Namaku Suganda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 21 October 2017

Tak ada yang pantas untuk dipaksakan. karena semuanya sudah ALLAH tetapkan.
Jika kau sayang, mohon lepaskan.
Jika kau cinta, tolong tinggalkan.
Lanjutkan hidupmu, dan aku lanjutkan hidupku.
Tak perlu memaksa takdir berpihak kepada kita.
Karena kendali atas kita tidak pernah ALLAH tukar untuk yang lain.
Cukup kita percaya bahwa tanpa menjalin cinta dalam sepanjang kekasih akan mengantarkan kita pada cinta yang hakiki.
Takkan lekang kebahagiaan bila kita putuskan untuk sendiri dulu.
Takkan sulit jalani hari tanpa kita berdua.
Dan takkan sis-sia bila kita tinggalkan semua karena Nya.
Tapi sekarang, sudah saatnya aku yang meminta.
Silahkan pergi, kau sudah terlalu lama berdiri di depan pintu.
Jangan menghalangi, karena itu hanya akan menunda langkah kita mengejar mimpi-mimpi.
Saat ini biarlah,
Aku dan hidupku.
Kau dan hidupmu.
Maaf jika selama ini pernah bersamamu dalam jalan kebodohan.
ALLAH sayang kita, karena itu ia pisahkan kita, demi pertemuan abadi.
Bersama orang yang sudah pasti ia persiapkan, atau mungkin bisa saja seseorang itu kamu.
Karena itu aku tak ingin mengganggu hatimu.
Begitu pula yang kumau darimu.
Selamat tinggal Kebodohan.
Selamat datang Bahagia.
By: temennya temen facebookku

Perceraian. sesuatu yang halal tapi sangat dibenci Allah, itulah kata-kata yang kudengar dari uztad di Rodja Tv sore ini. dilema, memang dilema, tapi inilah yang kualami saat ini. “Suganda”. semoga engkau mendapatkan solusi dan tetap istiqomah di jalan_Nya.

Pernikahan Suganda yang masih dikatakan seumur jagung bila dibandingkan dengan usia pernikahan kakek neneknya, 5 tahun mengarungi biduk rumah tangga yang berakhir dengan keterpurukan tanpa solusi.
Suganda seorang perjaka yang mempersunting seorang janda anak bangsawan yang tak cantik, tapi sampai saat ini suganda tak pernah tahu mengapa ia bisa mencintai pusvita.

Ya sudahlahh. cinta juga misteri, kita gak tau mengapa dia hadir dengan membutakan hati, mengalir di setiap pembuluh darah, bermuara di jantung yang selalu berdetak setiap detiknya memaksa hidup terus berjalan, bernafas dengan melafaskan cinta dengan mengesampingkan ridho Ilahi. yang pada akhirnya bermuara di benak untuk menyimpulkan meminang pujaan hati.

Aku sudah tau, beban ini berat. seorang insan yang mau berlayar mengarungi samudera dengan membawa navigator cinta beserta sepasang anak amanah buah cinta pusvita dengan imamnya terdahulu.
Semua berjalan dengan lancar, dari perkenalan sampai kejenjang pernikahan semua hampir tidak ada hambatan.

Suganda anak ketiga dari tiga bersaudara, lahir dari keluarga sederhana, dari kecil dididik dari ibu yang tak pernah mengajarkan kebencian terhadap ayahnya, yang mana ayah merupakan sosok pribadi yang dulunya bekerja jauh dari yang diidam-idamkan seorang wanita, keras dan temperamen. Dengan kerja keras sang ibu kami bertiga berhasil meraih gelar sarjana.
Bagaimanapun kerasnya sang ayah tetap saja suganda mewarisi sifat ibu yang lebih mengedepankan hati agar semua persoalan hidup bisa diselesaikan dengan kedamaian tanpa kekerasan yang membawa dampak.
Itu dulu.
Alahamdulillah, sekarang ayah sudah jauh berubah, lebih religius yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.
Ayah.
Kau inspirasi hidupku.

Suganda remajanya yang selalu dikelilingi wanita, sehingga gelar “playboy” tak lepas dari namanya. Tapi seandainya mereka tau, pergaulan yang selalu mengedepankan hatilah yang membuat suganda masuk ke dalam lingkaran wanita.
Pacaran-putus. pacaran putus. dua hal ini selalu kulakoni. Ini semua bukanlah wujud dari sebuah kejahatan atau istilah kerennya lelaki bejat. aku menjalaninya dengan hati tanpa mengikutkan logika bagaimana membawa hubungan ini ke depannya.

Hubungan tersebut selalu kandas karena aku tak mau orang yang aku sayang tak bahagia hidup bersamaku. suudzon terhadap takdir hidup. mungkin itu kalimat yang tepat buat penyakit jiwa yang melekat dengan suganda.
“hindarilah sakwasangka/suudzon, karena sebagian dari sakwasangka/suudzon adalah dosa” kembali lagi rodja tv memberikan pelajaran berharga buatku melalui uztad jempolannya malam ini.

Tiga kali mau menikah dengan gadis pujaan hati juga selalu kandas. ada saja hambatannya. tapi entah mengapa dengan kehadiran pusvita semua berjalan lancar.

Kembali keperjalanan biduk rumah tangga suganda-pusvita.
Pesta yang meriah keluarga bangsawan membawaku menjadi raja semalam, dihiasi ucapan papan bunga berjejer sejauh mata memandang. Dengan satu kali ucapan ijab kabul. “syaaaaahhhhh.” resmilah pusvita menjadi makmumku.
Pusvita memang tak sekaya khodijah, Suganda juga memang tak setampan nabi yusuf, pahamilah kekurangan masing-masing, saling mengisilah untuk mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah & warrohmah. itulah nasehat pernikahan yang aku dengar dari utusan tuan rumah.

Hmmm.
Alhamdulillah, akhirnya aku sudah menyempurnakan agamaku, sudah terjawab satu misteri kehidupanku dengan mempertemukan aku dengan pusvita sebagai istriku.
Sepasang pengantin baru yang kulalui tanpa bulan madu yang indah, yang sering kudengar dari teman-temanku, yang sering kulihat di tv. aku memakluminya, karena pernikahan ini kami telah dititipkan amanah sepasang anak yang dibawa pusvita.
Tapi aku sangat bahagia karena semua yang kami jalani atas nama cinta. walau di perjalanan aku selalu menemukan hal-hal yang tidak seperti yang aku bayangkan. karena pelayanan istriku harus berbagi dengan mengurus buah hati kami, aku menjalani semuanya dengan ikhlas. hidup adalah pilihan. menikahi seorang janda yang memiliki buah hati, seorang suami haruslah berjiwa besar. ini bukanlah ujian, tapi merupakan anugerah Tuhan. disaat menikah aku sudah dititipkan amanah sepasang anak yang akan kami besarkan bersama.

Seiring waktu berjalan aku tidak terlalu mempersoalkan pelayanan istriku terhadapku, karena aku menganggap disamping bekerja dia juga disibukkan mengurus buah hati kami yang sudah mulai bersekolah dan membiasakan diri hidup bersama dengan kami.
Aku tetap menjalankan aktivitasku sebagai seorang pengacara yang mengais rejeki lebih sering berada di luar kota. semua berjalan harmonis. kami hidup dengan cinta walau kehidupan kami didominasi oleh kedua orangtua pusvita yang bangsawan.

Dengan sedikit pengetahuan agama, aku menganggap ini suatu hal yang biasa-biasa saja, sebuah rumah tangga yang masih berpangku kepada kejayaan sang bangsawan. aku hanyut dengan situasi yang serba ada, dari finansial, pengawalan sampai pembantu yang selalu mengurus kehidupan kami yang membuatku lupa akan kedudukanku sebagai imam dalam keluarga.
Aku menganggap mungkin istriku belum siap dengan prinsip kehidupan yang akan kuterapkan bersamanya. aku hanya bisa bersabar dan berharap suatu hari nanti aku dapat membawanya dalam sebuah kehidupan sebagaimana yang kuharapkan, walau tak sekelas bangsawan tapi kami bisa hidup dan berdiri di kaki kami sendiri.

Seiring waktu berjalan semua harapan kurasa sirna. istriku yang dididik dari kecil dari orangtua yang serba ada, finansial bukan merupakan hal yang sulit untuk mewujudkan semua keinginannya. dunia telah membuatnya terlena sehingga sosok seorang ayah lebih dikaguminya dari seorang suami yang berasal dari kasta rendah jauh di bawah kehidupan duniawinya.
Aku hanyalah dipakai sebagai label pelengkap yang disebut “suami”.

Sudah masuk bulan kedua pernikahan kami, Alhamdulillah. istriku positif hamil. betapa bahagianya hatiku mendengar kabar tersebut.
Disamping kebahagiaan itu selalu disertai masalah yang datang silih berganti, istriku dengan segala polemik masalah dengan mantan suaminya. sebagai seorang suami aku selalu mendampinginya dalam mencari solusi. dimana aku juga sadar aku tidak bisa masuk terlalu dalam dalam urusan hak asuh anak mereka. bahgaimanapun “dia” adalah anak kandung mantan suaminya. permasalahan ini juga menyita pikiranku. aku tak pernah ingin memutuskan silahturrahmi mereka. tapi pertengkaran selalu terjadi antara istriku dengan mantan suaminya. yang mengakibatkan rusaknya mental sang anak. aku hanya bisa berharap suatu saat nanti anak-anak tersebut tidak membenci ayahnya seperti apa yang diajarkan ibuku dalam memandang sosok seorang ayah.

Beriring dengan polemik yang ada, muncul permasalahan hukum yang dihadapi papa mertua sang bangsawan. mau tak mau, suka tidak suka, aku harus terlibat dalam pengurusan pemasalahan tersebut, sebab akulah satu-satunya menantu dalam keluarga yang mengerti permasalahan hukum.
Aku yang menjadi ujung tombak dalam pembelaannya, berbekal data dan kronologis yang diberikan papa, aku mulai hilir mudik tanpa kenal waktu, dari kosultasi ahli, membuat team pembelaan dan mendampingi papa dalam menghadapi perkara pidana yang dihadapinya.

Sebagai seorang menantu aku ikhlas menjalaninya. sampai usia kandungan istriku 9 bulan. istriku udah merasakan sakit-sakit mau melahirkan. dengan kesibukan mengurus papa, kubawa istriku ke dokter kandungan. setelah dicek ternyata istriku sudah bukaan dua. satu hari istriku opname berjuang menunggu kelahiran buah hati kami. tapi belum juga menunjukkan perkembagan yang berarti, disamping itu aku juga merasa punya tanggung jawab sebagai orang yang mengurus perkara papa yang semakin hari semakin membawanya kepada status tersangka. akhirnya aku putuskan tuk menandatangani pernyataan yang diberikan dokter kepadaku bahwa ia akan memberi obat rangsangan melahirkan kepada istriku yang memiliki resiko pendarahan. aku hanya berpikir positif. semoga Allah menyelamatkan istriku dan bayi yang dilahirkannya. itu semua kulakukan demi istri, calon anak dan sang bangsawan.

Alhamdulillah semua berjalan lancar. tepat setelah azan Ashar. putriku lahir ke dunia ini. selamat datang nak. kau terlahir ditengah terjangan ombak yang sangat dahsyat.
Jelang beberapa hari kubawa istri dan anakku pulang. tanpa menunggu waktu lama, aku pun kembali disibukkan tuk mengurus papa. yang pada akhirnya perjuanganku pupus dengan berakhirnya papa di penjara.
Dengan linangan air mata dalam hati aku meminta maaf kepada seluruh keluarga besar, bahwa aku tak bisa menyelamatkan papa.

Waktu dan perhatianku terhadap keluarga semakin berkurang karena aku juga disibukkan dalam pengurusan papa di penjara. aku melakukan semuanya sebagai bentuk penebusan kesalahanku yang mungkin dianggap keluarga tidak maksimal dalam menyelamatkan papa.
Aku salah dalam memaknai hidup ini.
Pelajaran berharga buatku ”kita bukanlah manusia super, yang bisa menyenangkan semua orang”. keluarga yang selama ini kutinggal. menjadi awal keretakan rumah tanggaku.

Lelah dengan kondisi yang ada, membuatku menjadi manusia yang keras dan temperamen. terombang ambing dalam keretakan rumah tangga.
Satu persatu kenikmatan yang diberikan Allah ditarik. mobilku ditarik pihak leasing, sepi job dan berakhir kepada berhentinya aku di bangku pendidikan S2.
Rumah yang dulunya surga bagiku sekarang berubah menjadi neraka. sebagai suami yang berada di dalam lumpur keterpurukan. aku mulai merasa ditinggal istri dan anak-anakku. aku mulai tak lagi diperhatikan istriku sebagai seorang suami.

Satu tahun aku mengalami siksa batin ini.
Hari-hariku selalu dihiasi tangis mohon ampunan dosa terhadap ALLAH dan istriku. tanggapan istriku dingin seakan tak ada harganya lagi air mata ini.
Sejahat itukah aku, sampai aku diperlakukan seperti ini.

Puncaknya, aku seperti sebagai seorang suami yang tidak bisa diharapkan lagi yang membuat istriku berpindah haluan mencintai “dia” orang yang menjadikan aku sebagai alternatif pelampiasan kemarahan istriku padaku.

Kuputuskan untuk pergi.
Saat ini aku hanya bisa terbaring. memikul semua dosa yang diperbuat istriku padaku.
Aku yang terpuruk mencoba bangkit. meskipun merangkak. setidaknya aku masih punya anak-anak yang nantinya walau mereka tak bisa merawatku, tapi minimal mau mendo’akanku.

Maafkan papi nak.
Seharusnya papi tak melibatkanmu dalam polemik dunia ini.
Semoga kalian bahagia hidup di dunia dan akhirat.
Menjadi anak yang sholeh & sholeha.
Akan ada hari dan cara yang tepat buat kita bertemu tanpa derita lagi.
Bukankah badai datang selalu beriringan dengan pelangi.

namaku suganda

Cerpen Karangan: Suganda

Cerpen Namaku Suganda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sesal Selalu Datang Terlambat

Oleh:
“Haha… Kejar aku ibu… Aduuuh…” aku tersandung. TIIN… TIIN… Tiba tiba mobil berkecepatan tinggi datang dari kejauhan. “Lily pergi”, ibu mendorongku ke trotoar. Dan… “Aaaaa…” Ibu tertabrak oleh mobil

Dibalik Rencana Tuhan

Oleh:
Bagian 1 (Awal ibu meninggalkan ku) Awal saat ibu pergi meninggalkanku serta ayah dan juga kakak-kakakku, sejak saat itu aku memutuskan untuk ikut tinggal bersama tante serta om ku.

My Dear Papa

Oleh:
Sejenak aku mendengarkan kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh Papa. Kalimat-kalimat yang membuat hatiku retak tak beraturan. Kalimat yang selalu membuatku kecewa. Kalimat yang selalu dia ucapkan untukku saat

Toys Can Be

Oleh:
“Apa yang bisa kau harapkan dari sebuah dongeng, Saffron? Kau bahkan seorang perempuan, sering mengompol pula. Ingat! Namamu ‘Saffron’ jadi berpikirlah dengan jernih!” kesal Ron pada adiknya. Yang diomeli

Pelita Sahabat Di Atas Awan

Oleh:
Berbicara soal awan, pasti tak lepas dengan namanya langit. Ya pastilah, awankan adanya di langit. Namun, cerita ini bukan tentang awan, tetapi kisahku yang layaknya seperti awan di langit.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *