My Red Rose

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 5 February 2014

“Dihabiskan ya makanannya, jangan sampai ada yang tersisa” kata Ibuku yang membawa makanan ke kamarku.
“Iya bu” jawabku seadanya.

Seperti biasa, aku selalu membuang separuh dari makananku. Mulai dari nasi dan juga lauknya. Itu caraku untuk menjaga tubuhku agar tetap langsing.

“Ibu, ambil piringnya, Mika sudah selesai makan nih” teriakku dari lantai 2 kamarku. Aku sering memerintah ibuku, bahkan ayahku. Salah mereka sendiri, kenapa tidak mencari pembantu. Aku sangat amat beruntung lahir sebagai anak semata wayang di keluarga kaya raya. Aku tinggal minta saja pada mereka apa yang aku perlukan. Hidupku sudah mapan tanpa aku bekerja, karena warisan dari mereka pun tidak akan habis tujuh turunan. Itu yang ku pikirkan.

Tidak terasa aku pun terlelap setelah selesai makan. Saat aku terbangun aku mendengar keributan kecil di lantai satu rumahku.
“Saya mohon pak, jangan sita rumah kami. Dimana kami akan tinggal.” Ucap ibuku yang berlutut sambil menangis. Memohon belas kasihan dari orang-orang berbadan tegap dengan seragam polisinya.
“Maaf bu. Ini perintah atasan. Sekarang silahkan ibu pergi dan jangan membawa barang apapun. Karena semua akan diperiksa penyidik.” Jawab salah satu dari mereka dengan mimik tegas.
“Apa yang sedang terjadi bu?” kataku sambil menitikkan air mata.
“Ayo kita pergi nak”

Aku duduk di teras rumah sempit yang jauh dari kesan mewah. Ayahku dituduh korupsi. Entah benar entah tidak. Karena yang ku tahu, jika aku perlu uang maka dia akan segera memberikannya. Sekarang aku menangis, karena semua ini tidak adil bagiku. Aku orang punya, kenapa harus melarat dalam hitungan detik seperti ini.

“Karena kita tidak punya uang ataupun benda berharga sama sekali, maka kamu harus bantu ibu jualan bunga, ya, Hanya tanaman bunga mawar itu yang ibu miliki.” Ucap ibuku lembut sambil mengelus rambutku. Dia pun menunjuk ke arah kebun yang ditumbuhi bunga mawar merah.
“Mika gak mau. Ini gak adil bu, Mika gak mau hidup susah” kataku menepis tangan ibuku.
“Tidak ada hal lain yang bisa kita lakukan” ucap ibuku lemas. Ibuku menitikan air mata. Aku melihat kesedihan mendalam yang dirasakan ibu.
“Ibu, maafin Mika. Iya Mika mau bantu ibu jualan bunga, demi kita bu. Dan demi ayah. Maafin Mika bu” kataku sambil memeluk erat ibuku. Aku akhirnya juga ikut menangis dipelukan ibu.

Pagi itu aku mulai menjual bunga mawar merah di jalanan yang cukup besar. Aku berjualan dengan cara keliling. Karena lebih cepat laku. Itu kata ibuku. Tapi sifat malasku keluar lagi. Sehingga akhirnya aku duduk di taman dekat jalan raya sambil melamun.

“Bagaimana mungkin aku harus jualan bunga mawar keliling. Aku masih muda, masih 20 tahun. Ini tidak adil” batinku.
“Mbak, setangkainya berapa ya?” Tanya seseorang yang membuyarkan lamunanku.
“Sepuluh ribu saja” jawabku. Aku sedikit kaget. Karena pembeli pertamaku adalah seorang gadis kecil. Mungkin umurnya sekitar 7 tahun. Hanya saja dia cacat. Tangan kanan dan kaki kirinya tidak ada. Dia juga sepertinya pedagang asongan. Karena menenteng snack dan minuman di keranjangnya.
“Wah, mahal ya. Apa tidak bisa kurang mbak? Saya mau belikan untuk ibu saya. Beliau lagi ulang tahun mbak. Kalau lima ribu, bisa tidak?” ucapnya polos.

Aku terkejut. Selama ini aku bahkan tidak ingat ulang tahun orangtuaku. Aku tidak pernah memberikan mereka hadiah. Aku hanya menuntut ini itu.

“Ibumu suka mawar merah? Kamu ambil aja ya. Gratis” kataku sambil tersenyum dan menyerahkan setangkai mawar merah itu.
“Gak usah mbak. Jangan gratis ya. Aku mau membelikan sesuatu buat ibuku dengan uang hasil jerih payahku sendiri. Kalau saya bayar lima ribu apa bisa mbak? Saya dari tadi keliling baru dapet lima ribu”.

Lagi, aku terkejut mendengar ucapan polos gadis kecil ini. Seperti ada hantaman kuat di hatiku. Hampir saja aku menangis. Tapi aku langsung mengiyakan permintaan gadis kecil ini.

“Oke. Lima ribu dapat dua tangkai ya.” Balasku dengan senyuman.
“Terimakasih mbak. Semoga kebaikan mbak dibalas sama yang Diatas yah”
Gadis itu berlalu. Aku masih memperhatikannya. Jika aku berkata hidupku tidak adil, lalu bagaimana dengan dia. Air mataku mulai mengalir.
“Ibu, ayah. Maafin Mika”

“Jam 7 malam. Aku baru pulang. Lima puluh tangkai bunga mawar merah sudah laku terjual. Aku melihat ibu sedang duduk di teras membawa dua bungkusan kecil dan air mineral.
“Mika, ayo makan sini. Kamu pulang larut sekali nak. Kamu pasti belum makan ya dari pagi. Sini” ucap ibuku.
“Mawar merah Mika laris manis bu” ucapku dengan senyum sumringah.
“Ternyata cari uang itu susah ya bu. Aku sampai gosong begini” kataku diiringi tawa kecilku.
“Baru sadar ya. Kamu gak lihat ayah kamu kerja keras dari pagi pulangnya larut malam. Itu demi kamu”

Aku mulai menangis dan memeluk ibuku.

“Ayo makan bu. Besok kita jenguk ayah ya.” Aku pun langsung makan dengan lahapnya. Belum pernah aku makan dengan perasaan sebahagia ini. Makanan seadanya ditemani segelas air mineral terasa mewah untukku.

Selesai makan, aku pun tidur di kasur kecil bersama ibuku. Tidak lupa aku berdoa, agar diberi kekuatan untuk menjalani hari esok. Saking lelahnya, aku tertidur sangat lelap. Hingga akhirnya aku terbangun dan…

“What?!” Aku melihat sekelilingku. Aku di kamar mewahku. Aku menampar keras pipiku.
“Aw, sakit. Ini bukan mimpi. Berarti yang tadi itu hanya mimpi?” Aku linglung sendiri.

Aku langsung turun ke lantai satu. Aku melihat kedua orangtuaku sedang menungguku untuk makan malam.

“Ayah? Bukannya ayah?” aku menoleh ke arah ayahku.
“Ibu, bukannya kita?”
Mereka berdua bingung.
“Kamu kenapa Mika? Ibu sudah membangunkanmu dari tadi, tapi tidurmu sangat lelap. Jadi kami menunggumu.” Kata ibu lembut.

Aku langsung berlari memeluk kedua orangtuaku.

“Ayah, Ibu maafin Mika. Mika janji bakal jadi anak yang penurut. Mika bakal kuliah yang rajin, makan gak bersisa, gak foya-foya lagi. Mika bakal banggain kalian. Mika juga mau kerja di kantor ayah. Terimakasih karena kalian udah nyayangin Mika ya”

Orangtuaku bingung. Namun mereka hanya bisa tersenyum dan memelukku. Aku merasakan ada benda di dalam saku celana. Aku pun mengeluarkannya. Aku terkejut menemukan dua gelang cantik yang terbuat dari anyaman tali.

“Memangnya kenapa?” Tanya ayahku.
“Tidak apa-apa yah. Ini gelang pengikat. Mika beliin ini buat ayah sama ibu. Biar kalian bisa sama-sama terus” jawabku. Mereka memelukku lagi.
“Kenapa gelang ini bisa ikut bersamaku” batinku.

Flashback
Mendengar penuturan gadis itu, aku pun tersentuh. Akhirnya aku mulai berjualan mawar merah di sepanjang jalan. Tak terasa semua laku terjual. Walaupun aku sangat lelah dan lapar tentunya.
“Tak apalah. Namanya juga kerja” kataku menyemangati diri sendiri.
Saat akan pulang, aku melewati seorang nenek yang berjualan aksesoris buatan tangan. Aku memperhatikan ada gelang cantik yang terbuat dari anyaman tali.
“Itu aku namai gelang pengikat. Berikan pada mereka yang kau sayangi maka mereka akan bersama selamanya” jawab nenek itu.
Mungkin itu hanya trik penjualan, karena aku juga melakukannya tadi saat menjual bunga. Namun aku tetap membelinya.
“Satu untuk ayah, satu untuk ibu” kataku kegirangan.

TAMAT

Cerpen Karangan: Ni Luh Juni Arini
Facebook: juniarini95[-at-]yahoo.com
Terimakasih sudah membaca 🙂 follow me on twitter @arinicuitt. Mari berteman 😉

Cerpen My Red Rose merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku, Kamu dan Dia

Oleh:
“Jangan Cuma bisa berani di depan aja dong, ndry. Buktiin kalau kamu bisa ngomong itu ke Reni.” Itulah kata Doni yang selalu muncul di pikirannya Andry. Andry sudah meyukai

Lelaki Matahari

Oleh:
Seperti biasa, sang Ibu membangunkan anak lelakinya yang mulai remaja. Seorang anak bertubuh kekar yang diberi nama Sutrimo. Menurut orang Jawa, Su berarti baik dan Trimo berarti selalu menerima

Harapan

Oleh:
Hari hariku berjalan selayaknya anak anak seumuranku, tapi banyak sekali perbedaanku dengan mereka karena aku tidak sempurna seperti mereka. “Syani awas nak” suara perempuan yang berada di seberang jalan.

Hidupku Adalah Warnanya (Part 1)

Oleh:
Orang bilang aku aneh, ya memang Aku akui pendapat mereka, karena aku memang aneh, Aku memiliki dua bola mata yang berbeda warna, kiri coklat, sedangkan yang kanan hitam, itu

Arti Kehilangan

Oleh:
Bilqis adalah seorang anak remaja berumur 18 tahun, dia seorang yang pekerja keras, ramah, dan penyabar dia memiliki seorang adik bernama Cha gadis cantik berumur 15 tahun. Sifat Cha

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *