Padang Ilalang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Keluarga, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 15 May 2017

Namaku Lissa, aku tinggal bersama nenekku di desa. Ayah dan ibuku bekerja di sebuah kota dan menetap di sana. Aku memiliki seorang adik laki-laki, namanya Maman. Aku sangat menyayanginya. Maman tinggal bersama ayah dan ibuku di kota.

Ayah dan ibu selalu mengajakku untuk tinggal di kota tetapi, aku tidak mau. Aku sangat menyukai tempat nenek tinggal. Banyak bunga-bunga dan padang ilalang yang menjadi tempat bermain terfavoritku. Setiap malam, nenek selalu mendongengkan cerita para putri kepadaku. Aku sangat menyukainya. Bila pagi tiba, nenekku sudah menyambutku dengan pelukan dan sarapan khas buatannya yang sangat harum dan lezat.

Suatu pagi yang cerah, aku bersama sahabatku Naida dan Nasir. Mereka berdua adalah saudara kembar. Kami sama-sama berumur 6 tahun. Kami sudah duduk di bangku sekolah dasar kelas satu. Kami bertiga sedang asyik mengejar belalang di lapangan. Tiba-tiba Naida melihat sebuah tempat yang berwarna putih seperti sebuah karpet putih yang gelar. “Hei, lihat ke sana. Indah sekali ya!” seru Naida bersemangat. Aku dan Nasir langsung menatap ke arah yang ditunjukan Naida. Kami berdua berdecak kagum. “Bagaimana kalau kita ke sana?” usulku. Naida dan Nasir langsung menyetujui.
Kami pun menuju ke tempat tersebut yang ternyata merupakan sebuah padang ilalang. Ada beberapa pohon mahoni tumbuh liar di sekitarnya, membuat padang itu sangat indah. Kami bertiga sangat senang dan memutuskan untuk menjadikan padang ilalang sebagai tempat kami bermain.

“Hari sudah menjelang sore, ayo kita pulang” ucap Nasir menyadarkan aku dan Naida yang masih asyik bermain rumah-rumahan di bawah pohon mahoni. “Baiklah, ayo” ucapku. Kemudian kami pulang ke rumah masing-masing dengan janji bertemu esok hari.

Malam menampakkan diri. Aku sedang makan bersama nenek. Ada yang mengetuk pintu rumah. Nenek kemudian beranjak untuk membukanya. “Assalamu’alaikum” terdengar suara dari balik pintu. “Wa’alaikumsalam” jawab nenek. Saat itu aku sudah selesai belajar dan duduk di kursi sambil menonton film kartun. Ternyata ayah dan ibuku yang datang berkunjung. Adikku juga. Aku sangat bahagaia pada malam itu. Aku dan adikku bercerita banyak sampai kami jatuh tertidur dalam mimpi.

Besoknya karena hari minggu, aku pun pergi piknik bersama Naida dan Nasir di padang ilalang. Adikku juga kuajak. Nasir sangat senang karena dia bisa bermain dengan seseorang yang mengerti dirinya. Aku dan Naida hanya tertawa mendengar Nasir mengatakan hal itu. Kami bermain peri hutan seperti cerita nenek. Naida menjadi peri hutan yang baik hati, aku adalah si kancil, Maman sebagai macan si pengawal, dan Nasir sebagai buung hantu si penasehat. Kami pun bermain dengan gembira tanpa melukai satu sama lain. Persahabatan kami akan kami jaga hingga menutup mata.

Cerpen Karangan: ALis W

Cerpen Padang Ilalang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Akibat Jajan Sembarangan

Oleh:
Sudah dua hari ini Imah tidak berangkat ke sekolah, padahal dia itu anak yang rajin dan sebelumnya tak pernah begini sehingga aku beserta Ana dan Afga berencana mengunjunginya usai

Setahun Lalu (Part 2)

Oleh:
Pagi harinya, setelah bangun tidur Sisi memutuskan untuk mendengarkan chanel Radio kesukaannya. Ya, chanel Radio yang mengutip tentang ‘Salam Rindu untuk seseorang’. Dan ketika itu, penyiar radio tersebut memutarkan

Kisah Si Penjual Kue

Oleh:
Pada suatu pagi jam 04.30, aku berjalan menyusuri jalan tanjakan yang tinggi, sambil berteriak, “Kue.. kue.. kue!” pelanggan pun datang walau yang datang 1 atau 3 orang saja, yang

Gadis Pemandang Langit (Part 1)

Oleh:
Dia gadis yang menawan, kebiasaannya adalah memandangi langit, siang atau malam di taman kota. Namanya Niky Bilqis, sering dipanggil Kiki, ia akan memandangi langit dengan banyak ekspresi, seperti nangis,

Light Farewell

Oleh:
Langkah gontai gadis itu membawanya menuju sebuah rumah sederhana. Terlihat jelas raut lelah di wajah cantiknya, kulitnya yang putih semakin putih akibat pucat. Dengan perlahan ia meraih kenop pintu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *