Oppa, Mianhae

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Korea, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 9 June 2013

Jingga matahari terbit seakan tak nampak tertutup gumpalan awan yang redup. Gemuruh guntur di langit terdengar samar dari kejauhan Kota Seoul. Udara sekitar menghembus gigil beku, menghempas tubuh seorang bocah yang tengah menyangga dagunya di rangka kayu jendela kamarnya. Yuina Elora, gadis cilik berusia tujuh tahun itu mendesah keras dan memberengut kesal. Hari minggu ini, rencananya ia akan pergi bersama oppa nya (sebutan adik perempuan kepada kakak laki-lakinya) untuk mengunjungi makam eomma nya (ibu) yang meninggal beberapa tahun lalu.

“Yuina…” sahut seorang pemuda lembut dari arah pintu kamarnya.
Yuina menoleh malas, “jung soo oppa.. ada apa?” tanyanya pada lelaki itu, dan di balas dengan senyuman indah seperti biasa. “apa kita akan membatalkan acaranya?” tambahnya lagi menebak apa yang akan dibicarakan oppanya itu, mengingat cuaca hari ini yang memang tak memungkinkan.
Mendengar adiknya berkata seperti itu, senyum yang tadi sempat bertengger di bibir Jung Soo perlahan hilang. Ia menghampiri adiknya dan membelai ujung kepala bocah itu halus, “mmm.. apa kau marah?”
Yuina mendongak menatap wajah tampan kakaknya. Ia memang marah ketika mengetahui tebakannya benar, tapi suara Jung Soo yang lembut seperti meredam kekesalannya saat itu.
“tidak bisakah kita mengunjunginya pada hari ini, oppa? Jebal..” pinta Yuina kembali memohon.
“dan tidak bisakah kau menyadari, bahwa masih ada kesempatan lagi untuk kita mengunjungi makam eomma di hari yang lebih cerah?” ucap Jung Soo seraya memandang adiknya dan tersenyum manis.
Yuina tertegun. Entah kenapa. Tapi sungguh, ia benar-benar merindukan eomma saat ini. Ia ingin mengunjungi makamnya hari ini. Ia ingin menatap gundukan tanah merah itu sekarang dan menangis sekerasnya. Ia tidak mengerti dengan perasaannya sekarang. Memandang ke luar, melihat awan-awan kelabu itu mondar mandir di atap rumahnya sedari tadi membuat hatinya juga serasa redup dan berubah kelabu.
Jung soo terdiam, lalu menghela nafas. Ada raut keheranan di wajahnya tatkala melihat tatapan kosong dari adiknya. “dongsaeng ah.. kau tak papa kan? Kita mengunjunginya lain kali ya?” bujuknya lagi dengan halus.
Yuina mengangguk terpaksa. Ada ego dalam dirinya yang begitu saja keluar, meski sebenarnya ia sendiri tak ingin membuat kakaknya susah ataupun sakit hati. Tapi…
“baiklah. Oppa keluar dulu ne..” Jung Soo beranjak dari kamar adiknya, menyisakan sebuah tetes yang tanpa sadar keluar dari pelupuk matanya. Mianhae, dongsaeng ah..
Yuina kembali menatap langit yang kini sudah pepak oleh kembang-kembang pengepul air. Ada perasaan bersalah ketika memaksa kakaknya tadi untuk menuruti keinginannya, tapi ia juga kesal luar biasa kala Jung Soo, kakaknya menolak halus keinginannya itu. Dan dua rasa itu berputar terus di dadanya yang berhasil membuatnya sesak nafas. Mianhae, Oppa…

Seberkas ingatan tentang bagaimana eommanya meninggalkan ia dan Jung Soo ketika hujan deras, berkelebat di otaknya sesaat. Yuina mulai terisak kini, mengiringi jatuhnya butir-butir suci dari langit yang menghasilkan suara gemericik di luar sana.
Eomma, Yuina benar-benar rindu. Eomma… Eomma… Eomma…
Sepertinya, rindu itu tak sanggup ditahannya lagi. Ia berlari keluar, membanting pintu kamarnya dan melewati Jung Soo yang tengah santai melukis di ruang belakang.
“Yuina..!!” teriak Jung Soo menahan adiknya yang hendak keluar rumah menuju taman belakang. Tapi sia-sia, Yuina sudah kuyup sekarang terguyur derasnya hujan yang gugur bersamaan.

Gadis kecil itu kini menangis, deras bulir dari matanya seolah mengalahkan derasnya hujan. Ia tumpahkan semua yang menggumpal sesak di dadanya. Sambil mendongak ke arah datangnya rintik bah itu, mata Yuina memejam. Rengekannya yang terdengar membisik menggambarkan bagaimana sesak dan rindunya ia selama ini pada eomma. Di sela itu juga, terlukis bagaimana ia begitu menyesal telah berbuat sesuatu yang selalu merepotkan oppa nya.
“kalau kau marah pada Oppa, pukul saja Oppa.” seru sebuah suara dari belakang. Ia adalah Jung Soo, yang mencoba mendekati adiknya tanpa alat peneduh satu pun yang dapat melindunginya dari guyuran hujan. “jangan membuat dirimu sakit, Dongsaeng ah. Baiklah, kita akan mengunjungi makam eomma, ne? Tapi setelah hujan ini berhenti. Sekarang masuklah, kau biasa demam setelah di guyur hujan. Kajja, masuklah..” omel Jung Soo lembut.
Yuina berbalik, menghadap kakaknya itu. Aliran di pipinya masih terlihat jelas di jerami air matanya yang berlinang. “Oppa.. mianhaeo.. mianhae.. dongsaeng selalu saja merepotkan oppa.. Mianhae..” lirih Yuina terisak.
Jung Soo berlutut di hadapan adiknya, dan meraih jemari mungil itu ke dalam pelukannya. Pundaknya bergetar karena isakan kecil dari Yuina yang tak mau berhenti.
“jangan berkata seperti itu. Semua yang dongsaeng ah inginkan, tak sampai merepotkan oppa. Uljima.. jebal.” ucap Jung Soo lirih, “oppa menyayangimu. Jangan berkata seperti itu lagi, ne. Itu membuat oppa sakit.

Cerpen Karangan: Nika Lusiyana
Facebook: Haruka Yuzu

Cerpen Oppa, Mianhae merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jalan Pulang

Oleh:
Samar-samar kudengar dehasan nafas Ayahku. Kami sedang mendaki sebuah gunung menuju rumah tempat kami bercerita, tempat kami melepas piluh, tempat kami tertawa. “Ayah, biarkan Aku Jalan sendiri Yah.” mintaku

Aku Membutuhkan Sayapku

Oleh:
Selepas shalat shubuh, kubangunkan kedua anakku. Mendekati dan mencium keningnya adalah cara terbaik seorang ibu membangunkan anaknya. “Kak, bangun kak, anak sholihahnya mama..” bisikku lembut tepat di telinganya. “Mama

Sebuah Elegi

Oleh:
Seseorang melambaikan tangan ke arahku sambil setengah meneriakkan namaku. Aku menoleh dan melihatnya duduk santai di bawah pohon mangga, tepatnya di atas sebuah kursi kecil setengah jadi. Aku menyebutnya

Light Farewell

Oleh:
Langkah gontai gadis itu membawanya menuju sebuah rumah sederhana. Terlihat jelas raut lelah di wajah cantiknya, kulitnya yang putih semakin putih akibat pucat. Dengan perlahan ia meraih kenop pintu

My Lovely Brother

Oleh:
Hai semua, namaku Syafhila Queenera. Kalian cukup memanggilku Fhila. Aku punya seorang. Adik laki-laki, namanya, Adnan Al-fathani. Dia masih berumur 2 tahun. Tapi, tak lama lagi ia akan berulang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Oppa, Mianhae”

  1. Arga S says:

    lanjutan.a dong..

  2. na-nasha says:

    Jung soo sayang banget sama adeknya yah… Mau deh punya kaka kayak dia hehehe… Cerpennya keren terus kata katanya bagus. Saran aku, Nanti jarak kalimat satu dengan kalimat lainnya dikasih perantara dikit kali yah, biar keliatan gak dempet banget…
    thanks buat cerpennya chingu…
    Keep writing. Okkk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *