My Lovely Sister

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 22 August 2015

“Subhanallah! A beautiful girl! Ada di sekolah ini? Tapi, sebelumnya, aku tidak pernah melihatnya! Apa ia anak baru?” sebutku dalam hati.
“Bro, ngapain bengong aja? Pasti karena melihat perempuan cantik itu, ya? Ternyata yang bernama Muhammad Faqiihal Ramadhan sudah merasakan yang namanya!” Sahut Rifqy terpotong.
“Apaan, sih!” potongku.

Tak salah lagi. Gadis manis itu memang anak baru di sekolahku. Yah, walau pun masih kelas tujuh. Gak apalah aku intip sebentar. Oh, namanya Aqeella. Sip, deh!
Saat jam istirahat tiba.

“Hy, boleh kenalan, gak! Anak baru yah? Aku anak kelas delapan A!” Sapaku padanya.
“Boleh! Namaku Aqeella!” Balasnya.
“Namaku! Muhammad Faqiihal Ramadhan! Biasa dipanggil dengan sebutan Al! Salam kenal, ya!” sambutku.
“Iya, salam kenal juga kak! Aku permisi dulu ya, kak!” jawabnya.

Begitu Aqeella meninggalkanku. Kenapa rasanya beda? Menurutku bukan Aqeella saja yang cantik di sekolah ini. Baru ku kenal dia saja, rasanya seperti sudah kenal lama. Aneh!

“Al, tadi aku ketemu Aqeella! Dia cantik kali, ya Al! Tapi setelah ku pikir-pikir, Aqeella itu, kok, mirip kamu ya, Al?” Tanya Rifqy, Si Ucok dari Batak itu.

Lama ku kenal dia, Aqeella. Sekitar satu semester ku kenalnya. Kadang aku sering main bareng sama teman-teman yang lain dengannya. Gak enaklah, kalau cuma berdua. Menurutku dia orangnya asyik diajak ngobrol, baik, apalagi senyumnya manis banget. Dan selalu nyambung kalau bicara dengannya. Tak seperti Si Ucok Rifqy. Tapi, hatiku bertanya-tanya. Memang benar aku mirip dengannya? Seberapa mirip, sih?

Aku pernah dikenalkan ke Ayahnya Aqeella. Ternyata Ayahnya Aqeella orang yang ramah. Aku sempat ragu untuk bertemu dengan Ayahnya. Yah, walaupun ketemu di taman, sih. Tetapi aku belum sempat tahu nama Ayahnya siapa. Karena waktu itu Ayah Aqeella sedang buru-buru. Dan Aqeella pernah bertanya padaku.

“Kak, aku boleh kenal gak, sama Ayahnya Kakak?” Tanyanya. Aku pun terunduk.
“Bunda dan Ayah sudah bercerai! Sudah lama sekali, sesudah Kakak dilahirkan! Kakak pun belum tahu bagaimana wajah Ayah! Bunda tidak pernah mengizinkan Kakak untuk melihat foto Ayah sekali pun!” bilangku sedih.
“Yah, maaf, kak! Aku gak tahu! Tapi, aku akan bantu Kakak, kok, untuk cari tahu siapa Ayah Kakak!” Ujar Aqeella.
“Serius! Mau bantu aku? Itu gak mudah, loh!” Tanyaku meminta keyakinan.
“Serius, kak! Nah, sekarang, kalau bunda Kakak lagi gak di rumah, Kakak harus usahain Kakak yang hanya di rumah waktu itu! Periksa laci-laci atau lemari yang jarang bunda Kakak buka! Usahakan Kakak mencari di tempat-tempat tertutup! Juga kuncinya bila ada. Bisa saja, ada data-data Ayah Kakak yang disembunyikan! Kalau sudah, coba Kakak cari fotonya di mana pun sisi dan sudut kamar bunda Kakak! Aku hanya bisa bantu dengan usulku! Semoga bermanfaat! Sepertinya aku harus pulang, nih! Sampai jumpa, ya, kak!” usul dan pamit Aqeella.
“Terimakasih, ya, Dik!” balasku.

Ternyata Aqeella cerdik juga. Gak salah kalau aku coba. Hingga tepat waktunya, bunda pergi ke pasar. Ini adalah kesempataan emasku. Untuk mencari ujung dari jati diriku. Akhirnya, ku coba juga cara itu. Ternyata ada laci di bawah lemari bunda tanpa ku sadari. Ada sebuah kotak kayu. Ternyata apa yang kucari akhirnya kutemukan. Data-data Ayahku dan beberapa foto yang sedikit ada bekas terbakar.

“Jadi nama Ayahku Hilmawan Fauzi! Tapi, foto ini mirip Ayahnya Aqeella! Tapi, belum tentu! Aku harus tanya Aqeella sekarang!” pintu rumah langsung ku kunci. Aku keluar menemui Aqeella.
Untung Aqeella ada di taman dekat rumahnya, jadi tidak susah menemukannya. “Aqeella!” teriakku.
“Udah ketemu, kak! Data-datanya?” tanyanya langsung.
“Sudah! Sekarang Kakak mau tanya! Siapa nama Ayah Aqeella?” balas dan tanyaku.
“Oh, nama Ayahku itu Hilmawan Fauzi! Memangnya kenapa?” tanyanya.
“Apa seperti ini tulisan namanya? Dan apa ini fotonya?” Tanyaku balik.
“Oh, iya! Benar! Ayah juga punya beberapa foto yang sama seperti foto-foto itu!” jawabnya.
“Jadi! Apa benar, atau jangan-jangan Ayah sudah menikah lagi dengan wanita lain! Dan Aqeella adalah anak mereka! Berarti Aqeella adalah adik tiriku! Makanya wajahku mirip dengannya! Karena kami satu Ayah tetapi beda Ibu!” kataku setengah dalam hati.

Tak ku rasa Ibuku datang. Mungkin Ibuku lewat jalan depan rumah Aqeella.

“Loh, kok, Al, kamu ada di sini? Ini siapa? Dan apa itu yang kamu pegang?” Tanya Ibuku langsung.
“Emm! Iya, Bun! Ini Aqeella, teman Al! Dan ini!” Sahutku, dan Ibuku langsung merebut data-data dan foto-foto yang ada di tanganku.
“Loh, Al! Ini kan data-data dan foto-foto Ayahmu! Kok, bisa ada di kamu!” Tanya Bunda lagi.
“Ayah kak Al?” Aqeella setengah kaget. Seketika Ayah Aqeella datang.
“Aqeella! Al! Dan! Irma?” sapa Ayah Aqeella padaku dan Aqeella. Tapi Ayah Aqeella seperti bertanya tanya menyebut nama Bunda.
“Mas Awan!” Sebut Bunda menyebut nama Ayah Aqeella dengan nama Awan.
“Ini siapa kamu Irma!” Tanya Ayah Aqeella menunjukku.
“Ini Al! Muhammad Faqiihal Ramadhan!” begitu Bunda menyebut nama lengkapku.

Ternyata benar dugaanku. Ayah Aqeella benar Ayahku juga. Wajah kami mirip karena kami satu Ayah. Hanya beda sedikit saja. Makanya aku cepat dekat dengan Aqeella. Aqeella adalah adik tiriku selama ini. Namun, biar pun Aqeella hanya adik tiriku, aku tetap menyayangi Aqeella seperti adik kandungku sendiri. Bagiku, Aqeella seperti malaikat kegembiraanku. Di saat aku sedih, Aqeella selalu membentangkan senyumnya. Hanya itu yang dapat membuatku bangkit dari gunda. “Thanks to My Lovely Sister!”

Cerpen Karangan: Kheezzya Febbyolla
Blog: http://kheezzyaprincess.blogspot.com
NAMA : KHEEZZYA FEBBYOLLA CAHYAA DIANDRA
UMUR : 12 TAHUN
KELAS : VII SMP
BLOG : http://kheezzyaprincess.blogspot.com
TWITTER : @kheefebby

Cerpen My Lovely Sister merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penyesalan yang Tak Berarti

Oleh:
Hari-hari seperti biasanya dan tidak ada yang berubah. Seperti biasa, setiap sore aku habiskan waktu untuk bermain sepeda bersama teman-teman seusiaku. Maklumlah, pada saat itu bersepeda sore sedang nge-trend

Who You?

Oleh:
Hujan turun sangat lebat, aku masih berdiri mematung di depan jendela kamar. air mata mewakili dan menemaniku saat ini, entah apa yang aku rasakan hati ini begitu hancur. Rintikan

Kecanduan Gadget

Oleh:
“Doni!!! Kenapa nilai ulanganmu merah semua?” Teriak wanita paruh baya yang tiada lain adalah ibunya. “Itu sudah biasa Bu,” timpalnya dengan tenang sambil terus memainkan gadget favoritnya. Ibunya hanya

Kekuatan Hidup Ku

Oleh:
Angin pagi yang mulai menyambutku, membuat sekujur tubuhku terasa dingin dan segar, disertai suasana hati yang tenang dan damai. Entah apalah yang terjadi, tepat pukul 11.00 siang aku mendengar

Hilang Harapan

Oleh:
Kisahku berawal di akhir tahun 2015, ketika semua keluargaku masih lengkap dan utuh. Namaku Annisa Padhila, umurku 19 tahun, aku terlahir dari keluarga sederhana, aku mempunyai adik perempuan yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *