My Sister is My Spirit

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 17 February 2018

Namaku Atira Adinda. Aku memiliki seorang kakak yang bernama Ariva Alisa. Umur kami terpaut 6 tahun. Kakakku adalah sumber utamaku untuk tetap bertahan dalam kehidupan yang keras ini. Bagaimana tidak? diumurku yang baru menginjak 8 tahun, aku harus melihat kedua orangtuaku yang terus bertengkar setiap harinya, entah karena hal-hal sepele atau memang masalah besar. Sampai orangtuaku pun jarang peduli terhadap perkembangan kedua anaknya ini. Sebagai anak yang paling kecil, yang belum mengerti apa-apa tentu saja aku sedih, bahkan di sekolah pun aku terlihat murung dan jarang mendengarkan guru yang sedang menjelaskan materi di depanku, sampai beberapa kali aku ditegur keras oleh guru hingga berujung orangtua yang dipanggil. Aku senang, mungkin dengan ini orangtuaku akan peduli tapi ternyata dugaanku salah. Pada kenyataannya, Papa dan Mama tidak peduli, justru yang datang ke sekolah untuk memenuhi panggilan guru adalah kakakku, ia rela dibentak guru hanya karena aku, dan aku sangat merasa bersalah, hingga aku meminta maaf padanya, tapi yang ada dia hanya memberikan senyum padaku. Senyum manis yang dia berikan setiap hari kala orangtuaku tak perduli pada kami. Sama seperti ucapan-ucapan yang ia berikan untuk menguatkanku.

“Dinda minta maaf ya kak. Gara-gara Dinda, Kak Riva dimarahin guru.” Itu yang aku ucapkan pertama kali saat Kak Riva membawaku ke sebuah taman dan membelikanku es krim
“Nggak papa. Tapi lain kali, Dinda harus janji nggak bakal ngulangin kesalahan yang sama lagi. Kalau Dinda begitu lagi kakak bakal kecewa banget. Takutnya nanti kalau kakak nggak ada kamu bakal begini lagi.” jawabnya. Aku bingung. Kok Kak Riva ngomong begitu ya? nggak biasanya
“Maksud kakak apa?” tanyaku
“Nggak. Ntar kalau udah saatnya kamu juga bakalan ngerti”

Aku yang kala itu masih kecil hanya dapat mengangguk-angguk saja. Seolah aku ini mengerti. Aku memang merasa ada yang berbeda pada Kak Riva tapi aku tak tau apa itu?. Aku tak mengucapkan apa-apa setelah itu, aku malah sibuk dengan es krim yang ada di tanganku ini. Hingga pada suatu hari, kejadian yang tak kuinginkan terjadi.

Pagi itu aku sedang menonton televisi di ruang tamu bersama kakakku. Kami tertawa bersama karena kartun lucu Spongebob Squarepants
“Nanti kalau kakak nggak di sini lagi bareng kamu, kamu jaga diri baik-baik ya! jangan nakal lagi, kalo papa sama mama lagi bertengkar, kamu jangan mudah sedih, coba deketin papa sama mama dan bilangin baik-baik kalau bertengkar itu nggak baik.” ujar Kak Riva, aku menoleh dan menatapnya tak mengerti

“Kakak kenapa sih? kok ngomong itu terus akhir-akhir ini. seminggu yang lalu kakak juga ngomong ini ke aku” jawabku. kak riva hanya menggeleng dan tersenyum tipis. wajahnya pucat. beda dari biasanya. apa kak riva sakit?
“soalnya kakak mau pergi adek”
“ke mana?”
“ke tempat yang lebih baik dari ini”

“aku ikut ya?”
“nggak bisa.. kamu di sini aja jagain papa sama mama. nanti kalau dibolehin kakak akan jenguk kamu”
“oh.. iya”

Aku tak sadar. ternyata yang diucapkan kakak riva benar-benar terjadi. kakakku benar-benar pergi. dia meninggal di pangkuanku. Dokter bilang kak riva udah sakit kanker pankreas sejak 3 tahun yang lalu. dan aku papa, mama sama sekali tidak tau itu. pantas saja aku sering melihat kak riva sakit perut dan beberapa kali meminum obat. saat ditanya pun kakak hanya tersenyum.

Sekarang umurku sudah 17 tahun. saat aku mengingat kejadian ini air mataku akan menetes tanpa aku minta. setelah kepergian kakak hubungan mama dan papa pun berangsur membaik. mereka menyesal karena telah mengabaikan kami. menyesal karena terlambat membahagiakan kakak. dan mereka berjanji untuk membahagiakaknku demi kak riva.

“Kak Riva… Dinda, Papa, sama Mama udah bahagia di sini? kakak lihat kan? mereka udah nyesel. kalau kakak di sini mungkin kebahagiaan akan semakin terasa lengkap. dinda tau kakak lihat kami di sana. makasih ya kak untuk semuanya. walaupun kita berada di tempat yang berbeda, tapi aku bakalan ingat kakak terus, ada atau enggak kak riva tetaplah penyemangat yang ada di hidup dinda” ucapku di depan batu nisan kak riva sebelum aku beranjak untuk pulang.

Cerpen Karangan: Nurbaiti Jamilah
Facebook: Nurbaiti Jamilah

Cerpen My Sister is My Spirit merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kehilangan Yang Sama

Oleh:
Wanita berparas ayu itu duduk tak berdaya meratapi nasibnya kala jingga datang menjelma. Butiran air mata perlahan mengalir di permukaan pipinya seiring jingga yang mengucapkan salam jumpa dari sang

Dear Mama Papa

Oleh:
Pagi yang sunyi, di temani rintikan hujan yang membasahi dunia ini, aku termenung di sebuat kursi di depan balkonku. Di temani secangkir teh hangat. Namaku Sasya Angel Salsabil. Aku

Bintang Benderang

Oleh:
Aku siswa kelas 3 SMA yang sedang mempersiapkan diri mengikuti ujian di PTN untuk mencari fakultas kedokteran. Orang lain biasa memanggilku Ida. Hari aku sedang mencari buku-buku kedokteran di

Tuhan Izinkan Dia Hidup

Oleh:
Masa muda masa yang penuh warna, derita, bahagia, dan juga penyesalan bercampur jadi satu. Begitu juga dengan masa mudaku, aku selalu berpikir seandainya saja aku tidak memilih jalan itu

Kado Terakhir Untuk Mama

Oleh:
Namaku Devina Aurelia Widjaja, biasa dipanggil Devi. Aku kelas VII. Aku mempunyai seorang Mama, ia menderita kanker paru-paru. Suatu hari aku bertanya kepada mamaku, “Ma, mama ultahnya kapan?”. “Lusa,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *