Miss You, Ayah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 2 June 2016

Teringat lagi masa-masa itu. Masa dimana seorang ayah dan anaknya bercanda gurau di tengah terik matahari. Dia mencium anaknya. Mengejarnya. Memeluknya dengan penuh kasih.

“Ayah.. Aldi kalau udah besar mau jadi seperti Ayah. Jadi Ayah yang selalu sayang sama anak Aldi nanti,” Ucap sang anak dengan polosnya.
“Kalau kamu mau jadi Ayah yang baik, kamu gak boleh nakal. Kamu harus rajin sekolah dan bantu mama kamu.”
Kini masa-masa itu telah hilang. Bak lenyap terbakar api dan tak lagi bisa kembali seperti semula. Menyisakan luka pedih yang tak bisa dilupakan. Menghancurkan mimpi seorang anak kecil yang kini telah tumbuh menjadi remaja.

“Ayah.. Aldi gak bisa hidup tanpa Ayah. Semua orang di sini jahat sama Aldi. Mereka bilang gak akan ada yang bela Aldi karena Aldi gak punya Ayah,”
Dia hanyalah seorang remaja dengan hati yang lembut. Yang dia inginkan hanyalah seorang ayah yang senantiasa menemaninya. Menjadi penyemangat dalam hidupnya.
“Aldi kangen sama Ayah. Aldi pengen ketemu Ayah. Aldi gak mau sendirian.”

Remaja itu terus menangis dan mengungkapkan seluruh keluh kesahnya. Entah dengan siapa. Wajahnya pucat PSSI dengan air air mata yang terbasuh derasnya hujan. Suaranya parau terbias suara hujan. Tangannya mulai membiru dengan bibir yang terus bergetar kedinginan. Dia tak peduli dengan keadaannya. Ia menangis. Langit menangis. Rembulan bersembunyi. Bintang tertutup awan.

“Ayah.. Aldi mau ikut Ayah aja. Tinggal di alam sana bersama Ayah. Aldi gak suka di sini, yah. Maafin Aldi karena belum bisa mewujudkan mimpi Ayah,”
Suaranya semakin terdengar lemah. Dengan napas yang memburu. Ayah. Hanya itu yang ada di pikirannya.
“Ma.. Maafin Aldi. Aldi harus pergi. Aldi mau ketemu Ayah.” Pandangannya mulai kabur. Kepalanya seperti dicengkeram. Jantungnya berdegup dengan kencang. Tubuhnya biru seperti tak bernyawa. “Aku kangen Ayah.”

Setidaknya itulah kalimat yang terucap dari mulutnya sebelum akhirnya tubuhnya tergolek lemah tak bernyawa. Tertimpah jutaan tetes air hujan yang semakin deras. Seakan turut merasakan kesedihannya.

Saat sang fajar menyambut pagi. Merdunya suara bel memanggil seorang wanita paruh baya di dalam sebuah rumah.

“Assalamu’alaikum,”
“Wa’alaikumsalam,”
“Maaf Bu. Apa ini benar rumah Aldi Agustian?”
“Iya, saya Ibunya. Ada apa ya, Pak?”
“Pagi tadi kami menemukan seorang mayat laki-laki bernama Aldi Agustian di tepi sungai sana. Kami pikir, dia adalah anak Ibu,”
“Gak mungkin. Itu bukan anak saya. Anak saya itu gak berani ke sungai. Karena dia takut melihat bayangan Ayahnya ketika hanyut terbawa arus sungai,”
“Kami mohon maaf, Bu. Tapi di dompet korban kami juga menemukan foto ibu dan suami ibu,”
“Gak mungkin.. Aldi. Itu bukan kamu kan sayang. Kamu gak akan ninggalin Mama kan?!”

Wanita yang notabenenya adalah ibunda Aldi itu menangis sejadi-jadinya. Dia harus menerima kenyataan bahwa orang yang ia sayang lagi lagi harus meregang nyawa di sungai itu. Napasnya sesak. Dia tidak mau kehilangan anak satu satunya itu.

The End

Cerpen Karangan: Dwi Wulandari
Blog: dwiwulandari369.blogspot.com

Cerpen Miss You, Ayah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Benarkah Kak?

Oleh:
Di tepi hati nan lara, terusik kata tajam yang menusuk, layaknya angin mencekam yang menembus pori-pori jiwa. Walau usia semuda pucuk daun teh, angin yang merajam tetap dirasa, bahkan

Perasaan Kita (Part 2)

Oleh:
Saat capucino pesananku telah datang… “minumlah alvin..” “iya..” “bagaimana rasanya?” “harum..” Aku sangat senang sekali mendengar jawaban itu.. 17 tahun lamanya aku tak pernah mendengar kata-kata itu.. terima kasih

Rindu

Oleh:
Lambaian angin seakan mengajak jiwa untuk beranjak dari alam bawah sadar. Mulai, sedikit dan akhirnya… yess aku berhasil menyelesaikannya. Ku berjalan menyusuri jalan setapak yang licin hasil dari tangisan

Tianna Dan Peri Yang Dikutuk

Oleh:
Aku membuka lembar demi lembar album foto yang sudah lama sekali. Album itu berisi foto-foto diriku bersama kedua sahabatku dulu, tapi sekarang mereka berubah, mereka bukan sahabatku lagi. Bulir

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *