Monochrome Rainbow

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 7 March 2018

“Aku sudah tau semuanya, termasuk penyakit yang kau derita.. Tidak apa, aku tidak akan marah.. Aku ingin kita lebih terbuka sekarang, jadi aku akan memberitahukan sedikit rahasiaku padamu… Hidupku divonis tidak akan lama lagi…”

Bawa aku! Bawalah aku pergi bersamamu! Aku sudah tidak tahan lagi. Jenuh sudah aku terkurung dalam hitam-putih yang menyebalkan ini. Kumohon, bawa aku! Hanya kau yang kupunya. Hanya kaulah warnaku. Hanya kaulah satu-satunya alasanku untuk hidup dalam sangkar tak berwarna ini. Bawa aku pada kilauan cahaya yang kini tengah kau tuju. Aku ingin terbebas dari monokromatis ini lagi.. Jadi, kumohon dengan sangat padamu..
Bawalah aku pergi..

“Maaf… hiks.. Maaf.. Maafkan aku… hiks..”
Aku memandangnya dari kejauhan. Ibuku menangis di pelukan ayah dengan tak henti-hentinya merapalkan kata maaf. Tanpa kutahu apa sebabnya. Ingin aku bertanya dan menenangkannya, namun yang keluar dari bibir kecilku ini hanyalah teriakan dan tangisan. Ibu, ada apa? Aku ingin menghiburmu.. Jawab aku, ibu.. Ayah, ada apa dengan ibu? Kenapa dia menangis? Apa kehadiranku sangat tak diharapkan olehnya? Apa kehadiranku hanya akan mngganggunya? Jangan hukum aku, ibu.. Ketika dewasa nanti, aku pasti akan selalu menghiburmu.. Tunggulah sedikit lebih lama lagi, ibu.. Tapi, ibu..
Bayi kecilmu ini hanya ingin tahu apa penyebab kau menangis, bu…

“Tadaaa!! Rainbow Cake Spesial ala me, Eliza Rachael!! Silakan dicoba, your highness.. teehee..” ia mematri cengirannya kemudian berlutut bak pelayan kerajaan tanpa perasaan iba. Dia tidak tahu. Yaa, dia masih belum tahu. Itulah yang kuharapkan. Suatu saat nanti, disaat yang tepat, waktu pasti memberitahunya. Tapi untuk saat ini, biarlah seperti ini.
Sedikit kutarik bibirku untuk menyenangkannya. Satu suapan kue penuh warna berhasil meluncur masuk ke pencernaanku. Satu suapan yang penuh kilauan warna kasih sayangnya. Walaupun warna-warni yang sebenarnya telah lama meninggalkanku, namun bagiku hanya dengan sepotong kue di hadapanku ini dan senyuman manisnya yang dapat mengembalikan warna-warni yang tak dapat kulihat itu. Dialah satu-satunya kilau yang tersisa. Dialah yang menyeretku keluar dari penjara itu, penjara bernama monokromatis. Hey,
Kau yang menyelamatkanku, namun aku hanya terpaku melihat senyumanmu.. Kau kilauan terakhirku, aku tak akan melepaskanmu..

Ibu? Ibu di mana? Apa ibu sengaja bersembunyi agar aku mencarimu? Oke, aku akan mencarimu sampai ketemu! Aku sudah bisa merangkak, jadi kau tak perlu khawatir aku tak bisa menemukanmu. Ah, kenapa tidak dari dulu ibu mengajakku bermain seperti ini? Kenapa setelah ayah terpendam di bawah sana ibu baru mengajakku bermain? Apa ibu malu pada ayah? Oke, aku tak akan berlama-lama lagi. Aku akan mencari dan menemukanmu. Ibu jangan kaget yaa..
Aku mulai mencari di kamar ibu. Mungkin ibu bersembunyi di lemarinya, akan aku beri kejutan padamu. Pintu kamarnya sedikit terbuka, berarti ibu ada di dalam. Hihi, ibu tidak pandai bermain rupanya…
Ibu, aku menemukanmu!! Tapi kenapa ada tali di lehermu?

“Hai!! Aku Eliza Rachael!! Kamu Alois Nicholas yang pandai itu kan? Aku penggemar beratmu loh!! Salam kenal..” ujarnya seraya menyunggingkan senyum. Aku hanya mengangguk lemah dan kembali menatap angkasa. “Kamu tinggal sendirian ya? Kudengar orangtuamu …” ia memutus kalimatnya. Mungkin ia sadar kalau itu adalah topik yang terlalu sensitif untuk dibahas. “Kalau mau, aku bisa kok jadi teman.. umm.. mungkin kakak juga bisa.. Bagaimana? Mau kan?” ia kembali tersenyum dengan manisnya, memaksaku secara nonfisik untuk mengiyakan penawarannya.
“Baiklah.. Cukup panggil Liza saja dan aku akan selalu menemanimu… teehee..” ia memamerkan cengiran lebarnya…
Cengiran yang di saat yang berbeda nanti akan berubah menjadi kilauan..

“Istri anda, Ruth Nicholas, positif membawa sifat monokromasi dan anak anda, Alois Nicholas, positif menerima sifat tersebut,” ujar seorang yang mengenakan pakaian serba putih di depanku. Ia mengatakan sesuatu yang sedikit tak kumengerti. Bu, apa ya maksudnya? Kenapa kau langsung tersentak begitu bu? Kenapa namaku dan nama ibu disebut? Apa aku akan mendapatkan sesuatu? Wah, aku tidak sabar. Sebentar lagi aku akan dewasa, dan ibu harus menjelaskan maksud orang itu ya bu? Tapi aku tidak memaksa, kok. Mungkin seiring kita bersama, aku akan cepat mengetahuinya…
Ah, aku jadi sedikit tak sabar…

“Kamu temannya ananda Eliza Rachael?” ujar dokter muda yang saat ini berada di hadapanku. Aku hanya mengangguk dan memberikan beberapa patah kata untuk meyakinkannya. “Baiklah, sebelumnya saya mohon maaf sebesar-besarnya. Kami tim dokter juga telah berusaha semaksimal mungkin, hanya saja…” Tak perlu menunggu kalimat lanjutan dari dokter itu, aku sudah mengerti maksudnya. Eliza, kekasihku, satu-satunya kilau yang kumiliki.. Pergi. Tanpa menggubris peringatan dokter dan perawat yang mendampinginya, aku berlari menuju tempatnya terbaring..
Setidaknya, biarkan rohnya melihatku sebelum malaikat membawanya pergi jauh…

Akhirnya aku mengerti. Pertanyaan-pertanyaan polos yang kubuat saat masih kecil terjawab sudah. Kini aku paham apa maksud dari kata-kata dokter yang membuat ibu tersentak, alasan ibu menangis dan terus meminta maaf pada ayah, serta alasan mengapa ibu bunuh diri setelah kematian ayah.
Aku mengidap buta warna total yang diturunkan dari ibu. Kini aku paham mengapa semua hanya tampak hitam dan putih. Kini aku paham mengapa pelangi tampak tak bermakna. Dan kini aku paham mengapa hidupku sangat membosankan. Aku tak punya siapapun lagi..
Apa aku lebih baik menyusul ibu dan ayah saja ya?

End

Epilog
“Dear, my sweetheart, Alois Nicholas..
Maaf ya, aku tak bisa menepati janjiku untuk selalu bersamamu.. Maaf juga kau tak bisa lagi membuatkan kue warna-warni seperti yang kau suka itu.. Kau pasti sedih ya, kembali ke kehidupanmu yang monoton dan.. umm.. monokrom.. Tapi jangan sedih.. Aku dan orangtuamu akan selalu memperhatikanmu dari sini..

Satu hal yang aku ingin kau berjanji untukku.. Jangan menyusul kami dulu.. Kilauan cahaya warna-warni itu pasti bisa kau temukan kembali.. Aku pamit dulu ya.. Terimakasih atas segalanya..
Aku menyayangimu,
Eliza Rachael”
Maaf, Eliza.. Mungkin aku juga tak bisa menepati janjiku padamu.. Sampai berjumpa kembali, Eliza…

Real End

Cerpen Karangan: Ardhita Cahya
Facebook: Ardhita Cahya
hanya seorang remaja introvert yang teramat menyukai jarum jarum air yang berjatuhan dari langit..

Cerpen Monochrome Rainbow merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Potret Hitam (Part 1)

Oleh:
Di ujung jalan aku melihat seorang anak kecil yang sedang membawa sekeranjang kue dengan wajah berbahagia. Entah apa alasannya yang pasti banyak alasan yang bisa melukiskan senyum manis anak

Relung Hati Sang Wanita Orange

Oleh:
Kumulai hariku di saat penghuni kota masih terhanyut akan belaian mimpi mereka, bahkan deru indah ayat suci belum terdegar. Dengan menahan letih yang tak pernah lepas dari setiap sendi-sendi

Pena Biru Laut

Oleh:
Langit yang semula gelap, perlahan terang karena matahari mulai menampakkan sinarnya. Udara pagi yang masih bersih dari polusi udara terasa segar di tubuh. Cuaca hari ini sangat bersahabat, dan

Fair and Early

Oleh:
Perkenalkan nama aku Kinara Az Zahra Putri. Biasanya aku dipanggil Nara oleh orang-orang di sekitarku. Aku masih duduk di bangku kelas 8 SMP. Aku adalah anak tunggal dari pasangan

Kota Kedua

Oleh:
Sore itu angin bertiup cukup kencang dari utara. Langit mendung namun tanpa hujan. Tamara berjalan lunglai melewati jembatan layang dari gedung perpustakaan menuju gedung fakultasnya. Memang kedua gedung itu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *