Nenek, Aku Minta Maaf

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 23 April 2016

Kring.. Kring.. kring. Bunyi alarm itu membangunkan seorang gadis yang sedang tertidur lelap di kamarnya.
“Argrhh! Sudah jam berapa ini? Nenek! Kenapa kau tidak membangunkanku? Ini sudah jam 7.” Teriak seorang gadis.
“Benarkah? Nenek kira baru jam 5 pagi. Maafkan Nenek. Mata Nenek sudah tidak bisa melihat dengan jelas,” jawab seorang wanita paruh baya pada cucunya itu.
“Sudahlah! sekarang, mana seragam sekolahku? Cepat Nek! Aku bisa terlambat.” teriak gadis yang bernama Seina itu.
“Ada di atas meja di dekat lemari.” Jawab neneknya. Setelah mandi dan berpakaian, Seina pun segera berlari ke luar dari kamarnya yang cukup kecil.

“Seina, ayo makan dulu Nak.” Ucap neneknya. Seina pun melirik dan terlihatlah neneknya dengan sepiring nasi dan telur goreng di tangannya.
“Ah! Tidak usah Nek. Aku tidak lapar.” ucap Seina ketus.
“Kalau begitu bekal saja makanannya. Nanti kamu lapar di sekolah.” Pinta neneknya. Tapi, Seina tidak menuruti neneknya dan langsung berlari.
“Seina… Tunggu!” ucap neneknya sambil mengejar cucunya itu.

Sesampainya di Sekolah, ternyata pelajaran sudah dimulai. “Permisi…” ucap Seina seraya mengetuk pintu kelas.
“Ya, silahkan masuk.” Ucap seorang guru. Seina pun masuk ke kelas dengan perasaan takut.
“Huuuu…” Teriak teman sekelas Seina, seraya mengejek.
“Seina, kamu terlambat lagi ya. Sudah keberapa kali ini? Cepat berdiri di depan kelas. Kamu tidak saya izinkan mengikuti pelajaran saya!” Seina pun tertunduk pasrah dan berjalan menuju keluar kelas.

Jam istirahat pun tiba, Seina dan teman-temannya sedang berbincang-bincang di dalam kelas.
“Seina, besok pulang sekolah kita mau makan-makan di restoran. Kamu mau ikut gak?” ucap salah seorang teman Seina yang bernama Cindy.
“Hmm.. Aku tidak tahu apakah bisa ikut atau tidak.” Jawab Seina.
“Ikut saja, aku yang traktir kok.” Jawab Fery. Sebelum Seina sempat menjawab, salah satu teman sekelasnya memanggilnya.
“Seina, ada yang lagi cariin kamu tuh!” panggil seorang teman sekelasnya. Seina pun berjalan ke luar kelas dan melihat seorang wanita paruh baya yang sudah bungkuk dan berpakaian lusuh yang merupakan neneknya dengan bekal nasi dan telur goreng yang tadi pagi Seina tinggalkan.

“Nenek, kenapa kau ke sini? Sudah ku bilang kan jangan pernah datang ke sekolah! Aku malu tahu sama teman-temanku.” Bentak Seina pada neneknya.
“Maaf. Nenek hanya ingin mengantarkan bekal ini untuk kamu. Nenek takut kamu akan kelaparan.” Jawab neneknya seraya memberikan bekal itu pada Seina.
“Ah! Tidak usah. Aku tidak butuh. Cepat bawa pergi!” Seina pun membantingkan bekal itu ke lantai dan bekal itu pun berhamburan ke mana-mana.
“Tapi..” ucap neneknya.
“Cepat!” teriak Seina seraya menarik neneknya pergi dari tempat itu. Karena kebisingan itu, akhirnya semua orang di sekolah melihat kejadian itu dengan mata yang seakan-akan mengejek dan merendahkan Seina.

“Lihat! Semua orang jadi merendahkanku! Sudah berapa kali Nenek mempermalukanku! Aku tidak tahan lagi.” Bentak Seina seraya mendorong neneknya ke lantai. Seina pun berlari meninggalkan kerumunan itu, termasuk neneknya yang berada di lantai dan membereskan bekal yang berhamburan di lantai. Seina berlari dan terus berlari hingga napasnya terngah-engah dan akhirnya berhenti di tempat duduk dekat taman di sekolah. Dia marah dan kesal pada neneknya yang telah mempermalukannya di depan teman-temannya di sekolah. “Ayah, Ibu. Kenapa kau pergi sangat jauh dan tega meninggalkanku sendiri di dunia ini?” batin Seina dalam hati. Seina pun menangis terisak-isak di tempat itu.

Sore hari pun tiba, Seina pulang ke rumahnya. Di rumahnya sudah ada neneknya yang menunggunnya dengan sepiring nasi dan telur goreng di meja. “Seina, ayo makan dulu, kamu pasti lapar.” pinta neneknya. Tapi Seina mengacuhkannya dan tidak mendengarkan neneknya. Ia pun berjalan ke kamarnya tanpa melirik neneknya yang sangat menghawatirkannya. Karena khawatir, akhirnya neneknya mengantarkan sepiring nasi dan telur goreng itu ke kamar Seina. “Seina, buka pintunya. Kamu boleh marah pada Nenek, tapi jangan sampai kamu tidak makan. Nanti kamu bisa sakit. Nenek tidak mau kamu sakit.” Ucap neneknya seraya mengetuk pintu kamar Seina. Tapi Seina tidak mau membukakan pintu untuk neneknya. Dia hanya berbaring di tempat tidurnya dan pura-pura tidak mendengar. Saat sudah beberapa lama, Seina pun membuka pintu kamarnya. Dilihatnya sepiring nasi dan telur goreng diletakkan di depan pintu kamarnya.

Keesokannya, neneknya meminta Seina untuk pulang cepat. “Seina, Nenek minta maaf atas kejadian kemarin. Sebagai permintaan maaf dari nenek. Besok kamu pulang cepat ya. Ada yang mau Nenek berikan padamu.” Ucap neneknya dengan senyuman kecil di wajahnya. Tapi Seina masih marah dengan kejadian kemarin. Ia mengacuhkan neneknya dan segera berangkat ke sekolah. Saat pulang sekolah, Seina dihampiri oleh teman-temannya.

“Seina kamu jadi tidak ikut ke restoran?” tanya salah seorang temannya. Karena masih marah pada neneknya dan tidak mau bertemu neneknya, Seina pun menjawab iya. Seina dan teman-temannya pun makan-makan di restoran. Saat di restoran, Seina teringat pada neneknya. Ia berpikir bahwa tidak seharusnya dia bersikap begitu pada neneknya. Sebagai permintaan maafnya dia akan membawakan neneknya makanan dari restoraan itu. Saat di perjalanan pulang, ia melihat jam tangannya dan sudah pukul 9 malam pada saat itu. “Aku harus segera pulang dan minta maaf pada Nenek. Aku sudah bawakan makanan sebagai permintaan maaf, Nenek pasti senang.” Batin Seina dalam hatinya.

Saat Seina pulang, lampu rumahnya masih tetap menyala. “Pasti Nenek sedang menungguku.” Ucap Seina. Dia pun berlari ke rumahnya. Saat di dalam rumah, neneknya tidak ada. Seina hanya melihat sepotong kue dengan lilin di atasnya dan sebuah kotak di meja. “Loh? Nenek ke mana ya? Gak biasanya Nenek gak ada di rumah.” Batin Seina. Seina pun berjalan menuju meja dan membuka kotak itu. Di atas kotak terdapat sepucuk surat dari neneknya.

“Untuk Seina, Seina, bukankah kamu ingin punya tas dan baju seragam sekolah yang baru? Nenek sudah menabung dari tahun lalu agar bisa membelikanya untukmu. Selamat ulang tahun ya Seina. Maaf karena Nenek selalu mempermalukanmu. Maaf juga karena Nenek tidak bisa menjadi Nenek yang bisa dibanggakan olehmu. Salam sayang, Nenek.” Seina tidak kuasa menahan air matanya. Ia menangis tersedu-sedu. Ia menyesal karena telah berbuat jahat pada neneknya. Seina pun mencari neneknya ke mana-mana. Ia bertanya ke semua tetangga apakah mereka lihat neneknya. Tapi semuanya tidak tahu. Seina pun pulang ke rumah dengan perasaan khawatir karena tidak biasanya neneknya belum pulang hingga larut malam. Dia pun menunggu hingga tertidur lelap di meja.

Hari esok pun telah tiba. Tapi neneknya belum pulang juga. Tidak lama kemudian, ada seseorang yang mengetuk pintu rumah. Seina pun membukakan pintu untuknya. “Nek? Apakah itu kau?” ucap Seina. Saat Seina membukakan pintu, ternyata yang ada di depan pintu bukan neneknya, melainkan salah seorang tetangganya. Ia terkejut begitu mendengar kabar bahwa baju neneknya yang berlumuran darah ditemukan di sungai di desa sebelah.

“Kemarin, Nenekmu mencarimu saat hujan besar. Mungkin Nenekmu terbawa arus atau dimakan hewan buas di sungai dan jasadnya tidak bisa ditemukan. Kemungkinan Nenekmu sudah tiada.” Ucap tetangga itu. “Ah, tidak mungkin. Nenek tidak mungkin tega meninggalkanku sendirian.” Bantah Seina.
“Yang sabar ya Seina.” Ucap Tetangga. Seina tertunduk lemas di lantai. Ia menangis tak henti–hentinya. Ia menyesal dan mengutuk dirinya sendiri. Ia marah pada dirinya, mengapa dia berlaku jahat pada neneknya yang begitu mencintainya. Sekarang, saat neneknya sudah pergi, ia baru menyadari bahwa ia sangat menyayanginya.

“Nenek maafkan aku karena aku berbuat jahat padamu. Nenek, seandainya aku menuruti ucapanmu dan pulang lebih cepat, pasti kau tidak akan pergi dan meninggalkanku sendiri. Maaf Nek, jika kau mau kembali padaku. Aku janji akan menjadi cucu yang baik untukmu. Aku tidak akan malu lagi punya Nenek sepertimu. Tuhan, tak apa jika kau mau menghukumku seberat apa pun, asal jangan kau ambil Nenek dariku. Aku bahkan belum membalas kebaikannya. Aku sangat menyayanginya.”

Cerpen Karangan: Kania Puspita Dewi
Facebook: facebook.com/angelsagitarius777

Cerpen Nenek, Aku Minta Maaf merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kepergian Si Tangan Halus

Oleh:
Pagi itu udara sejuk, mentari bersinar lembut. Semuanya berawal dari sini, kisah masa kecilku 20 tahun lalu, terpatri jelas dalam benakku. Hari masih pagi, seperti biasanya ibu bangun dan

I Love Grandfather

Oleh:
Suara itu nampaknya mengejutkan kakek Rusman yang baru saja menunaikan shalat Ashar. Di rumahnya yang sederhana dan tinggal sendirian itu kakek Rusman menjalani hidupnya sebagai orang sesepuh di desa

Rahasia Cinta dan Waktu (Part 1)

Oleh:
“Yah! Jangan dimatikan! Aku lagi pakai laptopku! Aku nggak pakai mode baterai!” Rayhan berteriak melihat ayahnya yang hendak mematikan paksa sekering rumahnya. “Ahh! Ayah apa-apaan si! Laptopku mati kan!”

Ma, Pa, Selamat Tinggal

Oleh:
“Ma, Pa kenapa kalian terus-terusan berkelahi? Apa kalian tidak kasihan terhadap anak tunggal kalian ini?!, Aku sakit Ma, Pa! Aku sakit bukan di fisik ku! Namun dihatiku! Aku butuh

Akhir Yang Penuh Suka Duka

Oleh:
Ariel dan Aira adalah adik kakak yang berpisah selama 25 tahun karena perceraian kedua orang tuanya. Ariel tinggal bersama ibunya, sedangkan Aira tinggal bersama ayahnya. Pada suatu saat mereka

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *