MIsteri Bakpao Penyelamat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 22 January 2019

Lagi-lagi aku terbangun tepat jam 12 malam. Wangi khas bakpao ayam yang baru matang menggelitik perutku hingga suara kriyak-kriyuk pertanda lapar saling bersahutan. Namun aku ragu tuk beranjak dari tempat tidurku. Ini hari ke 3 aku terjaga ditengah malam dan mencium bau bakpao yang baru matang. Rasanya mustahil ada orang yang memasak bakpao tengah malam begini. Apalagi cuaca dingin karena hujan tak pernah berhenti menyapa bumi. Namun rasa laparku mengalahkan rasa kantuk di mata ini. Tak urung kucoba turun perlahan dari tempat tidur.

Langkahku terus mengikuti wangi bakpao yang kuyakin berasal dari gudang tua di kebun belakang rumahku. Namun ketika kubuka jendela kamar yang tepat mengarah ke kebun belakang, tak kujumpai sesuatu yang mencurigakan. Gudang itu masih terlihat gelap dan sepi. Yang aku dengar cuma suara lolongan anjing di perempatan jalan depan rumahku, yang sontak membuat bulu kudukku berdiri perlahan dan membimbing tanganku untuk kembali menutup jendela kamarku dan mengajak tubuhku untuk kembali terlentang serta menarik selimut untuk menutupi tubuhku rapat-rapat dari dinginnya malam.

Wangi dan rasa khas bakpao pertama kali kucium dan aku cicipi, sekitar 6 tahun yang lalu ketika umurku masih 3 tahun. Kakekku, ayah dari papaku, pernah mempunyai usaha membuat bakpao ayam yang sangat terkenal dan laris manis setiap harinya di kota ini. Bahkan pesanan kerap datang dari luar kota dan kota-kota tetangga lainnya. Kakek sempat mepekerjakan sekitar 35 orang tenaga kerja yang membantu usaha ini, termasuk orangtuaku. Karena sudah cukup terkenal dengan rasa dan wangi bakpao ayam yang sangat enak, orang-orang memanggil kakekku dengan panggilan “Opa bakpao”. Dan panggilan ini menjadi merek bakpao buatan kakek.

Kehidupan keluarga kami saat itu bisa dibilang lebih dari cukup. kakek selalu memberiku hadiah-hadiah menarik hampir setiap minggu. Dari sepeda, mainan, pakaian, komputer hingga alat-alat elektro lainnya yang cukup mahal. Mungkin kakek memanjakan aku karena aku satu-satunya cucu kakek. Aku memang anak tunggal di keluarga ini. Tapi semua itu tak membuat aku menjadi manja. Karena meskipun disayang dan dimanja kakek, tapi orangtuaku mendidik aku untuk mandiri. Namun ketika kakek meninggal karena sakit, sewaktu usiaku 6 tahun, usaha ini terhenti total. Aku tak tahu apa penyebabnya hingga papa dan mama tak mau meneruskan usaha ini. Mereka lebih tertarik untuk berjualan di pasar, menunggui kios mereka yang menjual kebutuhan pokok sehari-hari.

Siang ini ketika pulang sekolah, aku melihat ada 2 orang tamu yang sedang mengobrol dengan orangtuaku. Tak ada hal menarik yang kudengar dari obrolan itu, hingga tiba-tiba aku mendengar Ibu menangis dan memohon kepada kedua tamunya. Langkahku yang hampir sampai di kamar, terhenti mendadak. Aku segera menyeret kedua kakiku tuk kembali tepat di belakang gorden yang menjadi pembatas ruang tamu dan ruang tengah.

“Tolong pak, kasi kami waktu satu minggu saja. Kami janji akan melunasinya segera. Tolong jangan ambil kios kami, karena itu satu-satunya usaha kami untuk menopang ekonomi keluarga ini” kata Ibuku sambil tersendat menahan isak tangis. Dari balik gorden ini aku melihat papa cuma bisa menundukan wajahnya dalam-dalam. Sebagai seorang anak perempuan yang memiliki hati dan perasaan yang halus dan peka, aku bisa merasakan kesedihan mereka berdua. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Entahlah. Aku tak kuasa melihat dan mendengar semua kepiluan ini. Maka dengan langkah gontai aku kembali memasuki kamarku.

Kubaringkan tubuhku di tempat tidur. Rasa lapar yang tadi terasa tiba-tiba menguap hilang begitu saja. Jika benar papa dan mama terlibat hutang dan harus kehilangan kios mereka yang sepertinya menjadi jaminan untuk meminjam uang pada ke dua rentenir itu, maka apa yang harus kami harapkan lagi untuk melanjutkan hidup ini. Apakah itu berati aku juga akan kehilangan kesempatan untuk menuntut ilmu lebih tinggi lagi kelak? Bahkan mungkin aku harus berhenti sekolah saat ini juga. Oh Tuhan tolonglah kedua orangtuaku untuk bisa mencari jalan keluar dari kesulitan ini. Berikanlah kami rejeki dan petunjuk. Kirimkanlah tangan penolongMU.

Hari ini adalah hari ke 7 dimana seperti biasa aku kembali mencium wangi khas Bakpao ayam, tepat jam 12 malam. Namun tak seperti biasanya, dimana sebelumnya aku selalu penasaran dan akhirnya membuka jendela kamarku untuk mencari tahu, walau berakhir dengan rasa takut akibat lolongan anjing di tepi jalan, kali ini aku lebih memilih untuk berdoa dan sembahyang sesuai keyakinanku. Aku memohon pada Tuhan agar diberikan petunjuk, kenapa setiap malam aku selalu diganggu oleh bau khas bakpao yang menggelitik rasa penasaranku, jika memang ini petunjuk, maka berikanlah jalan untuk diriku menyibak tabir dari teka-teki ini.

Tiba-tiba kekhusukanku berdoa terganggu oleh suara angin yang mendadak terdengar riuh menghantam jendela kamarku. Kemudian jendela itu terbuka dengan sendirinya. Mungkin aku tak menguncinya dengan benar tadi, pikirku melihat keanehan ini. Kubuang jauh-jauh rasa takutku. Namun aku kembali merasa seperti ada yang membimbingku untuk melompati jendela kamar yang terbuka, kemudian mengarahkan langkahku untuk berhenti di kebun belakang dimana dulu kakek memiliki ruangan khusus yang cukup besar untuk menjalankan usahanya membuat bakpao. karena tak terpelihara maka ruangan ini hanya menjadi gudang tua dimana kayu-kayu penunjangnya sudah mulai lapuk dan atapnyapun sudah bocor disana-sini. Tapi masih ada bohlam lampu kecil yang sedikit temaram menyinari isi dari ruang ini, meskipun lama kosong, namun orangtuaku tetap menyalakan lampu di gudang ini bila malam tiba.

Di dalam gudang ini, aku melihat sebuah lemari kayu yang hampir kropos dimakan rayap. Sepintas lemari ini terlihat tak ada sesuatu yang menarik, namun sekali lagi hembusan angin keras yang mendadak datang, membuka pintu lemari yang sepertinya tak terkunci. Aku melihat sebuah benda mirip buku yang terbungkus tas plastik, dimana pembungkusnya sudah terlihat sangat kotor karena ditutupi debu yang pekat!. Astaga buku ini milik kakek. karena terbungkus palstik, maka buku ini aman dari kotor dan rayap. Aku masih ingat betul, dulu jika hendak meracik bahan bakpao, buku ini selalu ada di samping kakek. Aku juga kerap melihat kakek menuliskan sesuatu di buku ini jika kakek selesai merampungkan bahan-bahan untuk mengulet bakpao. Sepertinya kakek mencatat langkah-langkah baru yang ia temukan untuk menyempurnakan bakpao racikannya. Kakek memang seorang pekerja keras yang ulet dan patut ditiru. Banyak sekali resep-resep bakpao isi, yang tercatat di buku ini. Aku segera mengempit buku ini di ketiakku dan kembali ke kamar sebelum orangtuaku tahu jika anaknya keluyuran malam-malam di gudang tua di kebun belakang.

Kakek maafkan aku, jika aku terpaksa menjual beberapa mainan dan barang-barang elektro pemberian kakek dulu. Aku akan pakai uang ini untuk membeli bahan-bahan bakpao seperti yang tercatat dibuku ini. Aku akan mencoba membuat bakpao sendiri dengan panduan buku ini. Semoga berhasil, bantu aku ya Tuhan, harapku dalam hati.

“Elis ke mana saja kamu nak, Kami mencarimu kemana-mana” sapa Mamaku yang menyambut kedatanganku di depan pintu. Tadi sepulang sekolah aku memutuskan untuk ke pasar membeli bahan-bahan bakpao. Cukup lama juga aku ke pasar mencari bahan-bahan itu. Mungkin itu yang membuat orangtuaku khawatir, karena tak biasanya aku pulang telat sedari sekolah.
“Maafkan elis mah, ini elis tadi ke pasar dulu buat beli bahan-bahan bakpao ini. Sepertinya kita harus mencoba membuat bakpao lagi Mah. Kita harus menghidupkan lagi usaha kakek dulu. Mama dan papa masih ingat kan bagaimana cara membuat bakpao biar enak seperti buatan kakek? Jika sudah lupa, Elis punya buku resep racikan kakek. Dan Elis juga minta maaf karena aku terpaksa menjual barang-barang yang kakek belikan buat aku dulu, semua Elis gunakan untuk membeli bahan bakpao ini” kataku menjelaskan semuanya. Namun aku melihat air mata orangtuaku mendadak berlinangan. Papa dan Mama serentak memeluk tubuhku. Tas belanjaan yang cukup berat ini pun terlepas dari genggamanku. Mereka terharu dengan apa yang aku lakukan, ada rasa bangga yang menyelinap di dalam hatiku. Semoga ini awal yang baik buat kami ya Tuhan, bisik hatiku.

Kios di pasar tradisional milik orangtuaku akhirnya harus rela kami lepaskan, karena sampai detik terakhir waktu yang diberikan, mereka tak sanggup untuk melunasi hutang pada rentenir yang sudah meminjamkan uangnya pada orangtuaku. Ada rasa sedih yang mendalam di hati kami semua, namun itu tak berlangsung lama, karena Orangtuaku mulai lagi merintis usaha kakek untuk membuat dan menjual bakpao ayam.

Perlahan namun pasti bakpao kami mulai dikenal dan digemari, kami mulai sibuk dengan pesanan yang datang tak henti-hentinya, aku benar-benar bersyukur dengan semua ini, terimakasih Tuhan, terimakasih kakek, aku janji akan menjadi anak yang baik, yang akan selalu membantu orangtuaku serta meringankan beban mereka dengan tidak menjadi anak yang malas dan manja. Bakpao itu telah menjadi penyelamat kami semua.

Ketika aku kembali memasuki gudang tua di belakang rumahku, sambil membawa sepiring bakpao ayam buatan orangtuaku, aku melihat samar-samar di dekat lemari tua itu, seorang kakek berdiri sambil tersenyum dan melambaikan tangannya padaku, wajahnya tak begitu jelas, saat aku berusaha untuk lebih dekat lagi, ternyata bayangan itu menghilang, apakah itu kakekku? Atau ini hanya halusinasiku saja? Entahlah, sambil meletakan sepiring bakpao ini, aku berbisik “terimakasih kek…”

S E L E S A I

Cerpen Karangan: Gex Agung Ratih
Blog / Facebook: gexagungratih[-at-]ymail.com

Cerpen MIsteri Bakpao Penyelamat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dia Bukan Kakakku

Oleh:
“Masih belum mau cerita siapa dia?” Kinan terkejut mendengar suara ayahnya. Buru-buru dia mematikan ponselnya. “Apaan sih, Papa? Bikin kaget aja!” “Walaupun cuma namanya?” tanya ayahnya sekali lagi. Kinan

Mutiara Kehidupan

Oleh:
Siang yang teramat cerah membuat Rendra tak henti mengusap keringat di dahinya, ia harus berjalan puluhan kilometer untuk menempuh langkah ke sekolah SD satu-satunya yang ada di wilayah tempat

You’re Mom

Oleh:
Amerika, 6 November 2012 Sunyi, senyap dalam kegundahan, kesepian dan kemuraman layaknya malam yang tak bertabur bintang. Tanpa terhias sang putri bulan menggantung di atas awan, seperti malam yang

Hidupku Adalah Warnanya (Part 1)

Oleh:
Orang bilang aku aneh, ya memang Aku akui pendapat mereka, karena aku memang aneh, Aku memiliki dua bola mata yang berbeda warna, kiri coklat, sedangkan yang kanan hitam, itu

Perasaan Kita (Part 2)

Oleh:
Saat capucino pesananku telah datang… “minumlah alvin..” “iya..” “bagaimana rasanya?” “harum..” Aku sangat senang sekali mendengar jawaban itu.. 17 tahun lamanya aku tak pernah mendengar kata-kata itu.. terima kasih

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *