My Destiny (Last Part)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Jepang, Cerpen Keluarga, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 15 April 2013

Waktu istirahat tiba! Segera saja aku dan Saori keluar kelas bersama-sama.

“Saori, aku ingin sekali bertemu dengan Mio…” kataku padanya.

“Mio?” Saori terlihat bingung. Oh, ya! Dia itu tidak tau dengan Mio!

“Hahaha… Hanya nama geng-ku. M=Melan, I=Im’m, O=Otoha, alias aku. Jadinya Mio! Mio best friends…” kataku narsis. Dia merengutkan kening, bertanda tak tahu apa maksudnya.

“Aku tidak mengerti,” jawabnya.

“Terserah kamu, deh mau ngomong apa. Oh, ya… Kekantin, yuk!” ajakku.

“Dimana?” Saori terlihat bingung dengan denah sekolah ini. Maklum, pertama kali sekolah disekolah ini.

“Ayo, aku antar!” kataku segera menarik tangannya.

“Tunggu dulu!” kata Saori. Langkahku terhenti lantas menengok kearahnya.

“Kenapa?” tanyaku sambil menatapnya.

“Aku… aku belum lapar. Bisakah nanti saja kita kesana?” pinta Saori.

“Eh?” kataku, “Tapi aku sudah sangat lapar. Ayolah, kita kesana!” ajakku.

“Please…!” katanya memohon.

“Baiklah, aku akan meninggalkanmu disini supaya kamu tersesat!” ancamku sambil berlari.

“Baiklah! Aku ikut!” jawabnya. Aku berhenti berlari dan tersenyum penuh kemenangan.

“Bagus! Akhirnya dia mu ikut,” kataku senang.

“Ini paksaan dari kamu, loh…” kata Saori.

“Ya iya, lah… daripada aku sendirian kekantin, kan takut,” kataku.

“Hah?! Takut?!” Saori tertegun dengan pernyataanku.

“Apa aja boleh, deh,” kataku kesal terhadap Saori.

“Huh! Dasar!” keluh Saori dengan kesal.

***

Dikantin…

“Aku mau beli jus alpokat dulu, ah…” kataku seraya pergi dari meja kami.

“Eh?! Mau kemana?! Ikut!” kata Saori seraya menyusulku.

“Beli jus! Masa cuma mau beli jus saja mau ikut,” kataku ketus.

“Ayolah, nanti kamu lama. Aku takut sendiri. Ini kan sekolahku yang baru,” katanya beralasan.

“Dasar manja!” ejekku. Dia kelihatan kesal.

“Biarin! Daripada aku terus diejek orang karena selalu tersesat, lebih baik aku jadi anak manja!” jawabnya ketus.

“Dasar!” akhirnya, karena terpaksa aku mengajaknya ikut denganku HANYA untuk membeli jus yang jaraknya hanya 5 meter.

“Terima kasih…” ucapku setelah aku membeli sebuah jus alpukat, “Gak beli?” tanyaku pada Saori yang berada disebelahku.

“Eh? Baiklah!” jawabnya agak canggung.

Sementara menunggunya membeli jus, aku tersentak saat ada yang memanggil dari belakang…

“Hei Otoha!” panggil seseorang yang sangat membuatku kaget.

“Waa!” kataku sedikit ketakutan lalu menghadap belakang, saat aku lihat kebelakang, aku tak percaya siapa yang aku lihat… “Im’m! Melan!” kataku langsung memeluk mereka.

“Kalian ternyata! Aku kangen banget,” kataku senang dan tersenyum.

“Hahaha… kau kan bilang, hari ini mulai masuk…” canda Im’m.

“Oh, iya! Aku lupa…” kataku baru ingat.

“Kamu masuk kelas 8 apa, Otoha?” tanya Melan penasaran.

“Aku sangat kecewa karena aku masuk kelas 8-2,” jelasku kecewa.

“Kelas 8-2? Padahal aku ingin kita ber-3 sekelas. Tapi nyatanya? Kita sama-sama berbeda kelas! Aku kelas 8-1, Melan kelas 8-3, dan kamu kelas 8-2!” kata Im’m kecewa.

“Hah… aku kecewa sekali. Seandainya kita 1 kelas, aku akan sangat senang!” kata Melan.

“Sama!” jawabku dan Im’m bersamaan.

Tiba-tiba Saori muncul…

“Eh, Saori! Kamu sudah membeli jusnya?” tanyaku pada Saori.

“Iya…,” jawabnya.

“Siapa dia, Otoha?” tiba-tiba saja Melan bertanya.

“Dia adalah saudara tirinya Otoha,” jawab Im’m cepat.

“Darimana kamu tahu, Im’m?” tanya Melan lagi.

“Dia pernah cerita denganku,” jawab Im’m singkat.

“Benar?” sekarang Melan menengok kearahku.

“Eh, itu benar…,” kataku canggung.

“Kok bisa kamu dapat saudara tiri padahal kamu masih tinggal dengan
Oka-sanmu?” Melan semakin penasaran saja.

“Itu karena Oto-sannya menikah dengan Oka-sanku setahun lalu. Lalu minggu lalu, Oka-sanku dan Oto-sannya meninggal gara-gara kecelakaan dan akhirnya aku diajak Otoha kemari dan tinggal disini,” jawab Saori. Tumben dia ngomong. Padahal dari tadi diam terus.

“Waw. Panjang sekali ceritanya. Jadi begitu, maka kalian bisa menjadi saudara.

“Iya,” jawab Saori dan aku.

Tet… tet… tet…

“Bel, nih. Aku kekelas dulu, ya!” pamit Im’m.

“Aku juga mau kekelasku. Duluan, ya…” pamit Melan juga.

Mereka telah pergi, tinggal kami berdua.

“Hoi! Tunggu apa lagi? Yuk, kekelas!” ajakku, dan kamipun kekelas 8-2 bersama.

***

Pulang sekolah…

“Akhirnya kami bertemu…!!” kataku senang entah pada siapa. Saori bingung dengan tingkahku.

“Kamu bahagia sekali, ya. Pasti karena bertemu teman-temanmu itu,” kata Saori.

“Tentu, dong! Senang banget, deh…,” kataku girang.

“Aku iri padamu…,”

“Hah?” aku terlihat bingung dengan apa yang Saori katakan.

“Iri… kamu selalu mempunyai teman. Sementara aku? Aku ini selalu dibenci orang Karena kata mereka sifatku ini sangat menyebalkan,” kata Saori.

“Kamu tidak menyebalkan, kok. Kamu baik sama aku…,” kataku menenangkan.

“Benarkah?” tanyanya memastikan.

“Iya!” jawabku sambil tersenyum, “Kamu memang sedikit menyebalkan. Tapi, kamu terkadang baik sekali denganku dan sangat perhatian,” kataku tersenyum ramah.

“Terima kasih…,” jawabnya senang, “One-chan…,” .

“Hah?” aku kebingungan. Barusan dia bilang aku ‘One-chan’!

“Mulai sekarang aku akan memanggilmu One-chan,” jawabnya, “Ya, kan One-chan?” dia tersenyum ramah.

“Tentu, Saori…,” kataku tersenyum.

***

Dirumah…

“Oka-san! Hari ini makan apa, ya?” tanyaku pada Oka-san. Sekarang telah menunjukkan pukul 15.00 WIB.

“Makan bento,” jawab Oka-san singkat.

“Yei! Bento! Aku sangat suka bento,” kataku gembira, “Kamu juga suka, kan Saori?” .

“Tentu saja,” jawab Saori cepat.

“Baiklah, ini bento kalian, silakan makan!” Oka-san meletakkan dua piring bento dimeja. Tentu saja, kami langsung memakannya dengan lahap.

***

Esoknya…

“Berangkat, ya!” kataku seraya menyalimi tangan Oka-san, begitupun Saori.

“Selamat tinggal!” kataku dan Saori bersamaan.

“Selamat tinggal! Hati-hati, ya!” kata Oka-san. Kami berdua akhirnya berangkat.

****

Sekolah…

Setelah sampai, tiba-tiba saja dari balik jendela disebelahku Im’m dan Melan muncul! Aku sangat kaget.

“Im’m! Melan!” kataku seraya membuka jendela. Mereka tersenyum ramah.

“Kekantin, yuk?” ajak Melan.

“Oke! Aku akan segera keluar,” kataku meninggalkan mereka berdua dari jendela dan aku dan Saori segera menghampiri mereka.

“Yuk, kekantin!” kataku.

“Tapi, aku tak tahu… makanan apa yang enak dimakan saat dikantin. Nanti saja, ya?” pinta Saori memohon.

“Tidak, sekarang saja. Nanti keburu bell,” sergah Im’m.

“Tenang saja, dikantin banyak makanan enak, kok,” kata Melan.

“Baiklah,” jawab Saoti sedikit ragu.

“Bagus!” kata kami bertiga serempak.

***

“Ini nama makanannya apa?” tanya Saori. Dia sekarang memakan makanan khas Indonesia yang diberikan oleh Melan.

“Oh, itu. Namanya nagasari. Enak, ya?” jawab Melan.

“Iya. Enak sekali,” jawab Saori.

“Itu makanan khas Indonesia, loh. Enak sekali nagasari itu, apalagi isinya adalah pisang… um… enak…,” kata Melan dengan lebaynya.

“Hahahaha… dasar lebay!” ejek Im’m. Kami, Mio tertawa bersama-sama dengan gembira. Sementara Saori hanya memperhatikan kami.

Tet… tet… tet…

Bel masuk berbunyi…

“Bel masuk, nih. Masuk kelas, yuk!” ajak Melan.

“Oke!” jawabku dan Im’m serempak.

***

Pulang sekolah…

“Hei One-chan… aku ingin ngomong sesuatu…,” kata Saori sedikit ragu.

“Hm?” aku melihatnya yang agak gugup.

“Boleh, gak…,” katanya, “Aku ikut… um… geng kamu, One-chan?” akhirnya dia berkata. Aku tertegun. Dia mau ikut Mio?

“Eh, soal itu aku tidak tahu… kita diskusikan saja besok dengan anggota Mio yang lainnya. Nanti, jika aku memasukkanmu seenakku, mereka akan marah,” usulku, “Kok tiba-tiba kamu mau bergabung?”

“Tak apa,” jawabnya singkat.

“Ayolah… beri alasan! Kalau tidak, besok tak jadi didiskusikan,” ancamku.

“Simpel, itu karena…,” dia agak berat mengatakannya, “Aku iri! Kamu mempunyai banyak teman… Dari dulu aku selalu kesepian… Aku dari dulu tak punya teman… Jadi, tolonglah aku! Masukkan aku kegengmu!” .

“Aku akan membicarakannya pada Im’m dan Melan, Saori. Kita lihat saja bagaimana respon mereka,” kataku. Dengan berat, ia mengangguk.

“Tenang, Saori. Aku akan mendo’ankanmu agar kamu diterima,” kataku menenangkannya yang terlihat sedikit murung.

“Terima kasih,” jawanya lesu.

***

Setelah 5 menit berjalan, aku dan Saori sampai dirumah.

Dirumahku aku sedang menelfon Im’m tentang Saori yang ingin gabung kegeng Mio.

“Jadi, dia minta gabung kegeng kita?” tanya Im’m memastikan.

“Iya. Jadi, menurutmu sebaiknya bagaimana?” tanyaku.

“Bagaimana, ya…” kata Im’m bingung.

“Aku sih terserah padamu, Im’m. Aku sih inginnya memasukkannya…,” kataku.

“Iya, sama. Cuma… apa Melan setuju?” tanyanya bingung.

“Gak tau juga. Bagaimana jika kamu telefon? Nanti kalau sudah telefon aku,” usulku.

“Baiklah. Sampai jumpa lagi. Selamat tinggal,” pamit Im’m.

“Selamat tinggal,” jawabku.

Akhirnya aku menunggu Im’m menelfon Melan. Tak terasa, 10 menit sudah berlalu.

Drt… drt… drt…

Telefonku berbunyi! Segera saja aku angkat.

“Bagaimana?” tanyaku penasaran.

“Melan menjawab ‘iya’. Itu berarti, Saori diterima!” seru Im’m.

“Syukur, deh! Pasti dia seneng,” kataku.

“Iya, dong. Pasti. Sudah, ya! Selamat tinggal!” pamit Im’m.

“Selamat tinggal!” balasku.

Setelah bicara dengan Im’m melalui telefon, aku keluar kamar. Tepat saat itu aku melihat Saori didepan lemari es sedang minum.

“Hei Saori!” panggilku sambil mengangkat tangan. Saori menoleh dan segera berjalan menuju tempatku.

“Ada apa, One-chan?” tanyanya penasaran.

“Ada berita bagus! Tadi aku telefon Im’m pakai HP, dan aku bicarakan tentang kamu yang ingin bergabung dengan Mio,” kataku senang, “Kami bertiga saling telfon-telfonan. Kata mereka berdua, kamu diterima jadi anggota Mio!” .

“Benarkah, One-chan?! Wah, terima kasih, ya!” jawab Saori senang.

“Iya,” jawabku.

***

Esoknya saat kami sekolah, Im’m dan Melan menemuiku dan Saori.

“Selamat, ya Saori! Sekarang kamu telah menjadi anggota Mio!” kata Melan ramah.

“Semoga kamu bisa ‘enjoy’ di geng Mio,” kata Im’m.

“Iya! Terima kasih, ya mau masukin aku kegeng kalian,” ucap Saori sambil tersenyum.

“Sama-sama!” jawabku, Im’m dan Melan serempak.

“Oh, ya. Aku mau bertanya, jika Saori masuk kegeng kita, gimana kalo namanya dirubah? Bukan ‘Mio’ lagi,” usulku. Mereka terdiam sedang berfikir.

“Memang nama apa yang bagus untuk geng kita?” timpal Melan.

“Kan nama asli kita ‘Mio’, karena ada Saori yang masuk geng kita, bagaimana jika kata ‘Mio’ ditambah dengan ‘S’ yang maksud ‘S’ itu Saori. Setuju?” usul Im’m.

“Lalu, jika ditambah ‘S’ jadinya ‘Mios’, dong! Gak cocok,” komentar Saori.

“Nah, maka dari itu, kata ‘Mios’ itu diberi ide agar namanya menjadi bagus,” kata Im’m. Kami semua berfikir hingga Melan memberi usul.

“Bagaimana kalo ‘Mio’s’?! Maksudku, kata Mio-nya tetap, tapi diberi koma atas dan setelah itu ujungnya diberi ‘S’, bagaimana?” seru Melan.

“Maksudmu?” kami bertiga bingung dan tak maksud dengan apa yang diucapkan Melan.

“Kalo gak maksud ya udah! Nih, tak jelasin lebih detail, bacanya tetep ‘Mio’, tapi tulisannya saja yang beda!” kata Melan menjelaskan.

“Jadi, tulisannya bagaimana?” kini Saori yang bertanya.

“Ada yang punya kertas?” tanya Melan. Im’m menyerahkannya sedikit sobekan kertas dan sebuah pensil.

“Ini. Maaf ya cuma dikit,” Im’m menyerahkan sobekan kertas itu dan pensilnya. Dengan cepat, Melan meraihnya dan menulisakn sesuatu. Setelah kulihat, tulisannya seperti ini; Mio’s.

“Oh, jadi seperti ini yang kau maksud. Bacanya tetep, kan?” kata Im’m mengangguk-angguk.

“Iya! Bagaimana? Kalian setuju, tidak?!” tanya Melan gembira.

“Tentu, dong!” jawabku, Im’m dan Saori serempak.

***

Pulang sekolah…

“Selamat, ya. Kamu diterima di Mio! Eh, maksudku Mio’s!” kataku senang.

“Mereka yang setuju, kok. Itu juga karena kamu setuju, One-chan,” kata Saori.

“Gak juga. Ini adalah persetujuan semuanya!” seruku senang.

“One-chan, kita sudah sampai,” kata Saori memberitahukan aku.

“Eh, Saori… um… bisakah kamu berhenti memanggilku ‘One-chan’?” pintaku.

“Kenapa?” tanyanya heran.

“Itu karena, aku tak terlalu suka dipanggil seperti itu. Rasanya agak aneh,” jawabku terus terang.

“Kau yakin?” katanya memastikan.

“Tentu saja! Panggil aku ‘Otoha’ saja!” jawabku.

“Baiklah kalau begitu, Otoha,” katanya sambil tersenyum.

“Bagus!” pujiku.

***

Kamipun menuju rumah dan bertemu dengan Oka-san. Oka-san menyapa kami.

“Sudah pulang, ya!” sapa Oka-san.

“Ya, Oka-san!” jawabku sambil tesenyum.

“Kamu mandi duluan, Saori,” kataku pada Saori.

“Baiklah, Otoha!” jawabnya tegas.

Dengan segera Saori meninggalkanku. Dia menuju kamar mandi.

“Apa, ya, yang enak dilakukan?” aku bingung harus apa. Tak ada kerjaan yang bisa kukerjakan hari ini.

“Um, baca novel aja ah!” kataku seraya meihat-lihat isi rak buku. Siapa tahu ada sebuah novel disana. Tanpa basa basi, aku buka rak buku tersebut. Aku sama sekali tak menemukan apa-apa kecuali buku pelajaran.

“Kamu lagi apa, Otoha?” tiba-tiba Saori muncul dibelakangku! Aku kaget buka main.

“Jangan ngagetin, dong! Aku kira kamu hantu,” kataku kesal.

“Oh, maaf, ya… kamu lagi apa?” tanyanya penasaran.

“Apa aja boleh!” kataku ketus.

“Huh, dasar. Jangan ketus seperti itu, dong,” katanya sambil cemberut.

“Iya, maaf,” kataku padanya.

“Oke, oke,” jawabnya senang.

“Oh, ya. Kamu keluar dulu, gih. Aku mau pakai baju dulu. Daripada nunggu, lebih baik kamu mandi saja!” nasihat Saori.

“Oke,” jawabku singkat.

***

Esoknya saat kami berangkat sekolah…

“Hei, Otoha! Bener, nih aku diterima digengmu?” tanya Saori memastikan.

“Betul. Kalau gak percaya, tanya saja sama mereka berdua, Im’m dan Melan,” sahutku.

“Ngomong-ngomong, dah sampai, nih…,” kata Saori memberitahu.

“Okay! Yuk, kita kekelas!” sahutku dan kamipun menuju kelas 8-2.

Sampai dikelas, aku dan Saori hanya meletakkan tas dikursi kami. Setelah itu kami pergi keluar kelas untuk bertemu dengan Im’m dan Melan. Saat baru beberapa langkah keluar kelas, kami melihat Melan.

“Hei Melan!” panggilku. dia menoleh, lalu segera menghampiriku dan Saori.

“Hei! Selamat pagi,” sapanya ramah.

“Melan, pagi juga. Ohya, mana si Im’m?” tanyaku penasaran.

“Aku juga sedang mencarinya. Yuk, kita susul Im’m dikelas 8-1,” ajak Melan.

“Yuk!” jawabku dan Saori serempak.

***

Kami akhirnya menemukan Im’m dikelasnya, 8-1. Dan kami berempat sepakat menuju kantin untuk beli sedikit cemilan.

“Aku akan membeli pesanan kalian. Kamu makan mau apa, Saori?” tanyaku saat kami tiba dikantin.

“Kalau kamu?” tanyanya balik.

“Nasi goreng dan jus alpukat,” jawabku singkat.

“Kalau aku um… Mie goreng dan susu kotak saja,” jawanya.

“Kalian, Im’m, Melan?” tanyaku pada mereka berdua.

“Apa, ya… ?” Im’m terlihat kebingungan.

“Aku rujak saja.” jawab Melan, “Ohya. Dengan es teh,” .

“Im’m kamu mau pesan apa?” tanyaku lagi. Dia masih terlihat kebingungan.

“Aku tak terlalu tau makanan di Indonesia, jadi aku bingung,” kata Im’m jujur, “Sebaiknya aku makan apa menurut kalian?” .

“Kamu mau, gak aku usulin? Kamu makan siomay dan pudding,” usul Melan. Im’m terlihat berfikir sejenak dan akhirnya dia menjawab;

“Baiklah!” jawab Im’m.

Aku hendak berbalik untuk membelikan pesanan mereka. Tapi langkahku terhenti.

“Ohya. Aku gak traktir, loh… Sini uangnya!” tegurku pada mereka. Mereka tertegun. Lantas mengambil uang dari saku masing-masing, dengan wajah sebal.

“Dasar!” celetuk mereka dengan kesal. Aku hanya tersenyum jahil.

***

Setelah makan dikantin…

“Hm… Kenyang! Ternyata enak sekali makanan usulanmu, Melan! Terima kasih, ya,” kata Im’m sambil menengok Melan.

“Iya… Sama-sama,” jawab Melan singkat.

Tet… tet… tet…

Bel masuk berbunyi.

“Bye, ya semua… aku kekelasku dulu,” kata Melan. Dia segera berlari menuju kelasnya, kelas 8-3.

“Aku juga!” sahut Im’m. dia juga berlari menuju kelasnya.

“Yuk, kekelas,” ajaku pada Saori. Dia mengangguk.

Kami menuju kelas bersama-sama. Setelah kami mau sampai dikelas kami, kami melihat bu Anatia.

“Wah, cepetan! Nanti telat. Kena marah pasti!” seru Saori. Dia berlari meninggalkanku. Mau tidak mau aku berlari menyusul Saori untuk sampai dikelas 8-2.

***

Saat dirumah setelah pulang sekolah aku sedang membaca buku didepan TV. Tiba-tiba Saori muncul dibelakangku. Aku terkejut ketika melihatnya. Itu karena matanya merah seperti hendak menangis!

“Hei! Kamu kenapa?” tanyaku terkejut. Dia masih tetap menangis yang membuatku tembah panasaran…

“Otoha… aku… aku… harus kembali ke Jepang… lusa,” katanya sedih.

“Hah?!” seruku tak percaya, “Kenapa?!” .

“Oji-sanku… Dia menyuruhku kembali ke Jepang! Dia bilang, kalau aku terus disini akan merepotkan Oka-sanmu,” cerita Saori.

“Lalu, kamu benar-benar serius mau ke Jepang lusa?!” tanyaku memastikan.

“Iya, Otoha. Bukannya lusa itu hari minggu?” jawab Saori.

“Iya, benar… Ini kan hari jum’at…,” kataku.

“Besok kita terakhir kalinya bertemu, Otoha.” kata Saori menundukkan kepalanya. Aku sungguh sedih mendengarkan berita ini. Sangat…

Esoknya, dikelasku kami akan memberi ucapan selamat jalan pada Saori yang akan kembali ke Jepang besok. Aku sungguh sedih…

“Terima kasih, semuanya karena telah membantuku selama disekolah ini. Besok kita tidak akan bertemu lagi,” salam Saori sambil membungkuk.

“Selamat tinggal, ya nak… Ibu do’akan semoga kamu selamat pada perjalanan nanti,” kata bu Anatia sedikit sedih.

“Iya, bu…,” jawab Saori sambil tersenyum pahit.

Secara bergantian anak-anak bersalaman dengan Saori tanda perpisahan…

“Selamat jalan, Saori! Kita tak akan bertemu lagi… Aku sangat sedih,” kataku setelah girilanku bersalaman dengan Saori.

“Tidak, Otoha. Kita pasti bertemu lagi,” kata Saori menenangkan, “Kita kan saudara…,” .

“Kamu benar,” kataku sambil tersenyum pahit.

***

Saat ini kami Mio’s sedang berada dirumahnya Melan setelah pulang sekolah. Kami ingin memberitahukan informasi tentang Saori.

“Kamu akan kembali ke Jepang?!” Im’m beseta Melan terlihat kaget dengan apa yang kami informasikan tentang Saori. Saori mengangguk berat.

“Wah… gawat, nih. Mio’s jadi gak utuh lagi,” kata Im’m kecewa.

“Tapi, Im’m, walau pisah kita ber-4 tetap teman, kan?” tanya Melan. Saori mengangguk.

“Saori, kami pasti akan kesepian tanpamu. Selamat jalan, Saori. Aku janji, besok pasti aku akan kerumah kalian untuk mengatakan selamat jalan untukmu. Kita akan berpisah selamanya.” kata Im’m sedih setelah mendengar informasi tentang Saori.

“Iya, aku juga akan ikut.” kata Melan.

“Terima kasih, ya semua… janji, loh besok kerumah Otoha,” jawab Saori.

“Tentu!” jawab Im’m dan Melan bersama-sama.

***

Esoknya…

“Mana, sih Melan dan Im’m? kata mereka, mereka akan kesini, tapi mereka gak datang-datang!” kataku. padahal sebentar lagi Saori akan berangkat menuju Jepang. Sekarang kami berada dirumahku.

“Biarlah… jika mereka tak datang juga tak apa-apa,” kata Saori kecewa.

“Saori…,” kataku sedih. Aku merasa kasihan sama dia.

“Kalau begitu, naiklah ke mobil. Cepatlah. Kalau mereka benar-benar tak datang, nanti akan kutelfon mereka,” kataku. Dia mengangguk walaupun sedikit kecewa.

Saat Saori menaiki mobil dan menutup pintu mobilnya, tiba-tiba…

“Tunggu!” tiba-tiba saja Im’m dan Melan muncul sambil berlari. Sontak, aku sangat kaget.

“Melan, Im’m?!” kataku dan Saori kaget.

“Mereka… Menyusul?” kata Saori tak percaya.

“Saori! Jangan pergi dulu, kami ingin mengucapkan sesuatu!” teriak Melan setelah mereka berdua sampai didepan kaca mobil tempat Saori duduk dalam mobil. Saori membuka kaca mobil agar bisa mendengar apa yang akan Melan dan Im’m katakan.

“Selamat tinggal, Saori! Walau kamu pergi, persahabatan kita tetap utuh!” kata Im’m.

“Iya! Kita semua masih Mio’s best friends!” timpal Melan.

“Iya, teman-teman. Aku pasti masih ingat kalian… terima kasih…, selamat tinggal!” Saori menangis terharu… dengan saat bersamaan itulah, mobil yang dinaikinya melaju…

“Selamat tinggal!” kataku, Melan dan Im’m bersamaan.

“Ya… Selamat tinggal…! Mio’s best friends!” teriak Saori sambil melambaikan tangan didalam mobil…

Selamat tinggal, Saori. Aku akan selalu mengingatmu. Kamu adalah saudara sekaligus teman yang sangat baik. Walau kadang aku selalu dibuat kesal olehmu. Aku yakin suatu hari nanti pasti kita bertemu… Pasti!

***

1 tahun berlalu, saat aku kelas 9…

“Apa?! Teokbokkinya kamu habisin?!” kataku kesal sama Melan karena menghabiskan teokbokki yang diberikan Im’m untuk dimakan bersama dirumahnya. Padahal, aku sudah lapar karena dari tadi bermain terus dirumah Im’m bersama mereka!

“Hehe… Soalnya enak, sih!” kata Melan nyengir dan tanpa dosa.

“Jahat, deh! Kan aku minta disisain pas aku ketoilet, kok dihabisin!” kataku sambil cemberut.

“Sudahlah, masih ada di dapurku. Masih banyak, kok!” kata Im’m menenangkan. Dia hendak mengambil teokbokki didapurnya.

“Wah… Kayaknya enak, aku juga mau, dong!” mendengar suara itu, langkah Im’m terhenti. Melan langsung tersedak teokbokki yang sedang ia makan. Sementara aku… Menatapnya dengan wajah berseri-seri… Dia…

“SAORI!!” dengan bahagia, aku memeluknya yang berada diambang pintu.

~ END ~

Cerpen Karangan: Nisrina Delia Rosa
Facebook: Nisrina Delia Rosa

Cerpen My Destiny (Last Part) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Februari, Dia dan Surat Cinta Itu

Oleh:
Semilir angin di bulan Februari memang terasa berbeda. Sejuknya membawa aroma tersendiri yang begitu khas dengan kesan cinta. Mengapa? Tentu saja karena hari valentine. Walau aku adalah salah satu

Bukan Harta Penggantinya

Oleh:
“Cepat bangun den waktunya sekolah.” Teriakan Bi Imah memecah mimpi Viro. “Aaaahhh berisik banget sih bi nggak cape apa teriak-teriak setiap pagi?!” Viro yang merasa kesal membuang selimutnya ke

Cinta Sahabatku

Oleh:
Mungkin aku tak pernah sadar jika ia telah melepaskan aku, aku tidak berhak lagi untuk memilikinya. Mungkin aku adalah orang yang paling gila di dunia ini, aku dengan berani

Ruang Tunggu Terminal

Oleh:
Terik matahari semakin menyengat kulit, hari ini entah mengapa Kota Makassar begitu panas. Suatu keanehan di bulan Desember yang biasanya langit Kota Makassr akan mendung kelabu. Sejenak sebuah Mobil

Alunan Gitar Kenangan

Oleh:
Di pagi hari yang cerah, dan sinar matahari yang mulai masuk ke celah-celah jendela kamarku. Aku pun terbangun karena cahaya itu. Dan tepat sekali orang yang tidak lain adalah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *