Mozart

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 20 November 2016

Ya, sepuluh tahun lalu dia lahir. Aku sangat bahagia. Anugerah Tuhan yang sangat luar biasa. Seketika hidupku terasa lengkap, penuh dan istimewa.
Namanya Mozart. Benar, dia adalah obsesiku sebagai musisi gagal yang tidak pernah kesampaian untuk menjadi terkenal. Sebenarnya aku berbakat dalam musik, tetapi terlambat untuk belajar dan miskin dukungan.

Sejak dari lahir, aku sudah perkenalkan dia dengan berbagai karya musik. Mulai dari Bach, Paganini, sampai dengan karya Ozzy Osbourne dan Black Sabbathnya, Beatles juga tidak ketinggalan. Mereka adalah legenda, seperti harapanku kepada dia dengan nama Mozart. Kelak jadilah seperti Wolfgang Amadeus Mozart.

Usia satu tahun, aku sangat gembira ketika dia dapat memainkan harmonika. Awalnya dia hanya memperhatikan aku memainkan harmonika untuk mengantar dia tidur. Tiba-tiba diambilnya harmonika itu dan dimainkannya, meski dengan nada yang tidak beraturan. Tapi aku sangat gembira.

Hari demi hari, waktu berjalan. Mozart menunjukan bakat yang sangat luar biasa. Kebahagiaanku terus bertambah. Tidak cukup dia belajar hanya dariku. Aku berpikir untuk menyekolahkan dia di sekolah musik terkenal. Ya, meski masih berusia empat tahun aku tetap akan menyekolahkannya. Semakin dini dia belajar, akan semakin hebat dia nantinya.

Hal yang kuingat saat dia pertama kali sekolah musik, dia sangat gembira. Melihat berbagai alat musik yang belum pernah dia lihat secara langsung sebelumnya, dia begitu penasaran dan ingin memainkannya semua. Wajahnya yang ceria dan bahagia, sama seperti aku yang juga begitu bahagia. Hari itu, merupakan hari yang sangat bersejarah baginya.

“Apa yang ingin kamu mainkan pertama nak” tanyaku saat itu. Dia tertawa renyah, dan berlari ke arah piano. Tawaku tak dapat terbendung melihat tingkah polahnya. Setelah aku bercakap-cakap sebentar dengan guru musik disitu, aku kembali ke arah Mozart untuk bilang bahwa aku menunggu di luar.

Dalam kurun waktu satu tahun Mozart belajar di sekolah itu, banyak perkembangan dari dirinya. Dia mampu menulis komposisi musik sendiri yang aku sendiri tidak mengerti. Bakatnya yang istimewa itu semakin terasah. Aku merasakan mimpiku yang sudah lama mati kini bangkit lagi melalui anakku. Tiap malam menjelang tidur, kami sering bercakap-cakap mengenai musik. Dia begitu memahami apa yang aku sampaikan. Bahkan aku yang kadang tidak memahami apa yang dia katakan dengan istilah-istilah musik. Aku tidak mengenyam pendidikan musik. Aku belajar secara otodidak. Aku tidak mengerti apa itu apergio atau cadenza tapi aku tetap tertarik ketika dia bercerita dengan memakai istilah-istilah musik. Mungkin banyak orangtua yang memaksakan obsesinya terhadap anak. Aku akui iya. Aku memaksakan obsesiku, tapi anakku juga menyukainya. Obsesiku sama seperti obsesinya. Apakah aku memaksanya?

Usia delapan tahun. Banyak sekali undangan untuk anakku mengisi pertunjukan. Beberapa menginginkan anakku menjadi anggota tetap dalam orkestranya. Aku sampai kewalahan untuk mengatur waktu anakku. Tidak terasa, dia menjadi obyek obsesiku. Gerbang ketenaran anakku yang terbuka lebar membuatku buta dan tuli. Tak lagi melihat anakku sebagai anakku. Aku hanya melihat bakatnya, kepandaiannya. Kami tidak pernah lagi bercakap-cakap tentang musik menjelang tidur. Aku dan ke egoisanku menjadi lupa, bahwa dia anakku. Yang masih butuh ayahnya untuk bercerita, bercanda dan menjadi “Ayah” dalam dalam setiap segi hidupnya.

Dahulu, semuanya terasa menyenangkan. Tidak peduli Mozart memainkan musik dengan salah-salah, atau dengan bercanda, aku tetap menyukainya. Bagiku itu bukan suatu masalah. Itulah yang menjadikan kami lebih dekat. Tetapi sekarang, aku begitu terobsesi. Ketika dia salah dalam memainkan nada, tidak segan aku menegurnya dengan keras bahkan memarahinya. Ya, dengan dalih waktu latihan sudah mepet, jadwal yang padat, dan rasa malu kalau pertunjukannya buruk. Aku mulai terobsesi dengan ketenarannya. Aku menjadikan anakku sebagai kloninganku, yang harus mewujudkan mimpiku dahulu yang gagal. Aku menjadikan anakku sebagai diriku. Memang dia tidak pernah protes atau marah kepadaku. Dia masih menyukai musik. Tapi dia tidak lagi menikmati pertunjukannya. Dia banyak melamun, pandangannya kosong setelah selesai dari pertunjukkannya.

Selama hampir dua tahun, aku tidak menyadari akan hal itu. Atau bisa dibilang tidak peduli. Pertunjukan demi pertunjukan tetap dijalani. Meski Mozart sering mengeluh kelelahan dan merasa sakit. Aku melihatnya hanya sakit flu biasa. Hingga di satu pertunjukan, tepat dua hari setelah ulang tahunnya. Saat itu dia memainkan komposisi ciptaanya sendiri “Paterna Caritate”. Setelah turun dari panggung, dia menghampiriku.
“Ayah, pertunjukan tadi yang terbaik untukmu.” Dia tampak kelelahan. Wajahnya kelihatan pucat dan berkeringat. Dalam perjalanan pulang, dia tertidur pulas sekali. Sampai di rumah dia tetap tidur. aku menggendongnya ke kamar.

Esoknya dia bangun dengan kesakitan. Dia merasakan seluruh badannya pegal dan sakit. Kepalanya juga terasa pusing dan berat sekali. Tanpa pikir panjang aku langsung bawa ke rumah sakit terdekat. Aku masih menganggap itu hanya kelelahan biasa. Hingga dokter yang memeriksa anakku datang dan berkata anakku terkena kanker darah dan sudah stadium empat. Aku masih belum sadar dengan kata-kata dokter tersebut. Salah ucap mungkin.
Tapi memang benar. Itu adalah kenyataannya. Aku terduduk di lantai. Lemas, kakiku tak dapat menahan tubuhku. AKu berusaha menganggap ini mimpi buruk, dan berusaha terbangun. Tapi ini kenyataan. Setelah setengah jam aku berusaha untuk benar-benar menyadarinya, aku bangkit dan melihat keadaan anakku. Dia tersenyum melihatku. Aku menghampiri dan memeluknya erat.

“Paterna Caritate” bisiknya pelan di telingaku.
“Itu judul komposisi tadi malam untuk ayah.” Aku mengangguk dan mendekap lebih erat tubuhnya. Sudah terasa lama sekali aku tidak memeluk anakku seerat ini. Aku menyadari sudah lama sekali keintiman dengan anakku terasa pudar.
“Bagaimana dia bisa sembuh dok?” Tanyaku kepada dokter beberapa waktu kemudian. Dengan wajah pesimis dokter itu hanya memandangku dengan pasrah.
“Walaupun dengan kemoterapi tetap kecil kemungkinannya untuk sembuh.” Dokter tersebut menjelaskan. Aku tidak peduli, selama masih ada kemungkinan untuk sembuh meskipun kecil harus dicoba. Aku memberikan persetujuan untuk dilakukan kemoterapi.

Malam hari sebelum kemoterapi dijadwalkan esoknya, aku menemani anakku dengan bercakap-cakap mengenai musik.
“Ayah tahu arti Paterna Caritate?” Tanyanya pelan. Aku menggeleng dan tersenyum.
“Yang jelas itu sangat bagus.” Kataku menjawab. Aku memeluknya dan mengusap rambutnya.
“Kamu akan sembuh nak. Maafkan ayah ya..” Air mataku mengalir.

Beberapa jam sebelum kemoterapi, dokter memanggilku. Dengan wajah murung dokter itu berkata bahwa anakku sudah meninggal. Aku masih tidak percaya kata-kata dokter itu segera lari melihat keaadan anakku.
Wajahnya begitu damai. Meninggalkanku dengan tenang. Aku memanggil-manggil namanya. Atau mungkin berteriak. Aku tidak begitu menyadarinya, karena keadaan begitu gelap terasa.

“Kasih seorang ayah” Dokter itu merangkul pundakku untuk menenangkanku.
“Paterna Caritate artinya kasih seorang ayah” Dokter itu berkata pelan kepadaku.
“Dia beruntung memiliki ayah seperti anda. Tadi malam aku mendengar percakapan anda dan anak anda.” Dalam hati aku berkata tidak. Aku yang beruntung memiliki anak seperti dia.

Cerpen Karangan: Kusri Widodo
Blog: kusriwi.blogspot.co.id

Cerpen Mozart merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Setetes Air Surga (Part 2)

Oleh:
Andrew menatap dalam-dalam. Matanya kelam. “SP yang kedua, seorang pelanggan komplain. Suatu hari saya tidak masuk karena tiba-tiba bayi saya sakit. Sehari sebelumnya saya sudah menitipkan tiket beliau di

Cinta Putri

Oleh:
Gue Putri biasa dipanggil Puput, seorang gadis berusia 21 tahun. Cowok gue namanya Kiki. Dia cowok yang paling gue sayang di dunia ini setelah bokap gue. Hubungan gue sama

Dosa Pada Ibu

Oleh:
Bangun tertampar senja bukan hal yang mengenakan ditengah kebisingan kepentingan yang harus segera dikejar. Gelas di meja pun kosong, padahal nafas sudah seperti lari marathon. Peluh meluncur manja di

Mawar

Oleh:
Aku terlahir di keluarga yang berkecukupan. Ayah dan ibu ku mengenyam pendidikan yang cukup tinggi. Mereka sama-sama sarjana. Waktu aku belum lahir tepatnya tahun 1995, ayahku menjadi Kepala Sekolah

BlackBerry

Oleh:
“Boleh minta pin BB?” tanya Rena. Lagi-lagi masalah itu! Rasanya sudah ribuan kali semua menanyakan tentang pin BB. Hhh… padahal kan, aku enggak punya BlackBerry! Aku menggeleng dan berlalu.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *