, Sabrina dan Anna balik ke tempat tunggu,
“Anna, ayo, kita perlu berbaris untuk masuk ke pesawat,” Mark berbicara kencang ke Anna saat Anna sedang berjalan menunju tempat duduk mereka.

Lalu Anna sambil memegang tangan Sabrina bergegas ke tempat duduk mereka, mengambil barangnya, dan langsung mengantri. Beberapa menit kemudian mereka sudah di dalam pesawat menuju kota Roma, Italia. Di dalam pesawat, Anna dan Mark duduk bersebelahan dengan Tom dan Sabrina di bagian tengah dari barisan, sedangkan Alina duduk bersebelahan dengan Sam di bagian pinggir barisan.

“Bunda bonekaku di mana?” Sabrina bertanya ke Anna,
“Ini nak, tadi ditaruh di tas bunda…” Anna menjawab dan memberi bonekanya.
“Mark, Alina dan Sam tidak apa-apa?” Anna bertanya,
“Mereka tidak apa-apa, mereka baik-baik saja” Mark menjawab dengan intonasi tenang agar Anna tidak merasa kecewa.

Setelah 17 jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di Roma, mendarat pagi di Bandara Leonardo da Vinci–Fiumicino.

Alina melihat dari jendela tempat mendarat, “Wow, Roma indah sekali, tidak terlalu panas, dan penuh dengan kehijauan dan langit yang sangat biru.”
“Tunggu sampai kita lihat Colosseum… Pantheon… Trevi Fountain… penuh dengan keindahan yang tidak terhingga dan unik sekali” Mark berbicara.
“Apa itu Colosseum yah?” Tom bertanya,
“Nanti kita akan lihat, itu akan menjadi kunjungan pertama kita!”

Setelah itu mereka mengambil koper mereka, mencari taksi, dan menuju ke hotel yang sudah direservasi oleh Mark. Perjalanan ke hotel mereka melihat patung-patung zaman dahulu, melihat gedung-gedung tua, gereja-gereja. Mereka sangat gembira di Roma. Dengan janji Mark, dari hotel, mereka pertama ke Colosseum dahulu dengan taksi, mereka berfoto-foto, melihat sejarahnya, dan makan siang. Semuanya kagum dengan bangunan ini yang sangat tua, namun sangat unik dan cantik. Lalu dilanjutkan ke Pantheon, gereja tua yang sebelumnya adalah candi Romawi. Setelah Pantheon, mereka makan malam di sekitar tempat itu. Sam memesan pizza asli bikinan Itali yang kaya dengan rasa Italia.

“Yah, pizzanya enak sekali! Sepertinya aku jatuh cinta dengan pizza, jika saja aku bisa menikahinya…” Sam berkata karena kesukaannya pada pizza.
“Bisa saja kamu Sam, yang lain gimana? Makanannya enak?” Anna berkata,
“Enak bun, aku pesan fettuccine dengan keju mozzarella…” Tom berkata,
“Kalau Sabrina dan Alina gimana makanannya? Enak?”,
“Enak kok bun!” Sabrina menjawab, sedangkan Alina menjawabnya,
“Enak-enak saja” dengan ekspresi wajah judes.

Anna hanya bisa sabar, keluarga sedang menikmati makan malamnya dan tidak mungkin diganggu dengan Anna menegur Alina. Lalu Mark menyemangati Alina dengan bercanda tentang segala hal sampai melihat senyuman dari Alina. Mark adalah seorang ayah yang sangat optimis, selalu melihat hal positif yang bisa dimengerti atau dilakukan.

Hari berikutnya mereka pergi ke Trevi Fountain, di sana mereka bersantai, tidak terlalu bergegas untuk ke tempat-tempat lain. Setelah beberapa jam di sekitar Trevi Fountain, mereka bersama sedang berjalan-jalan mengelilingi air mancurnya. Suatu ketika, Tom melihat toko es krim atau dalam bahasa Itali, gelato di pinggir jalan. Tom sangat menginginkan es krim, Roma sangat panas pada hari itu.

“Bun aku mau es krim” Tom berkata ke Anna sambil menunjuk toko es krim yang dia lihat,
“Nanti dulu ya Tom, kita mau lihat area air mancur yang di sana” Anna menjawab dan bertuju ke area yang ingin dikunjung.

Karena Tom sangat menginginkan es krim, pada saat Anna beri tahu bahwa mereka ingin ke area dekat air mancur, Tom tidak menyadarinya, tidak mendengar bahwa Anna mengatakannya. Tom terlalu berpikir tentang es krim, dengan tambahan sirup coklat yang sampai bertetes kebawah dari es krim. Akhirnya tanpa dia sadari, dia tidak bersama Anna maupun yang lainnya, lalu menyebrang jalanan tanpa melihat ada motor yang lewat. Untung Tom tidak tertabrak,

“Tom!” Anna berteriak memanggil Tom,
“Tom!” yang lain ikut berteriak.

Anna kemudian berlari ke Tom, sedangkan Tom ke tempat es krim yang dia lihat tadi. Namun dia sudah lupa toko tersebut terletak di mana, dia hanya terpikir gambaran es krim. Semuanya mencoba untuk mengikuti Tom, tetapi pada saat mereka ingin menyeberang jalan, ada mobil yang melewati, sehingga mereka tidak bisa menyeberang. Mobil sudah melewati, mereka baru menyebrang, Tom sudah tidak terlihat, tidak ada yang bisa melihat Tom di mana. Tom masih berjalan sekeliling area yang dipikirkan adalah jalan menuju toko es krim. Lalu Anna dan Mark berpisah, Anna bersama Alina, Mark bersama Sabrina dan Sam.

Berjam-jam mereka mencari Tom, mereka selalu akhirnya akan bertemu di air mancur Trevi, Tom tidak ketemu-temu. Anna sangat panik, sangat takut bagaimana keadaan Tom di Roma sendiri. Sedangkan Tom merasa senang, memikirkan es krim. Sampai sore Tom belum juga ketemu, seharian Anna mencarinya sekitar Trevi Fountain.

Sudah malam, mereka juga tidak ketemu Tom.
“Anna, ayo kita makan dulu sebentar di toko kecil di sana…” Mark sarankan,
“Tom adalah anakku, dia bayiku, aku pasti akan menemukannya” Anna menjawab dan tetap mencari Tom.

Tom akhirnya menyadari dia sudah tidak di area air mancur Trevi. Lalu dia melihat ke belakang ada air mancurnya. Kemudian Tom mencoba untuk balik ke tempat air mancur. Beberapa menit setelah pembicaraan Anna dan Mark, Anna duduk di air mancurnya, berpikir dimanakah Tom berada. Dengan kecerdasan Tom, dia bisa balik ke air mancur. Dia melihat Anna sedang menunduk, terlihat sedih dan panik.

“Bunda? Bunda kenapa sedih?” Tom bertanya ke Anna dengan ekspresi wajah bingung,
“Tom? Tom! Ya ampun nak, aku mencarimu dimana-mana, kamu kemana? Kamu hilang seharian…” Anna kaget dan merasa sangat senang,
“Aku tadi mencari toko es krim yang aku mau beli bunda, ternyata aku salah jalan”,
“Tapi bunda kan sudah kasih tahu untuk membeli es krimnya nanti saja…”,
“Aku tidak dengar bunda kasih tahu itu, maaf bunda”,
“Tidak apa-apa nak, asalkan kamu sudah di sini” Anna menyesal karena tidak menyadari Tom pergi ke mana, Anna langsung peluk Tom sangat erat,
“Ayo kita makan di sana, ayah, kakak-kakak dan Sabrina di sana…” Anna ajak Tom.
Di dalam toko makan itu semuanya kaget melihat Tom, mereka pikir Tom hilang.

Keeseokannya, mereka merayakan keberadaan Tom, mereka berkunjung ke kota Pisa, di mana mereka melihat Leaning Tower of Pisa. Lalu mereka lanjut ke kota Venesia, untuk berpengalaman Grand Canal. Di Grand Canal itu mereka melihat pemandangan matahari terbenam yang sangat indah. Mereka sangat bersyukur untuk dapat berkunjung ke Italia, melihat tempat-tempat yang sangat indah, dan bersyukur untuk berada bersama dengan keluarga.

Cerpen Karangan: Khadiza Refry

Cerpen Misi Sekelompok Keluarga ke Italia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lingkunganku Masa Depanku

Oleh:
Lidya adalah murid yang sekolah di SD Pertiwi, Kota Jakarta. Sekarang Lidya kelas 3 SD. Lidya adalah anak yang sangat cinta terhadap kebersihan, baik di sekolah, di rumah dan

Papaku Over Protective

Oleh:
Terik mentari mengusirku dari tepi jalan dan membuatku celingukan mencari tempat untuk berlindung. Aku sedang menunggu Papa menjemputku. Seperti biasa, kemanapun pergiku pastilah Papa yang selalu siap mengantar-jemputku. Pernah

Rumah Dari Tangan Ayah

Oleh:
Di masa mudaku dan tahun-tahun rapuh, Ayahku mengajakku tinggal di sebuah rumah yang tampak seperti buah permai di puncak bukit yang dikelilingi sungai jernih dan gunung-gunung beku yang menggigil.

Alexandria

Oleh:
Dentuman keras membangunkanku dari tidur. Saat kubuka mata, kurasakan rumahku bergetar keras. Satu-satunya cermin mendiang ibu juga hancur berantakan. Lamat-lamat terdengar suara gemuruh jerit tangis menjadi satu dalam shimphony

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *