Mutiara Yang Hilang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Mengharukan
Lolos moderasi pada: 11 November 2017

Hari sudah hampir maghrib, kaki gue udah pegel-pegel keliling komplek buat nyari kost-kostan. Ditambah nyeret-nyeret koper lagi. Gue salah perhitungan, ngeremehin saran Mama buat jauh-jauh hari nyari kost-kostan. Setiap kost-kostan yang gue datengin semuanya full. Gue lihat di depan ada rumah yang dengan plang menerima kost putri, gue jadi bersemangat, mungkin masih ada kamar kosong di sini.

Gue perhatikan kost-kostan ini lumayan elit, mungkin akan lebih mahal. Halamannya luas dengan taman yang rapi. Bangunannya lebih mirip villa, satu kamar kost satu bangunan rumah kecil. Cocok nih, batin gue. Gue perhatikan suasananya sepi, mana nih pemilik kost. Gue lihat ada ibu-ibu sedang menyalakan lampu taman, langsung aja gue samperin.

“Permisi bu, bisa saya bertemu pemilik kost-kostan ini?” Sapa gue sopan. “Saya pemilik kost-kostan ini dik, kalo adik nyari kost-kostan maaf dik, sudah full.” Si ibu kost langsung to the point banget. Aduh, mampus dah gue, mau tidur di mana gue malam ini. “Nggak ada sama sekali, Bu?” Gue berusaha meyakinkan. “Nggak ada dik, kecuali mungkin adik kenal dengan salah satu penghuni kost di sini dan join satu kamar.” Gue garuk-garuk kepala gue yang nggak gatal, pusing gue. Mana ada yang gue kenal di sini dan bisa gue ajak satu kamar. “Waduh, nggak ada tu, Bu. Mana sudah hampir malam, saya bingung nih bu.” Gumam gue serasa curhat.

“Adik, cari kost-kostan ya?” Sapa cewek muda berhijab yang tahu-tahu sudah di samping gue. Mungkin dia baru pulang kerja. “Iya nih, tapi ibu kost bilang sudah penuh.” Jawab gue kehilangan semangat. “Gimana kalau sekamar sama aku aja, lagian udah hampir malam lho.” Cewek ini berbaik hati menawarkan gue untuk satu kamar dengannya. “Wah, iya itu dik. Mbak Tiara mau sekamar sama adik. Ambil saja.” Saran ibu kost ada benarnya juga, lagian gue harus ke mana lagi. Hari sudah mulai gelap.

“Ayo masuk,” Cewek bernama Tiara itu mempersilahkan. Hem, beneran lumayan luas kost-kostan ini. Lebih cocok dibilang kontrakan kali ya, bagian depan ada ruang tamu kecil. Di belakangnya ruang tidur ukuran 4×4 meter, yang berhadapan dengan kamar mandi dan dapur. Gue sekilas melongok ke dapur dan kamar mandi, bersih dan rapi. Bagus, rupanya cewek ini rajin dan telaten juga nih.

“Ayo sini, ini kamarnya.” Tiara menarik tanganku. “Semua barang-barang ini milikku pribadi. Sementara kamu boleh ikut memakainya.” What,… tapi kasurnya kecil banget. Mana muat tidur berdua nih, batin gue. “Tenang aja, kasurnya ini matras yang didobel. Kamu bisa ambil yang atas. Ntar, kamu tidur di sebelah situ, gimana?” Tiara seperti membaca pikiran gue. Gue hanya mengangkat bahu, terserah dia aja deh. Gue capek, pengin segera mandi dan istirahat. “Tiara, gue bisa mandi dulu?” Gue ngerasa sedikit gerah. “Oke, kamu sudah punya alat mandi?” “Tenang aja, gue sudah ada.” Jawab gue sambil ngeluarin alat mandi gue dari koper. “Oh, iya nama kamu siapa? Kamu udah tahu namaku Tiara.” “Panggil aja gue Rani,” Jawab gue sebelum masuk kamar mandi.

Gue kaget, gila juga nih cewek. Begitu gue keluar dari kamar mandi, ini kamar sudah terbagi menjadi dua. Kuat juga dia nyeret itu kasur matras. Sprei baru juga sudah terpasang. “Maaf nih, bantal guling cuma punya satu, kamu guling aja dulu ya.” Gue heran, kenapa nih cewek baik banget sih? Emang sih ya, pas banget sama dia yang berhijab. “Aduh, jadi keringetan, aku mandi dulu ya. Habis ini kita shalat Maghrib bareng.” Shalat? Bahkan mukena gue nggak punya. Punya sih gue mukena, tetapi di rumah Mama.

Selesai mandi Tiara tidak lagi memakai hijabnya, rambutnya sebahu. Cantik juga dia, sepertinya gue ngenalin mukanya. Mirip siapa gitu, tapi entah siapa.
“Ayo shalat,” “Eh, iya.” Gue jadi kikuk. “Mukena gue ketinggalan,” “Oh, kita gantian aja ya.” Gue hanya mengangguk pelan. Ternyata setelah jauh dari Mama, gue bakalan tetep disuruh-suruh shalat.

Setelah gue selesai shalat, Tiara berusaha ramah dengan mengajak gue ngobrol. “Sebenernya aku lagi ada sedikit masalah finansial. Makanya aku mau berbagi kamar sama kamu. Yah, dengan harapan bisa mengurangi pengeluaran.” “Terimakasih.” Gue masih ngerasa sedikit canggung dengannya. “Papaku baru aja meninggal, dan rumah peninggalan Papa belum ada yang mengontraknya. Sebenernya sih aku sudah kerja mengajar di bimbel, tapi masih belum cukup buat bayar uang kuliahku.” “Tiara masih kuliah” Tanyaku basa-basi, “Masih, semester akhir. Semoga kita bisa akrab ya.” Katanya ramah dengan senyuman yang manis.

Hari-hari selanjutnya gue mulai dengan rutinitas kuliah gue. Nggak terasa gue udah empat bulan kuliah di Jogja. Dengan adanya Tiara, gue ngerasa kebantu banget. Dia rajin banget bersih-bersih kamar. Jadi gue lebih nyaman istirahat di kost dan belajar daripada keluyuran.

Sesekali ada anak-anak kecil yang main ke kost untuk minta diajari PR sama Tiara. Sepertinya anak-anak itu sangat suka dengan gaya mengajarnya. Sering gue denger tawa ceria mereka saat belajar.
Meskipun Tiara tidak keberatan gue pakai barang-barangnya. Gue malu jugalah. Gue kembalikan kasurnya dan beli sendiri. Gue juga pasang tirai untuk pembatas kamar, alasan gue buat zona pribadi. Gue lebih sering makan nasi bungkus atau mie instan meski Tiara selalu menawariku masakannya, gue gengsi kalau selalu menerima kebaikan dia.

Sampai suatu hari Tiara mengungkapkan tawarannya agar aku makan masakannya saja. Dan uang makan gue dia yang mengelola. “Itu kalo kamu percaya sama aku ya.” Ucapnya saat itu. Dan akhirnya gue pun setuju. “Gue nggak suka sayur dan alergi udang.” Wajahnya ceria saat gue tunjukkan SMS Banking padanya. “Nih, uang makan sebulan ya, cukup?” “Kayanya lebih itu buat makan kita berdua.” Sahutnya. Gue hanya tersenyum mendengar sahutannya, sengaja gue lebihin uang makan gue soalnya gue hampir nggak pernah bersihin kamar ini.

Saat lagi berdua di kamar, gue jarang ngomong kecuali dia yang bertanya. Tetapi dia bakalan cerita apa saja ke gue, tentunya gue dengernya ogah-ogahan. Kadang-kadang gue pasang headset HP biar nggak denger ocehan dia.
Gue paling males kalau dia sudah ngingetin jam shalat. Dia nggak bakalan ragu bangunin tidur siang ataupun tidur malam gue buat shalat bareng sama dia.

Suatu hari gue pulang dengan motor matic, “Punya siapa ini, Ran.” Saat dia lihat gue parkirin motor di depan kamar. “Punya gue lah, siapa lagi.” Jawab gue ketus. Tiara diam saja mendengar jawaban gue. Gue jadi merasa bersalah, mungkin dia tersinggung mendengar nada bicara gue. “Mama, nyuruh gue beli motor. Ya gue beli aja. Padahal gue nggak butuh-butuh banget, ke kampus juga deket. Kalau lu mau, pakai aja buat berangkat ngajar les biar nggak sering terlambat gara-gara nggak dapet angkot.” Suara gue melunak. “Yang bener aku boleh pakai?” Tanya Tiara nggak percaya omongan gue. “Punya SIM nggak?” Gue tanya balik. “Punya kok.” Gue jadi geli saat dia muter-muterin motor gue di halaman. Tiara memang sempat punya motor, tetapi dijualnya saat papanya sakit sebelum meninggal. “Tapi syaratnya lu harus tetep kost di sini kalau lu sudah wisuda entar.” “Ya tergantung aku dapat kerja mengajar di mana ya.” Sahutnya.

Hari ini gue meriang, mungkin mau flu. Pulang dari kampus gue langsung tidur sampai sore. Tiara pulang mengajar langsung membangunkan gue. “Rani, kamu nggak makan?” Tangannya menggoyang-goyangkan lengan gue. “Gue sudah bilang, gue nggak suka sayur.” Gue menarik selimut gue yang melorot. “Sudah shalat?” Tiara menarik selimut gue lagi. “Sudah.” Jawab gue asal. “Sudah mandi? Astagfirullah, badan kamu panas. Sudah minum obat?” Aduh gue bete denger ocehan dia.

Tiara berjalan ke dapur, dan kembali lagi dengan sepiring nasi lengkap dengan lauk dan sayur. “Ayo makan, habis itu minum obat. Aku masih punya obat penurun panas. Aku akan buatin kamu wedang jahe.” Tiara meletakkan nasi di meja belajar dan kembali ke dapur. Sesaat gue mencium bau khas, sepertinya dia sedang membakar jahe. Tak lama Tiara keluar dari dapur dengan segelas wedang jahe. “Ayo makan, jangan tidur terus. Biar sembuh!” Tiara membangunkan gue lagi.

“Aduh, lu rese ya. Gue udah bilang gue nggak suka sayur. Lagian lu siapa sih, ngatur-ngatur gue. Emang lu emak gue, kakak gue?” Gue bentak dia. Raut muka Tiara jadi sedih, “Sayur bagus buat kita, aku bosen kalau masak daging dan ikan setiap hari.” “Tapi itu uang makan dari gue, gue yang nentuin kita makan apa. Gue nggak akan makan dengan sayur lu.” Gue langsung menarik selimut sampai menutup kepala gue. Berharap dia nggak bicara lagi. “Baiklah.” Setelah itu gue nggak mendengar dia bicara lagi. Gue kembali tertidur. Saat gue bangun jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Saat gue buka tirai, Tiara nggak ada di kasurnya. Mungkin dia lagi keluar. Perut gue laper juga. Nasi yang di meja sudah dingin, gue buang ke tempat sampah di dapur.

Gue lihat nggak ada lauk lain kecuali sayur capcay ma tahu goreng buatannya. Akhirnya terpaksa gue ambil nasi baru di majicom dan makan dengan sayur capcay sama tahu goreng. Ternyata lumayan juga. Masakan Tiara selalu enak sebenarnya, tapi gue emang nggak suka makan sayur. Akhirnya gue habiskan juga makan gue. Gue nyesel sudah bentak-bentak Tiara tadi. Padahal sayurnya enak dan bukan hal yang buruk. Gue minum obat yang sudah dia siapkan. Setelah itu gue minum wedang jahenya yang sudah dingin. Tetapi tetap terasa hangat di tenggorokan gue.
Gue lihat jam sudah setengah sebelas, Tiara belum juga pulang. Mungkin dia masih marah, dan menginap di tempat temannya. Besok saja gue minta maaf.

Keesokan harinya badan gue udah terasa segar kembali. Gue sudah siap berangkat ke kampus. Gue nggak melihat motor gue di depan kamar atau di garasi. Ah, nggak mungkin Tiara kabur dengan motor gue. Lagian barang-barang dia masih di sini, pikir gue.

Akhirnya sampai di kampus gue jalan ke arah fakultas Tiara. Gue mau minta maaf kejadian semalam. Gue nggak melihat dia di sekitar sini, gue keliling dan bertanya beberapa temannya dan semua nggak ada yang lihat dia. Akhirnya gue bertemu salah satu teman dekatnya yang pernah main ke kost. “Hai, nama lu siapa? Maaf gue lupa. Gue mau tanya, lihat Tiara?” Tanya gue langsung. Cewek yang gue tanya tidak menjawab malah pandangin gue terus. “Maaf gue nggak sopan ya, lu lihat Tiara. Semalam dia nggak pulang.” Gue nggak bilang kalau Tiara bawa motor gue.
“Eh, lu temen sekamarnya, lu nggak tahu kalo Tiara kecelakaan dan lagi kritis di rumah sakit?” Tanya dia balik dengan wajah keheranan. “Kecelakaan? Gue semalam lagi nggak enak badan dan tidur lebih awal. Gue nggak tahu dia keluar malam-malam.” Jawab Gue “Anter gue ke rumah sakit.” Gue tarik tangan temen Tiara yang belum gue tahu namanya itu.

Dokter yang merawat Tiara bilang, Tiara harus segera dioperasi. Tetapi pihak keluarga belum ada yang bisa dihubungi untuk dimintai persetujuannya. Gue cuma bisa melihatnya lewat kaca pintu ruang ICU. “Gue rasa nggak bakalan ada yang datang, dia sebatangkara di Jogja. Papanya meninggal setahun yang lalu.” “Nama lu siapa? Lu yakin dia nggak punya siapa-siapa yang bisa dihubungi?” Gue mulai panik. “Gue Fani, Tiara belum cerita sama lu?” “Sepertinya sudah, tapi gue kira masih ada yang bisa kita hubungi.”

“Gue heran, tumben banget Tiara beli makan di luar, biasanya dia selalu masak sendiri. Gue kadang suka makan kok di kost kalian.” “Apa maksud lu?” Gue nggak paham arah pembicaraan Fani. “Semalam Tiara beli ayam lalapan di warung tenda depan kampus, setelah selesai berbelanja dan akan kembali pulang, sebuah mobil menyerempetnya dan kabur.” Lalapan? Apa Tiara bermaksud mencarikan gue lauk makan malam. Gue merasa bersalah. Gue nggak mungkin cerita ke Fani, kalau sebelumnya gue bersikap kasar pada Tiara. “Untung di warung itu ada Hendrik yang kebetulan sedang makan juga. Dia yang membawa Tiara ke rumah sakit ini.” Fani melanjutkan ceritanya. Gue nggak bisa diam saja. Gue tatap Tiara yang terbaring tak berdaya. Gue segera menemui dokter dan perawat yang menangani Tiara.

“Jadi lu bakalan membiayai operasi Tiara?” Fani bertanya ke gue. Gue mencari HP di tas, segera gue hubungi papa. “Pa, ini Rara. Bisa transfer dua puluh juta sekarang?.. Teman satu kamar Rara. Kecelakaan dan kritis Pa, Rara janji akan segera dikembalikan…” Fani kelihatan masih bingung, “Papa setuju membayar biaya operasinya.” Pekik gue, Fani bersorak lega. Setelah menyelesaikan keperluan administrasi, Tiara dibawa ke ruang operasi. Gue dan Fani menunggu proses operasi sambil terus berdo’a. Setelah dua jam di ruang operasi, Tiara kembali dibawa ke ruang ICU.

“Fani, bisa lu tetep di sini menjaga Tiara?” “Lu mau ke mana, Ran?” “Fani, gue akan ke kost dan mengambil beberapa barang yang mungkin diperlukan Tiara.” Pamit gue ke Fani, “Oke, jangan terlalu lama. Gue bisa mati bosan di sini.” Gue hanya mengangguk dan segera berlalu.

Sesampainya di kost gue rebahan sebentar. Jujur gue nggak bisa menghapus rasa bersalah gue. Gara-gara gue marah-marah masalah makanan, Tiara jadi seperti ini. Gue nggak nyangka Tiara sebegitunya memperhatikan gue. Padahal gue hanya seseorang yang hanya kebetulan satu kamar dengannya.

Tiba-tiba gue teringat sesuatu, laci.. di laci… gue ingat Tiara sering menulis sesuatu di buku hariannya. Mungkin gue bisa mendapat petunjuk tentang keluarganya yang lain.

Setelah gue temukan buku hariannya, segera gue buka setiap lembar halamannya. Halaman awal hanya berisi tentang masalah kampus, anak-anak les, dia tidak mencatat apapun tentang keluarganya. Saat gue buka halaman berikutnya dia menulis tentang gue.

“Aku menawarkan berbagi kamar dengan gadis itu, dia pendiam dan sedikit jutek. Aku seperti sangat mengenali wajahnya. Tapi siapa?”

Oh, jadi dia berpikiran begitu tentang gue, halaman selanjutnya hanya tentang pembayaran gaji lesnya yang terlambat. Halaman selanjutnya.

“Rani, aku nggak tau nama lengkapnya. Dia kurang respek setiap aku ajak mengobrol.”
“Setiap aku melihat Rani memakai mukena, aku baru menyadari dia sangat mirip denganku.”

Gue tertegun membaca tulisan Tiara, kemudian gue raih kerudung Tiara yang belum dirapikan di atas kasur dan memakainya. Gue hampir tak percaya, wajah kami benar sangat mirip. Saat gue lihat pertama kali Tiara melepas hijabnya saat gue baru datang, gue juga ngerasa dia mirip seseorang yang entah siapa. Dan ternyata seseorang itu adalah gue sendiri.

“Entah kenapa aku jadi merasa mulai menyayangi Rani. Aku ngerasa sangat dekat dengannya. Aku merasa ingin selalu melindunginya. Mengingatkannya waktu shalat. Aku memutuskan memasakkannya mulai hari ini. Aku sangat bahagia setiap dia memuji masakanku. Aku berharap dia adalah adikku. Agar aku bisa berkeluh kesah padanya. Tetapi Rani sepertinya sangat tertutup dan sangat cuek dengan sekitarnya.”

Ternyata Tiara memberikan perhatiannya selama ini tulus, bukan karena uang semata.

“Aku kangen dengan mama dan adikku, di mana mereka ya Allah?”

Ada satu lembar foto terbalik halamannya, saat gue balik foto itu. Duniaku seakan terbalik. Gue lihat foto masa kecil gue. Foto ini sama persis yang disimpan mama di rumah kami di Bali. Tiara itu kak Imut, Mutiara. Tiara adalah kakak gue. Badan gue lemas. Tubuh gue melorot ke lantai, dengan punggung bersandar di kasur.

“Aku berusaha yang terbaik untuk Rani. Tetapi dia terlalu keras kepala. Dia tidak menghargai perhatianku. Dia memang mempunyai segalanya. Aku bukan siapa-siapa dia. Tetapi tak seharusnya dia bicara kasar denganku.”

Gue menangis menyesali semua yang terjadi. Andai saja gue menanggapi setiap obrolannya. Menjawab pertanyaan dia tentang keluarga gue, nggak menganggapnya terlalu kepo. Mungkin sudah dari dulu gue bisa menyadari kalau Tiara adalah kakak gue yang ikut papa setelah orangtua kami bercerai. Jadi, papa sudah meninggal? Gue semakin menangis sejadi-jadinya.

HP gue bunyi, ternyata mama. “Hallo..” jawab gue serak. “Sayang, papa bilang kamu minta uang dua puluh juta ke papa buat teman kamu. Apa benar?” Suara Mama terdengar marah. “Iya, Ma.” “Rara, apa kamu gila, bagaimana temanmu bisa membayarnya. Kamu pernah bilang teman sekamarmu itu sebatangkara di sana.” Mama mulai marah-marah. “Mama, dia nggak akan membayarnya,” “Rara, kamu jangan manja, jangan buat Mama malu sama Papa gara-gara sikapmu!” “Ma, Tiara itu kakakku Mutiara. Rara baru tahu, Ma.” Tangis gue kembali pecah, gue tutup telepon Mama. Gue nggak sanggup bicara lagi.

Saat gue bersiap ke rumah sakit keesokkan harinya. Tiba-tiba ada taksi yang datang. Ternyata Mama dan Papa. “Mama dan Papa ikut penerbangan pertama.” Mama menjelaskan. Kami berpelukan. Mama nggak bisa menahan tangisnya. Penghuni kost lain yang kebetulan di luar memandang kami heran.

Sesampainya di rumah sakit ternyata Tiara sudah siuman, dan dipindahkan ke kamar lain. “Rani,” sapa Tiara lemah setelah melihat kedatanganku. “Fani bilang, papa kamu yang membayar ini semua?” Gue raih telapak tangan Tiara, menempelkannya di pipiku. Gue menangis. “Rani, kamu kenapa? Aku nggak apa-apa kok.” Tiara mungkin bingung dengan sikap gue yang tiba-tiba berubah. Gue terus mencium tangan Tiara, menggenggamnya erat. “Rani? Kamu baik-baik saja?” “Kak Imut, ini gue Rara, Maharani.” Kak Tiara matanya berkaca-kaca nggak percaya. “Rara,” kak Tiara menangis bahagia setelah dia tahu gue Rara adiknya.

Mama dan Papa masuk sambil membawa makanan. Kak Tiara langsung mengenali Mama, “Mama…” Gue segera keluar. Nggak sanggup melihat pertemuan mereka setelah belasan tahun berpisah. Sejak Mama menikah lagi, dan pindah ke Bali. Kami kehilangan kontak. Fani yang menunggu di luar hanya bengong melihat kejadian ini. Fani memeluk gue. Sumpah, gue bahagia banget bisa berkumpul lagi dengan kakak gue.

Setelah dokter mengizinkan kak Tiara pulang, Mama dan Papa kembali ke Bali untuk mengurus restorannya. Mama membuat gue harus berjanji merawat kakak gue. Sebenarnya tanpa Mama memintapun gue pasti menjaga kak Tiara, membayar setiap detik kebersamaan yang sudah hilang dari kami.

Gue menyiapkannya makan, membantunya mandi, mendorong kursi rodanya ke kampus sampai di kelasnya, menemaninya terapi. Gue benar-benar melayaninya. Gue melepas tirai pembatas kamar, menyatukan kasur kami dan tidur bersama. Gue takut, kalau tidak terbangun dan mendengar suara kak Tiara seandainya dia perlu apa-apa.

Kini gue bisa lepas bercerita apa saja padanya. Dan dia adalah pendengar yang baik. Gue jadi sering tertidur di pangkuannya setiap kami selesai bergosip. Gue belum pernah merasakan kebahagiaan seperti ini.

Bahkan setelah kak Tiara sehat dan telah wisuda, dia berusaha tetap tinggal bersama gue. Dan menolak beberapa tawaran mengajar. “Ah, di sini aku masih bisa mendapatkan pekerjaan.” Katanya saat gue tanyakan kenapa dia menolak tawaran itu. “Tentu, dan gue pastikan gue nggak bakal melepaskan lagi Mutiara yang pernah hilang dari hidup gue.” Gue memeluk Kak Tiara erat, seperti anak kecil yang takut kehilangan bonekanya.

Silahkan ditunggu karya kami yang lain.
Salam,
Yuyun Phe
12 Maret 2017

Cerpen Karangan: Yuyun P
Blog: yuyunphe.blogspot.co.id

Cerpen Mutiara Yang Hilang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Tak Lagi Berdua

Oleh:
Kusisipkan kedua tanganku ke dalam jari-jarinya. Kuelus lembut kepalanya sampai mereka pun tak terasa. Kukecup lembut keningnya agar mereka merasakan kehangatan dari kasih sayangku. Teringat perkataan papanya bahwa kita

Maafkan Aku Ibu

Oleh:
“Bu, lihat Sifa dapat juara 1 lagi di kelas!” kata Sifa sambil menyodorkan rapor di tangannya. Sifa memang seorang anak SD yang pandai, sudah 3 tahun dia selalu mendapat

Ayahku Selalu Kembali

Oleh:
Wardah menatap lautan dengan tatapan kosong penuh harap dia menunggu seseorang yang sangat berarti dalam kehidupannya. Dia duduk memeluk kedua lututnya dengan erat, sudah 3 hari dia melakukan hal

Tunjukan Keadilanmu Tuhan!

Oleh:
Iowa. Itulah kampung kelahiranku. Sebuah kampung kecil dengan beberapa rumah di dalamnya, termasuk rumahku yang hanya berukuran empat kali empat meter persegi, atau sebut saja dengan gubuk. Dinding yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *