My Dad My Angel

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 21 November 2017

Namaku Sandra. Aku sekarang duduk di bangku kelas 6 SD. SD Ngranggon. Sebuah sekolah tua dengan dinding yang terbuat dari anyaman bambu, beralaskan tanah, dan beratap genting yang mulai rapuh. Sebuah tempat yang mengajariku banyak hal. Tempat di mana aku menimba ilmu disetiap harinya. Hingga pada akhirnya aku lulus dari SD sebagai juara pertama. Aku berniat untuk melanjutkan pendidikanku ke jenjang SMP.

Pada waktu itu aku bersama dengan krtiga temanku yaitu Dyah, Yanti, dan Vinda pergi berjalan kaki ke kota dengan tujuan ingin daftar ke sekolah SMP 1 Harapan di kota. Karena jarang adanya transportasi di desa, kami rela menempuh jarak 5 Km dari rumah ke kota dengan berjalan kaki. Tanpa alas kaki kami berjalan melewati sungai, dan juga jalanan yang penuh dengan bebatuan. Panasnya matahari pukul 11.00 siang begitu menyengat. Tapi, semua itu tak membuat kami menyerah dan akhirnya kami sampai di tempat tujuan, yaitu SMP 1 Harapan.

Setibanya di SMP 1 Harapan, semuanya melongo. Betapa indahnya sekolah ini. Gila dibandingkan dengan sekolahku SD yang ada di desa, jelas tampak sangat berbeda. Di sana, kami berkeliling melihat setiap ruangan yang ada di sana. Tanpa kami sadari, waktu sudah menunjujkkan pukul 13.00. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang dan memberitahu orangtua kami masing-masing bahwa kami akan daftar ke sekolah SMP 1 Harapan.

“Assalamu’alaikum” Ucapku sambil terengah-engah mengatur nafas. Karena kami takut jika hari mulai gelap, maka jalanan menuju rumah pun gelap, tak ada lampu yang menyinari dan kami pun tidak bisa pulang. Oleh karena itu kami pulang dari kota dengan berlari.
“Wa’alaikum salam, hey kamu kenapa?” Tanya ibuku dengan wajah khawatir melihtku.
“Hhh… hhh… hhh… air… air”
Ibu pun pergi ke dapur da membawakan segelas air untukku.
“Ini” Ucap ibuku sambil menyodorkan segelas air kepadaku.
Glek glek glek… Huuuuft.

Setelah meminum segelas air tersebut, aku duduk di sebuah kursi kayu yang berada di ruang tamu, begitupun dengan ibu. Sesaat, keheningan mendominasi ruangan itu. Suasana menjadi serius.
“Bu… aku tadi pergi ke kota dengan teman-temanku. Aku ingin sekolah di SMP 1 Harapan yang ada di sana.”
Tanpa sepengetahuanku, ada ayah yang baru datang dari kebun dan telah mendengar perbincanganku dengan ibu. Sontak ayah langsung marah-marah. Ayah tak setuju jika aku melanjutkan sekolah SMP di kota. Ia berfikir bahwa pendidikan itu tidaklah penting untuk seorang wanita, dan ekonomi keluargaku waktu itu pun begitu minim untuk biaya sekolah. Ibuku hanya terdiam. Tak berani angkat suara jika ayah sedang marah. Aku benar-benar kecewa pada hari itu.

Di bawah pohon mangga yang berada di pinggiran sawah merupakan tempat dimana aku dan teman-temanku biasa menhabiskan waktu bersama. Gunung yang menjulang tinggi dengan hamparan sawah yang membentang di bawahnya dan juga sungai yang mengalir deras dan jernih sangat tampak dari sana. Sebuah pemandangan yang dapat menyegarkan fikiran dan menenangkan hati. Sore ini seperti biasa, aku akan pergi ke sana. Beberapa meter dari tempat itu, aku melihat teman-temanku yang sudah ada di sana. Akupun bergegas menghampiri mereka. Kulihat, ada kekecewaan di wajah mereka, sama sepertiku.

“Hai” Sapaku.
Mereka hanya terdiam dan menunduk. Entah ada apa dengan mereka.
“Bagaimana, apa kalian sudah memberitahu orangtua kalian masing-masing?” Tanyaku
“Sudah.” Jawab Dyah dengan nada yang lirih.
“Lalu hasilnya bagaimaana?”
“Tidak boleh. Ayahku tak punya banyak uang untuk biaya sekolahku nanti.” Kata Yanti.
“Sama, ayahku juga.” Timpal vinda.
“Hhhh… nasib kita memang sama.” Ucapku.

Setelah lulus dari SD, hari-hari kulalui dengan bekerja. Membantu ibu memasak, mencuci, menyapu, terkadang aku ikut ayah bertani dan berkebun.

Pada suatu hari aku dan kakakku diajak oleh ayah pergi ke sawah untuk memanen kacang tanah. Semua lahan milik ayahku ditanami kacang tanah. Kurang lebih ada 5 petak sawah yang ditanami dengan kacang tanah. Namun, kacang yang dipanen tak sebanyak yang ditanam. Karena tidak sedikit kacang-kacang yang habis dimakan tikus. Oleh karena itu ayahku sering rugi.

Ketika selesai panen, ada seorang bakul kacang tanah yang ingin membeli kacang-kacang milik ayahku. Sebelum pergi menemui bakul kacang tanah tersebut, ayahku berpesan kepada kami bahwa kami harus menjaga hasil panenkacang tadi. Setelah itu ayahku pergi menemui bakul itu dan berbincang-bincang dengannya. Tak berapa lama kemudian ada sebuah mobil silver yang mengibarkan bendera bergambarkan palu arit. Mereka adalah kelompok PKI.
Ibuku pernah bilang
“Jika kalian melihat mobil jeep dengan bendera yang bergambar palu arit, kemudian orang yang ada di dalam mobil tersebut mengajak kalian ke suatu tempat atau memberi kalian sesuatu, kalian jangan mau. Mereka itu orang yang tidak baik.”
Aku teringat pada perkataan ibuku itu.

Ketika orang PKI itu menghampiriku, aku pun merasa sangat takut.
“Nak… kemarilah. Ini paman punya permen.” Ucapnya dengan menyodorkan dua bungkus permen coklat.
“Jangan mau, jangan mau.” Bisik kakakku
“Ayo ikut paman jalan-jalan naik mobil.” Paksa orang PKI itu.
Kami pun semakin takut dengan orang itu. Akhirnya kami berlari dan berteriak memenggil ayah.
“Ayah… ayaaah.”
“Ayaaah.” Teriakku berkali kali memanggil ayah.

Ayah yang mendengar teriakanku itupun langsung bergegas menghampiriku. Setelah ayah datang, orang PKI itu langsung mengeluarkan senjatanya yang berupa sebuah celurit. Mereka mencoba menyakitiku dengan celuritnya itu. Ketika orang PKI itu mengayunkan senjatanya dan menjatuhkannya tepat di tubuhku…
Sling

Air mataku pecah. Aku masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Ayah… ayah terbaring lemas, goresan celurit itu membentang di punggungnya. Darahnya terus mengalir. Aku tak sanggup melihatnya.

Tak kusangka ayah yang selalu marah-marah, ayah yang tak sedikitpun menunjukkan kepeduliannya terhadapku. Kini, ayah yang ada di hadapanku sangat berbeda. Ia rela berkorban demi menyelamatkanku. Maafkan aku ayah, kukira kau tak sayang padaku. Tapi semua itu salah. Kau sangat peduli denganku, kau juga sayang padaku.

Tak lama kemudian, bakul kacang tanah yang tadi datang menghampiri kami bersama beberapa warga desa. Kemudian mereka membawa ayahku ke balai pengobatan terdekat.
Sampai sekarang, goresan celurit itu masih membekas di punggung ayahku. Aku selalu mengingat kejadian waktu itu. Bekas goresan itu selalu mengingatkanku akan pengorbanan yang, cinta, dan kasih sayangnya.

TAMAT

Cerpen Karangan: Syrli Martin
Facebook: Sirly Martin
SMP NEGERI 1 PURI

Cerpen My Dad My Angel merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kenangan Bersama Bapak

Oleh:
Entah mengapa langit hari ini terasa lebih tinggi bagi Dani. Dani membuka jendela, angin terasa berhembus dengan sangat kencang, sehingga menjatuhkan beberapa daun kering dari rantingnya. Srkkk.. srrk, dari

Pengorbananmu

Oleh:
Bbbrraaakk!!! Ku banting pintu kamarku sambil menangis. Harapanku ingin melanjutkan sekolah ke perguruan negeri pupus sudah, ketika orang tuaku melarangnya. Bukan karena aku kurang mandiri, tapi masalah ekonomi yang

Dibalik Semangat Kakek

Oleh:
Hari Libur telah tiba, Aku dan keluargaku seperti biasa liburan ke rumah kakek di Bogor. Rasanya tak sabar untuk cepat-cepat bertemu dengan Kakek. Bayangan wajah kakek sudah hadir di

Jangan Cepat Mengambil Kesimpulan

Oleh:
Kata kebanyakan orang malam minggu adalah malamnya untuk para muda-mudi. Terbukti yang terjadi di kota bandung saat ini. Hiruk pikuk keramaian kota pun sudah menjadi ketenaran tersendiri setiap malam

Maaf Untuk Kekasih Yang Harus Kulepaskan

Oleh:
Malam indah bertabur bintang. Udara yang sejuk, nyaman, namun masih saja membuat mataku enggan untuk terpejam, padahal jam sudah menunjukan pukul setengah dua belas malam. Ya, inilah malam tersulit

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *