My Brother

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Pengorbanan, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 20 November 2016

Mataku yang sedang berat dibuka tiba-tiba langsung terbuka lebar ketika melihat seseorang di samping tempat tidurku. Seseorang yang selama ini aku rindukan sudah ada di sampingku, bahkan di hadapanku. Aku membangunkan tubuhku yang masih berbaring di kasur, lalu mengambil posisi duduk.

“Raffa, benar ini kamu?” Aku berkata sambil memegang wajahnya dengan kedua tanganku, karena tak menyangka dia sudah kembali ke rumah.
“Iya Kak, ini Raffa!” Dia menjawab sambil memegang lembut tanganku yang sedang memegang wajahnya. Kemudian, dia memberikan senyuman manisnya kepadaku.
Aku langsung memeluknya dengan erat, dan berkata. “Kakak kangen banget sama kamu. Maafin kakak ya, seharusnya kakak yang menanggung semua ini, bukan kamu. Maafin kakak juga, karena kakak gak bisa menepati janji kakak untuk selalu mengunjungi kamu dulu.”
“Gak apa-apa Kak, Raffa kan udah janji sama ayah untuk selalu melindungi kakak. Lagi pula Raffa juga yang salah, karena Raffa gak mendampingi kakak waktu itu.” Dia membalas pelukanku. Erat sekali.

Hari itu, aku diajari mengendarai sepeda motor oleh Raffa, adik laki-lakiku. Dia sudah berjanji padaku akan mengajariku bagaimana cara mengendarai sepedah motor setelah ia lulus dari SMA. Padahal, aku sudah memintanya untuk mengajariku mengendarai sepedah motor dari dulu, sebelum ia naik ke kelas tiga, sampai akhirnya ia mau lulus. Namun, ia selalu menolaknya dengan alasan aku perempuan. Ia tidak mau aku kenapa-kenapa, bahkan terluka jika terjatuh dari motor. Tapi, aku tidak mempedulikan kekhawatirannya itu. Aku selalu memaksanya untuk mengajariku, sampai akhirnya ia luluh dan mau mengajariku.

Aku tidak mau terus menerus merepotkannya karena selalu mengantarku ketika mau pergi kemana-mana. Makanya aku ingin belajar untuk bisa mengendarai sepeda motor sendiri, agar aku tidak perlu lagi diantar olehnya ketika mau pergi kemana-mana. Selama ini Raffalah yang selalu mengantarku ketika mau pergi kemana-mana. Sampai akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Ia telah dinyatakan lulus dari SMA. Sehari setelah kelulusan, ia menepati janjinya untuk mengajariku mengendarai sepeda motor.

Pertama, raffa memberitahuku apa saja fungsi-fungsi yang ada di sepeda motor itu. Kedua, dia membantuku untuk menaikinya. Aku sempat hampir terjatuh karena tidak kuat membawanya sendiri, tapi dia siap siaga di sampingku untuk membantuku. Lalu, dia menyuruhku menghidupkan motornya dan perlahan-lahan menjalankannya. Dia masih tetap berada di sampingku untuk menyeimbangiku. Sampai akhirnya aku bisa mengendarai motor yang sedangku naiki sendiri dengan seimbang.

“Raffa, kakak bisa! Kakak bisa!” Kata-kata itulah yang hanya bisa aku ucapkan karena kesenangan sudah bisa mengendarai sepeda motor sendiri yang menjadi keinginanku selama ini.
“Iya Kak, hati-hati ya!” Raffa menjawab sambil berlari kecil mengikutiku dari belakang.

Karena sudah merasa bisa dan nyaman dengan posisiku yang berkendara ini, aku menambah laju kecepatannya. Melihatku begitu, Raffa memperingatiku untuk tidak menambahkan laju kecepatan berkendaraku. Tapi, aku tidak mengindahkannya. Aku tetap saja menambahkan kecepatan berkendaraku. Dia terus memperingatiku untuk tidak begitu, tapi lagi dan lagi aku tidak mengindahkannya. Dari ketidakmauanku untuk mendengarkan peringatannya itu, aku jadi tidak bisa menguasai sepeda motor yang sedang aku kendarai.
“Raffa, tolong kakak! Tolong kakak Raf!” Aku hanya bisa mengatakan itu karena panik. Aku takut akan terjatuh atau terjadi hal buruk yang tidak diinginkan lainnya. Sampai akhirnya hal yang tidak diinginkan pun terjadi.
“Kakak awas di depan!!” Raffa berteriak memberitahuku bahwa di depanku ada seorang anak kecil yang sedang menyebrang jalan. Karena panik dan tidak bisa lagi mengendalikan sepeda motor yang sedang kukendarai, akhirnya aku menabrak anak kecil itu hingga terpental jauh dan terkapar di jalan. Raffa langsung berlari menuju dimana anak kecil itu berada untuk melihatnya. Sementara aku langsung turun dari motor meski motornya masih menyala. Alhasil, kaki dan tanganku terluka karena terjatuh di jalan. Aku pun langsung berlari menuju Raffa yang sedang melihat anak kecil yang kutabrak tadi tanpa mempedulikan lukaku yang terasa sangat sakit.

“Kak, anak ini..” Raffa berkata sambil memegang urat nadi yang ada di tangannya.
“Kenapa Raf, kenapa?” Aku langsung berucap sebelum Raffa melanjutkan ucapannya mengenai keadaan anak itu.
“Anak ini..” Raffa kembali berkata hanya seperti itu.
“Kenapa Raf? Jawab kakak!” Aku sedikit kesal karena dia tidak menjawab pertanyaanku yang membuatku panik.
Tapi, lagi dan lagi dia tidak menjawabku. Aku langsung memegang nadi yang ada di tangan anak itu seperti yang dilakukan Raffa tadi agar aku tahu bagaimana keadaannya. Setelah dipegang nadinya tidak berdenyut. Aku panik. Aku kembali mengecek keadaannya dengan cara menaruh telunjuk tanganku dihidungnya. Nafasnya tidak ada. Berarti aku sudah membunuhnya. Tidaaaaak. Aku menangis. Aku tidak mau dipenjara karena sudah menghilangkan nyawa orang lain.

Tidak lama kemudian orang-orang berdatangan melihat kami, terutama anak kecil itu. Mereka langsung bertanya siapa di antara kami, aku dan Raffa, yang menabraknya hingga tewas. Kami diam, tidak menjawab pertanyaannya. Aku hanya bisa memegang erat lengan baju Raffa karena takut mereka tahu bahwa aku yang sudah menabraknya. Sementara Raffa, ia terlihat panik dan takut sepertiku. Karena kami tidak menjawabnya, mereka kembali bertanya tentang pertanyaan tadi pada kami. Tapi, lagi dan lagi kami tidak menjawabnya. Sampai akhirnya Raffa membuka mulut. Dia mengatakan pada mereka bahwa dirinyalah yang sudah menabrak anak itu. Mereka langsung membawa Raffa ke kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Padahal, perbuatan itu bukan dia yang melakukannya, melainkan aku.

Aku hanya bisa menangis melihat Raffa dibawa mereka ke kantor polisi karena tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak ingin Raffa dipenjara karena kesalahan yang bukan diperbuatnya. Tapi, aku juga tidak mau dipenjara jika mengatakan yang sesungguhnya pada mereka bahwa akulah yang menabrak anak itu. Sampai akhirnya mereka membawa pergi Raffa dariku ke kantor polisi. Sementara aku diantar pulang oleh salah satu orang dari mereka menggunakan motor yang kukendarai tadi.

Ketika sampai di rumah aku langsung masuk ke dalam dan memeluk ibu yang sedang masak. Bingung melihatku begitu, ibu pun bertanya.
“Kamu kenapa sayang?”
“Raffa Bu, Raffa.” Aku menjawab sambil terus menangis.
“Adik kamu kenapa?” Tanya ibu sambil melepaskan pelukanku. Aku tidak menjawabnya. Aku masih terisak dalam tangisanku.
“Ya ampun.. tangan dan kaki kamu kenapa?” Ibu sedikit panik ketika menyadari ada luka di tangan dan kakiku. Tapi, aku tetap tidak menjawab ibu.
“Tangan dan kaki kamu kenapa?”
“Adik kamu mana?”
“Sebenarnya ada apa? Jawab ibu?”
Karena ibu terus menerus bertanya, akhirnya aku menjawabnya. Aku menceritakan semua pada ibu apa yang telah aku dan Raffa alami.

“Ya ampun Reffaaa..” ibu terkulai lemas setelah aku menceritakan semuanya.
“Maafin aku Bu, maafin aku.” Aku berkata sambil menggenggam tangan ibu dan menciumnya.
Ibu pasti marah besar padaku. Anak perempuannya sudah melakukan perbuatan seperti itu. Padahal, ibu selalu mendidikku dengan baik untuk menjadi anak yang baik pula. Tapi, ternyata aku salah. Ibu tidak marah padaku, ia malah mengobati lukaku dan mengajakku untuk menemui Raffa yang berada di kantor polisi.

Sesampainya disana, aku dan ibu langsung menemui Raffa. Ia terlihat biasa saja, tidak ketakutan sama sekali. Aku hanya bisa mengatakan maaf padanya karena harus menanggung kesalahanku.
“Maafin kakak Raf, maafin kakak.”
“Gak apa-apa Kak. Raffa gak apa-apa kok disini, asalkan bukan kakak yang disini.” Dia menjawab dengan santai tanpa memikirkan bagaimana hidupnya ke depan jika harus tinggal di penjara, dan bagaimana dengan keinginannya untuk melanjutkan kuliah setelah lulus dari SMA di perguruan tinggi negeri yang ia impi-impikan?
“Kakak janji akan selalu datang kesini untuk menemui kamu. Kakak janji Raf!!” Aku mengatakan itu sebelum pergi meninggalkannya di kantor polisi. Karena, jam berkunjung untuk menemuinya sudah habis.

Tapi, keesokkan harinya aku jatuh sakit. Tubuhku terasa sakit semua akibat jatuh dari motor. Sehingga, aku tidak mengunjunginya seperti janjiku itu. Dan keesokkan harinya lagi, sakitku semakin parah. Bukan hanya terasa sakit, tubuhku juga demam. Ibu pun membawaku ke rumah sakit karena takut keadaanku semakin memburuk. Padahal, sebelumnya ibu sudah menyuruhku untuk ke dokter, tapi aku tidak mau. Akibatnya, keadaanku semakin memburuk.

Setelah seminggu mendapat perawatan, akhirnya aku kembali pulih dan sudah diperbolehkan pulang. Tapi, lagi dan lagi aku belum bisa mengunjungi Raffa. Karena tugasku sebagai mahasiswi banyak yang harus aku selesaikan. Sementara ibu? Ibu sibuk dengan pekerjaan rumah dan pekerjaannya sebagai pembuat kue untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup kami dari hasil penjualannya itu. Sudah setahun ini ibu membuat kue untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup kami, karena ayah sudah pergi meninggalkan kami selama-lamanya akibat kecelakaan yang menimpanya.

Sekarang, setelah sekian lama berlalu, akhirnya aku bisa kembali melihat raffa dan tinggal bersamanya di rumah. Juga bisa merasakan hangatnya pelukannya seperti sekarang ini.
“Mandi Kak, ibu udah nyiapin sarapan buat kita. Nanti kita sarapan bareng ya!” Raffa berkata sambil melepaskan pelukannya. Aku hanya mengangguk dan tersenyum menjawabnya. Kemudian, dia ke luar dari kamarku. Lalu, aku langsung ke kamar mandi untuk bersiap-siap sarapan bersamanya setelah sekian lama tidak sarapan bersama.

Sekitar tiga puluh menit lamanya, aku sudah merapikan diri sehabis mandi dan langsung menuju meja makan untuk sarapan bersama ibu dan Raffa.
“Kakak kok kurusan? Kenapa?” Raffa berkata sambil memperhatikan bentuk tubuhku yang kini berubah menjadi lebih kurus dari pada dulu.
“Kakak kamu tuh sakit sewaktu jatuh dari motor dulu, terus juga gak mau makan, ya jadinya gitu deh. Padahal kakak itu sibuk banget dengan kegiatan kampusnya yang banyak memakan tenaga.” Ibu membuka mulut menjawab pertanyaan Raffa tadi.
“Ya ampun.. kasihan kakak. Maaf ya Kak, karena Raffa gak benar mengajari kakak mengendarai motor dulu, kakak jadi seperti itu.” Ucap Raffa yang mengungkit kejadian waktu itu.
“Nggak Raf, kamu gak perlu minta maaf, kamu sama sekali gak salah. Kakak yang seharusnya minta maaf. Coba waktu itu kakak mendengarkan ucapan kamu, pasti semua itu gak akan terjadi, dan kamu juga gak harus dipenjara karena kesalahan kakak. Maafin kakak ya Raf.” Aku berucap dengan penuh penyesalan.
“Gak apa-apa Kak, Raffa sudah berjanji pada ayah untuk selalu melindungi kakak dan ibu. Lagi pula Raffa kan laki-laki, sudah seharusnya Raffa menjadi pelindung buat perempuan, termasuk kakak.” Raffa selalu berkata seperti itu. Seperti janjinya pada ayah untuk selalu melindungiku dan ibu sebelum ayah pergi meninggalkan kami dulu. Aku hanya diam mendengar ucapannya itu. Ucapannya yang membuat air mata tiba-tiba membendung di kelopak mataku. Tapi, aku berusaha untuk menutupinya dari dirinya dan ibu.
“Kak, mau belajar buat mengendarai motor lagi?” Tanya Raffa.
“Nggak Raf, sampai kapan pun kakak gak akan pernah mau lagi buat belajar mengendarai motor!!” Jawabku.
“Yakin? Kakak gak iri sama teman-teman kakak yang udah bisa mengendarai motor sendiri?”
“Kali ini nggak! Kakak kapok!!”
Mendengar aku berucap seperti itu, ibu dan Raffa tertawa. Aku pun begitu. Rasanya bahagia sekali bisa berkumpul dengan Raffa dan ibu seperti dulu. Rasanya aku juga menyesal karena dulu telah kesal mempunyai adik seperti Raffa. Padahal, sekarang Raffa selalu menjadi penolongku. Melindungiku dari apa pun yang akan menimpaku, juga membelaku disaat aku melakukan kesalahan. Seperti yang sudah ia lakukan dulu ketika aku menabrak anak kecil hingga tewas dan ia yang di penjara karena membelaku. Ia rela menanggung kesalahan yang bukan ia lakukan.

Dulu, ketika waktu kecil, Raffa selalu ingin ikut disaat aku bermain dengan teman-temanku. Dia akan menangis jika aku tidak mengajaknya. Hal itu yang membuatku kesal mempunyai adik sepertinya. Mengajaknya bermain bersama teman-temanku hanya membuatku repot karena harus menjaganya. Tapi, di sisi lain, teman-temanku malah menyuruhku untuk mengajaknya saat bermain dengan alasan dia lucu dan menggemaskan. Mereka suka dengan Raffa. Mereka selalu mencubit dan mencium pipinya setiap kali aku dengannya baru sampai di tempat bermain.

Ada banyak hal lain lagi yang membuatku tidak menyukai dan kesal memiliki adik seperti Raffa, salah satunya adalah ketika ia selalu ingin tidur bersamaku. Aku tidak suka itu. Karena, dia selalu mengusik tidurku dengan membangunkanku di tengah malam dan menyuruhku mengambilkan minum untuknya. Siapa sih yang tidak kesal ketika sedang tertidur nyenyak dibangunkan tidurnya? Semuanya pasti kesal, begitu juga denganku.

Tapi, ada saat dimana aku menyesali perbuatan itu. Perbuatan salahku yang sudah kulakukan pada Raffa. Padahal, tidak seharusnya aku begitu. Sebagai kakak, seharusnya aku menyayangi dan menjaganya dengan baik, bukan malah merasa terbebani atas tugas menjaganya yang sudah seharusnya aku lakukan.

Saat itu adalah ketika Raffa jatuh sakit. Aku benar-benar merasa bersalah atas sakit yang menimpa dirinya, walau ia sakit bukan karena aku. Tapi, karena aku sudah jahat sama dia, selalu tidak ingin kehidupanku diusik dengannya, aku jadi merasa bersalah dan juga merasakan sakit sepertinya. Mulai saat itu aku berjanji akan menyayanginya dan menjaganya sebagaimana tugas seorang kakak pada adiknya. Kata aku yang biasanya kupakai saat berbicara padanya aku ganti menjadi kata kakak.

Sekarang, Raffa tumbuh menjadi seorang laki-laki yang tampan. Bukan Raffa kecil dulu yang masih ingusan, yang selalu membuatku jijik untuk berdekatan dengannya. Tapi kini, aku selalu ingin dekat-dekat dengannya, bahkan tidak ingin jauh darinya. Karena, aku sangat menyayanginya.

“Oiya, kamu juga kok kurusan? Mana badan seksi kamu yang dulu?” Aku bertanya ketika sadar melihat perubahan pada tubuhnya. Yang dulu terlihat gede tinggi karena tubuhnya cukup berisi, sekarang terlihat kurus. Tingginya mengalahkan tinggi badanku, aku hanya sedadanya saja. Padahal, ketika waktu kecil aku yang lebih tinggi darinya.
“Ah.. kakak! Raffa gak nyaman punya badan kaya gitu, makanya Raffa bikin badan Raffa jadi kaya gini. Ganteng kan Kak?” Jawabnya.
“Bagaimana pun badan kamu, kamu tetap jadi adik kakak yang ganteng Kok.”
“Jadi anak ibu yang ganteng juga dong..” tambah ibu yang membuat kami kembali tertawa. Lalu, kami pun memulai sarapan di pagi hari ini.

Bersambung..

Cerpen Karangan: Siti Mariyam
Facebook: Siti Mariyam

Cerpen My Brother merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tatapanmu Adalah Bahagiaku

Oleh:
Betapa menawannya paras cantik Rachel. Seorang wanita cantik yang duduk di kelas 3 SMA. Tutur katanya yang lembut membuat hati Rafa luluh. Getar hati muncul di saat rafa melihat

Keteguhan Hati

Oleh:
Aku adalah seorang siswi di sekolah swasta di Jakarta. Orang tuaku berkerja sebagai penjual gorengan. Sehari-hari setiap sore sampai malam mereka berjualan di warung pinggir jalan. Terkadang, Aku ingin

Sungguh Sial Hariku ini

Oleh:
“Ah… aku lupa ini, Ini juga. Aduh gimana ini?” kataku dalam hati. Hari ini sedang ulangan harian pelajaran yang tidak aku sukai. Ini adalah pelajaran IPA. Tak tahu mengapa

Menggapai Sebuah Impian

Oleh:
Sebuah kebahagian adalah impian semua orang, namun apakah aku bisa mendapatkan kebahagiaan itu? mustahil bagiku. Aku merasakan hidupku tak pernah bahagia. Semenjak orangtuaku berpisah, sifat mereka berubah. Mereka menjadi

Jangan Bohong Kak

Oleh:
Aku punya kakak. Dia tinggi dan tampan. Dia segalanya bagiku. Sejak orangtuaku meninggal, aku hanya bergantung padanya. Dia selalu melakukan hal yang benar. Dia sempurna. Kadang, jika aku punya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *