Nasihat Terindah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Perpisahan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 4 March 2014

Sekitar tujuh tahun yang lalu, aku dan keluargaku tinggal di daerah pedesaan yang amat ramai dengan banyaknya tetangga. Di rumah tersebut aku tidak hanya tinggal dengan keluargaku, namun ada nenekku saja karena kakek sudah meninggal empat tahun yang lalu. Dan selama empat tahun itu, aku lihat wajah nenekku tidak begitu bersemangat dan hal itu berbeda ketika masih ada kakek di sampingnya. Aku melihat nenek yang tidak begitu bersemangat, aku mencoba menghiburnya dengan canda-tawa, namun hanya sesekali nenek tersenyum dan semua keluargaku termasuk kedua orangtuaku juga sudah mengajaknya bergurau. Dan hanya aku yang dapat membuat nenek tersenyum walaupun hanya sebentar saja. Kata ibuku, aku ini adalah cucu kesayangannya dan itu yang membuat nenek tersenyum walaupun di dalam hatinya tidak demikian. Karena nenekku suka dengan anak yang penurut, pendiam dan tidak banyak omong.

Terkadang, nenekku sedih ketika melihat aku dan aku pun tak tahu kenapa nenekku sedih ketika melihat aku, lalu aku bertanya, “kenapa nenek kok sedih ketika melihat aku” dan beliau menjawab,” kamu ini masih muda, kalau aku sakit kenapa kamu juga sakit seperti aku, aku takutnya kalau aku mati kamu juga ikut mati karena dulu aku juga pernah mengatakan bahwa lima tahun setelah kakekmu meninggal aku mau mengikutinya.”

Perkataan tersebut membuat aku meneteskan air mata. Bagaimana tidak begitu apabila benar itu terjadi, maka dapat dihitung nenekku tinggal satu tahun lagi hidup di dunia ini dan aku pun menangis sejadi-jadinya karena aku tidak mau ditinggal orang yang sangat menyanyangiku setelah kedua orangtuaku. Lalu dia memelukku dengan erat dan aku pun demikian.

Nenekku bertanya, “kenapa kamu menangis.”
“aku tidak mau kehilangan nenek yang paling aku sayangi”
“aku ini kan sudah tua, cepat atau lambat aku juga akan berpulang kepada-Nya dan aku berpesan kepadamu setelah aku mati, aku ingin melihat kamu tumbuh menjadi orang sukses dan aku akan memantau kamu di alam sana.”
Aku bertanya lagi, “bagaimana aku bisa sukses kalau doa dari nenek sudah tidak ada?”
Nenekku menjawab, “doa ku selalu menyertaimu dan satu hal lagi yang penting, berbaktilah kepada kedua orangtuamu dan setiap bulan sekali ketika aku telah tiada, aku ingin kamu mengunjungiku.”

Lalu aku hanya bisa terdiam dan menganggukkan kepala karena aku sedih dengan apa yang diucapkan nenek. Memang dari dulu impian nenek adalah setelah kepergian suaminya, beliau ingin mengikutinya lima tahun kemudian dan itu sudah diucapkan kepada semua anaknya.

Kulihat wajah nenek semakin hari semakin ceria saja dan itu membuatku senang, namun ketika aku teringat tentang impian nenek hatiku terasa menarah perih dan sakit karena tidak ada lagi yang memanjakan aku lagi karena dari kecil aku diasuh oleh nenek sedangkan kedua orangtuaku bekerja dan hal itulah yang membuat aku dekat dengan nenek.

Ketika pada malam hari, aku diajak nenek ke kamarnya karena ada sesuatu hal yang ingin disampaikannya kepadaku, “nak, kamu sekarang sudah gede, aku mau memberikan ini padamu dan ini yang akan membuatmu sukses dan jangan dibuka dulu, tunggulah ketika aku sudah dipanggil yang kuasa.”
Mendengar perkataan itu, hatiku seperti disambar petir karena aku merasa nenekku ingin meninggalkan dunia ini dan akan terjadi sebentar lagi.

Lalu nenek melanjutkan ucapannya, “jangan bersedih aku akan mendoakanmu terus-menerus karena aku ingin hidup selamanya bersama kakekmu yang sangat aku cintai.”

Aku hanya bisa mengangguk tanpa sepatah kata pun terucap karena di dalam hatiku, aku menahan rasa sedih yang begitu dalam. Pada malam itu nenek menyuruhku tidur bersamanya karena ingin menghabiskan sisa umurnya bersamaku walaupun hanya sebentar dan aku pun tidak mau menolak keinginan nenek.

Setelah aku tidur bersama nenek selama tiga hari, senyum nenek semakin lebar dan beliau mengucapkan, “terima kasih cucuku, kamu telah memberikan hadiah teristimewa di akhir hidupku.”

Dan disuruh semua anaknya berkumpul. Setelah semua berkumpul, nenek mengucapkan kalimat Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluh dan Allahu akbar dan nenek menutup mata untuk selama-lamanya. Nenek tetap tersenyum meskipun nadinya tidak lagi berdenyut.

Kami semua menangis tiada henti-hentinya dan di sisi lain aku senang karena nenek meninggal dunia dalam keadaan islam karena ketika masih hidup, beliau tidak pernah meninggalkan shalat, mengaji dan shalat sunnah lainnya.

Setelah tujuh hari kepergian nenek, aku mencoba membuka isi kotak yang diberikan nenek kepadaku dan isinya adalah alqur’an, alat shalat, panduan doa-doa, dan sepucuk surat.

Dan isi suratnya yaitu:
Cucuku yang paling aku sayangi, kutitipkan semua itu kepadamu dan itu punya kakek kamu aku ingin kamu bisa menjadi penerus seperti kakek. Dan untuk sukses tidaklah sulit, kamu hanya mendekatkan diri kepada Allah SWT karena kesuksesan hanyalah Allah yang menentukan. Renungkan hal itu dan lakukanlah.

Dan dari isi pucuk surat aku sudah paham, kesuksesan hanyalah milik allah dan kita sebagai umatnya harus meminta itu dengan cara menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. Sebagai rasa sayangku yang amat dalam kepada nenekku aku akan mencoba untuk menjadi apa yang diinginkan dan nasehat itu akan selalu ku kenang dan akan menjadi sebuah nasehat terindah yang pernah aku dengar.

Cerpen Karangan: Irwan Ahmad Rozaki
Facebook: Lioneljozz19[-at-]yahoo.com

Cerpen Nasihat Terindah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Wawan Dan Ririn / 18 Tahun

Oleh:
“Tunggu aku bentar rin” ucap Wawan yang masih sibuk bereskan buku-buku setelah bel pulang berbunyi “iya, buruan ya wan” sahut Ririn yang sudah berdiri di depan pintu kelas “Kita

Menemui Fajar

Oleh:
Ia adalah gadis yang sangat baik, semua tahu jika ia juga tak sempurna tapi ia tetap bersyukur dengan hidupnya. Ia tahu, tak seperti orang lainnya yang dapat melihat indahnya

Nenekku Wanita Yang Hebat

Oleh:
Aku punya seorang nenek namanya Riyati, dia punya 5 orang anak. Anak pertama sudah bekerja menjadi pengusaha ikan asin dan mempunyai 2 putra, anak ke dua dia gak mau

Terima Kasih Ayah

Oleh:
Namaku Olivia temanku biasa memanggilku dengan nama Oliv, sekarang aku menyukai hobi menulis cerita semenjak diberi tugas buat bikin cerpen aku semakin bersemangat menulis cerita itu, umurku 12 tahun,

Jangan Tangisi Aku (Part 2)

Oleh:
Satu tahun kemudian. Teriknya matahari membuat peluh membasahi sekujur tubuhku, tapi hal itu tidak membuat semangatku berkurang aku tetap bersemangat untuk mengerjakan pekerjaan yang selama setahun ini aku lakoni.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *