Nasi dan Ayam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 3 February 2017

Nasi dan ayam, makanan favoritku. Tidak ada yang bisa mengalahkan betapa enaknya ayam goreng yang berkulit gurih dengan nasi hangat yang tersedia setengah bundar di atas piring putih bermotif bunga yang mengkilap. Sambil menonton acara masak kesukaanku setiap minggu jam enam pagi, aku selalu terkesima akan masakan-masakan yang dihidangi. Mungkin suatu saat nanti, aku bisa membintangi sebuah acara masak di tv dan bisa menemukkan seseorang yang menyukai nasi dan ayam seperti aku.

Itu adalah mimpiku sejak kecil, semuanya pasti berhubungan dengan nasi dan ayam. Sekarang aku sudah berumur 17 tahun dan sedang menunggu surat terima dari kampus yang aku impikan. Aku sudah tidak sabar, menjadi koki di sebuah restoran bintang lima.

“Cita-cita kok jadi koki, semua orang juga bisa masak kali…” Kata bapakku yang selalu meremehkan impianku sejak kecil.
“Sudahlah pak, biarin anaknya mau jadi apa, hidup juga hidupnya dia.” Ucap ibu

Aku sudah biasa, menjadi anak bungsu dari tiga bersaudara, semuanya perempuan. Kakakku yang paling tua namanya Sinta, ia ingin menjadi dokter, ia memilih jurusan ilmu pengetahuan alam sejak SMA dan tidak ada satupun nilai “B” atau “C” di rapotnya, ia adalah putri impian semua orang. Tentunya, bapak dan ibu paling bangga mempunyai anak seperti dia, tetapi habis itu, aku dan kakakku yang kedua sudah tidak dipedulikan lagi. Semua orang pasti melihat kakakku yang paling tua sebagai seorang “panutan” untuk adek-adeknya, tetapi boro-boro juga dia membantu PRku, dirinya hanya mempedulikan kehidupannya sendiri mentang-mentang sudah berprestasi sampai ke luar negeri.

Bapak dan ibu tidak pernah melihat sisi lain dari Sinta, makannya ia adalah anak tersayangnya. Sebenarnya, ia adalah kakak yang sangat jahat, ia selalu menyuruhku untuk menyelesaikan PRnya atau ia akan mengadu bahwa akulah yang memaksanya mengerjakan PRku. Aku tidak bisa menyalahkan Sinta karena ibu dan bapak akan semakin marah kepadaku, mereka mengira bahwa aku hanya menyalah-nyalahkan kesalahanku kepada orang lain. Begitulah keluargaku yang berantakan ini.

“3 tongkol jagung, santan kelapa, gula pasir, merica, garam… apa lagi ya?” Tanyaku sambil membawa katong plastik sambil berjalan melalui pasar swalayan.
“Dek, mau masak apa sih?” Tanya ibu-ibu yang sedang berbelanja juga di sebelahku,
“Sup jagung untuk nenek, bu.” Jawabku
“Waduh, kecil-kecil sudah jago masak ya, coba anak ibu itu seperti kamu”
“Wah, jarang sekali ada yang bilang begitu..”
“Ah masa? Kamu kapan-kapan main aja ke rumah ibu, nanti ibu akan mengajari kamu memasak”
“Beneran bu? Aku pengen banget! Tetapi sayangnya, aku jarang dibolehin pergi-pergi sama ibu bapak…”
“Ya sudah, ibu ke rumah kamu aja, nanti ibu bawa alat-alatnya terus kita masak bersama-sama deh!”
“Siappp! oh iya, nama ibu siapa?”
“Saya Ibu Sri, kamu Nola kan, anaknya Ibu RT?”
“Iya, hehe.. tumben sekali ada yang tahu namaku.”
“Sampai besok, dek!”

“Aduh… takut bapak marah, nanti aku malah diomelin lagi” fikirku dalam hati.

“Kringgg kringgg”
Bell pintu rumah berbunyi, aku membuka tirai dan mengintip dari jendela. Rupanya itu Ibu Sri!
“Permisi Pak RT, ada Nola nggak?”
Bapak hening sejenak dengan alis dan bibirnya yang mengkerut, mukanya penuh dengan kebingungan.
“Eh… saya Ibu Sri dari rumah sebelah, kemarin saya ada janji dengan Nola mau masak bareng di rumah bapak.”
“Hah? Nola?”
Aku jalan menuju pintu depan dan melambaikan tanganku ke Ibu Sri.
“Sebentar ya bu, saya mau berbicara dengan Nola sebentar.” Kata bapak

“Kenapa pak?”
“Nola, kamu kenapa mainnya sama ibu-ibu tua ini? Kamu lihat nggak? Pakaiannya saja sudah robek-robek dan kumel seperti bajunya tidak pernah dicuci.” Bisik bapak,
“Emang kenapa sih, pak, aku hanya ingin belajar masak.”
“Masak lagi, masak lagi, kapan sih kamu bakal punya cita-cita yang bener?” bentak ayah sambil menjewer kupingku.
Aku melirik ke Ibu Sri yang sedang melihat semua hal ini terjadi. Aku hanya bisa tersenyum, mau tidak mau bapak harus membolehkan Ibu Sri masuk atau reputasinya sebagai pak RT akan hancur. Ibu Sri terlihat khawatir akan keadaanku, tetapi aku sudah biasa.

“Dek, ini ibu bawa buku masakkan untuk kamu. Dulu, Ibunya ibu yang kasih ibu itu, tetapi karena anak ibu tidak ada yang suka memasak, ini untuk kamu saja.”
“Aku nggak bisa ambil ini bu, ini kan punya keluarga ibu, aku bukan siapa-siapa.”
“Sudah, ambil saja.” Ibu Sri meletakkan buku kecil penuh resep itu di pangkuanku. Kami pun memasak sampai arah jarum jam menunjuk pukul lima sore.

Malam itu, Sinta baru saja pulang dari kampus. Dengan diam-diam, ia berjinjit menuju kamarnya.
“Jalan biasa aja kali…” Ucapku,
“Sshhhh! Bisa diem nggak sih?” Kata Sinta
Walaupun Sinta adalah anak yang pintar, ia masih suka membantah peraturan-peraturan Ibu. Aku melihat Sinta mengambil baju-baju di kamarnya seperti seorang pencuri yang tidak ingin terlihat. Aku sudah ada perasaan yang tidak enak, pasti ada sesuatu buruk yang terjadi.

“SINTA!!!” Teriak ibu dari kamarnya,
Ibu tidak pernah membentakki anak-anaknya, dan sekalinya ibu bentak, pasti ada sesuatu yang amat sangat mengecewakan. Pintu kamar ibu sedikit terbuka dan aku bisa mengintip apa yang sedang terjadi, ibu memegang kertas kuning di depan muka Sinta dengan mata yang berkaca-kaca.
“Teganya kamu, selama ini membohongi ibu dengan prestasi-prestasi kamu.”
“B-b-bukan bu… I.i.. itu bukan maksudku!!”
“Pergi kamu dari sini, dan jangan kembali lagi.”
Ibu memang orang yang sangat keras, tetapi karena Sinta sudah membohongi nilai-nilainya hanya sebagai alasan untuk mengunakan uang keluarga untuk pergi ke luar negeri, sikap Sinta sudah keterlaluan. Aku tidak tahu harus sedih atau senang, mungkin aku senang karena ibu tidak akan akan membandingi aku dengannya, tetapi aku juga akan kehilangan sosok kakak yang paling tua.

Di minggu pagi yang mendung ini, hujan membanjiri kompleks kami, dan semuanya terasa sunyi. Aku hanya bisa mendengar suara geledug dan berkelap-kelipnya petir di langit yang gelap gulita. Suasana keluargaku menjadi semakin berantakan, aku hanya tinggal bersama ibu, bapak, dan kakakku yang kedua, kemudian sepertinya orangtuaku masih kecewa dengan kejadian Sinta minggu lalu. Ibu Sri masih sering bermain ke rumahku, dan Ibu menjadi semakin suportif atas cita-citaku menjadi seorang Koki.

Tiba-tiba…
“Tok tok tok…”
Aku mengintip jendela, dan melihat Ibu Sri dengan payungnya di depan rumahku. Aku segera membuka pintu dan mengajak Ibu Sri masuk ke rumah. Di saat aku membuka pintu, tiba-tiba datanglah sekitar lima orang yang membawa kamera, aku tidak mengenal mereka, aku hanya mengenal Ibu Sri.
“Selamat!! Anda terpilih menjadi pembawa acara masak kami dengan Ibu Sri!” Kata seorang lelaki yang sedang memegang mikrofon dan mengarahkannya ke arahku.
“Apa makanan favoritmu?” Tanyaku secara spontan kepada laki-laki yang memegang mikrofon itu,
“Nasi dan Ayam.” Jawabnya.

Cerpen Karangan: Rojwa Legiana Rachmiadi

Cerpen Nasi dan Ayam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Semangkuk Bakmi

Oleh:
Namaku Karina. Aku adalah putri semata wayang dari keluarga berekonomi tinggi. Jelas, karena orangtuaku menyekolahkanku di sekolah swasta international di Jakarta. Namun orangtuaku sangat memanjakanku… Padahal aku sudah besar.

Merangkai Mimpi

Oleh:
Alunan piano terdengar merdu di tengah rumah, nada demi nada di alunkan lembut agar suaranya teralunkan dengan indah, senyuman lembut dan manis menemani piano itu bersuara, jari cantik dan

Bosan Bukan Alasan

Oleh:
Saat ini aku memilih sendiri mungkin lebih menyenangkan dari pada berdua tapi selalu ngebatin karena kelakuannya yang menyerupai anak-anak. “Bosan” yah, rey si cowok populer sesekolahan dengan bodohnya dia

Great or Lazy

Oleh:
Kisah tentang seseorang di mana seseorang itu mempunyai sifat yang rajin, dan ada pula seseorang yang mempunyai sifat yang malas. Anna, siswi kelas XII IPA 3 yang mempunyai sifat

Be My Lady

Oleh:
Iqbal, pria manis dengan wajah tampannya ini sangat terlihat cuek bagi gadis yang belum mengenalnya, namun, ada suatu rahasia yang sudah lama ia simpan. “bal, hari ini kita kerja

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *