My Destiny (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Jepang, Cerpen Keluarga, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 13 April 2013

Esoknya, aku bangun dari tidurku yang panjang. Kulihat jam, jam 6 pagi! Untung aku bangun jam segini, soalnya hari ini aku akan mulai sekolah!

Aku langkahkan kakiku keluar kamar. Dan aku tengok sebelah kamarku tempat Saori tidur. Kubuka pintu kamar tersebut. Tak ada siapa-siapa.

Dari pada aku disangka maling, kututup lagi pintu kamar Saori. Lalu segera kekamar mandi. Tahu kan ngapain kekamar mandi? Ya mandi, lah!

Selesai mandi, aku segera kekamarku memakai baju. Setelah itu, segera menuju dapur. Aku kaget saat didapur, tak ada siapa-siapa! Mereka memang kemana, ya?

“Hoi!” sontak, aku langsung kaget mendengar suara itu. Kutengok belakang, itu Saori!

“Huh! Menyebalkan!” kataku kesal, “Kenapa kamu ngaget-ngagetin orang!” .

“Biarin!” katanya sewot.

“Huuuh! Dasar menyebalkan…!!” keluhku kesal, “Mana sih, Oto-san, Oba-san dan Oka-san? Dari tadi aku cariin mereka!” tanyaku.

“Kalau Oto-san sudah dari tadi pagi pergi. Oba-san masih tidur. Oka-san sedang mandi,” jawab Saori. Oh, ya. Aku lupa bahwa kamar mandi dirumah ini ada 2.

“Sarapannya sudah disiapin, belum sih?” tanyaku. Saori mengangkat bahu, bertanda tidak tahu.

“Periksa saja,” usulnya. Aku segera memeriksa kulkas. Kudapati sekotak susu. Langsung kuambil dari kulkas. Kuperiksa lagi meja lemari makanan, hanya ada cornflakes.

“Sempurna!” kataku senang. Saori terheran-heran dengan tingkahku.

“Sempurna apanya?” tanyanya heran.

“Kita bisa sarapan sereal! Kan tinggal campur susu dengan cornflakes. Jadi deh sarapannya!” jawabku dengan senang.

“Periksa dulu tanggal kadaluarsanya. Siapa tahu kamu terambil yang sudah basi,” nasihat Saori. Tumben dia perhatian. Tanpa basa-basi, aku lihat tanggal kadaluarsa makanan yang akan kumakan.

“Masih lama,” jawabku.

“Oh, begitu. Kamu saja yang makan,” katanya. Loh? Kok dia gak mau sarapan?

“Lantas, kenapa kamu tidak sarapan juga?” tanyaku heran.

“Kamu tidak tahu, Otoha? Padahal kawan-kawan kita yang lain sudah tahu,” kata Saori menjelaskan, “Aku alergi dengan jagung. Jika memakannya, aku akan gatal-gatal,” jawabnya.

“Oh, iya! Aku lupa kamu alergi jagung. Cornflakes kan juga dari jagung,” kataku manggut-manggut.

“Aku minum susu saja! Sana kamu makan sereal,” suruhnya agak sedikit kesal. Entah gara-gara apa. Yah…aku tiruti saja.

***

Selesai sarapan, aku segera pergi keteras rumah. Dan, segera saja aku pakai sepatuku. Sebentar lagi aku dan Saori akan berangkat sekolah.

“Tunggu!” panggil Saori dari belakang, aku menoleh.

“Ada apa lagi, sih?” tanyaku padanya sedikit kesal.

“Aku belum makai sepatu,” rengeknya, “Tunggu, sih?” pintannya yang memohon, aku menghela nafas.

“Ya, ya…!” jawaku ketus. Dia tersenyum senang, dan segera saja dia memakai sepatunya.

Selesai dia memakai sepatu, bukannya dia berterima kasih karena telah aku tunggu, dia melewatiku dan menyenggolku tanpa ada suatu dosa.

“Hei! Kalo jalan lihat-lihat, dong!” sindirku. Dia tak peduli, dan segera saja meninggalkanku pergi kesekolah.

“Kalo kamu gak cepetan, aku tinggal!” katanya sewot. Menyebalkan! Masih untung ditungguin, bukannya bales nungguin malah ninggalin, dasar!
“Saori…! Tunggu!” teriakku, dan segera berlari menyusulnya.

Dasar Saori!

***

Di SMP ‘Interijento’…

Aku langkahkan kakiku malu-malu, hari ini pertama kalinya aku sekolah SMP di Jepang Setelah beberapa bulan di Indonesia.sebenarnya aku pernah sekolah di Jepang, tapi itu saat SD. Aku akan memperkenalkan diriku pada kelas baruku.

“Watashi wa Otoha yamada dessu! (namaku Otoha yamada!)” salamku ramah pada kelas baruku. Para teman baruku serta wali kelas baruku menjawabnya juga dengan ramah.

“Salam kenal, Otoha. Namaku Kirishawa, panggil aku Kirishawa-sensei. Kamu duduk dibangku ke-3 itu, ya!” kata Sensei (guru) dengan ramah. Aku menurutinya. Oya, Kirishawa-sensei itu perempuan. Jadi bisa kupanggil dia ala Indonesia, yaitu ‘Bu Kirishawa’.

Aku segera menuju bangku yang ditunjuk Kirishawa-sensei. Tau, tidak? Bangku itu tepat dibelakang bangku Saori! Ih, menyebalkan banget!

Aku duduk dengan raut kesal. Apalagi, disebelahku bangkunya kosong, jadinya seperti tak ada teman, deh… Apa jadinya hidupku disekolah ini? Yang pasti menyebalkan!

***

Seminggu berlalu sejak aku bersekolah diSMP ‘Interijento’. Hari ini adalah hari pernikahan Oto-san dan Oka-sannya Saori. Hatiku sedih. Bisa-bisanya Oto-san melupakan Oka-san (yang asli) dengan cepat dan langsung menikah lagi. Rasanya aku ingin menangis saja dengan semua takdir yang telah menimpaku. Aku kangen Oka-san, Melan dan Im’m. aku ingin kembali ke Indonesia dan bertemu mereka lagi. Ingin sekali…

“Hoi!” seseorang mengagetkanku.

“Saori…,” kataku terkejut setelah mengetahui Saori berada dibelakangku.

“Kenapa kamu melamun?” tanyanya heran, “Kamu mau gak foto bareng Oto-san dan Oka-san?” .

“Hm… Baiklah…,” jawabku lesu.

“Kok hari ini lesu amat, sih? Padahal hari ini pernikahan Oto-san dan Oka-san yang sangat meriah! Jika kamu gak mau foto bareng, makan es krim aja, yuk!” ajak Saori. Aku heran. Akhir-akhir ini Saori lebih ramah padaku dan tidak menyebalkan seperti dulu.

“Baiklah!” jawabku. Aku memang suka es krim. Jika ditawari langsung jawab ‘Ya’. Hehehe…

***

Setelah acara pernikahan Oto-san, aku bukannya mengucapkan selamat dan berpesta bersama keluarga, aku menuju kamarku.
Sesampai dikamar, aku raih HP-ku dan mengetik sederet nomor.

“Halo?” sapa orang yang ada disebrang sana.

“Ini Otoha. Im’m, aku mau bertanya padamu. Oka-sanku belum pindah rumahkan?” tanyaku pada Im’m yang berada di Indonesia.

“Tidak. Beliau tak pindah kemanapun,” jawab Im’m singkat, “Lantas, kenapa kamu betanya?” Im’m sepertinya agak heran.

“Im’m…” kataku sudah menangis. Im’m kaget dengan tingkahku.

“Kenapa, Otoha?! Kok kamu nangis?!” tanyanya terkejut.

“Im’m… Oto-san…” kataku tak mampu melanjutkan kata-kataku.

“Otoha…” ada sedikit nada sedih dari ucapan Im’m.

“Oto-san sudah menikah dengan wanita lain, Im’m! Aku sedih sekali karena mempunyai saudara dan ibu tiri! Apa yang harus aku lakukan?!” kataku sesak.

“Sabar, Otoha…aku yak—” suara Im’m terputus!

“Im’m?!” kataku kaget. Kenapa sambungan HP ini terputus? Kenapa?

***

“Otoha,” panggil Oka-san (tiri). Aku segera menghampirinya.

“Ya?”

“Mana Saori?” tanyanya lembut.

“Aku tidak tahu,” jawabku singkat.

“Otoha, Oka-san minta tolong. Hari ini Oto-san dan Oka-san akan pergi ke Yokohama selama 2 hari. Jadi, kamu, Saori dan Oba-san akan tinggal dirumah,” jelas Oka-san.

“Baiklah, Oka-san. Jadi, Oka-san ingin aku membeitahu mereka?” tanyaku.

“Iya,” jawab Oka-san. Aku mengangguk.

***

Esoknya, Oto-san dan Oka-san akan berangkat ke Yokohama.

“Hati-hati,” nasihatku pada mereka berdua.

“Oto-san, Oka-san, jangan lupa oleh-olehnya, ya…!” kata Saori.

“Tentu!” jawab Oto-san ramah.

Merekapun berangkat memakai mobil.

“Mereka sudah pergi. Yuk, kita masuk,” ajak Oba-san.

“Ya,” jawabku dan Saori serempak.

***

Sore ini aku dan Saori menonton televisi dengan asyik. Filmnya bagus banget! Sampai-sampai kami tak mendengar telefon rumah berbunyi.

“Otoha, telefonnya bunyi, tuh. Kamu angkat, dong!” tegur Saori.

“Dasar. Bisanya nyuruh doang,” kataku kesal. Dengan kesal aku angkat telefon.

“Halo?” sapaku pada orang sebrang telefon.

“Apakah ini keluarga Yamada?” tanya orang itu.

“Iya, benar. Ini siapa, ya?” tanyaku sopan.

“Saya dari pihak rumah sakit. Tuan Takuya yamada sedang dirawat dirumah sakit di Yokohama karena mengalami kecelakaan,” papar pak pihak rumah sakit.

“Apa?!” tanyaku gugup. Takuya yamada itu adalah Oto-san!

“Diharapkan pada pihak keluarga segera menuju rumah sakit Yokohama,” pesan orang itu.

“Tunggu! Lebih baik anda bicarakan dengan Oba-sanku saja!” kataku. Segera saja aku panggil Oba-san.

“Oba-san! Oba-san!” teriakku. Dengan cepat, Oba-san menghampiriku. Segera kuserahkan telefonnya. Dan Oba-san menerimannya…

***

Karena panggilan dari pihak rumah sakit melalui telefon, aku, Oba-san dan Saori segera pergi menuju rumah sakit di Yokohama tempat Oto-san dan Oka-san dirawat. Dari cerita Oba-san, Oto-san dan Oka-san mengalami luka parah akibat kecelakaan. Mendengar itu wajahku memucat.

“Oba-san…benar begitu?” tanyaku pilu.

“Ya…” jawab Oba-san sedih. Rasanya aku ingin menangis. Tapi, aku tahan tangisku.

***

Sesampai dirumah sakit Yokohama…

“Mana Oto-san?!” tanyaku segera saja bertanya pada pegawai rumah sakit.

“Hei Otoha!” tegur Saori. Karena teguran Saori, aku segera mundur dan mendekatinya. Oba-san mendekati pegawai rumah sakit tersebut dan bertanya;

“Dimana kamar pasien yang bernama Takuya yamada?” tanya Oba-san dengan bijak. Pegawai tersebut mengantarkan kami kekamar Oto-san.

“Oto-san!” kataku segera mendekatinya dengan perasaan sedih. Tapi, ada yang menahan tanganku.

“Dia sedang beristirahat. Jangan diganggu. 1 jam lagi baru kalian bisa mendekatinya,” nasihat pegawai rumah sakit tersebut.

“Oto-san…” kataku sedih. Aku menatap Oto-san dengan perasaan sedih.

Dengan berat, aku meninggalkan Oto-san bersama Saori dan Oba-san.

“Daripada kita menunggu, kita tengok Oka-san, yuk…,” ajak Saori.

“Ya,” jawabku singkat, “Ngomong-ngomong kamarnya dimana?” tanyaku.

“Disebelah,” jawab Oba-san.

Segera saja kami ber-3 pergi keruang sebelah. Terlihat Oka-san yang berbaring lemah dikasur tempat tidur. Walau sama-sama terluka, lukanya tidak separah Oto-san.

Tanpa aba-aba, Saori mendekati Oka-san dengan perasaan sedih, seperti ingin menangis.

“Oka-san…,” kata Saori pilu. Aku ikut sedih. Kasihan Saori, Oka-sannya adalah orang tua satu-satunya baginya. Sementara aku? Aku masih punya Oka-sanku yang asli.

***

Setelah 1 jam berlalu…

Aku masih menunggu para pegawai untuk mengizinkanku menemui Oto-san. Setelah beberapa menit, akhirnya para pegawai mengizinkanku menemui Oto-san.

Aku, Saori dan Oba-san segera menengok Oto-san dikamarnya.

“Oto-san!” kataku langsung menghampirinya. Tak ada reaksi.

Aku menatapnya sedih. Aku tak menyangka Oto-san akan mengalami hal seperti ini. Kepala, tangan dan kakinya diperban. Kasihan sekali.

“Oto-san…Oto-san baik-baik saja, kan?” tanyaku pada Oto-san. Aku tahu kalau Oto-san belum sadar dan tidak bisa menjawab pertanyaanku, tapi…

“Otoha…” Oto-san tiba-tiba saja sadar! Aku yang mengetahui itu kaget sekali.

“Oto-san?!” aku berseru girang. Akhirnya Oto-san sadar!

“Oba-san! Saori! Cepatlah kesini!” panggilku, dengan tergesa-gesa mereka menghampiriku.

“Ada apa?!” tanya mereka. Aku tersenyum dan menunjuk Oto-san.

“Oh?! Dia sudah sadar!” kata Oba-san girang.

“Oto-san!” kataku senang. Akhirnya…Oto-san sadar juga!

“Argh…!” tiba-tiba Oto-san menjerit. Aku kaget.

“Oto-san?!” seruku. Tak ada reaksi.

“Oto-san!” kataku ingin menangis. Dia seperti tak sadarkan diri!

“Dokter! Dokter!” panggilku histeris. Sang dokter muncul karena terkejut dengan teriakanku.

“Kenapa?!” tanyanya penasaran.

“Oto-san…!” kataku menunjuk Oto-san dengan perasaan sedih. Dokterpun segera memeriksanya.

“Kalian keluar dulu. Aku akan memeriksanya. Kalian tunggu diluar!” suruh pak dokter. Aku mau tak mau menurutinya. Akhirnya, aku, Saori dan Oba-sa keluar ruangan tersebut.

15 menit lamanya aku menunggu Oto-san diperiksa. Sementara Saori menunggui Oka-sannya bersama Oba-san. Rasanya lama sekali menunggu begini. Aku sangat khawatir. Jangan…jangan sampai hal itu terjadi…

Brak…!

Suara pintu terbuka mengagetkanku. Kulihat dokter yang mengurus Oto-san keluar dengan wajah pucat.

“Pak dokter! Bagaimana Oto-sanku?!” tanyaku antusias. Dia terlihat bimbang untuk menceritakannya.

“Tuan Takuya yamada…” pak dokter tak melanjutkan kata-katanya yang membuatku semakin khawatir, “Jangan sedih, ya…tuan Takuya yamada…telah dinyatakan meninggal,” jawab pak dokter sedikit pilu. Aku yang mendengarnya syok berat.

“Apa…?” aku tergagap. Tak percaya semua ini sudah terlanjur terjadi!

“Otoha…!” panggil Oba-san dari belakang. Raut wajahnya terlihat sedih. Setelah menghampiriku, dia kaget karena melihatku menangis.

“Otoha?” kata Oba-san pelan dan heran.

“Oto-san…dia…” aku menangis. Oba-san terlihat bingung.

“Pak dokter, bisakah anda menceritakan kejadian yang sebenarnya?” pinta Oba-san. Pak dokter menyanggupi.

“Begini…” pak dokter menceritakan kejadian yang menimpa Oto-san. Raut wajahnya terlihat sangat sedih.

“Takuya…” suara Oba-san terasa sesak.

Saori tiba-tiba saja muncul.

“Ada apa?” tanyanya penasaran.

Oba-san menceritakan semuanya…

“Oh…!” katanya terkejut. Dia tak menyangka akan jadi begini.

“Otoha, kamu juga harus mengetahui ini,” cerita Oba-san. Mukanya terlihat sedih.

“Bukan hanya Oto-san yang meninggal, tapi Oka-san juga…” katanya pilu. Apa?!

Hari terburukku. Oto-san telah pergi…sangat menyedihkan. Seandainya semua ini tak terjadi… Aku akan bahagia untuk selamanya…

***

“Apa?! Bagaimana bisa?!” Im’m terlihat terkejut dengan apa yang kuceritakan.

“Iya, Im’m… Itu benar…” kataku sedih. Aku menelfon Im’m dikamarku karena kami sudah kembali dari Yokohama.

“Jadi, bagaimana denganmu? Apa yang akan kamu lakukan?” tanyanya.

“Entahlah, Im’m…aku tak tahu harus apa aku sekarang…” kataku.

“Otoha, jika memang benar Oto-sanmu meninggal, maka kamu akan tinggal dengan siapa?” tanyanya penasaran.

“Entahlah. Menurutmu?” tanyaku balik. Im’m terdiam sejenak.

“Kalau aku jadi kamu, maka aku akan kembali ke Indonesia dan tinggal bersama Oka-sanku!” jawab Im’m tegas. Mataku membulat, ide ini bagus sekali!

“Ide yang bagus! Kau pintar, Im’m!” pujiku.

“Dengan begitu, kita, Mio bisa bersama lagi, kan?” katanya.

“Tapi masalahnya…setelah Oto-san menikah dengan wanita lain, ternyata istri barunya itu mempunyai anak perempuan yang sebaya denganku! Jadi, bagaimana?” tanyaku penasaran.

“Terserah kamu, Otoha. Aku tidak tahu menahu. Pikirkan saja baik-baik,” jawab Im’m.

“Terima kasih atas nasihatmu, Im’m! aku janji, pasti aku kembali ke Indonesia,” jawabku yakin.

“Baiklah kalau begitu. Aku tutup, ya telefonnya. Selamat tinggal,” pamit Im’m.

“Selamat tinggal…,” jawabku pelan.

***

Esoknya, diruang tamu. Aku sedang bersama Oba-san.

“Oba-san…?” panggilku.

“Hm?” jawabnya.

“Aku…aku ingin kembali ke Indonesia…dan bertemu Oka-san…boleh, tidak?” tanyaku ragu.

“Hah?” Oba-san terlihat bingung.

“Kumohon, Oba-san… Aku ingin kembali kesana! Aku ingin bertemu sahabatku dan… Oka-san…” kataku. Oba-san terlihat berfikir-fikir.

“Kalau kamu mau ke Indonesia, aku mengijinkannya. Tapi, bagaimana dengan Saori?” tanyanya.

“Kalau dia mau, aku akan mengajaknya! Jika dia tak mau, tidak apa-apa!” jawabku cepat.

“Baiklah, aku ijinkan…!” jawab Oba-san. Aku tersenyum senang.

“Kamu setuju, Saori? Disana kita akan senang, loh!” kataku semangat setelah menseritakan rencanaku padanya.

“Sebenarnya aku mau…,” katanya bimbang, “Tapi, di Indonesia aku tak mempunyai keluarga satupun. Jika aku menumpang hidup pada Oka-sanmu, aku pasti sangat merepotkannya karena aku ini baginya hanya orang asing,” jawab Saori.

“Aku yakin, pasti tak begitu. Mana munkin Oka-sanku yang sangat baik itu tak menerimamu?” kataku bergurau.

“Tidak, Otoha. Aku tidak bisa ke Indonesia bersamamu. Terima kasih atas tawaranmu, Otoha. Jika memang aku tak diterima sebagai cucunya Oba-san, aku akan pergi ke tempat Oji-sanku (kakek),” kata Saori. Entah kenapa, kadang aku merasa kesal pada Saori. Tapi, aku juga kadang merasa kasihan padanya.

“Kalau kamu tidak mau, baiklah. Aku akan ke Indonesia besok sendirian,” jawabku, “Tapi, kalau kamu berubah pikiran, susulah aku, ya…,”

“Tentu, Otoha!” jawabnya sambil tersenyum.

“Terima kasih,” kataku.

***

Esoknya, aku akan pergi ke Indonesia. Aku menaiki mobil terlebih dahulu untuk pergi kebandara.

“Jaga dirimu baik-baik saat perjalanan, Otoha. Oba-san akan mendoakanmu agar kamu selamat,” kata Oba-san.

“Terima kasih, Oba-san,” jawabku tersenyum ramah.

“Tunggu…!” tiba-tiba Saori datang sambil membawa sebuah koper. Aku terkejut melihatnya.

“Saori?!” kataku dan Oba-san sama-sama terkejut.

“Aku ikut denganmu, Otoha!” seru Saori.

“Kau yakin…?” tanyaku.

Dia mengangguk dengan mantap, “Tentu, Otoha! Aku sangat serius. Aku akan pergi bersamamu ke Indonesia!” .

“Kamu tidak minta izin pada misalnya…Oba-san dari ibumu?” tanyaku tak percaya kepada Saori yang akan pergi mengikutiku ke Indonesia.

“Entahlah…aku tak tahu, apa keluarga dari Oka-sanku akan setuju,” kata Saori sedih, “Tapi ini sudah tekadku untuk mengikutimu ke Indonesia,” kata Saori yakin.

“Baiklah!” jawabku senang.

Akhirnya aku dan Saori menaiki mobil untuk menuju bandara…

***

Indonesia…

“Kita sampai, deh!” kataku gembira.

“Wah…” Saori terlihat terkagum-kagum.

“Kenapa?” tanyaku, dia menolahku.

“Indonesia itu indah, ya. Aku tak tahu kalau Indonesia seindah ini. Apalagi pemandangannya!” jawab Saori.
“Kamu kan tak pernah ke Indonesia, jadi kamu tak tahu bagaimana Indonesia itu!” kataku. Dia mengangguk.

“Ngomong-ngomong kita sudah sampai dirumahmu?” tanya Saori.

“Belum. Beberapa menit lagi kita akan sampai dengan menaiki taksi,” jawabku.

“Kalau begitu, mari kita cari taksi!” ajak Saori.

“Ayo!” balasku.

***

Akhirnya! Aku sampai dirumahku. Dengan perasaan senang, Aku ketuk pintu rumah itu.

Tok…tok…tok…

Dengan cepat, seseorang membuka pintu, yaitu Oka-san!

“Otoha…?!” katanya terkejut tapi terlihat sangat senang dengan kehadiranku.

“Oka-san! Aku kangen sekali!” kataku dan langsung memeluknya.

“Oka-san kangen, sekali, Otoha!” Oka-san balas memelukku.

“Oka-san, bolehkah aku dan Saori tinggal disni?” pintaku melepas pelukan dari Oka-san.

“Saori?” tanya Oka-san. Aku lupa bahwa Oka-san itu tidak tahu Saori.

“Dia…” aku menjelaskan tentang Saori juga yang sebenarnya yang terjadi pada Oto-san. Oka-san seperti tidak percaya dengan raut wajah sedih.

“Oto-san menikah, ya…” katanya sedikit sedih. Raut wajahku pun sama.

“Begitulah…” jawabku.

“Masuklah, Saori, Otoha!” ajak Oka-san. Kamipun masuk.

“Oka-san, aku dan Saori istirahat dulu, ya!” kataku. aku segera menuju kamarku yang lama.

“Kamarku!” seruku riang dan langsung tiduran dikasur. Aku kangen dengan kamar ini. Seperti kembali seperti dulu, kelas 1 SMP. Saori hanya terdiam melihat kekembiraanku karena telah kembali ke Indonesia.

“Hei, Saori! Kamu capek, kan? Yuk, tiduran disini,” ajakku, “Letakkan saja kopermu disebelah lemari,” .

“Iya,” jawabnya singkat. Dia segera meletakkan tasnya diseelah lemariku, lalu menduduki kasur. Tidak menidurkan tubuhnya.

“Tidurlah, tak apa-apa,” kataku, dia menidurkan tubuhnya.

“Ini kamarmu, Otoha?” tanyanya.

“Iya, dong!” jawabku, “Memang siapa lagi?” .

“Iya, memang kamarmu,” jawabnya, “Hm…jam berapa ini?” tanyanya lagi.

“Jam 3 sore. Kau mau apa?” tanyaku balik.

“Mau mandi,” jawanya singkat.

“Kalau kamu mau mandi, keluar kamar ini lalu belok kanan menuju dapur. Setelah itu, kamu akan menemukan kamar mandi,” jelasku. Dia mengangguk. Segera saja ia ikuti instruksiku.

Setelah dia pergi, ini kesempatanku menelpon Im’m. tentu saja, aku ketik sederet nomor.

“Halo?” sapa Im’m ditempat lain.

“Im’m, ini aku! Aku mau mengabarimu, bahwa aku sampai di Indonesia!” kataku gembira.

“Benarkah?! Wah, berita hebat, dong! Besok kamu kembali kesekolah kita yang dulu, kan?!” tanyanya senang.

“Tentu! Masa aku gak kesekolah kita yang dulu?” kataku gembira.

“Bagus!” kata Im’m senang, “Mio utuh lagi, dong! Hahahahaha…” .

“Tapi, aku kan 1 tahun lalu pindah ke Jepang, sekarang aku kelas 2 SMP. Sepertinya aku harus mendaftar kesekolah itu lagi…jadi, mungkin aku lusa baru bertemu,” jelasku.

“Oh, begitu. Yah, diundur deh tanggalnya! Oh, ya. Aku lupa memberitahumu bahwa aku masuk kelas 8-1, Otoha. Sementara Melan masuk kelas 8-3,” kata Im’m.

“Hah?! Kalian pisah kelas?!” kataku terkejut.

“Iya, betul Otoha. Aku do’akan kamu masuk kelas 8-1, ya. Biar sekelas denganku,” kata Im’m.

“Iya, semoga saja aku masuk kelas 8-1! Lalu, bagaimana jika tidak?” tanyaku.

“Hah… Sangat menyedihkan! Paling tidak, kamu masuk keas 8-3, seperti Melan. Baiklah, aku tunggu kedatanganmu disekolah lusa, Otoha! Selamat tinggal!” pamitnya.

“Selamat tinggal! Bye!” jawabku.

Tut…tut…tut…

Im’m mematikan HP-nya. Dan tepat saat itu, Saori muncul setelah habis mandi.

“Menelfon siapa, Otoha?” tanya Saori.

“Biasa, nelfon teman lama,” jawabku singkat.

“Kamu gak mandi?” tanyanya. Ups! Aku hampir lupa tentang mandi!

“Ups… Aku hampir lupa. Untung kamu ingatkan. Baiklah, aku mandi dulu, ya!” pamitku dan segera saja keluar kamar menuju kamar mandi.

“Makasih, ya Saori!” kataku sebelum berlari menuju kamar mandi.

***

Esoknya…

“Jadi, bagaimana dengan sekolahku, Oka-san?” tanyaku pada Oka-san saat kami sarapan bersama.

“Sekarang ada beasiswa untuk SD dan SMP di Indonesia. Jadi, kamu dan Saori masuk sekolah negeri mulai besok,” kata Oka-san.

“Benarkah?! SMP-nya yang mana, Oka-san? Kuharap SMP-ku yang dulu!” kataku riang.

“Iya, memang benar kamu dan Saori akan Oka-san sekolahkan diSMP-mu dulu besok,” jawab Oka-san.

“Terima kasih, Oka-san!” kataku.

***

Esoknya, aku senang sekali… Hari ini aku akan bertemu dengan Im’m dan Melan alias Mio! Karena, hari ini aku akan mulai sekolah…Saori juga 1 sekolah denganku.

“Saori! Ini dia sekolahku…,” kataku gembira. Sekarang kami sudah berada disekolahku. Dan sebelum kami memasuki kelas utu belajar, kami keruang kepala sekolah dulu sebentar.

“Kelas kalian kelas 8-2,” kata pak kepsek setelah kami mendaftar. Hah?! Masuk kelas 8-2?! Yah…tak sekelas dengan Im’m maupun Melan, dong! Ugh, kecewa berat!

Aku dan Saori diantar Bu Anatia, wali kekelas 8-2. Setelah kami memasuki kelas, aku dan Saori segera memperkenalkan diri.

“Selamat pagi! Namaku Otoha yamada!” kataku pada semua anak kelas 8-2. Mereka terkejut dengan kedatanganku sebagai murid baru.

“Otoha! Itu Otoha yamada! Dulu saat kelas 7-1, aku sekelas dengannya!” seru Syifa. Wah, itu Syifa! Aku sudah lama tak bertemu dengannya.

“Lalu, namamu siapa, nak?” tanya bu Anatia yang menunjuk Saori.

“Namaku Saori nakamura, orang asli Tokyo, Jepang,” jelasnya sedikt grogi.

“Kalau begitu, kalian duduki bangku paling belakang yang kosong itu, ya!” kata bu Selvia. Aku dan Saori menuju bangku paling belakang.

“Gimana, sih? Masa duduk dibangku paling belakang!” keluh Saori.

“Hush! Yang penting duduk, aja!” timpalku.

“Tetap saja,” katanya kesal.

Akhirnya kami mengikuti pelajaran dikelas itu. Hingga waktu istirahat tiba…

“Hei, kamu gak kelihatan, ya?” tegurku pada Saori. Daritadi aku melihatnya gelisah, dia menegakkan tubuh terus lalu duduk lagi untuk mencatat.

“Kalau kamu sudah tahu, kan, aku ini tidak terlalu jelas meihat papan tulis! Tulisannya sangat kecil. Mungkin ini pengaruh karena kita duduk dibelakang, ya?” jawab Saori dengan sangat ketus.

“Lihat saja catatanku. Nih! Mau, gak?” tawarku.

“Makasih, ya,” katanya.

~ Bersambung ~

Cerpen Karangan: Nisrina Delia Rosa
Facebook: Nisrina Delia Rosa

Cerpen My Destiny (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Wake Me Up

Oleh:
Jakarta, 19.34 WIB. Gadis itu menatap layar komputernya dengan tatapan kosong. Seolah-olah ada hal buruk yang baru menimpanya. Lima menit yang lalu. Ia merasakan aliran deja vu menghampiri hidupnya.

Perjaka Berponi

Oleh:
Bumi terus berputar, matahari tetap diizinkan-Nya bersinar, rembulan dan bintang-bintang menggantikan peran untuk menerangi langit di waktu malam. Dan menghitung jumlah bintang adalah kebiasaan Usuf, si perjaka berponi. Usuf

Ku Pilih Sahabat Ku

Oleh:
Namaku Melisa Estyani, biasa dipanggil Tya. Sekarang aku duduk di kelas X salah satu SMA swasta di daerahku. Hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah setelah sebelumnya MOS

Tragedi Roy

Oleh:
“Maafkan aku ayah, aku tidak akan mengulanginya lagi!” jerit Roy sambil meratap kesakitan. Melihat hal tersebut, Sang Ayah bukannya berhenti, dia malah semakin menjadi menyiksa Roy tanpa ampun. Roy

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *