Mukena Untuk Ibuku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 20 October 2020

Di suata pagi yang cerah, ada dua kakak beradik sedang bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Mereka bekerja apa saja. Kakaknya bernama Raisya Raqueila Putri dan adiknya bernama Leonardo Da Vinci. Mereka sangat miskin.

Suatu hari, ibu mereka (Ibu Khonia) jatuh sakit karena, kelelahan. Ayah Raisya dan Leo sudah tiada 3 tahun yang lalu.
Hari ini cuaca cerah. Raisya dan Leo akan menjemur pakaian. Tapi..
“Ih.. baju siapa ini? Kotor banget. Jelek lagi!” umpat Leo.
“Huss… ini teh punya ibuku sendiri. Dan satu lagi ini mukena bukan baju” nasihat Raisya.
“Astagfirullah. Aku kira ini punya siapa. Karena, kita kan lagi menjemur pakaian kita dan tetangga kita” kata Leo.

“Kasihan ibu ya. Gimana kalo kita beliin ibu obat dan mukena sekalian?”
“Duit darimana?”
“Gimana kalo kita bantu-bantu Bu Minah sama Pak Rahes?”
“Setuju kak. Ayo. Kita mulai bekerja dengan mereka hari ini juga”.

Setelah menjemur pakaian mereka pergi ke rumah Pak Rahes.
“Pak Rahes, ada kerjaan buat kita nggak?”
“Ada, Raisya. Kalo mau kamu jualan buku sama koran mau nggak?”
“Mau..!!!!” mereka pun berjualan.

Mereka berjualan dimana pun. Kadang di jalanan. Kadang di stasiun, terminal dan pasar. ‘Hasilnya lumayan juga. Sehari 20 ribu. ‘Aku harus giat bekerja!’ kata Raisya dalam hati.

Sudah saatnya mereka bekerja pada Bu Minah.
“Bu, ada kerjaan buat kita nggak?” tanya Leo.
“Ada. Kalo kalian bersedia silakan kalian jualan kue”
“Kami bersedia!!” Akhirnya mulai hari ini mereka bekerja pada 2 orang. Raisya bekerja menjual kue Bu Minah sedang Leo bekerja menjual buku. Tapi, saking semangatnya mereka kadang lupa waktu. Akhir-akhir ini mereka pulang lebih senja dari sebelumnya. Yang tadinya hanya jam 17.00 jadi 17.55. Ibu pun menjadi khawatir.

“Dik, uang untuk beli obat sudah cukup. Kakak beli obat dulu di apotik ya” Raisya meninggalkan adiknya. Tapi, tiba-tiba…
Buuk.. Raisya jatuh tertabrak motor dan bukannya nolong malah si pemilik motor kabur gitu aja. Leo dan orang-orang sekitar membantu. Untungnya saat itu ada dokter yang melihat kejadian dan langsung menolong.

“Alhamdulillah, untungnya kamu tak apa-apa. Hanya sedikit luka terbuka yang sudah saya obati”
“Makasih, dok. Berapa biayanya?” tanya Raisya sambil meraba kantong bajunya yang lusuh. Dokter menolak pemberian Raisya. Karena, ia tahu bahwa uang tersebut lebih penting untuk kehidupan mereka. Dari segi penampilan dan sikap, dokter sangat kagum. Mereka sopan dan bekerja keras. Walaupun sedikit pincang karena kakinya masih sakit Raisya tetap berjualan demi kehidupannya.
Tak sadar mereka diintip oleh sepasang mata. Siapakah dia?

“Ibu, aku beli obat untuk ibu. Diminum ya” kata Leo.
“Kamu dapat yang darimana?”
“Mmm… Mmm.. i..Itu Aku berjualan bu”
“Kamu berjualan kerjaan darimana?”
“Itu nggak penting. Ibu minum aja obatnya. Biar sembuh” potong Raisya.

Beberapa hari kemudian, ibu sudah sembuh. Dan hari ini Raisya dan Leo membeli mukena dari uang hasil penjualan mereka.
“Mbak, saya beli mukena yang warna putih ada bunga-bunga yang itu ya mbak” kata Raisya. Mereka membungkus mukena itu dengan plastik lalu, pulang ke rumah. Tapi, tiba-tiba…
Bruk.. Raisya menjatuhkan mukena itu karena ditabrak oleh seorang pria yang sedang berlari. Mukena itu jatuh di jalan raya. Jalanan becek dilalui oleh kendaraan bermotor yang membuat mukena itu tersiram air bekas hujan tersebut. Tak lama, sebuah truk besar lewat dan menggilas mukena itu secara tak sengaja. Mukena pun menjadi kotor, rusak, jelek, bau, dan sobek. Raisya dan Leo pun menangis kencang.
“Padahal kita sudah berusaha. Tapi, kenapa ini terjadi Ya Allah?”

Saat mereka akan melangkah pergi, ada orang yang memegang pundak Leo.
“Hai, aku minta maaf telah menabrakmu tadi. Sebagai rasa maafku aku akan memberikan kalian sesuatu” mereka terdiam.
“Tak usah sungkan. Katakan saja. Aku ikhlas. Aku lari tadi, karena aku lupa bahwa tasku tertinggal di sebuah toko. Ayolah!” kata pria itu.
“Kami tak minta apa-apa” kata mereka bersamaan.
“Baiklah. Tapi, aku memaksa. Aku akan memberi kalian ini saja. Ini uang dariku”
“Tak perlu” tolak Raisya. Tapi, akhirnya mereka menerimanya, karena pria itu terus memaksa. Pria itu memberi yang lima ratus ribu.

Lalu, ada orang yang datang sambil membawa sesuatu.
“Ini saya belikan mukena baru untuk kalian yang sama persis. Tadi, saya yang menginjak barang kalian. Saya telah menyadarinya” Raisya dan Leo senang sekali. Mereka mengucapkan terima kasih lalu pulang ke rumah.

“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
“Ibu, kami ada sesuatu untuk ibu”
“Wah, mukenanya cantik sekali. Terima kasih anak-anakku. Tapi, lain kali kalo jalan di jalan raya hati-hati ya”
“Lho, ibu kok..”
“Iya. Sebenarnya, ibu dari kemarin sampai sekarang mengikuti kalian terus. Habisnya, ibu khawatir dan penasaran kenapa kalian pulang lebih petang dari biasanya. Ibu saja baru ini pulang” jelas ibu.
“Iya bu. Kami janji” kata mereka.

Dan setiap hari, ibu memakai mukena dari perjuangan Raisya dan Leo.
“Aku bangga punya anak seperti mereka. Pasti ayah mereka juga senang dan bangga melihat mereka. Terima kasih Ya Allah sudah karuniaku anak yang sopan, baik, pintar, dan patuh. Terima kasih Ya Allah. Aku janji akan mendidik dan menjaga mereka selama aku hidup. Terima kasih Ya Allah”

Cerpen Karangan: ASK L (DKS)

Cerpen Mukena Untuk Ibuku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jam 9

Oleh:
Tak pernah terpikirkan oleh ku akan sayap yang dulu telah patah. Aku bahkan tak pernah bisa memperbaikinya. Bahan-bahan yang biasa aku pakai untuk memperbaiki, kini telah hilang seperti debu

Depressed

Oleh:
“Kamu itu gimana sih? Masa kamu kalah dari teman kamu si Winda itu, bagaimana bisa IP kamu tertinggal jauh sama IP dia?” omel seorang wanita paruh baya, yang sedang

Kaila dan Naila

Oleh:
Kaila Nadhifa dan Naila Khadifa namanya. Yap, Naila dan Kaila. Meski mereka kembar IDENTIK, tapi SIFATNYA sangatlah beda! Ups, ralat. Kecuali satu, TOMBOI. Ya, mereka sangat lah tomboi. Tapi

Please Remember

Oleh:
Semilir angin sore membuat seorang gadis cantik betah untuk berdiam diri di taman sebuah rumah sakit. Berulang kali bibir tipis dan nampak pucat itu tersenyum saat melihat beberapa anak

Kapan Cahaya Nyata Itu Datang, Bu

Oleh:
Pernahkah kalian merasa seperti gila? Ya mungkin kalian belum dan aku sudah. Aku merasa diriku sudah gila, aku tertekan karena keadaanku yang seperti ini. Aku seperti hidup di dua

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *