My Little Brother

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 25 May 2016

Sang surya telah kembali tenggelam di Ufuk Timur, rembulan mulai menampakkan diri di balik awan senja. “Makan malam nenek sihir,” teriak Adik kesayanganku dari luar kamar. Cihhh .. mengganggu, aku yang sedari tadi menikmati bacaan sajak-sajak indah lewat ponsel pintar menghela napas. Selalu tidak tepat, laki-laki kedua di rumah ini selalu hadir di waktu yang tidak tepat. Dengan bermalas ria aku melangkah menuju dapur.

Ruang tamu merupakan bagian penting dari sebuah rumah. Bisa menjadi tempat berbincang dengan para tamu yang memiliki kepentingan, bahkan menjadi tempat berkumpul bagi sebuah keluarga. “Papa dan Mama akan pergi sebentar, kira-kira lima hari. Ada kesibukan pekerjaan,” jelas Mama di depanku dan tentu saja Afif, my little brother.

Sebagai anak yang baik dan berbakti pada orangtua aku tidak membantah ucapan Mama. Kedua orangtuaku pergi dengan alasan yang bisa diterima dan itu adalah sebuah kebiasaan. Tidak apa kami berdua biasa mengalaminya tapi, aku tidak terlalu sering mengalami hal ini. Karena semenjak berseragam putih abu-abu aku bersekolah jauh dari rumah. Menjadi seorang anak rantau di sebuah pondok pesantren. Karena jauh dari keluarga dan rumah aku jarang mengalami hal ini. Tapi yang pasti anak curut yang duduk di sebelahku sudah terlalu sering mengalaminya. Aku tidak tahu apa yang dia rasakan setelah berulang kali ditinggal sendirian di rumah. Ada rasa kasihan yang timbul namun segera ku hilangkan rasa itu. Tak ada belas kasihan untuk laki-laki ini.

Kembali ke diriku, sudah terlalu lama dan jauh dari keluarga membuatku merasa canggung di dalam istana sendiri. Apalagi sekarang aku tengah berkuliah semester empat di salah satu universitas ternama di pulau Jawa dan kebetulan sedang libur kuliah. Aku dan my little brother berdiri di depan pagar rumah meratapi nasib ini. Ku perhatikan sosok laki-laki di sebelahku yang lumayan tampan dengan postur tubuh tinggi hampir menandingiku. Tubuhnya kekar dan putih, sosok yang ideal untuk ukuran anak SMA. Matanya indah dengan dihiasi bulu mata lentik, warna bola mata yang cokelat membuat sejuk ketika melakukan kontak mata dengannya. Aku tidak sedang membual, Adikku ini kenapa terlahir sangat tampan. Aku sudah terlalu sering memujinya dengan segala hal yang dia punya.

Walaupun begitu masih kurang satu. Mungkin karena ketampanannya dia sangat cuek pada siapa pun, termasuk aku antara cuek dan cold itu beda tipis, kalau aku memulainya dia tipe cowok penjaga image. Walaupun sebenarnya imagenya selalu bagus. Dan pastinya tampan itu bukan tolak ukur untuk menilai orang, terutama untuk sebuah sifat. Dari lahir hingga sekarang cowok ini tidak pernah pacaran. Aku juga tidak pernah melihatnya dekat dengan seorang wanita, aku bahkan sempat berpikir apakah dia termasuk lelaki normal? Atau jangan-jangan?

“Afif pergi dulu,”

Suara deru motor hampir tak terdengar lagi. jadi dari tadi aku hanya berdiri di depan pagar rumah seperti orang bodoh. Dan dengan cara pamit yang belum direstui, cowok cold itu pergi begitu saja. Mana sopan santunnya? Ku tarik kembali pujian mengenai kesempurnaan Adikku. Walaupun serba dengan kata perfect tanpa sopan dan santun itu sama saja tidak. Aku tidak perlu memujinya lagi. Teh hangat dan udara sore menemaniku di balkon rumah. Mata ini tak terlepas dari ponsel pintar yang selalu digenggam. Sudah sore begini cowok cold itu belum pulang juga, apa ini kebiasaannya jika Mama dan Papa sedang tidak di rumah? Dan sekarang aku berusaha memasang tampang kesal pada cowok cold yang sedang memasukkan motornya di garasi rumah.

“Tunggu .. kamu dari mana? Keluyuran sampai jam segini,” aku telah memastikan apa yang ku lakukan adalah hal yang benar. Tanpa sepatah kata pun dia melenggang pergi menuju kamarnya meninggalkan aku di depan pintu dengan tangan seperti pak polisi menyetop pelanggar lalu lintas. Aku menarik napas dalam dan menghembuskannya, ini sejenis terapi pencegah amarah. Aku ini Kakakmu! Teriakku dalam hati. Rembulan tidak muncul di malam ini tertutupi oleh awan hitam, biasanya akan hujan sebentar. Ckrek .. aku mengintip dan mendapati sepasang mata cokelat melotot ke arahku.

“Balik ke kandangmu nenek sihir,” teriaknya tegas walau tidak keras.

Aku memanyunkan bibirku, segera ku tutup kembali pintu kamar yang bertuliskan ‘privasi’. Memangnya kamarnya itu aset nasional sehingga tidak boleh dilihat. Atau dia mau aku berpikiran yang tidak-tidak. Apakah banyak hal-hal berbau penyimpangan di dalam kamarnya? Bisa jadi, dia kan ABG labil walau terkadang aku merasa dirikulah yang lebih labil. Jika ada kesempatan aku tidak akan sia-siakan kesempatan itu. Aku harus bisa menerobos blockade pertahanan cowok cold di rumah ini. Seketika semangatku berapi-api, aku simpulkan malam ini aku akan menghabiskan malam ini bersama teman-teman dunia maya. Akan ku buat status-status tentang dirimu anak curut. “Hahaha,” gelak ala nenek sihir menggema di ruang tamu, aku pun tersenyum geli.

Hari minggu penuh dengan suasana kebisuan. Mie instan ala anak kos baru saja matang dan siap disantap. Aromanya benar-benar sedap dan menggoda.
“Aduh,” aku merasakan sakit di bagian perut ini. Keringat dingin bercucuran dan membuatku sampai berguling-guling di lantai. Aku tak tahu harus bagaimana, aku tak bisa berteriak ini terlalu sakit.
“Kak Eliza!” teriak Afif seketika ketika melihatku berguling-guling di lantai.
“Sakit Fif,” ucapku lirih.

Dengan cekatan Afif memapahku menuju kamarnya dan mengistirahatkanku di atas kasur. Aku tak tahu pasti dia tengah menelepon siapa sekarang. Tapi ini pertama kalinya dia terlihat begitu cemas. Dan kini aku mengetahuinya ternyata anak itu menelepon ambulans untuk membawaku ke rumah sakit. Aku membuka mata dan mendapati diriku di atas ranjang pasien rumah sakit lengkap dengan infus di tangan kiriku. Sepertinya aku tak sadarkan diri beberapa menit atau beberapa jam. Tak ada siapa pun di sini, dan tiba-tiba seseorang masuk ke kamar yang ku huni untuk sementara waktu. Dia membawa kantung keresek dan meletakkannya di meja kecil di samping kasur pasien ini.

“Gimana Kak? Sudah merasa lapar?” Aku mengernyitkan dahi, aku tidak merasa lapar untuk saat ini.
“Kata dokter Kakak harus makan nasi sebentar lagi, lagian ini salah Kakak sih siapa suruh makan mie instan, memangnya ini masih di kos-kosan. Dasar anak kos, dan untung aja enggak sampai dioperasi,” Aku menarik napas pelan, aku masih beruntung. Ini semua karena kebisaan anak kos yang sampai terbawa di rumah. Namun kini aku bisa merasakan sedikit perhatian dari Adik kecilku ini, aku tersenyum manis ke arahnya.

“Apa? Aku bantuin Kakak juga sebagai praktek dari ilmu yang sudah aku pelajari ya. Jadi jangan ge-er,” ucapnya sewot.
“Iya, aku juga sudah mengira akan begitu jawabannya. Tapi terima kasih ya.”

Sekarang aku bebas melenggang ke luar masuk kamar my little brother, tidak begitu buruk untuk seorang anak laki-laki. Kamarnya tertata rapi dan bahkan sangat bersih, karena kejadian saat aku masuk rumah sakit hubungan kami semakin membaik. Aku melihat sesuatu terselip di bawah buku besar di atas meja belajarnya. Karena sifatku yang selalu ingin tahu aku segera mengambilnya.

“Gue kan cuma nyuruh beresin kamar bukan lihat-lihat hal pribadi,”
Segera diambilnya foto yang ku pegang dan menyimpannya dalam lemari. Aku bahkan belum sempat melihat sosok di dalam foto.
“Kamar kamu bagus juga ya Fif,”
“Sudah makan sana, aku sudah selesai masaknya. Kakak juga kelihatan sudah selesai beres-beresnya,”
“Oke .. yang di foto tadi itu pacarmu ya?”
Tak ada jawaban, hanya tatapan mengerikan ke arahku.

Aku senang my little brother sedikit terbuka padaku, dan sekarang pun dia mau mengajakku bermain play station di kamarnya. Dia memang Adik idaman, semoga saja perempuan yang disukainya tidak berpikiran bodoh sepertiku menilainya dulu. “Kenapa Kakak senyum-senyum? Sudah kebobolan tiga angka loh, masih ingat taruhan kita?” Aku tersadar dari imajinasiku, ternyata aku masih kalah juga dalam permainan ini.

Cerpen Karangan: Nurhidayah Tanjung
Facebook: Nurhidayah Tanjung

Cerpen My Little Brother merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jauh Lebih Dekat (Part 1)

Oleh:
Sahabat? Apa itu sahabat?. “Astrid ayo ke kantin, nulis mulu lu, udah waktunya istirahat nih” menarik tangan astrid dan berjalan keluar “iya bentar azam” menutup buku dan memasukkan buku

Touch The Sky

Oleh:
Kalau bukan tekad yang kuat, apalagi yang bisa mendorong kita untuk bangkit setelah jatuh? Kawan, itu adalah motto hidupku. Jika aku tidak memiliki sesuatu yang disebut tekad, aku tidak

Our Friendship (Part 3)

Oleh:
Bel istirahat pun tiba. Diva dan Rieta berjalan menuju kantin. Alvin lagi berlatih basket dengan teman temannya sedang Rey lagi dipanggil sama Mrs. Mira ke ruangannya. Sesampainya di kantin,

Jujur Tidak Ajur

Oleh:
Laki-laki itu kini berusia 17 tahun. Ia dilahirkan dari pasangan Kolman dan Fatimah. Ia hidup dalam kesederhanaan bersama 2 kakak kandung dan 1 kakak ipar. Ia adalah seorang siswa

Heart

Oleh:
Aku melangkah menuju ruang tunggu di rumah sakit ini. Ibuku melarangku untuk menemaninya berkonsultasi dengan dokter yang menangani penyakitku. Dengan bosan, aku pun menuju ruang tunggu. Kulihat tidak terlalu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *