My Destiny (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Jepang, Cerpen Keluarga, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 10 April 2013

“Kamu hebat, Otoha! Selamat, ya…,” kata Im’m ramah.

“Selamat, ya…kamu bisa memenangkan lomba cerdas cermat, dan menjadi wakil dari kelas kita…,” puji Melan.

“Terima kasih… Um… Apa kalian tidak marah karena aku kalahkan…?” tanyaku pelan.

“Otoha, Otoha! Tentu tidak, justru, kami sangat bersyukur…!” jawab Im’m.

“Iya, betul… Tidak apa-apa, kok… Lagian kamu kan lebih pintar dari kami!” kata Melan.

“Ah, tidak, kok,” jawabku ramah.

“Semoga kamu menang dalam lomba besok,” kata Melan.

“Iya, semoga kamu menang besok!” kata Im’m.

“Terima kasih atas dukungan kalian!” kataku pada mereka.

“Ya…,” jawab mereka.

“Kalian gak marah, kan karena aku yang menang bukan kalian? Maaf, ya…,” tanytaku.

“Tidak, kok! Untuk apa kami marah?” kata Im’m.

“Untuk apa kamu minta maaf? Kamu gak ada salah, kok!” kata Melan.

“Terima kasih, ya…,” kataku. Mereka mengangguk senang.

***

Pulang sekolah…

“Bye, Otoha. Sampai jumpa besok,” kata Melan mel;ambaikan tangannya.

“Bye juga. Sampai besok…,” kataku sambil melambaikan tangan padanya. Kamipun pulang kerumah masing-masing.

Sampai dirumah, aku tidak ketuk pintu dulu, langsung saja masuk. Saat aku tiba dipintu kamarku, dan hendak membukanya, tiba-tiba…

“Otoha!” seseorang memanggilku dari belakang. Aku menoleh…

“Oto-san…,” kataku. Kulihat Oto-san yang tersenyum ramah padaku.

“Hai, Otoha!” sapa Oto-san.

“Hai, Oto-san. Selamat siang…,” kataku tersenyum padanya.

“Selamat siang juga,” Oto-san membalasnya.

“Ngomong-ngomong, O—” hampir saja! Untung aku langsung membukam mulutku. Kalau tidak, pasti aku berkata ‘Oka-san kemana?’. Aku hampir lupa bahwa Oto-san dan Oka-san sedang bertengkar.

“Kenapa?” Oto-san terlihat bingung.

“Oto-san kok pulang cepat?” kataku menyambung.

“Oh, itu kan karena ingin bertemu Otoha. Kenapa? Tidak boleh?” Oto-san tersenyum.

“Tidak, kok…! Boleh. Siapa bilang tidak boleh?” kataku.

“Oh, begitu. Oto-san kekamar dulu, ya?” pamit Oto-san. Aku mengagguk.

“Huuuft…,” aku helakan nafasku setelah Oto-san pergi.

Gawat! Untung saja tadi aku tidak bilang ‘Oka-san kemana?’. Bisa-bisa Oto-san marah! Aku langsung masuk kekamar. Mengunci pintu, dan tidur.

***

Esoknya…

Seperti biasa, Oka-san tidur bersamaku. Yang beda adalah, Oka-san bangun lebih dulu dariku.

“Oka-san…aku berangkat, ya. Sarapannya disekolah, kok…,” pamitku pada Oka-san.

“Ya, Otoha. Hati-hati, ya…,” kata Oka-san.

Aku menyalimi tangannya, lalu keluar dari kamarku. Aku kaget, ada Oto-san menonton TV diruang tamu!

“Eh…Oto…Oto-san! Aku berangkat, ya…,” kataku linglung padanya.

“Oh, Otoha. Kamu tidak sarapan dulu?” tannyanya.

“Disekolah saja, Oto-san…,” jawabku.

“Oh, ya sudah. Hati-hati,” kata Oto-san. Au menyalimi tangannya dan akhirnya berangkat kesekolah.

***

Disekolah…

“Yei… Akhirnya hari dimana lomba dimulai tiba juga…!” kataku kegirangan pada Im’m dan Melan.

“Semoga kamu menang dalam lomba antar kelas ini, Otoha. Aku mendukungmu!” dukung Melan dengan ramah.

“Iya, aku juga mendukungmu,” timpal melan.

“Terima kasih. Dan semoga saja, ya, aku menang!” seruku.

“Harap para pengikut lomba cerdas cermat berkumpul dilapangan…,” kata Pak kepsek (kepala sekolah) memakai mikrofon.

“Kamu disuruh kumpul, tuh. Semoga sukses, ya!” dukung Melan.

“Selamat berjuang,” kata Im’m.

“Terima kasih…!” kataku dan segera saja menuju lapangan.

Aku sampai dilapangan. Kulihat ada beberapa sainganku dari kelas lain; 7-2, 7-3. sementara kelas yang tingkat lebih tinggi bersaing dengan sesamanya.

“Harap duduk dikursi masing-masing…,” suruh Pak kepsek. Aku menuruti, aku duduk disebuah meja paling ujung. Karena memang diurutkan sesuai abjad.

“Lomba akan dimulai…!” seru pak kepsek. Aku merasa deg-degan. Apakah aku akan menang?

“Pertanyaan 1 pelajaran bahasa Indonesia,” kata Pak kepsek, “Sebutkan huruf-huruf vocal!” seru pak kepsek. Anak kelas 7-2 mengangkat tangan,

“A, I, U, E, dan O!” jawabnya.

“Benar!” kata pak kepsek, “100 untuk kelas 7-2,” .

Oh, tidak! Aku terbalap selangkah.

“Pertanyaan 2, pelajaran bahasa,” seru Pak kepsek, “Sehari sehelai benang, setahun…?” aku tahu jawabannya, akupun mengangkat tangan,

“Sehelai kain!” jawabku cepat.

“Betul, 100 untuk kelas 7-1,” kata Pak kepsek.

Kami berlomba sangat lama dan sengit. Menyenagngkan sekali! Akhir dari cerdas cermat adalah, aku mendapat skor 1000, juara ke 1. Sementara yang juara 2 adalah kelas 7-2, dengan skor 700. Juara ke 3 adalah kelas 7-3, dengan skor 300.

“Selamat! Kelas 7-1 memenangkan lomba antar kelas!” ucap Pak kepsek dan menyerahkanku sebuah bingkisan yang entah apa isinya.

“Terima kasih…!” jawabku.

“Karena pemenang hari ini adalah Otoha yamada, wakil dari kelas 7-1, dia akan mewakili sekolah kita untuk ketingkat antar sekolah! Selamat!” kata Pak kepsek kepadaku. Semua orang bertepuk tangan padaku. Pak kepsek juga menyerahkanku sebuah mendali. Oh… senangnya!

“Terima kasih, semuanya!”

***

Aku pulang kerumah dengan perasaan gembira. Aku akan menceritakan pengalamanku pada Oka-san dan Oto-san. Dan semoga saja, ini membuaat mereka baikan lagi.

“Oka-san, Oto-san!” kataku gembira dan memasuki rumah.

“Ada apa?” mereka berdua langsung menghampiriku. Merek kaget karena aku membawa sebuah mendali.

“Dapat darimana kamu mendali itu…?” tanya Oka-san.

“Aku memenangkan lomba cerdas cermat, Oka-san, Oto-san! Aku mendapat sebuah mendali dan bingkisan! Lihatlah!” kataku menunjukkan mendali dan bingkisan itu.

“Wah, kamu hebat sekali, nak!” puji Oto-san. Aku tersenyum.

***

Esoknya, disekolah…

“Selamat, ya Otoha!” puji Melan.

“Hebat, kamu memenangkan lomba itu!” puji Im’m.

“Tidak, kok. Yang hebat bukan aku, tetapi Mio!” balasku pada mereka.

“O-nya aja!” sergah Melan.

“M dan I-nya sedang-sedang,” timpal Im’m.

“Semuanya pintar!” celetukku.

“Ohya, semoga kamu menang, ya Otoha. Aku do’akan kamu menang!” ucap Im’m.

“Iya, semoga saja kamu menang,” timpal Melan sambil tersenyum.

“Makasih, deh kalau kalian mau menyemangatiku,” balasku sambil tersenyum.

“Tentu kami akan menyemangatimu,” kata Im’m.

“Kami pasti menyemangatimu. Karena kamu adalah sahabat kami!” kata Melan.

“Wah, terima kasih banyak, ya!” kataku tersenyum.

Tet…tet…tet…

“Masuk, deh,” kata Im’m.

Bu Selvia memasuki kelas, “Selamat pagi,” sapa Bu Selvia.

“Selamat pagi!” jawab anak-anak serempak.

“Selamat buat Otoha. Kamu telah memenangkan lomba antar kelas,” puji Bu Selvia.

“Terima kasih, Bu…,” jawabku malu-malu.

“Nanti setelah istirahat, kamu keruang guru sebentar, ya?” pinta Bu Selvia.

“Ya, bu!” jawabku cepat.

“Oh, ya. Ibu beritahu kamu, ya. Nanti saat istirahat tolong keruang guru, ya Otoha. Karena kita akan memulai lomba antar sekolah disini,” jelas Bu Selvia.

“Ya, Bu!” jawabku mantap.

***

Istirahat…

“Aku mau keruang guru. Temenin, ya…?” pintaku pada Melan dan Im’m.

“Oke, deh. Demi Mio,” kata Im’m narsis.

“Iya, iya…!” seruku. kami bertiga akhirnya pergi menuju ruang guru bersama-sama.

***

Sesampainya diruang guru…

“Oh, kamu, toh Otoha. Kami sudah menunggumu,” kata bu Sevia dan mempersilahkan Mio masuk.

“Selamat siang…,” kata kami bertiga memasuki ruang guru.

“Duduklah,” suruh Pak kepsek.

“Begini, karena Otoha telah memenangkan lomba cerdas cermat, maka kamu hari ini akan bertanding dengan anak wakil dari sekolah lain,” jelas Pak kepsek.

“Ya…,” jawabku singkat.

“Mari, kita adakan lombanya!” seru Pak kepsek.

Pak kepsek mengajakku Melan, Im’m dan Bu Selvia kelapangan, disana aku bertemu beerapa orang yang ternyata lawanku berlomba nanti.

“Siapapun pemenang lomba ini akan mendapat sebuah piala, dan mendapat sejumlah uang,” ujar Pak kepsek.

“Lomba dimulai!” katanya.

Perlombaan berlangsung sengit. Hingga skor akhirnya, aku mendapat juara 3, dengan skor 1000. Juara 1-nya mendapat skor 1700. Padahal sedikit lagi aku mengalahkannya.

Aku hanya mendapat sejumlah uang sebesar Rp. 300.000 dan sebuah piala yang paling kecil dari lainnya.

“Selamat, ya Otoha! Kamu berhasil meraih juara 3!” puji Bu Selvia.

“Itu masih kecil. Yang paling besar adalah juara 1,” jelasku.

“Tak apa-apa, Otoha! Kamu kan sudah berusaha, kan?” kata Bu Selvia.

“Iya, sih… Tapi maaf, ya aku mengecewakan sekolah kita…,” kataku.

“Tidak apa-apa. Masih ada kesempatan lain, kok!” ujar Bu Selvia.

“Iya…,” jawabku singkat.

***

Istirahat…

“Kamu hebat, ya! Bisa meraih peringkat ke 3! Selamat!” puji Melan.

“Terima kasih…,” jawabku.

“Walau juara 3, kamu dapat piala, kan?” kata Im’m.

“Iya! Oh, ya. Kalian punya HP, gak?” tanyaku.

“Aku punya. Mau nomornya?” kata Im’m.

“Aku juga punya. Mau nomornya, gak?” tanya Melan.

“Iya, aku mau nomor HP kalian. Aku juga punya HP. Nih, nomornya…,” kataku menuliskan sederet nomor disecarik kertas.

“Ini. Nomor HP kalian?” pintaku.

“Ini nomorku,” kata Im’m.

“Dan ini, nomor HP-ku,” kata Melan.

“Baguslah, kita bisa telpon-telponan,” ujarku.

“Betul!” jawab mereka serempak.

***

Aku sampai didepan gerbang rumah. Saat hendak membuka gerbang, kulihat Oto-san yang berjalan setengah berlari dengan perasaan marah. Aku tertegun. Ada apa ini? Lalu, Oto-san mendekatiku, masih dengan perasaan marah.

“Ah…!” sontak aku berteriak, Oto-san menarik tanganku paksa!

Aku dibawa Oto-san naik mobil entah mau kemana. Aku terheran-heran dengan sikap Oto-san. Padahal aku belum sempat masuk rumah dan berganti pakaian.

“Oto…Oto-san…?” kataku gugup. Tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Otoha…Oto-san akan mengajakmu kembali ke Jepang,” jawab Oto-san, masih berkonsentrasi menyetir mobil.

“Ke Jepang…?” tanyaku ragu.

“Ya…,” jawab Oto-san singkat. Ke Jepang? Lalu, bagaimana dengan sekolahku? Teman-temanku? Dan…bagaimana dengan Oka-san?! Kenapa dia tidak ikut?!

“Oto-san…Oka-san tidak ikut…?” tanyaku. Oto-san tertegun dengan pertanyaanku…

“…” Oto-san diam saja.

“Oka-san bilang tak mau ikut,” jawab Oto-san setelah beberapa saat hening.

“Kenapa Oka-san tak ikut?” tanyaku penasaran. Oto-san tambah bingung menjawabnya.

“Kita ke Jepang cuma beberapa hari, Otoha…nanti pulang lagi…,” jawab Oto-san sedikit ragu.

“Oh…,” kataku singkat namun aku bingung…

***

Bandara…

“Oto-san…,” panggilku.

“Ya?” jawab Oto-san.

“Oto-san yakin kita akan pergi?” tanyaku.

“Tentu saja. Oh, ya…kamu ganti baju dulu sana. Kamu masih pakai baju sekolah,” ujar Oto-san sambil menunjuk bajuku.

“Bajunya?” tanyaku polos.

“Dimobil. Pesawat akan berangkat 30 menit lagi, masih lama. Cepat ya, ganti bajunya! Kamu ganti baju ditoilet itu,” kata Oto-san sambil menunjuk sebuah toilet umum.

“Ya,” jawabku. aku langsung berlari menuju mobil mengambil baju dan berganti pakaian ditoilet tersebut.

***

Selesai aku ganti baju, aku segera menghampiri Oto-san yang berada direstoran Jepang dekat bandara.

“Oto-san!” panggilku melambaikan pada Oto-san.

“Otoha! Kesini!” kata Oto-san menyuruhku ketempatnya.

Aku menghampirinya tepatnya didepan restoran Jepang dekat bandara.

“Otoha, apa kamu lapar?” tanya Oto-san ramah.

“Hm…, sedikit…, tapi, iya!” jawabku cepat.

“Baiklah, kamu mau pesan apa?” tawar Oto-san.

“Bento, taiyaki dan teh,” jawabku cepat.

“Pelayan!” panggil Oto-san pada sipelayan. Tak beberapa lama, sang pelayan muncul.

“Aku pesan bento, teh, taiyaki, sake dan sushi,” kata Oto-san.

“Baik,” jawab sipelayan. Setelah 5 menit, pesanan kami muncul. Kami berdua makan bersama dengan suasana agak hening.

Setelah kami makan, pesawat menuju Jepang sudah tiba. Dan kami harus segera menaiki pesawatnya, kalau tidak akan ditinggal.

“Ayo naik pesawat, Otoha,” kata Oto-san hendak keluar restoran menuju kasir untuk membayar.

Selesai membayar, dengan segera saja aku dan Oto-san naik kepesawat.

Pesawat pun segera terbang dan aku akan pergi ke Jepang bersama Oto-san, tanpa Oka-san. Oka-san… kenapa Oka-san tidak ikut ke Jepang? Kenapa?

***

Aku sampai di Jepang. Sebenarnya baru dibandaranya saja, sih…

“Oto-san, kita akan naik apa setelah ini?” tanyaku.

“Naik mobil kita, Otoha,” jawab Oto-san singkat.

“Memang kita mau kemana, Oto-san?” tanyaku lagi, Oto-san terlihat agak canggung karena aku menanyakan sederet pertanyaan dari tadi.

“Begini, Otoha…,” kata Oto-san berat, “Dari pada kamu selalu menanyakan Oto-san, kamu harus tau hal ini…,” Oto-san menelah ludah gugup.

“Kenapa, Oto-san?” tanyaku melihat tingkah Oto-san yang agak aneh.

“Oto-san yakin, kamu tak akan percaya…,” dengan gugup, Oto-san bilang, “Oka-san dan Oto-san…sudah bercerai…,” kata Oto-san berat.

Apa…? Oka-san dan Oto-san…bercerai…?!

“Oto-san…? Ya…yakin…?” kataku. aku menatap Oto-san pilu. Rasanya…aku ingin menangis…!

“Ya, Otoha. Percaya tidak percaya, ini kenyataan…!” kata Oto-san pilu.

“Oto-san…tidak…! Itu tidak benar…!” teriakku ingin sekali menangis.

“Karena itu, Oto-san mengajakmu kesini. Dan kita tidak akan kembali ke Indonesia,” jawab Oto-san tegas.

“Kenapa…? Kenapa?! Jahat sekali!!” teriakku dan langsung berlari pergi entah kemana. Sebenarnya aku tak tahu denah bandara. Tapi…aku sudah sangat sedih! Aku ingin Oto-san dan Oka-san tidak bercerai. Tapi takdir berkata lain…

“Otoha…!!” teriak Oto-san khawatir, dia mengejarku. Aku tak memperdulikan semua yang Oto-san ucapkan, terus saja berlari. Ya…aku tak peduli!

Aku berlari sekencang-kencangnya menuju entah kemana…

“Otoha!” Oto-san masih saja mengejarku…hingga akhirnya dia mendapatiku…

“Pergi, Oto-san! Aku benci! Oto-san jahat! Masa Oto-san bercerai?! Pergi! Aku gak mau lihat wajah Oto-san lagi…,” kataku sedih. Aku memukul-mukul Oto-san.

“Otoha…,” Oto-san tak dapat berbuat apa-apa.

***

Kubuka mataku…aku mengangkat tubuhku untuk duduk. Dimana ini?

Tok…tok…tok…

Ketukan pintu membuatku kaget.

“Otoha, kamu sudah bangun?” suara ini suara yang kukenal…!

“O…Oba-san…?” kataku ragu. Orang itupun masuk. Ternyata benar, itu Oba-san!

“Oba-san! Kaukah itu?! Berarti, sekarang aku di Tokyo!” kataku. Aku langsung memeluknya. Aku sudah sangat kangen padanya.

“Aku kangen sama Oba-san!” kataku tersenyum ramah padanya.

“Otoha…Oto-san dan Oka-sanmu…bercerai…?” tanya Oba-san hati-hati. Seketika wajahku tak lagi tersenyum. Aku ingat…Oto-san dan Oka-san sudah bercerai…

“Begitulah…,” jawabku ingin menangis, “Ngomong-ngomong kok, aku bisa berada disini?!” kataku. aku benar-benar tak sadar bahwa sudah berpindah tempat!

“Oto-san yang membawamu kesini,” jawab Oba-san singkat.

“Bagaimana bisa?! Aku kan saat itu belari…dan…dan…aku tidak ingat lagi,” kataku bingung.

“Oba-san sama sekali tidak tahu, Otoha. Kau tanya saja pada Oto-sanmu,” jawab Oba-san.

“Oh, baiklah…,” jawabku singkat.

Tok…tok…tok…

Sebuah ketukan pintu mengagetkan kami.

“Siapa?” tanyaku.

“Ini Oto-san!” jawab suara dari luar pintu.

“Baiklah! Aku keluar!” jawabku. aku dan Oba-san keluar kamar.

“Ada apa, Oto-san…?” suaraku terhenti, karena seseorang disebelah Oto-san ada seorang anak perempuan sebayaku yang sangat kukenal…

“Saori Nakamura?!” kataku kaget. Oto-san terkejut.

“Kamu kenal dengannya?” tanya Oto-san heran, aku lantas mengangguk.

“Saori Nakamura, temanku yang menyebalkan sejak SD di Jepang dulu!” seruku. Memang, Saori temanku yang sangat menyebalkan diSD dulu. Dan kami bertemu lagi! OMG…padahal aku ingin melupakan wajahnya yang menyebalkan…!

“Enak saja!” sergah Saori kesal.

“Baguslah kalau kalian saling kenal!” kata Oto-san lega.

“Tidak!” jawabku dan Saori ketus. Pada saat yang bersamaan, aku melihat seorang wanita yang jelas-jelas berada dibelakang Oto-san! Yang aku tidak percaya adalah, wanita itu adalah Oka-sannya Saori! Parasnya Oka-san Saori memang cantik, sih…

“Mari, Oto-san perkenalkan,” kata Oto-san, dia menyuruh Oka-sannya Saori maju kedepan memperkenalkan diri, “Mulai hari ini, Oka-san Saori akan tinggal disini, dan akan jadi bagian dari keluarga kita! Termasuk Saori!” jawab Oto-san bersemangat. Aku tertegun, berati aku…akan mempunyai ibu tiri?!

“Tunggu! Jadi, maksud Oto-san menikah dengan Oka-sannya Saori dan aku akan mempunyai Oka-san tiri dan saudara tiri?!” tanyaku canggung, aku tak percaya semua ini!

“Memang,” jawab Oto-san santai.

“Lalu, Oka-san?!” sergahku memegang tangan Oto-san.

“Oto-san dan Oka-san sudah bercerai, Otoha…,” kata Oto-san sedikit pilu, “Jadi, Oka-sannya Saori sebagai penggantinya…,” jawab Oto-san.

Aku tak percaya semua ini… Bagaikan mimpi… Mau tak mau aku harus menyambut Oka-san Saori dan juga Saori ramah dengan terpaksa… Seandainya ini mimpi… Oka-san, selamat tinggal… Juga… Juga… Mio… Selamat tinggal semua…

***

“Jadi, Oto-san dan Oka-sanmu… Bercerai…?” tanya Im’m melalui HP. Saat ini aku sedang menelpon Im’m dikamarku. Aku juga menangis karena gara-gara kejadian tadi, saat Oto-san memperkenalkan Oka-sannya Saori. Sekarang jam 10 malam. Aku belum tidur juga. Aku menangis memikirkan Oka-san…

“Iya, Im’m…sekarang aku di Jepang…setelah pulang sekolah kemarin aku langsung dibawa ke Jepang…,” kataku masih saja menangis.

“Itu artinya kita gak akan ketemu lagi, dong…?” kata Im’m pilu.

“Ya, Im’m. tapi, aku pasti akan kembali lagi ke Indonesia,” jawabku.

“Iya, dong. Itu pasti!” jawab Im’m.

“Im’m, tolong sampaikan pada Melan dan yang lain bahwa aku pindah ke Jepang, ya…besok aku telepon lagi,” pamitku.

“Baiklah, bye!” jawab Im’m.

“Bye…,” balasku.

Tut…tut…tut…

Aku tutup pembicaraanku. Aku segera berbaring, dan… Tidur…

***

Esoknya…

Aku bangun dari tidurku…kulirik jam, sudah jam 8 pagi, kebetulan hari ini aku belum bisa sekolah karena memang belum didaftarkan sebagai murid baru.

Aku segera bangun dan melangkah keluar kamar, pergi kedapur. Siapa tahu disitu ada makanan yang bisa kumakan.

Aku sampai didapur, kudapati Oba-san yang sedang duduk dimeja makan tanpa melakukan apa-apa. Kudekati dia. Dia terlihat terkejut dengan kedatanganku.

“Pagi, Otoha!” sapa Oba-san ramah. Aku balas tersenyum.

“Oba-san, mana Saori, Oto-san dan…,” aku tak sanggup mengatakan ini, “Oka-san…?” tanyaku agak linglung. Aku sebenarnya tak mau memanggil Oka-sannya Saori dengan sebutan ‘Oka-san’. Tapi, mau bagaimana lagi?

“Saori sedang sekolah, Oto-san sedang mencari pekerjaan, sementara Oka-san sedang mencuci piring,” jawab Oba-san ramah.

“Oh, begitu…,” kataku enteng, “Oba-san, apakah tak ada sarapan untukku hari ini?” tanyaku lantas membuka lemari es. Didalamnya tak ada apa-apa.

“Tidak. Tapi, kamu bisa menggoreng mie,” usul Oba-san. Aku langsung menyetujuinya.

“Tadaima…!” kata Saori dari luar rumah. Sontak, aku kaget mendengarnya.

“Kamu sudah pulang, Saori…?” kataku menghampirinya.

“Kok kamu sih, yang muncul, Otoha…mana Oka-san?” tanyanya melepas sepatu yang ia kenakan.

“Kata Oba-san, dia sedang mencuci piring,” jawabku singkat.

“Kenapa kamu menyebut calon Oka-sanmu dengan sebutan ‘dia’? padahal aku memanggil Oto-sanmu ‘Oto-san’!” tegur Saori tegas.

“Kamu tahu, kan? Oto-san dan Oka-sanku sudah bercerai! Dan sekarang, Oto-sanku malah mau menikah dengan ‘Oka-san’-mu!” kataku ketus.

“Kalau aku sudah biasa! Oto-sanku sudah meninggal sejak aku kelas 5 SD. Aku yatim (tak punya ayah) sejak 2 tahun lalu. Dan sekarang, aku akan mempunyai Oto-san tiri…,” katanya sedikit sedih.

“Ya, Saori. Aku tahu perasaanmu yang kehilangan ‘Oto-san’,” kataku, “Aku masuk, ya…!” kataku memasuki rumah menuju kekamarku.

***

“Otoha, mulai besok kamu akan bersekolah diSMP ‘Interijento’, sekolahnya Saori!” kata Oto-san saat kami sedang makan malam.

“Hah?!” aku dan Saori tersentak, masa aku 1 sekolah dengan Saori yang menyebalkan itu?!

“Mengapa kalian kaget? Bukannya sekarang kalian akan menjadi saudara?” kata Oto-san, ia tek mengerti perasaanku!

“Baiklah, Oto-san…,” kataku berat.

“Besok kalian berangkat sama-sama, ya!” seru Oto-san senang, “Ya, kan, Oka-san?” tanya Oto-san melirik kearah Oka-san (tiri bagiku). Oka-san hanya mengangguk sambil tersenyum. Ngomong-ngomong, aku tak pernah mendengar Oka-san berbicara.

“Kamu setuju, kan Saori?” Oto-san melirk Saori. Dengan berat, Saori mengangguk.

“Oh, ya. Karena Otoha lebih dulu lahirnya dari pada kamu, Saori. Kamu panggil Otoha dengan panggilan ‘One-chan (kakak)’, ya…?” tanya Oto-san.

“Hah?! Gak, ah! Aku gak mau memanggil Otoha dengan sebutan ‘One-chan’!” tolak Saori dengan terkejut.

“Dia kan lebih tua dari kamu, Saori. Kamu panggil saja dia ‘One-chan’,” kata Oto-san menatap Saori tajam.

“Pokoknya tidak mau!” teriaknya pasrah. Hamper mau menangis.

“Saori…” Oka-san (tiriku) menatap Saori dengan penuh harapan. Hm…suara Oka-san (tiriku) ternyata lembut sekali.

“Gak!” kata Saori ketus. Saori ternyata keras kepala sekali! Hah…sebenarnya aku tidak mau disebut ‘One-chan’ oleh si menyebalkan Saori. Tapi, sudah disuruh Oto-san… aku mah senang-senang saja dipanggil ‘One-chan’, hehehehe…

“Saori! Harus sopan!” bentak Oka-san keras. Aku tak menyangka, orang selembutnya bisa marah-marah.

Saori menangis. Dia langsung pergi menuju kamarnya. Huh! Dasar keras kepala. Oka-san, Oba-san dan Oto-san yang mengetahui itu geleng-geleng kepala.

“Hm…sudah jam 9 malam, kalian tidurlah…!” kata Oto-san. Sepertinya dia kelihatan pusing.

Aku menurutinya. Sebelum itu aku pamit dulu.

“Aku tidur, dulu, ya…!” pamitku sambil membungkuk.

“Ya,” kata Oto-san cuek.

“Baiklah, Oto-san…aku akan tidur,” kataku sedikit menunduk. Dan pergi menuju kamarku… Sedih rasanya, dicuekin sama Oto-san sendiri…

~Bersambung~

Cerpen Karangan: Nisrina Delia Rosa
Facebook: Nisrina Delia Rosa

Cerpen My Destiny (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ulang Tahun Bunda

Oleh:
Pagi yang cerah… “Kring… Kring… Kring…” seperti biasa bel alarm Niki berbunyi keras tepat pada pukul 05.00. Niki langsung terbangun dari tidurnya dan berfikir sejenak. “Ini tanggal berapa yaa?”

Our Friendship (Part 3)

Oleh:
Bel istirahat pun tiba. Diva dan Rieta berjalan menuju kantin. Alvin lagi berlatih basket dengan teman temannya sedang Rey lagi dipanggil sama Mrs. Mira ke ruangannya. Sesampainya di kantin,

Kesabaran Yang Indah

Oleh:
“Aaaaaaa..” Sebuah teriakan memecahkan keheningan pagi di kelasku. Tak lain dan tak bukan adalah Sudar, seorang siswa yang selalu dijahili oleh siswa yang lain. Mungkin karena dia begitu patuh

The Dina’s Oreo

Oleh:
Matahari perlahan-perlahan turun dari peradabannya, menandakan hari telah senja. Dina pun ikut terbangun dari tidur sore… eh, siangnya. Sembari mengucek-ngucek matanya, Dina melihat kalender yang tergantung di kamarnya. “Mmm…

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *