Neera Adikku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Nasihat, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 28 March 2018

“Kakak, Neera haus. Neera pengin susu kak..” pinta Neera adikku. “Aduh, Neera kan tau kakak lagi sibuk nih. Beli aja sana di warung.. Nih uangnya.” jawabku kesal sambil memberikan dua lembar uang 2.000 padanya. “Ta..tapi.. Di sana gelap kak. Neera takut..” kata Neera polos. Aku segera menarik tangan Neera ke kamar. “Huhh.. Kamu ini penakut banget sih. Ya udah kakak bikinin susu. Huh. Dasar penakut.” ketusku sambil berjalan ke dapur dan mulai membuat susu.

Perkenalkan namaku Rasya Karliana. Aku mempunyai adik bernama Kaneera Putri Relisa. Ayah dan bunda kita pergi bekerja di Jepang. Kita cuma berdua di rumah yang cukup besar ini. Aku berumur 19 tahun. Sementara Neera masih berumur 6 tahun. Neera sudah sekolah. Sekarang Neera masih TK dan aku sudah kuliah. Menurutku Neera itu adik yang penakut banget, ceria, agak bawel, dan gak jarang dia suka gangguin aku. Gak tau juga sih. Kadang aku yang ngerasa terganggu.

7 menit kemudian, aku kembali menemui adikku di kamar sambil memberinya susu yang di minta olehnya. “Makasih kak Rasya.” ucap adikku. Aku cuma diam. Aku melihat tangan mungilnya bergetar memegang segelas susu segar itu. Akhirnya tangan mungil itu tak kuasa menahan dan susu itu tumpah ke lantai. Gelas besar itu pun pecah. “NEERA!!!” marahku berapi-api. “Ma.. maaf kak.. Neera gak sengaja..” tukas Neera takut. “Neera!!! Kamu udah mecahin gelas besar pinjaman pak Rano!! Bisa-bisa kita dimarahin sama pak Rano!! Ini semua karena kamu!! Kau dihukum! Malam ini kau tidur di gudang dan besok pagi kau harus mencuci bajumu dan baju kakak!” tegasku sambil menjewer kuping Neera. “Aaww.. Aww.. Sakit kak.. Kak sakiiitt.. Ampun.. Hu..hu..” tangis Neera memohon ampun. Aku menyeret Neera dengan kasar ke gudang dan memasukannya dengan paksa lalu menguncinya. Aku segera melanjutkan tugas kuliahku.

Besoknya, aku telat bangun. Aku membuka kunci gudang dan merusak mimpi indah Neera. “Neera bangun. Ini udah kesiangan. Kamu harus nyuci baju. Sana cepet. Kakak mau berangkat.” perintahku. Neera hanya berjalan gontai menuju tempat cucian. “Cepet!” tegasku sambil menyubit lengannya. “Aaww.. Iya iya.. Neera cuci bajunya.” katanya sambil merintih kesakitan dan segera menyuci baju. Aku segera berangkat. Ternyata aku terlambat 8 menit. Alhasil aku mendapat hukuman yaitu berdiri di depan kelas selama 1 jam.

Saat perjalanan pulang ke rumah, aku teringat Neera. Pasti dia kelaparan karena belum sarapan dan makan siang. Aku segera mempercepat langkahku. Tiba-tiba sebuah mobil menabrakku. BRUAK.. Aku terkapar lemas di jalan penuh darah. Samar-samar ku mendengar suara Neera. “Kak.. Bangun kak, kak Rasya.. Neera di sini. Kak bangun kak.” tangis Neera. Aku hanya bisa terbaring di jalan itu dengan kerumunan orang-orang tak kukenal. Lama kelamaan semua makin gelap sampai benar-benar gelap. Tak ada secelah cahaya setitik pun.

Ada cahaya. Cahayanya sangat terang. Namun sebagai harga cahaya itu, kepalaku harus pusing. Lama kelamaan cahaya itu semakin terang dan akhirnya aku sadar total. Rasa pusing pun terasa berkurang. “Nee..ra..” kataku lirih. Neera kaget dan segera menghampiriku. “Iya kak. Kakak mau apa? Neera kabulin kok.” tanya Neera. Aku menggeleng. “Neera, kamu lapar?” tanyaku masih lirih. Neera diam. Dia tampak tidak berani berkata. “Ayo makanlah Neera. Kau pasti lapar.” tawarku. “Ne.. Neera gak lapar kok. Nasinya buat kakak aja. Neera suapin ya.” kata Neera. “Tapi kamu belum sarapan. Kamu juga belum makan siang.” tukasku. “Tap.. tapi..” “Udah, kakak tau kok. Makan ya. Nanti kakak juga makan deh.” bujukku. Dengan berat, Neera mengangguk.

Seminggu kemudian, aku sudah pulih. Kata dokter aku boleh pulang. Aku dirawat terus sama Neera. Bahkan Neera sampai bolos sekolah cuma karena ngerawat aku. “Dek, makasih ya udah ngerawat sama nemenin kakak di rumah sakit.” ucapku sambil mencium pipi Neera. Neera hanya tersenyum. Aku jadi heran. Biasanya Neera ceria. Kok tiba-tiba dia jadi pendiam gitu? Akhirnya aku tanya langsung sama dia. “Dek, kamu kenapa? Kok diem terus sih? Kamu marah sama kakak?” tanyaku khawatir. “Enggak kok kak. Neera..” ucapannya terpotong karena tiba-tiba hidungnya mengeluarkan darah alias mimisan. “Dek? Dek kamu kenapa? Dek?” tanyaku khawatir. “Eh? Enggak kok. Neera.. Neera cuma..” “Neera.. Kamu jujur aja sama kakak. Kakak janji gak akan marah lagi sama kamu. Kakak janji gak akan jewer atau nyubit kamu lagi.” potongku. Sebelum Neera berkata, dia sudah jatuh pingsan duluan. “Neera..” ucapku lemas. “Tolong. Tolong Neera. Pak. Bu. Tolong adek saya. Pak. Bu. Tolong.” teriakku pilu. Seketika mereka berdatangan mengerumuniku dan Neera. Pak Tanto dan Pak Dadang segera membawa Neera ke rumah sakit. Aku langsung pingsan karena shock banget.

Saat aku pingsan, aku langsung ada di taman yang super indah. Bukan rumahku lagi. Tiba-tiba..
“Kakak.. Tolong…” pinta seseorang. Aku menoleh. Di sana terlihat seorang gadis kecil cantik memakai gaun mewah putih. Wajahnya yang cantik terhiasi oleh senyuman manis. Dia menghampiriku. “Ka.. kamu siapa?” tanyaku. “Aku Neera kak. Adik kakak yang sayang banget sama kakak.” jawab gadis kecil itu. “Neera..” kataku sambil memeluk Neera. “Kamu minta tolong kenapa? Dan kenapa kamu mimisan? Kenapa kamu bisa pingsan?” tanyaku beruntut. “Kak, tolong Neera kak. Sekarang Neera koma. Neera punya penyakit leukemia akut. Neera gak tau leukimia itu apa. Makanya Neera diemin. Neera minta tolong, kakak pakai cincin ini ya? Dadah kakakku sayang. Neera sayang sama kakak.” ujar Neera. Lama kelamaan tubuh Neera bercahaya dan mulai menghilang perlahan. Sampai akhirnya Neera benar-benar hilang tak berjejak.

Setitik cahaya di sana. Lama kelamaan semakin terang dan bersinar. Aku pikir itu Neera. Karena itu aku mengucapkan nama Neera saat itu. Tapi ternyata hanya ada tetanggaku. Aku merasa aneh. Ada sesuatu yang mengganjal di jariku. Dan ternyata itu cincin dari Neera! Terlihat wajah polos Neera di cincin itu. Dan, Neera sedang melambaikan tangannya padaku! Lalu sampailah kabar bahwa Neera sudah pergi. “Neera.. Walau jiwamu sudah bersama tuhan, tapi hatimu tetap di sini. Yang tenang di sana ya adikku sayang. Kakak menyayangimu. Maafkan kakak karena kakak suka memarahimu. Tuhan, aku ikhlas kau mengambil adikku. Aku tau dia akan senang bersamamu di sana karena tidak ada aku yang akan memarahi dia lagi. Karena itu, jaga dia baik-baik. Walau berat untuk melepasnya, tapi aku sadar. Kau lebih menyayanginya daripada aku.” gumamku dalam hati.

“Nak Rasya, kamu baik-baik saja?” tanya bu Darwin. “A..aku baik bu. Neera gimana bu?” tanyaku balik. “Neera akan dimakamkan nanti siang jam 2.” ujar bu Darwin. “Bu Darwin, saya mau ketemu Neera untuk yang terakhir kalinya bu.” pintaku. “Tapi kamu masih lemas dan masih sangat shock. Lihat keringatmu.” tukas bu Darwin. “Saya mohon bu. Saya mohon. Untuk yang terakhir kali saja bu. Saya mohon.” pintaku memelas. “Baiklah. Akan ibu antarkan.” kata bu Darwin mengalah.

Akhirnya aku diantarkan ke rumah sakit oleh bu Darwin. Aku akan menemui adikku untuk terakhir kalinya. Karena itu, pertemuan terakhir ini harta terindah yang ku terima. “Tunggu kedatangan kakak, Neera. Kakak datang.” gumamku.

Sesampainya di rumah sakit, aku segera diantarkan ke ruang Neera. Aku melihat Neera yang terbujur kaku. Tubuhnya dingin. Mukanya benar-benar pucat. “Neera, kakak datang. Kamu yang tenang di sana ya dek. Kakak sayang kamu. Mmmuuuuaaaacch..” ucapku lalu mencium kening Neera yang sudah tak bernyawa itu.

Sayangilah orang yang menyayangimu. Jika kau tak yakin bahwa dia menyayangimu, cukup buktikanlah. Jika dia sayang padamu:
1 ) saat kau menangis, dia menghampirimu dan mengusap air matamu
2 ) saat kau bahagia, dia tersenyum dan ikut bahagia dengan tawa mu
3 ) saat kau berhasil, dia menatapmu bangga dan ucapan “selamat” terlontar dari bibirnya
4 ) saat kau putus asa, dia membuatmu bangkit dan membantumu merubah segalanya menjadi lebih indah hingga kau sukses.
Thanks yang udah baca cerpenku

Cerpen Karangan: Syarifa Fadhila

Cerpen Neera Adikku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


I Love Grandfather

Oleh:
Suara itu nampaknya mengejutkan kakek Rusman yang baru saja menunaikan shalat Ashar. Di rumahnya yang sederhana dan tinggal sendirian itu kakek Rusman menjalani hidupnya sebagai orang sesepuh di desa

Aku Bukan Dia

Oleh:
Mentari bersinar cukup terik siang ini. Seperti biasanya, mereka pulang sekolah dengan berjalan kaki. Iya, mereka, 3 sahabat yang dari lahir selalu bersama, hanya terpisah ketika memasuki SD. Mereka

Saat Terakhirku

Oleh:
Diagnosa dokter membuat Silvi menjadi bersedih dan takut akan kematian sebab ia didiagnosa menderita sakit kanker otak stadium akhir dan umurnya tak akan lama lagi. Silvi menerima cobaan dan

Kakek Inspirasiku

Oleh:
Kakek adalah sosok yang luar biasa bagiku. Kakek yang selama ini selalu menjadi motivator di dalam hidupku. Kakek yang selalu memberikan semangat dan inspirasi untuk cucu-cucunya. Waktu aku kecil

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Neera Adikku”

  1. Ade em says:

    Kaalo boleh ini kita jadikan film pendek, bales ke email ademfs78@gmail.com

    GG Production

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *