Pahit

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 21 October 2017

Kalian tahu? Pengorbanan seorang ibu bisa terlihat kapan dan di mana saja. Hal-hal kecil yang dilakukannya adalah sebuah bakti. Sebuah pengorbanan suci. Tidak peduli apapun. Asal keluarganya bahagia, cukup baginya.

Tere Liye bilang, perhatikanlah. Setidaknya sebelum kalian tidur. Siapa yang paling akhir naik ke tempat tidurnya? Siapa yang paling pertama bangun mengurusi rumahnya? Siapa?

Coba lihat, ibu rela mencucikan semua pakaian anggota keluarga. Ibu rela tidurnya terganggu demi kenyamanan sang anak. Juga rela mengesampingkan urusannya demi keluarganya. Bahkan rela bersabar dalam mengurus anaknya, saat sakit ataupun sehat. Menyuapi makanan misalnya.

“Ayolah, satu suap lagi, Dira,” sang ibu terus saja membujuknya untuk makan. Ayolah, Dira sudah tak mau. Enek banget rasanya makan makanan waktu sakit. Pahit, sebagaimana yang kita tahu.
“Enek, Ma. Pahit,” Dira hanya mengeluh. Selalu kata pahit yang dia lontarkan untuk bujukan sang mama. Masakan mamanya enak. Sangat malah. Tetapi dia hanya merasa-, pahit mungkin? Tidak cocok di lidahnya. Baru sehari ia terkena demam, lidahnya sudah bereaksi berlebih. Pahit menggerogotinya. Selalu kata itu, pahit, pahit, pahit.
Dira tidak mau makan lagi, walau hanya sesuap.

Sang mama menghela napas panjang. Menghembuskannya perlahan, tersenyum. Ia tahu anaknya akan keras kepala begini ketika sakit. Dira selalu dicemaskan dengan amat sangat jika sakit. Anak satu-satunya, jawabnya saat ditanyai berbagai macam oleh tetangganya. Salahkah jika ia hanya ingin memanja sang anak? Hanya ketika sakit, ayolah. Dira tumbuh dengan pribadi elok. Perangainya tak banyak, kecuali jika sedang sakit. Sang mama menatap sendu Dira, sekali lagi. Bujukan terakhirnya.

“Dira makan ya? Dira nggak sayang ya sama mama? Mama kan udah capek masak. Atau masakan mama gak enak? Bikin enek?” cukup menyesal sang mama berucap begitu pada anaknya. Wajah anaknya bersalah. Ingin memberi pembelaan tetapi, Dira tetap diam.
“Makan ya?” ucap mama Dira sekali lagi. Dira tahu, mamanya tidak akan berkata begitu menuduh, jika ia tidak terlalu keras kepala. Mamanya tahu, Dira tidak akan berkutik jika ditanyai begitu. Selalu begitu. Pamungkas sang mama.
Dira merasa jadi anak yang sangat egois pada mamanya. Seperti tidak beradab Dira dibuatnya. Dira tahu, mamanya-
-sudah terlalu lelah ya?

Dira tersenyum pahit, menerima suapan terakhir sang mama. Mengunyah dan menelannya dalam diam. Susah sekali. Ia ingin memuntahkannya, tapi tak ingin sang mama sedih lebih dalam lagi. Tersenyum, berhasil memakannya.
“Udah, Ma,”

“Sekarang minum obat ya, sayang?”

Dira sanggup apa? Mamanya benar-benar terlihat lelah. Lihatlah, anak rambutnya yang sudah tersingkir ke mana-mana. Lihatlah, matanya yang menghitam sekelilingnya, bergadang menunggui Dira. Lagi-lagi Dira harus mengalah. Mamanya memang sudah lelah.

“Iya, Ma,” Dira tersenyum mendapati mamanya tersenyum bahagia. Hanya karena ia mau meminum obat. Baiklah, Dira tahu, sangat tahu. Mamanya memang menyayanginya. Lebih besar daripada sayang kepada dirinya sendiri.

Cerpen Karangan: Raudhah El Hayah
Blog: raudhah.elhayah.blogspot.com

Cerpen Pahit merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mimpi Lastri

Oleh:
Gadis yang masih cukup belia itu mendesah, bingung dan bimbang bagai dilema menguntit nuraninya. Pertanyaannya, apa yang harus dia lakukan sekarang dan selanjutnya. Haruskah dia menyesali semua ini. Wajahnya

Mawar Fadil

Oleh:
Suara teriakan itu menggetarkan hati, isak tangis pecah saat langkah kaki ayahku meninggalkan ibu yang sedang mengandungku di usia kehamilan 6 bulan, ayah pergi dengan mengucapkan talak cerai kepada

Malaikat Kecil Bersayap (Part 2)

Oleh:
“Kamu lihat kan, Tari itu sakit aku udah bilang ke kamu buat tanayain apa yang terjadi sama dia, aku udah beberapa kali mergoki dia berwajah pucat” ucap Ayah kepada

Sepenggal Lorosae

Oleh:
“Permisi!” Hampir serentak suara di teras depan rumah disertai ketukan di pintu. Pagi itu pandanganku beradu dengan dua orang setelah pintu terbuka. “Sonia!, om Alfredo!, selamat datang di Indonesia!”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *