My Destiny (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Jepang, Cerpen Keluarga, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 8 April 2013

“Oka-san (ibu), Oto-san (ayah)… Aku berangkat, ya…!” kataku seraya menyalimi tangan Oka-san dan Oto-san bergantian.

“Hati-hati, Otoha. Jangan tersesat, ya! Kamu ‘kan belum terlalu hafal jalan disini,” kata Oka-san menasihatiku.

Ya, memang betul. Aku baru beberapa minggu lalu ke Indonesia. Asalku dari Jepang. Dulu, waktu SD aku sekolah di Jepang. Setelah kelulusan SD, aku pindah ke Indonesia bersama keluargaku. Kami ke Indonesia karena pekerjaan Oto-sanku. Namaku Otoha yamada, kelas 1 SMP. Dan masuk kelas 7-1.

***
Sekolah…

“Pagi, Melan!” sapaku pada Melan, teman baik dan sebangkuku. Melan anak pintar dan baik. Rambutnya panjang terurus dan selalu dijepit.

“Pagi juga, Otoha! Kau sudah mengerjakan PR Matematika?” tanyanya.

“Sudah, dong! Kamu?” tanyaku balik.

“Tentu saja, sudah!” jawabnya.

“Iya, tentu saja, kamu ‘kan jago MTK,” pujiku. Dia hanya tersenyum.

Tet.. tet… tet…

“Huuft… Bel saatnya masuk, Otoha,” ajak Melan sambil menjulurkan tangannya padaku.

“Oke,” jawabku dan menerima uluran tangannya. Kamipun pergi keluar kelas untuk baris.

***
Masuk kelas…
“Selamat pagi,” sapa Bu Selvia memasuki kelas. Bu Selvia adalah wali kelasku, 7-1!

“Selamat pagi juga, Bu!” jawab semua anak dikelasku serempak.

“Hari ini kita kedatangan murid baru,” kata Bu Selvia. Lalu seorang anak perempuan berkuncit dua memasuki kelas.

“Silakan memperkenalkan diri,” kata bu Selvia. Anak baru itu maju kedepan.

“Nama saya Im’m Joong Hee. Saya dari Seoul, Korea Selatan,” jelasnya. Waah… Negara Korea selatan ‘kan dekat dengan Jepang, negaraku dulu!

“Im’m, kamu duduk di bangku keempat yang ujung itu, ya,” kata Bu Selvia ramah. Im’m mengangguk. Tau, gak? Bangku yang ditunjuk Bu Selvia adalah bangku yang berada di belakang bangkuku! Jadi, aku bisa berbicara dengannya!

“Hai! Namaku Otoha Yamada! Aku berasal dari Jepang. diSD dulu aku di Jepang, setelah SMP aku ke Indonesia!” sapaku padanya dengan ramah.

“Senang berkenalan denganmu, Otoha!” jawabnya ramah.

“Wah… Kamu hebat langsung bisa mengerti bahasa Indonesia dengan cepat!” pujiku padanya.

“Aku di Korea les tentang bahasa-bahasa didunia termasuk bahasa Indonesia,” jawabnya.

“Waaah… Hebat!” puji Melan. Im’m tersenyum.

“Terima kasih… ” jawabnya.

“Hei! Istirahat kita bertiga bareng, yuk,” ajak Melan. Tanpa ia sadari dibelakangnya Bu Selvia memperhatikannya. Kebetulan saat itu Melan melihatku ketawa.

“Ada apa, sih?” Melan berbalik, dilihatnya Bu Selvia didepannya!

“Eh…” Melan terlihat kebingungan dan salting. Untunglah, Bu Selvia langsung berbalik tak memperdulikan si Melan.

“Fyuuuh…” Melan bernafas lega. Lalu dia melotot padaku.

“Kamu ini! Kalau kayak tadi kasih tau aku, dong!” katanya marah setengah berbisik padaku.

“Iya, iya…” kataku masih saja tertawa. Dia berbalik menghadap papan tulis sambil memasang wajah kesal. Sepertinya dia ngambek sama aku… Hihihi…

***

Tet… tet… tet…

“HORE!” teriak anak-anak kegirangan karena sekarang waktunya istirahat! Aku, Melan dan tentunya, Im’m, keluar kelas.

“Im’m, Otoha! Kita kekantin, yuk?” ajak Melan pada kami berdua.

“Ya, ayo!” jawabku. aku menggemgam tangan Im’m untuk mengajaknya kekantin.

Kamipun kekantin bersama-sama.

“Im’m, ini kantin sekolah kami!” kata Melan memperkenalkan kantin sekolah kami pada Im’m. Im’m hanya tersenyum.

“Apakah disini ada teokbokki (kue beras khas Korea)?” tanya Im’m.

“Teokbokki?” tanyaku dan Melan heran.

“Eh… Itu jajanan khas Korea. Aku dulu sering membelinya di Korea,” jawab Im’m.

“Oh, begitu! Di Jepang juga ada, namanya Taiyaki (kue bentuk ikan khas Jepang)! Enak banget kue itu, isinya coklat, kacang hijau dan lain-lain. Aku suka kue itu!” kataku.

“Aku sih, sukanya onde-onde, makanan khas Indonesia itu!” kata Melan.

“Ternyata dari Negara yang berbeda-beda, makanan kesukaannya juga berbeda ya!” kataku.

“Iya, Otoha. Kamu betul,” jawab Im’m.

“Kita pesan makanan dulu, yuk!” ajak Melan pada aku dan Im’m.

“Oke!” sahutku dan Im’m serempak.

***

Rumahku, setelah pulang sekolah…

“Tadaima (aku pulang)!” kataku sambil memasuki rumah.

“Otoha! Kamu sudah pulang rupannya,” kata Oka-san.

“Oka-san, disekolah aku ada teman baru, loh!” kataku mengabari Oka-san.

“Oh ya? Dia dari mana?” tanya Oka-san penasaran.

“Dia dari Korea Selatan, Oka-san! Namanya Im’m Joong Hee!” seruku.

“Oh, lalu, kamu mau jadi temannya?” tanya Oka-san.

“Iya, dong Oka-san,” jawabku.

“Baguslah,” kata Oka-san, Oka-san kembali kedapur, sementara aku kekamarku untuk berganti baju dan meletakkan tas.

“Huuft…” aku menghela nafas, tak ada kerjaan dirumah. Paing-paling cuma nonton TV. Kulirik jam, sudah jam 5 sore.

“Otoha, kamu mau makan taiyaki, tidak? Tadi Oto-san membawa taiyaki,” kata Oka-san tiba-tiba.

“Benar, Oka-san? Aku mau, dong!” jawabku.

“Ayo, kita kedapur!” ajak Oka-san.

“Asyik!” kataku girang. Aku mengikuti Oka-san kedapur rumahku.

Didapur, aku melihat Oto-san. Ia memegang satu dus besar berisi kue taiyaki!

“Otaha, kita dapat paket satu dus taiyaki dari Oba-san (nenek) di Jepang, dia yang membuat, loh!” kata Oto-san.

“Dari Oba-san?! Oba-san baik sekali!” tanpa basa-basi, aku membuka dus itu. Isinya kue taiyaki yang kusuka! Aku langsung saja mengambil sebuah kue taiyaki, alu memakannya.

“Enak!” seruku.

“Iyalah. Kan buatannya Oba-san,” jawab Oto-san.

“Enak sekali. Aku suka rasa coklat. Oto-san, Oka-san, bolehkah aku membawanya kesekolah besok?” pintaku.

“Ya,” jawab Oto-san singkat.

Aku membawa taiyaki dari Oba-san kemarin dalam kotak bekalku. Aku akan membagikannya pada Im’m agar ia tahu makanan khas Jepang. Melan juga dibagi, kok.

***

“Pagi, Melan!” sapaku pada Melan yang sedang memaca buku.

“Pagi juga, Otoha. Apa sih yang kamu bawa?” tanyanya saat melihatku membawa kotak bekal berisi taiyaki.

“Taiyaki!” jawabku cepat.

“Taiyaki? Oh, makanan khas jepang yang kamu ceritakan kemarin, ya?” tanya Melan.

“Iya,” jawabku.

“Pagi…” tiba-tiba sebuah suara mengagetkanku.

“Im’m!” seruku bersamaan dengan Melan.

“Pagi Melan, Otoha. Ngomong-ngomong, apa yang kamu bawa, Otoha?” tanya Im’m penasaran.

“Ini taiyaki, Im’m! makanan khas Jepang yang kuceritakan kemarin,” jawabku.

“Oh! Taiyaki? Bolehkah aku meminta satu buah?” pinta Im’m. Aku mengangguk dan membuka kotak bekalku. Ia langsung mengambil sebuah kue taiyaki.

“Aku juga, dong… Boleh, gak?” pinta Melan. Aku mengangguk. Dia mengambil sebuah.

“Makanlah! Dalamnya isi coklat,” kataku. Aku juga langsung mengambil sebuah dan memakannya.

“Wah… Aku sangat suka coklat,” kata Melan dan ia langsung menghabisakannya.

“Aku juga,” kata Im’m.

“Oba-san yang membuatnya. Eh, Oba-san itu nenek. Itu bahasa Jepangnya,” kataku.

“Oh, begitu,” Im’m melanjutkan makannya. Kamipun makan bersama. Aku melihat Im’m memakan taiyaki dengan lahap. Dia sudah mengambil 3 buah taiyaki. Sementara Melan baru 2 buah.

“Enak sekali,” kata Im’m kagum.

“Itu bikinan Oba-sanku. Enakkan?” kataku senang.

“Sangat, Otoha!” jawab Im’m.

“Aku juga, sangat enak taiyaki buatan Oba-sanmu,” puji Melan.

“Kalau begitu, kalian boleh ambil 1 lagi,” kataku, mereka tersenyum senang.

“Terima kasih, Otoha!” kata mereka senang.

***

Tet… tet… tet…

Bel masuk kelas berbunyi menandakan anak-anak harus segera kekelas masing-masing untuk belajar.

“Selamat pagi,” Bu Selvia memasuki kelas.

“Selamat pagi, Bu!” jawab kami serempak.

“Anak-anak, hari ini kita akan mengadakan lomba,” kata Bu Selvia.

“Lomba apa, bu?” tanya anak-anak penasaran.

“Yah, macam-macam, lah…” jawab Bu Selvia singkat, “Ada lomba menyanyi, baca dan tulis puisi, cerdas cermat, mewarnai, seni budaya, menari… bla… bla… bla…” jelas Bu Selvia panjang lebar.

“Bu, saya ikut lomba baca dan tulis puisi!” , “Bu saya ikut lomba mewarnai!” , “Bu saya ikut lomba menyanyi!” kata beberapa anak.

“Begini anak-anak, kalau mau mendaftar, kalian ngomong saja sama Syifa,” kata Bu Selvia. Syifa itu ketua kelas dikelasku.

Dengan serentak anak-anak segera berlari menuju ke Syifa untuk mendaftar.

“Kamu ingin ikut lomba apa, Otoha?” tanya Melan setelah menepuk pundakku.

“Hm… Aku tak tahu. Tapi… Sepertinya aku ingin mengikuti lomba cerdas cermat,” jawabku agak ragu.

“Kalau gitu, aku ingin ikut lomba cerdas cermat juga, deh,” jawab Melan.

“Ngomong-ngomong mana si Im’m?” tanyaku.

“Dia lagi mendaftar,” jawab Melan.

“Memang dia mau ikut lamba apa?” tanyaku.

“Katanya sih lomba cerdas cermat,” jawab melan.

“Wah, sama, dong! Kita daftar juga, yuk,” ajakku.

“Oke!” jawab Melan cepat.

***

“Wah… Kamu mau mengikuti lomba cerdas cermat, ya Im’m?” tanyaku pada Im’m.

“Iya. Aku di Korea juga sangat suka lomba ini. Jadi, aku mengikuti lomba ini!” jawab Im’m.

“Kalau aku sih juga ikut lomba cerdas cermat juga. Kalau Melan sih ikut lomba sama juga,” kata Melan.

“Benar nih, Otoha, Melan kalau kalian ikut lomba cedas cermat?” Im’m memastikan.

“Iya,” jawabku dan Melan bersamaan.

“Wah, kita sama-sama, dong. Aku ingin kita semua memenangkan lomba itu,”

“Aku sih, juga pingin,” jawabku. Im’m tersenyum simpul.

“Yah… semoga saja dapat memenangkannya. Ini agar sekolah kita dapat memenang kan lomba ini antar SD, maka akan jadi kebanggaan,” jelas Im’m.

“Betul,” kata Melan.

“Aku mau beli juice dulu, ya… kalian tunggu disini,” kata Im’m. lalu ia segera menuju kekantin meninggalkan aku dan Melan berdua.

“Kamu pernah dapet juara 1, gak?” tanya Melan memastikan.

“Eh… Pernah, sekali… ” jawabku.

“Oh, berarti kamu pintar, dong! Pasti kamu yang menang dalam lomba cerdas cermat!” pujinya.

“Tidak, kok. Masih anyak orang yang lebih pintar dariku,” kataku.

“Gimana, ya caranya memenangkan lomba itu?” tanyanya penasaran.

“Begini saja, harus belajar lebih giat lagi agar dapat juara 1. Hm… apa benar, akan berlomba antar sekolah kalau memenangkan lomba antar kelas?” tanyaku.

“Katanya sih, iya…” jawab Melan.

“Hai, semua… aku sudah kembali,” tiba-tiba datang Im’m.

“Kamu sudah beli jusnya?” ” tanya Melan singkat.

“Ya,” jawab Im’m.

Tet… tet… tet…

Bel masuk berbunyi.

“Yuk, masuk kelas!” ajakku pada Melan dan Im’m.

Kamipun bersama-sama menuju kelas kami.

***

“Selamat siang!” kata Bu Selvia memasuki kelas.

“Selamat siang juga, Bu!” jawab para murid kelas 7-1 serempak.

“Bagaimana? Banyak yang ikut lomba, Syifa?” tanya Bu Selvia pada Syifa.

“Iya, bu. Ada 15 anak dari 30 anak,” jawab Syifa.

“Oh, cuma setengahnya, ya,” kata Bu Selvia, “Yang ikut tunjuk tangan,” suruh Bu Selvia. Setelah dilihatnya, ada 15 orang yang menunjuk.

“Ya, pas. Siapa-siapa saja yang ikut lomba baca dan tulis puisi?” tanya Bu Selvia. 7 orang mengangkat tangan.

“7 anak. Yang mengikuti lomba menyanyi?” tanya Bu Selvia. 5 orang mengangkat tangan.

“5 orang. Lalu, yang 3 orang ikut apa?” tanya Bu Selvia.

“Lomba cerdas cermat, bu,” jawab aku, Melan dan Im’m serempak.

“Ya. Bagusah. Apa ada yang mau mengikuti lomba lagi?” tanya Bu Selvia.

“Tidak, Bu… !” jawab anak-anak serempak.

“Baiklah, kita lanjutkan pelajaran kita saat ini,” kata Bu Selvia sambil membuka buku matematika. Ah… ! pelajaran ini. Aku benci pelajaran ini!

***

Pulang sekolah…

“Dah… ” kataku sambil melambaikan tangan pada Melan. Aku dan Melan rumahnya searah. Tapi lebih dekat rumahnya daripada rumahku.

Dirumahku…

“Oto-san, Oka-san… ” kataku sambil memasuki rumah.

“Ah, Otoha. Sudah pulang… ” kata Oka-san. Aku yang bingung dengan Oka-san ini adalah, wajah dan matanya merah seperti habis menangis. Rambutnya juga berantakan.

“Oka-san sakit, ya?” tanyaku sedikit penasaran. Karena pertanyaanku tadi, Oka-san sedikit kaget. Seperti kebingungan harus jawab apa.

“Oka-san tak papa, Otoha. Lebih baik kamu salin baju dulu, sana…” suruh Oka-san. Yang paling aneh, Oka-san menjawabnya dengan nada kebingungan.

“Oka-san yakin tak papa? Barangkali sakit,” kataku yang membuatnya tambah gugup. Aneh.

“Sudah Oka-san bilang, Oka-san tak papa. Kamu salinlah dulu,” suruh Oka-san.

“Baiklah!” kataku. Aku masuk dan langsung pergi kekamar.

PRANG… !! Suara piring pecah! Aku kaget sekali. Dengan cepat-cepat aku pakai bajuku dan segera kesumber suara.

Setelah tahu sumber suara, aku kaget sekali. Aku lihat Oka-san menangis terduduk disebelahnya ada piring pecah!

Yang lebih terkejut lagi, didepan Oka-san ada Oto-san yang menendang dan memaki-maki Oka-san! Jahat sekali!

“Oto-san, jangan!!” teriakku lalu memeluk Oka-san yang tadi ditendang-tendang. Oto-san yang melihat itu langsung marah besar.

Oto-san segera saja pergi meninggalkan aku dan Oka-san berdua. Kulihat Oka-san yang menangis terisak-isak. Akupun juga begitu…

Kenapa Oto-san jahat sekali?

***

Pagi harinya…

Aku tak sanggup bertatap muka lagi pada Oto-san dan Oka-san. Hari ini mereka bertengkar, dan aku tak tahu apa yang menyebabkan mereka bertengkar. Gara-gara pertengkaran itu Oka-san sampai tidur berdua denganku. Sementara Oto-san tidur dikamar mereka.

Aku bangun pagi sebelum Oka-san. Padahal sudah jam 6 pagi, Oka-san belum juga bangun. Karena itu, selesai aku mandi, aku makan sarapan sendiri tanpa mereka. Aku berangkat kesekolah tanpa diantar Oto-san.

Sampai disekolah…

“Pagi, Otoha! Kok hari ini lemes?” sapa Melan.

“Aku…” rasanya aku ingin menangis mengingat kejadian kemarin.

“Otoha…” Melan sepertinya terkejut denganku.

“Oka-san… Oto-san…” kataku setengah menangis. Melan terlihat bingung.

“Kemarin… ” kuceritakan semua yang terjadi padaku kemarin. Melan merasa kasihan padaku. Dia duduk mendekat denganku dan berkata;

“Sabar, Otoha. Aku yakin pasti orang tuamu takkan sampai bercerai…” hibur Melan.

“Bukan itu yang aku takuti, tapi jika bercerai nanti akan mereka akan pisah dan aku harus ikut siapa… ?!” kataku menyeka air mata.

“Pagi Melan, Otoha!” sapa seseorang yang membuat kami terkejut.

“Im’m!” seru kami berdua saat melihat Im’m didepan kami.

“Cerita apa, sih?” tanyanya.

Tet… tet… tet…

Tak sempat aku menjawab, bell sudah berbunyi.

“Nanti saja, ya. Istirahat nanti,” kataku.

“Jangan lupa, loh!” peringat Im’m.

“Iya, tenang saja! Cepetan! Bu Selvia sudah masuk, tuh,” sahutku.
Anak-anak segera duduk dibangku masing-masing.

***

Kantin sekolah…

“Hm… begitu, ya,” kata Im’m menganggu-aguk setelah mendengar semua yang kuceritankan padanya.

“Aku ingin masalah diantara mereka cepat selesai… aku takut Oka-san dan Oto-san akan bercerai,” kataku pasrah.

“Mana mungkin ayah dan ibumu akan bercerai. Lagi pula, mungkin itu masalah mereka masalah kecil,” celetuk Melan.

“Kalau masalah kecil, tak mungkin Oka-san sampai menangis dan Oto-san menendang-nendang dan memaki-maki Oka-san,” kataku.

“… ” hening… sepertinya kataku tadi membuat mereka terdiam.

“Hm… kamu tak perlu sedih, Otoha… aku yakin, Oka-san dan Oto-sanmu takkan bercerai!” hibur Im’m.

“Ya, aku juga mendukung!” timpal Melan.

“Terima kasih Melan, Im’m,” kataku tersenyum.

“Aku punya ide,” kata Im’m tiba-tiba. Ia tersenyum senang sekali.

“Apa?” tanyaku dan Melan penasaran.

“Karena hari ini Otoha sedang sedih, aku akan membuatnya ceria lagi dengan 1 hal,” katanya Im’m dengan tersenyum, “Kita buat geng, yuk!” ajaknya dengan senang. Seketika aku langsung gembira.

“Wah… ide bagus! Kita ber-3 akan bikin geng,” kataku semangat.

“Tuhkan, bener kalau Otoha akan gembira. Ngomong-ngomong apa nama geng kita, nih?” tanya Im’m.

“Hm… singkatan nama kita saja,” usul Melan semangat.

“Campuran nama-nama dari Melan, Im’m dan Otoha, ya…” kataku berfikir-fikir. Apa, ya?

“Ah… !” seru Im’m bersemangat. Aku dan Melan bingung dengan tingkah Im’m.

“Aku tau… ! Bagaimana kalau Mio geng? Setuju, gak?” tanya Im’m dengan bersemangat.

“Mio?” tanyaku dan Melan penasaran.

“M=Melan, I=Im’m, dan O=Otoha!” jelas Im’m.

“Wah… ide yang bagus! Aku sangat setuju,” kata Melan gembira.

“Aku juga sangat setuju dengan usulmu, Im’m!” timpalku.

“Baiklah, sudah ditetapkan bahwa geng kita bernama Mio!” kata Im’m.

“Ya!” kataku dan Melan serempak.

Tet… tet… tet…

“Ayo, Mio! Kita kekelas… let’s go!” kata Im’m. Kamipun bersama menuju kelas.

***

Pulang sekolah…

“Dah, Mel…” kataku melambaikan tanganku pada Melan. Seperti biasa, kami pulang berdua.

“Ya, Otoha. Sampai jumpa besok,” kata Melan sambil membalas lambaianku.

Akhirnya aku jalan sendiri menyusuri rumah-rumah. Sampai dirumah, aku tak mengetuk pintu. Aku langsung masuk saja.

“Tadaima,” kataku dengan suara pelan dan lesu. Aku tahu pasti Oka-san Oto-san sedang bertengkar.

Dengan segera saja aku kekamarku. Mengunci pintunya agar siapapun tak masuk kamarku.

“Hm… Oka-san, Oto-san… kalian lagi tak bertengkar, kan?” gumamku menerawang menatap pintu.

Setelah beberapa saat, akhrinya aku tertidur dikasur kamarku…

***

Tok… tok… tok…

Suara ketukan pintu membuatku harus bangun dari tidurku. Dengan malas, aku buka pintu yang tadi aku kunci.

Oka-san…

“Hai, Otoha. Kok kamu tadi pagi langsung pergi tanpa pamit?” tanya Oka-san.

“Tidak apa-apa, Oka-san,” jawabku agak gugup.

“Oh, begitu. Kita ber-3 makan malam, yuk?” ajak Oka-san ramah.

“Iya…” jawabku agak ragu. Pasti bersama Oto-san. Apa mereka tak bertengkar, ya?

***

Dapur…

“Duduklah, Otoha,” kata Oka-san. Aku menurutinya. Aku duduk tepat didepan Oka-san sementara Oto-san ada disebelahku.

Kami makan ber-3 dengan keadaan hening tak ada yang berbicara sedikitpun.

“Bagaimana sekolahmu, Otoha?” tanya Oto-san yang membuatku kaget.

“Eh… baik-baik saja, Oto-san!” jawabku agak linglung.

“Oh, begitu,” jawab Oto-san sambil tetap melanjutkan makannya.

“Aku sudah selesai makannya… bolehkah aku kekamar untuk mengerjakan PR?” izinku pada Oto-san dan Oka-san.

“Ya,” jawab mereka serempak.

Aku berlari kekamar. Sebenarnya aku berbohong, aku bukannya mau mengerjakan PR, tapi… Tahu sendiri, kan?

***

Paginya…

Seperti kemarin malam, Oka-san tetap tidur berdua denganku. Setelah selesai mandi dan memakai baju, kubangunkan Oka-san.

“Oka-san… aku berangkat, ya?” izinku sambil tetap membangunkan Oka-san.

“Kamu mau berangkat, Otoha? Tidak sarapan dulu?” tanyanya Oka-san, Oka-san masih seperti mengantuk.

“Tidak, Oka-san. Aku sarapan disekolah saja,” tolakku pelan.

“Baiklah, Otoha. Hati-hati, ya…” kata Oka-san. Aku salami tangannya.

“Dah…” kulambaikan tanganku. Akupun berangkat kesekolah…
Sekolah…

“Selamat pagi, Melan!” sapaku pada Melan.

“Pagi juga, Otoha!” sapanya kembali.

“Bagaimana… ?” ucapan Melan terasa berat. Aku tahu apa maksudnya.

“Tidak, mereka tidak bertengkar, hanya belum baikan…” jawabku.

“Nanti lombanya, kan?” kata Melan.

“Benarkah? Wah, asyik!” kataku gembira.

“Hm… nanti hanya 1 anak mewakili kelas, ya… ?” kata Melan agak bingung.

“Sepertinya…” jawabku singkat.

Lalu, Im’m muncul…

“Pagi, Im’m!” sapa Melan yang kebetulan melihatnya kekelas. Aku berbalik, kulihat Im’m dengan wajah cerianya.

“Oh, Im’m! Selamat pagi,” sapaku.

“Pagi juga, Mio…” katanya agak cengengesan.

“Iya, ya… hehehe…” kataku tertawa kecil.

“Oya, hari ini lombanya, kan! Semoga saja kita semua menang,” harap Im’m.

“Bukannya hanya satu orang yang memenangkannya?” tanya Melan.

Tet… tet… tet…

“Masuk, deh…” kata Im’m lesu.

“Tak apa-apa. Nanti kan lomba! Pasti seru!” seru Melan.

“Iya, ya!” kataku dan Im’m bersemangat.

Bu Selvia memasuki kelas! Kamipun segera kembali ketempat duduk masing-masing.

“Selamat pagi,” kata Bu Selvia memasuki kelas.

“Selamat pagi, Bu!” jawab anak-anak serempak.

“Hari ini, lomba akan diadakan! Semua yang ikut sudah siap?” tanya Bu Selvia.

“Siap, Bu…” jawab anak-anak.

Bu Selvia mengetes semua anak-anak yang mengikuti lomba. Diambil satu orang anak pemenang disetiap lomba untuk mengikuti lomba antar kelas.

Selesai sudah pemilihan wakil dari kelasku. Bu Selvia mengumumkannya.

“Lomba baca dan tulis puisi dimenangkan oleh… Syifa!” kata Bu Selvia. Semua anak bertepuk tangan.

“Lomba menyanyi dimenangkan oleh… Aldis!” seru Bu Selvia. Semua anak kembali betepuk tangan.

“Lomba cerdas cermat… Otoha!” seru Bu Sevia. Aku terkejut. Benarkah aku yang memenangkan lomba ini?

“Harap maju kedepan…” pinta Bu Selvia. Aku, Syifa dan Aldis maju kedepan kelas. Aku tak percaya, apakah ini benar kenyataan?

“Kalian bertiga akan mewakili kelas kita. Jadi, ikuti lomba itu sebaiknya!” nasihat Bu Selvia.

“Ya…” jawab kami bertiga.

Asyik… Aku akan mengikuti lomba… semoga saja aku menang!

“Oh, ya. Jangan lupa, ya. Kalian harus belajar,” nasihat Bu Selvia, “Jika tidak, maka kalian tak akan menang dalam lomba antar kelas nanti,” pesan Bu Selvia, kami mengangguk dengan mantap.

~ Bersambung ~

Cerpen Karangan: Nisrina Delia Rosa
Facebook: Nisrina Delia Rosa

Maaffin aku, yah! Bukannya ngelanjutin “With or Without Mother?” malah ngirim novel ini… Ini novel lamaku yang aku buat asal-asalan, hasilnya novel tulisan time words office ukuran 12 dengan 60 halaman kertas hvs ukuran A4. Karena panjang, aku bagi jadi 4 chapter. Waktu penyelesaiannya 1 tahun, loh! Dan sudah jadi saat tahun 2011. Karena g ada yg baca, tpi aku susah2 buatny, setelah mengetahui blok ini novel ini kukirim aja. Percuma kan buat kalau gak ada yg baca!
Aku janji bakal ngelanjutin “With or Without Mother?”, tpi entah kapan. -_-

Salam!
NDR
😀 😀 😀

Cerpen My Destiny (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lossing You

Oleh:
“Baiklah, jika tidak ada sanggahan maupun pendapat maka rapat kali ini saya tutup dengan bacaan hamdallah”, “Alhamdulillah”. Akhirnya rapat terakhirku bersama kalian semua, membahas tentang pelantikan pengurus OSIS periode

Perpisahan Kita

Oleh:
Sebelum mentari beranjak dari peraduan, walau jam masih menunjukkan pukul 04:30 aku sudah terbangun dan melaksanakan sholat subuh dan memulai aktifitas seperti biasa. Selesai sholat aku mandi dan membantu

Aku Andro

Oleh:
Namaku Andro, usiaku kini 18 tahun. Keluargaku orang berkecukupan. Semua yang aku inginkan selalu dipenuhi orangtuaku. Hal inilah yang membuatku menjadi anak yang tak tau aturan. Semua hal yang

Hafalan Qur’an untuk Ibu

Oleh:
Hai namaku Salma. Aku anak kedua dari dua bersaudara. Nama kakakku Aisyah. Kita selalu bercanda kadang bertengkar. Aku pusing, ketika aku melihat Ibu selalu ditampar Ayah, gara-gara disuruh shalat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “My Destiny (Part 1)”

  1. Tasya chan says:

    nice desu ne

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *