Namaku Anugrah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Pengorbanan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 12 May 2018

Keluarga, hal yang tak ternilai harganya. Satu kata berjuta makna di dalamnya. Bahkan emas, permata, berlian kalah berharga denganya.

Ayah… Ibu..
2 tokoh penting dalam keluarga layaknya sang surya. Jiwa dan hati mereka tulus ikhlas membangun sebuah keluarga. Dengan satu titpan dari Tuhan untuk melengkapinya, Anak. Pengorbanan dan kasih sayang mereka tulus menyelimuti buah hatinya. Nyaman, memiliki keluarga seperti itu.
Hangat.. Pelukan itu.. Ciuman kasih sayang itu…

Seperti roda, hidup tak selamanya di atas, kadangpun harus merasakan jatuh. Jatuh ke dalam jurang kehidupan. Semua kehangatan itu, sirna teriup oleh angin kehidupan.

“Apa kamu!, baru pulang kerja sudah diomelin gitu, istri macam apa kamu itu!”
“Kamu pulang, sampai malam begini. Anak Istri ditelantarin!”
Teriakan terdengar oleh seorang anak laki-laki yang berada di dalam kamarnya yang gelap, sendiri, sambil meringkuk memeluk erat guling kesayangannya. Menangis tanpa suara, mungkin hanya Air matalah yang dapat menggambarkan suasana hatinya. Ia ingin teriak marah. Mendengar semua ini. Mendengar kedua orangtaunya berdebat sana sini. Tak lama ia pun Tertidur.

“Angga Bangun! Dasar pemalas!, Cepet mandi, ganti baju, sarapan sana! Hari ini Sekolah!”
Mendengar kalimat dari ibunya, ia pun langsung bergegas. Setelah semua siap. Ia berangkat dengan hati yang gundah, muka penuh kebencian terhadap semua keadaan ini. Sampai di sekolah, dan melihat teman-temanya bersalaman, tersenyum kepada orangtuanya. Rasanya ia sangat iri melihatnya. Iri sekali.

Kehidupan yang keras ini, menjadikannya anak nakal di sekolahnya. Membuat onar, nilai akademik hancur, hampir setiap hari panggilan dari BK. Tapi, dibalik itu semua. Angga, anak yang taat Agama.
Meski kehidupan dapat menghancurkannya, tapi ia tetap percaya bahwa Tuhan masih berada di sisinya. Hanya itu.

Tet… Tet…
Bel istirahat terdengar. Mushola di sekolahnya jadi tujuan awalnya. Ia wudhu, sholat dhuha dan mencurahkan semua ceritanya di sujud terakhirnya, rintisan air mata tak sanggup ia bendung. Hanya Ayah-ibu disetiap doanya. Setelah sholat, ia bersandar di sebuah pilar mushola yang tampak sepi itu, hanya ia sendiri.

Angga teringat kembali ketika teman-temanya diantar oleh kedua orangtaunya ke sekolah. Bercengkrama di depan pagar sekolah. Mengenakan seragam putih biru.
Angga menangis lagi. Urusannya amat sederhana. Ia rindu hangatnya pelukan kedua orangtuanya. Kuasa langit pun menjawab semuanya. Dengan amat sederhana pula. Siang itu seakan kuasa langit merasakan kesedihan yang dialaminya. Tangisannya mengundang hujan.
Mesti hujan pelajaran sekolah tetap berlajut, Angga hanya melamun menatap hujan. Ia sendiri, duduk sendiri. Kebetulan teman sebangunya sedang sakit. Tak ada hiburan pada siang berhujan itu.

Waktu terus berjalan. Hujan pun reda. Bel terdengar lagi, menandakan waktu pulang sekolah.
Sekali lagi, Angga melihat pemandangan yang membuat hatinya sedih lagi. Disetiap perjalan pulang, langkah kakinya, hela nafasnya amat berat untuk kembali ke rumah sederhanya itu.

Tak lama ia sampai. Rumah itu sepi kedua orangtuanya kerja hingga larut malam. Ia hidup mandiri. Sendiri. Sore pun berganti malam. Matahari telah hilang berganti bulan dan bintang.
Ia melihat foto kecil yang berada di kaca kamar tidurnya. Ia melihat, memandangi, membayangkan semuanya. Semua, kenangan bersama orangtuanya dulu sebelum mereka terbelit utang dan harus berkerja ekstra keras. Tapi mereka melupakan kasih sayang mereka dan saling menyalahkan.
Rindu terseyum, rindu hangatnya pelukan dan kecupan kasih sayang. Hanya di kaca angga belajar untuk tersenyum. Tersenyum ikhlas menerima semuanya keadaan.

Tak terasa, orangtuanya sudah pulang. Tak ada salam, maupun sapa. Pelukan apalagi. Hangatnya keluarga hilang.
Suasana tetap sepi, dingin. Angga hanya bisa duduk di meja belajarnya. Memandangi bintang lewat jendela di depanya. Terbayang olehnya, hangatnya masa kecilnya.
‘Tuhan, kapankah ini harus berakhir?’. dalam hatinya ia pun bertanya kepada Tuhan. Ia percaya, bahwa hanya Tuhan yang tau jalan dan ke mana arah kakinya melangkah. Manusia bisa merancang, tapi tuhan bisa merubahnya. Dan itu jauh lebih baik.

Akhirnya Tuhan menjawab semuanya pada malam itu juga.
Bruuak.. Terdengar pintu rumahnya dibobol oleh 2 perampok bersenjata. “Siapa kalian!” Ayah Angga pun mecoba melawan. Tapi usahanya sia-sia. Pistol di tangan perampok itu mengancam nyawanya. Semua keluarga dikumpulkan di ruang tengah.
“Kalau kau berani melawanku akan kutembak kau dengan pistol ini!” bentak salah satu perampok itu. Perampok satunya menjarah semua barang berharga di dalam rumah. Ayah dan ibunya Angga hanya bisa diam ketakutan. Tapi, Angga berusaha melawan perampok itu.
Ia tak takut dengan pistol itu. Dengan peredam suara pada pistol tanpa Angga sadar tembakannya mengenai dada Angga. Darah keluar dari bajunya. Layaknya seorang pendekar, Angga tetap melawan dan memukuli perampok itu. Dan Dor… Tembakan kedua mengenai perut Angga. Angga merasakan sakit. Ayahnya yang berusaha membantu Angga, tetapi semua sudah terlambat. Dor… tembakan keempat tepat di jantung Angga. Angga jatuh bermandikan darahnya sendiri. Perampok itu kabur.

Ayah-ibunya langsung berlari menghampiri Angga yang penuh darah itu. Takut, cemas, dan penuh penyesalan terukir di wajah keduanya.
“Ngga, Angga. Bertahanlah. Tolong. Kenapa kamu mencoba melawan mereka?” tanya ayahnya dengan khawatir. Ibunya hanya bisa menangis melihat putranya berselimutan dengan darah.
“Akhirnya Angga bisa melihat wajah khawatir ayah dan ibu. Angga rindu itu semua, waktu dulu Angga kecil. Ayah dan ibu khawatir waktu Angga sakit, akhirnya Angga bisa melihatnya lagi. Ayah pernah cerita tentang nama tengah Angga, “Priya Anggaraksa”, yang artinya pelindung bagi yang lemah. Lalu, Ibu pernah bilang ke Angga, “Kalau adek sudah besar, adek harus berani melindungi orang-orang yang adek sayang. Bahkan kalau nyawa adek terancam, ibu mau melindungi adek walau nyawa ibu taruhanya” itu yang ibu bilang ke Angga. Dan sekarang waktunya Angga untuk melindungi Ayah-Ibu. Angga ikhlas mesti nyawa taruhanya.”
Mereka berdua hanya bisa diam dan air matanya mengalir keluar.

“Ayah-ibu sayang kan ke Angga, Cinta ke Angga. Ikhlaskan jika Angga harus pergi?”
“Angga enggak boleh pergi, Angga harus tetap di sini bersama Ayah dan Ibu. Angga enggak boleh pergi. Angga harus tetap disini.” Ibu pun berkata dengan tangisan yang cukup deras. Menagis di dada Angga, Tangisan penuh penyesalan.
“Iya kan?” Suara Angga sudah mulai melemah. Nafas pun mulai sulit.
“AYAH MOHON!! JANGAN PERGI!! ANGGA PERNAH JANJI KE AYAH MAU JADI ORANG SUKSES. JADI, ANGGAK ENGGAK BOLEH PERGI!! AYAH MOHON” Ayah beseru panik.
“JANGAN PERGI!!” Ibunya gemetar merengkuh tubuh itu.
Mereka berdua memeluk Angga dengan erat, amat erat.

“Ibu dan Ayah sayang sama Angga. Jadi Angga jangan pernah pergi meninggalkan kami. Angga berharga bagi kami. Angga Berharga, Jangan pergi!”
Angga hanya terseyum ke mereka. Ayah-ibu pun memeluk erat Angga, lebih erat. Amat kuat, Untuk yang terakhir kalinya, Angga merasakan hangat pelukan kasih sayang kedua orangtuanya.
“Terima Kasih, Angga sayang Ayah-Ibu”
Mata Angga pun, pelan-pelan menutup.
Pergi, Selamnya.

Akhirnya tuhan menjawab semuanya. Menjawab doa Angga, dan ia pun berhasil, berhasil untuk …
Tersenyum dengan ikhlas tanpa beban apapun.

Cerpen Karangan: Aldis Priya A
Facebook: facebook.com/aldis.p.anggaraksa

Cerpen Namaku Anugrah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Remedial

Oleh:
Malam minggu sehabis ujian mungkin bagi para remaja adalah hari yang paling menyenangkan tapi bukan bagi ku atau mungkin siswa sekolah ku (kemungkinan ya). Aku bukan sibuk karena apapun

Untuk Yang Terakhir

Oleh:
Matahari mulai terbenam dari ufuk barat, pelahan-lahan malam pun datang. Udara dingin terasa mulai menusuk. Entah mengapa udara malam ini sangat digin sekali, tiba-tiba rintik air hujan pun turun.

Akhirnya

Oleh:
Halo namaku sintia ramdhani khairrunnisa bisa dipanggil nisa, aku siswa kelas 6 di sd negeri melati 2. Entah kenapa saat aku menanyakan ayah, ibu selalu menjawab “Ayah lagi cari

Petaka

Oleh:
Sore itu hujan deras membasahi bumi, Guruh bersahut-sahutan. Dengan langkah tergesa Ghea berlari sembari melindungi kepalanya dengan tas ranselnya. “Ghea, kamu habis darimana dek? Kok gak minta jemput sih?

Kesabaran Ibuku

Oleh:
Pada suatu ketika Bapak dan Ibuku bertengkar, entah apa yang dipermasalahkannya. Pada saat itu aku bertanya kepada ibu. “Ibu, mengapa Ibu menangis?”. Ibunya menjawab, “Sebab, Ibu adalah seorang wanita

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *