My Brother (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 7 December 2016

“Reffa!”
Sebuah panggilan yang tidak terlalu keras membuatku terperangah dalam kepanikanku yang tidak menemukan ibu dan Raffa di rumah. Aku langsung menoleh ke arah suara yang kudengar. Aku bisa mengetahui siapa orang yang memanggilku, karena ia sedang berdiri di depan pintu rumahku yang terbuka lebar.
“Tante Nur, tante tahu gak ibu dan adik aku kemana?” Aku langsung bertanya padanya sebelum ia membuka mulut. Ia pasti tahu kemana ibu dan Raffa pergi, karena ia adalah tetangga kami. Rumahnya pun di sebelah rumah kami, ia juga pasti orang pertama yang lebih tahu tentang ibu dan Raffa.
“Memangnya kamu belum tahu kalau ibu kamu sedang di rumah sakit menjaga adik kamu yang tiga hari lalu dibawa kesana karena demam tinggi?” Jawabnya.
Apa? Raffa di rumah sakit? Berarti keadaannya semakin memburuk ketika aku meninggalkannya? Ya ampun.. Raffa, maafkan kakak. Seketika tubuhku melemas, dan air mata membendung di kelopak mataku. Ini semua karena aku, karena aku yang terlalu memikirkan diriku sendiri.
Aku meninggalkannya dan membiarkannya sendiri yang sedang sakit di rumah. Sehingga, membuat keadaannya semakin memburuk, bahkan sampai masuk ke rumah sakit. Andai aku tidak meninggalkannya, pasti keadaannya sudah membaik dan tidak harus masuk ke rumah sakit.
“Tante mau kesana, kamu mau ikut?” Ucap tante Nur.
“Iya tante, aku mau ikut!” Jawabku.
Sebelum berangkat, aku mengunci pintu terlebih dahulu. Kemudian, aku dan tante Nur berangkat ke rumah sakit dengan menggunakan mobil miliknya.

Di perjalanan hatiku tidak tenang. Aku terus terpikir Raffa. Tapi, tante Nur menenangkanku. Ia berkata bahwa Raffa sudah baik-baik saja. Namun, aku tetap tidak tenang sebelum aku melihat sendiri keadaannya.
Sampai akhirnya kami tiba. Aku langsung berlari menuju tempat dimana Raffa dirawat. Aku tidak perlu bertanya-tanya lagi, karena tante Nur sudah memberitahuku.
Ketika beberapa langkah lagi tiba, aku melihat seseorang yang sedang duduk di bangku tunggu yang ada di luar ruangan Raffa. Aku mengenali orang itu, itu adalah ibu. Aku pelankan langkahku mendekati ibu yang belum mengetahui kedatanganku. Ketika sudah di sampingnya, ibu mengetahui kedatanganku. Ibu menatapku dengan tajam. Hatiku berdebar. Aku takut ibu akan marah padaku atas apa yang telah terjadi pada Raffa. Dan ketakutanku benar-benar terjadi, ibu marah denganku.

“Ngapain kamu kesini? Masih peduli sama adik kamu?” Ibu berkata dengan marah sambil bangun dari duduknya.
“Maafin aku Bu, maafin aku. Aku tahu aku salah.” Aku mencoba meraih tangan ibu untukku cium sebagai permohonan maafku, namun ibu menolaknya.
“Kenapa kamu tinggalin adik kamu yang sedang sakit sendiri di rumah?” Lagi-lagi ibu berkata dengan marah.
“Maaf Bu, aku gak tahu kalau keadaan Raffa akan semakin memburuk seperti ini.” Aku menjawab dengan penuh penyesalan.
Ibu hanya diam tanpa menanggapi ucapanku sambil kembali duduk di bangku itu. Aku menghampiri ibu dan berlulut di hadapannya, lalu berkata. “Ibu, maafin aku. Aku gak mau ibu marah seperti ini padaku.”
“Kita semua hampir kehilangan adik kamu kalau dia telat dibawa ke rumah sakit. Keadaannya sangat lemah, ditambah suhu tubuhnya yang panas tinggi. Untung aja ibu udah pulang ke rumah disaat keadaan adik kamu seperti itu, jadi ibu bisa lebih cepat membawanya ke rumah sakit untuk menolongnya. Ibu kan udah bilang sama kamu untuk menjaganya, kenapa kamu malah tinggalin dia? Kenapa sih kamu selalu begitu sama dia?” Ibu kembali berkata dengan marah, padahal sebelumnya cara berbicaranya sudah sedikit membaik, tidak marah.

Selalu? Ya, aku memang selalu begitu dengan Raffa. Kejadian seperti ini terjadi lagi, sama seperti waktu kita kecil dulu. Tapi, kali ini bukan aku yang tidak mempedulikan keadaannya ketika ia sedang sakit, tapi karena ada hal lain. Tidak seperti dulu yang selalu tidak mau ketika diperintahkan oleh ibu untuk menjaganya disaat ia sedang sakit, meski tidak ada hal lain.
Padahal, Raffa selalu ada di sampingku disaat aku sedang sakit. Dia yang menjaga dan membantuku ketika aku menginginkan sesuatu yang tidak bisa kuambil sendiri. Tapi, balasanku apa? Aku malah meninggalkannya. Aku tidak ada di sampingnya untuk menjaga dan membantunya, seperti dulu yang sudah ia lakukan padaku.

“Maafin aku Bu, aku mengakui ini adalah kesalahanku. Aku janji gak akan seperti ini lagi!” Aku berkata sambil membenamkan wajahku pada tangan ibu yang sedang kugenggam.
“Kamu gak perlu meminta maaf lagi, ibu sudah maafkan. Keadaan adik kamu juga sudah membaik kok, jadi gak perlu lagi menyalahkan diri kamu atas hal ini!” Ibu menjawab sambil mengusap kepalaku dengan lembut.
Mendengar itu, aku mengangkat kepalaku, lalu tersenyum pada ibu dan berkata. “Makasih banyak Bu!”
“Sama-sama sayang!” Jawab ibu. Kemudian, aku bangkit dan bersegera melihat Raffa yang sedang berada di dalam ruangannya.

Aku terkejut ketika membuka pintu ruangannya melihat seorang perempuan sedang duduk di samping kiri Raffa. Aku mengenali perempuan itu. Itu adalah perempuan yang Raffa sukai dan perempuan yang aku cemburui. Sejak kapan ia berada di samping Raffa untuk menjaganya?
“Kak Reffa!” Ia berkata ketika menyadari kedatanganku di dalam ruangan ini.
Aku tidak mengindahkannya, aku langsung berjalan menghampiri Raffa yang sedang berbaring sambil menutup matanya.
“Raffa udah baik-baik aja kok Kak, kakak gak usah khawatir!” Ia memberitahuku tentang keadaan Raffa disaat aku terlihat khawatir padanya.
Tapi, lagi dan lagi aku tidak mengindahkan ucapannya itu. Aku hanya diam sambil terus memperhatikan Raffa yang sedang tertidur. Sesekali tanganku memegang tangannya dan menciumnya. Kalau dipikir, aku jahat sekali tidak mengindahkan setiap kali ucapan yang keluar dari dalam mulutnya hanya karena kecemburuanku padanya.
Rasa cemburuku yang terbilang salah, karena aku cemburu pada orang lain yang menyukai adikku sendiri. Seharusnya aku senang ada perempuan baik yang menyayangi adikku dengan tulus, bukan malah cemburu karena takut akan tersaingi dengan dirinya, dan takut ia akan mengambil Raffa dari dalam hidupku.
Raffa akan tetap berada dan menjadi bagian dari dalam hidupku, meski ia sudah dimiliki oleh orang lain. Karena, status bersaudara kami ini yang mengikat kami. Sehingga, tidak ada yang bisa memutuskan hubungan kami. Bahkan, hubungan kakak beradik ini akan tetap abadi.
Raffa adikku, bukan kekasihku yang patut aku cemburui jika ada orang lain yang memilikinya. Buat apa aku cemburu kalau tindakkanku ini terbilang salah? Justru kecemburuanku hanya menghalangi cintanya. Benar, Raffa dengannya saling suka dan cinta. Namun, aku yang selalu menjadi penghalang cinta mereka.
Aku selalu tidak ingin mereka bisa berduaan. Aku akan melakukan apa saja untuk menghalanginya, seperti dulu ketika mereka akan pergi berdua entah kemana. Saat itu aku kesal, aku cemburu, aku tidak mau Raffa pergi berdua dengan perempuan kecuali aku.
Untuk menggagalkan rencanya itu, sampai-sampai aku mengarang cerita kebohongan bahwa perempuan yang akan diajaknya itu sedang pergi bersama cowok lain. Padahal, perempuan itu ada di rumah sedang menunggu Raffa menjemputnya. Karena menunggu Raffa tak kunjung datang, ia pun datang ke rumah.

“Kak, Raffanya ada?” Dengan lembut dan sopannya ia berkata demikian.
“Raffanya ada Kok, tapi lagi tidur. Ada apa ya?” Jawabku bohong sambil berpura-pura bertanya maksud kedatangannya.
“Oh, lagi tidur ya Kak. Gak ada apa-apa Kok. Ya udah, aku permisi ya Kak!” Ia langsung beranjak pergi dari rumahku. Aku bisa melihat kekecewaan terpancar dari wajahnya. Tapi, disisi lain, kesenangan terpancar dari wajahku. Aku berhasil menggagalkan rencana mereka. Tanpa ada rasa curiga, mereka mempercayai begitu saja kebohonganku yang aku buat setiap kali aku melakukan itu.
Namun, aku juga merasa bersalah sudah melakukan hal itu. Teganya aku melakukan hal jahat dengan adikku sendiri, juga dengan perempuan yang baik hati dan lembut sepertinya. Kalau mengingat itu, aku benar-benar menyesal sudah seperti itu. Karena, aku menjadi penghalang bersatunya cinta mereka.

“Kakak!”
Saking terlalu lama memegang tangan Raffa, ia terbangun dari tidurnya. Ia tersenyum padaku, manis sekali meski terlihat lemah. Aku membalas senyumannya dan berkata.
“Maafin kakak ya Raf, karena kakak tinggalin kamu, kamu jadi seperti ini.”
“Gak apa-apa Kak, Raffa udah baik kok. Kakak jangan menyalahkan diri kakak sendiri ya!” Ia menjawab sambil terus menatapku tanpa melihat ke samping kirinya bahwa ada perempuan yang selama ini ia sukai sedang tersenyum bahagia melihat dirinya sudah terbangun.
“Kakak janji, kakak gak akan mengulangi ini lagi dan kakak gak akan egois lagi!” Aku berucap dengan sungguh-sungguh.
“Iya Kak, iya! Raffa percaya kok sama kakak!” Ia kembali tersenyum padaku.
Kemudian, ia mengalihkan pandangannya ke seluruh ruangan tempat ia berada sekarang. Sampai akhirnya ia dapati perempuan yang ia sukai di samping kirinya.
“Reyna, kamu masih disini?” Raffa berkata dengan sedikit terkejut.
“Iya Raf, aku masih disini!” Jawabnya.

Reyna, itulah namanya. Perempuan yang cantik dan baik hati juga lembut telah meluluhkan hati Raffa. Ia berhasil membuat Raffa menyukai dirinya karena kelembutan dan kebaikan hatinya. Jujur, aku iri dengannya. Ia sangat baik dan lembut menjadi seorang perempuan. Tidak pernah berkata kasar dan meninggikan suaranya ketika berbicara, tidak sepertiku yang suka meninggikan suara ketika berbicara.
Reyna adalah tetangga kami, anak dari tante Nur. Wajar bila ia ada di samping Raffa saat ini, karena ia orang yang pertama kali tahu apa yang terjadi dengan Raffa. Ia dan keluarganya sangat baik denganku dan keluargaku. Mereka selalu membantu kami ketika sedang dalam kesulitan.
Melihat Reyna sekarang ini, aku jadi malu dan merasa bersalah dengan sikapku selama ini terhadapnya. Selalu tidak pernah suka ia dekat dengan Raffa, selalu menggagalkan rencananya bersama Raffa, dan apa pun itu yang sudah kuperbuat. Padahal, ia sangat baik denganku dan ia pantas menjadi pasangan Raffa. Akunya saja yang terlalu cemburu. Aku takut Raffa tidak menyayangiku lagi jika mereka bersatu. Tapi, ketakutanku itu salah. Raffa masih menyayangiku saat ini juga walau sudah ada Reyna di dalam hatinya.
“Aku bahagia deh ada di tengah-tengah perempuan-perempuan yang cantik dan baik hati seperti kalian!” Raffa berkata sambil melihatku dan Reyna.
Mendengar itu aku tersenyum, begitu juga dengan Reyna. Tiba-tiba Reyna memandangku, dan saat itu juga aku sedang memandangnya. Ia mencoba memberikan senyuman kepadaku, namun ia terlihat ragu untuk melakukan itu. Ia tahu, bahwa aku tidak suka dengan dirinya. Tapi, untuk yang pertama kalinya aku memberikan senyumku padanya. Ia membalas senyumanku setelah sebelumnya ia tampak tak percaya aku begitu.
“Sekarang, kakak mendukung kalian berdua bersatu, dan kakak janji gak akan menghalangi kalian lagi!!” Aku berkata sambil melihat Raffa dan Reyna, seperti yang Raffa lakukan tadi saat melihatku dan Reyna.
“Yakin.. kakak gak cemburu?” Canda Raffa.
“Nggaklah, masa kakak cemburu sama adik sendiri?!” Aku berdusta, padahal sebelumnya memang benar bahwa aku sangat cemburu.

Entah kenapa rasa cemburu itu menghilang. Rasa ketidaksukaanku pada Reyna pun menghilang. Kini, hatiku sudah bisa menerima dirinya. Mataku yang biasanya menatapnya penuh dengan ketidaksukaan, kini berubah menjadi tatapan penuh kasih sayang, seperti aku menatap Raffa. Kini, aku mempunyai dua adik, yaitu Raffa dan Reyna.
“Reyna, maafin kakak ya! Selama ini kakak selalu menghalangi kamu untuk dekat dengan Raffa. Padahal, kamu itu perempuan yang baik. Kamu pantas memiliki Raffa!” Dengan penuh penyesalan aku berkata demikian.
“Gak apa-apa Kak, aku mengerti. Kakak takut kan kalau Raffa dimiliki oleh perempuan yang salah?” Ia menjawab tanpa ada rasa curiga bahwa aku menghalanginya untuk dekat dengan Raffa bukan karena itu, tapi karena aku takut Raffa akan mengurangi rasa sayangnya padaku, karena di hatinya Raffa sudah ada dirinya.
Setiap laki-laki pasti akan menaruh perhatian dan sayang yang lebih pada perempuan yang ia sukai, begitu juga dengan Raffa. Sebab itulah mengapa aku melakukan hal demikian, karena aku takut Raffa akan begitu.
“Ah.. aku bahagia banget! Akhirnya perempuan-perempuan yang aku sayangi bisa kompak!” Ucap Raffa setelah mendengar aku dan Reyna bercakap tadi.
Aku dan Reyna hanya tertawa mendengarnya. Aku juga bisa merasakan kebahagiaan yang seperti Raffa rasakan. Hidup tanpa menyimpan ketidaksukaan pada orang lain ternyata lebih baik dan lebih menyenangkan daripada harus seperti itu. Selama ini aku sudah salah menilai Reyna hanya karena kecemburuanku padanya.

“Peluk dong!” Raffa berkata dengan gaya berbicaranya yang seperti anak kecil.
“Ah.. kamu ini!” Aku memukul pelan lengan tangan kanannya.
Melihatku begitu, Raffa dan Reyna tertawa. Kemudian, aku memeluk Raffa yang masih berbaring di kasurnya seperti yang ia inginkan tadi, begitu juga dengan Reyna.
“Kakak sayang kamu!” Aku berbisik di telinga kanannya.
“Raffa juga sayang kakak!” Raffa membalas perkataan sayangku.
Reyna juga sama, ia mengatakan perasaan sayangnya pada Raffa di telinga kirinya.
“Aku sayang kamu Raffa!”
“Aku juga sayang kamu Reyna!”

Selesai

Cerpen Karangan: Siti Mariyam
Facebook: Siti Mariyam

Cerpen My Brother (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Izinkan Aku Tetap Sekolah

Oleh:
Nanis merupakan anak bungsu dari pasangan keluarga miskin. Empat orang kakanya hanya mampu menyelesaikan pendidikan sekolah dasar (SD), bahkan ibunya tak paham soal sekolah. Kalo bicara soal pendidikan di

Lantunan Sendu Melodi Biolaku

Oleh:
Mungkin aku memang tak sempurna. Sedari kecil tak ada yang mau menerima kekuranaganku. Tak terkecuali orangtuaku sendiri. Bahkan nama indah yang kupunya bukan pemberian mereka. Namaku Angelica Melodi. Nama

Nggak Beli Lotre Pa?

Oleh:
“Nggak beli lotre Pa?” tanya Juariah ketika Joko suaminya baru pulang dari kantor. Joko memandang Juariah dengan tatapan yang sama seperti kemarin dan seperti kemarin lagi dan seperti yang

Ibadah Terakhir

Oleh:
“Bangun nak… udah subuh ayo shalat” ajak mama padaku. “Iya ma… udah bangun nih” kataku pada mama. Dengan agak ngantuk, kuturunkan kakiku ke lantai dan berjalan untuk mengambil air

Empat Kata Terindah (Part 1)

Oleh:
“Hari ini, kamu akan ikut casting di Plaza Mall” Ucap Bu Natasya pada sang anak “Dan ingat! Kali ini kamu harus dapat peran itu!” Lanjutnya. “Ya, Mah” “Pagi, Mah.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “My Brother (Part 3)”

  1. Atin Nur Siti Khotimah says:

    Saya menyukai cerpen ini, karena saya juga mempunyai kakak, yang selalu tidak akur setiap saat. Namun keadaan ini tidak terjadi lagi setelah aku sebagai seorang adik tahu harus bagaimana bersikap dan memperlakukan kakakku, seperti pada cerpen “My Brother”, kalau aku “My Sister”, kebalikannya aku yang bersikap tidak baik dan brubah menjadi baik kepada kakakku sendiri. Cerpen ini menjadi inspirasi bagi semua saudara yang tidak akur. Hehe, walupun saya bukan atau suka menulis cerpen, hanya saja cerita ini ada kemiripan pada diriku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *