Nasihat Sahur Ibu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Ramadhan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 21 August 2016

“Zuraaa…”
“Azzura Najwatunnisa!!”
Suara Ibu mulai terdengar di mimpi Zura. Dia memang mendengar dengan jelas bahwa Ibu sedang marah karena memanggilnya dengan nama panjang. Segera ia bangun sambil mengucek mata.
“Cepat cuci muka kamu, lalu bantu Ibu di dapur!” teriak Ibu lagi sambil menutup pintu.
“Azzura cepat!” sambung Ibu lagi dari luar.
Azzura pun segera beranjak dari kamarnya atau dalam waktu lima menit dia masih di kasur doraemonnya ini maka sudah pasti Ibu bakal lebih marah lagi.

“Zura motong cabenya yang bener, jangan lama-lama, sudah jam 03.30 kita harus cepat sahur!” ucap Ibu mengingatkan.
“Aw…” Zura meringis merasakan luka di jari tangannya, karena tidak hati-hati pisau itu malah mengenai jarinya yang sudah mengucurkan banyak darah.
“Astagfirulloh Zuraaa.. Kamu gak papa? Kan tadi Ibu udah bilang. Ayo sini cepat kita obati lukamu dulu.” Ibu segera menarik tangan Zura untuk mengajaknya ke sofa sambil mengambil kotak p3k di dinding.
“Aw… sakit Bu pelan-pelan!”
“Ishh makanya kalau Ibu bilang itu dengerin! Kamu itu udah Smp masa bangun sahur saja masih dibangunin, ntar kalau Ibu udah gak ada gimana? Siapa yang mau bangunin Ayah sama Airin sahur, kan pasti kamu juga. Kamu itu akan anak pertama Ibu, kamu harus bisa dong apa-apa sendiri. Umur cuman Allah yang tahu Zur” ucap Ibu sambil mengobati luka Zura. Zura menyerngitkan dahi, tumben sekali Ibu menasihatinya sampai panjang lebar.
“Sudah sana bangunin Adek sama Ayah kamu dulu!” suruh Ibu lalu beranjak ke dapur meneruskan tugasnya yang sempat terhenti.

Di meja makan
“Airin sekarang umurnya sudah berapa?” tanya Ibu memulai obrolan di meja makan
“10 tahun Bu!”
“Udah gede ya? Tapi kenapa kok dibangunin sahur saja masih harus disiram pake air dulu sama Kak Zura?” Ucap Ibu
“Tahu tuh, dasar kebo!” ujar Zura sambil menjulurkan lidah ke arah adiknya. Airin melotot ke arah Zura.
“Ahh Zura juga sama aja, udah Smp masih kebo juga.” ujar Ayah menggoda Zura.
“Huuuuu… kakak juga sama!”
“Udah-udah, kalian berdua kan sudah besar, Airin sudah 10 tahun dan Zura sudah 13 tahun seharusnya kalian harus bisa dong bangun sendiri-sendiri trus bantuin Ibu siapin makanan buat sahur. Ya kan?”
“Iya Bu.” jawab Zura dan Airin kompak.
“Anak Ibu emang pinter!” ucap Ibu sambil tersenyum.

Zura terdiam melihat foto yang selalu ada di dompetnya ini. Peristiwa itu sudah 10 tahun berlalu, tapi masih saja meninggalkan kesedihan yang mendalam baginya. Saat mengingat sahur terakhirnya dengan Ibu. Ramadan ke 10 tanpa Ibunya kini dia jalani hanya bersama Ayahnya ya mungkin juga lebaran. Airin tidak bisa pulang ke Indonesia ramadhan kali ini, tugas kuliah yang numpuk di London mau tak mau mengambil waktu berharganya bersama Kakak dan Ayah yang sudah setahun tidak ditemuinya.

“Ibu.. Zura sama Airin akan selalu ingat nasihat Ibu, Kita disini sudah bisa bangun sahur sendiri dan menyiapkan sahur untuk Ayah. Terima Kasih atas nasihat beharga Ibu tentang arti pentingnya sahur. Meskipun saat ini Airin tidak sahur bersama Zura dan Ayah, pasti Airin bisa kok bangun sendiri dan Airin tahu pasti Ibu selalu menemani Airin dimana pun berada begitu juga dengan Zura. Sakit leukimia itu memang telah memisahkan kita dengan Ibu, tetapi kematian itu juga mengajarkan kita arti pentingnya seorang Ibu dan belajar mengikhlaskan sesuatu yang memang sudah ditakdirkan. I Love You mom for everything.”
“Zuraaa…”
Zura segera menghapus air mata yang entah sudah berapa kali terjatuh saat melihat foto Ibunya. Suara itu bukan suara Ibu yang memanggilnya untuk segera bangun tapi kali ini suara Ayah yang membuyarkan lamunan Zura yang sedang memasak sambil memegang dompet bermotif bunga.

“Yah gosong lagi Ayah.”
“Kebiasaan yaa..” ucap ayah sambil geleng-geleng.
“Hahahahahahaha…” Hanya suara tawa kemudian yang terdengar. Menemani sahur mereka berdua dengan nasi goreng yang tadinya spesial sosis menjadi gosong.

Cerpen Karangan: Diah Ichtiar Ajir
Facebook: Diah Ichtiad Ajir

Cerpen Nasihat Sahur Ibu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Paah, Aku Ingin Pergi

Oleh:
Paah, aku berdoa dalam harapku. Paah, aku menunggu dalam sedihku. Setiap hari dalam hidup terasa sama, aku bangun dan mendengar asma Allah dikumandngkan. Aku bangkit dan masih berharap akan

Citaku Dalam Sakitku

Oleh:
Duniaku, terasa sangat berbeda dari yang lainnya. Duniaku yang kelam, sunyi, dan lara. Aku selalu bermimpi di setiap detikku, berangan setinggi mungkin bersama penyakitku. Ya, paru-paruku meradang sejak aku

14 Tahun Aku Mengharapkan Mu

Oleh:
Dua puluh dua tahun yang lalu. Adi masih berumur 8 tahun, kejadiannya dengan mudah dia lupakan. “Tolonglah Bu, sekali ini saja tolonglah Arga,” Pinta Bu Diyah kepada Bu Raina

Sahabatku Arsa

Oleh:
Di taman, ku berlari kesana-kemari dengan bebasnya, sambil menikmati indahnya senyuman mentari, hijaunya taman, ditemani warna-warni permainan di sana. Aku tak sendiri. Aku bermain bersama Arsa, sahabatku. Begitulah, gadis

Ketika Seorang Sahabat Berkhianat

Oleh:
Sahabat. Apa makna sahabat menurutmu? Sahabat menurut kepribadianku, menurut kehidupan sehari-hariku sahabat adalah sosok seorang yang selalu ada saat suka maupun duka, selalu saling menguatkan satu sama lain, selalu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *