Pamungkas

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 16 February 2016

Lastri baru saja melahirkan bayi laki-lakinya yang sehat dan normal. Ini adalah anaknya yang keempat. Tak banyak pancaran kebahagiaan di wajahnya. Tarno, suaminya, tahu kalau Lastri kurang bahagia. Dan Tarno tahu betul apa yang ada di benak Lastri. Kemiskinan! Ya, kemiskinan yang selama ini akrab menemaninya, istrinya, dan tiga anak-anaknya. Bahkan jauh sebelum ia bertemu Lastri. Tarno tahu diri, ia memang golongan MSL. Miskin Sejak Lahir.

Tapi nalurinya sebagai laki-laki mendorongnya untuk tetap menikah. Ia tidak ingin seperti Karjo, yang lebih suka dipanggil Jacko, yang menganggap bahwa kebutuhan biologis bisa disalurkan pada gadis mana saja asal suka sama suka. Tarno juga tidak ingin seperti Heri yang menganggap menikah sama saja dengan cari masalah. Tarno hanya tahu bahwa dirinya ingin menikah dan mempunyai keturunan. Baginya memiliki istri dan anak adalah satu prestasi besar.

Baginya belum disebut laki-laki kalau tak bisa mencukupi kebutuhan anak istrinya secara layak. Kerjanya sebagai buruh bangunan, yang kadang-kadang tidak ada, memaksanya untuk hidup pas-pasan, bahkan cenderung kurang. Tapi ia bisa merasa tidak sendirian mengarungi kemiskinannya. Ada Nur, Parihin, Muji, Kamto, dan teman-temannya sesama kuli lainnya. Ditambah lagi Lastri yang bisa memanfaatkan uang dengan baik, seberapa pun ia memberi. Asal ada nasi, sambal, dan ikan asin pun jadilah. Malah karena lauk ikan asin itu, kadang-kadang tiga anak-anaknya memperebutkan nasi yang memang hanya sedikit.

“Pak,” panggilan Lastri membuyarkan lamunan Tarno. Segera Tarno menghampiri dan duduk di pinggir amben bambu berkasur tipis, tempat Lastri berbaring.
“Jadi kita beri nama Pamungkas, Pak?” lanjut Lastri. Sambil memandangi bayinya yang tergolek di samping Lastri, Tarno mengangguk. “Iya, Las,” jawab Tarno.
“Aku berharap ini menjadi anak kita yang terakhir,” tambah Tarno.

Sebetulnya Tarno sendiri menyangsikan harapannya itu. Ia belum pernah melewatkan satu hari pun tanpa istrinya. Di tahun pertama penikahannya, Bandono, anak sulungnya lahir. Kemudian belum genap dua tahun usia anak sulungnya, anak keduanya, Sartini, lahir. Pernah Lastri meminta suaminya untuk mengikuti program KB. “Biar dua anak kita besar dulu,” kata Lastri waktu itu. Sebetulnya Tarno tak suka KB-KB-an. Tapi melihat tatapan Lastri yang memohon, Tarno akhirnya mau saja. Maka tahun ketiga pernikahannya, memang Lastri tidak hamil lagi. Tapi karena biaya untuk suntik KB tidak selalu ada sementara Tarno masih dengan tenaga kudanya, maka di tahun keempat lahirlah Sartono, anak ketiganya. Dan kini saat Sartono baru berumur 16 bulan, ia sudah harus siap-siap kurang diperhatikan karena kelahiran adiknya.

“Tok.. tok.. tok, permisi,” seseorang datang mengetuk pintu. Setelah dibuka ternyata Pak Edi, tetangga yang tinggal di ujung gang. Ada tanda tanya besar dalam benak Tarno.
“Belum pernah orang ini ke sini. Mengapa tiba-tiba ke sini, ya?” batin Tarno. Dilihatnya raut wajah Pak Edi yang penuh selidik. Pak Edi memberikan sedikit senyuman di sudut bibirnya.
“Boleh saya masuk, Pak?” pinta Pak Edi. Menyadari keterpakuannya, Tarno pun dengan kikuk mempersilakan masuk.
“Oh… e… iya, Pak, mari-mari,” ajak Tarno. Segera Pak Edi masuk ke rumah yang hanya memiliki satu ruangan tersebut.

Sekilas dilihanya tak banyak benda berada di ruangan itu. Apalagi benda berharga. Di sudut tampak satu dipan berkasur usang dengan tiga bantal. Sementara di sudut yang lain, meski ditutup dengan pembatas kain, tampak kalau itu juga sebuah tempat tidur. “Oe.. oe..” terdengar tangisan bayi dari situ. “Rupanya itu tempat tidur Lastri dan Tarno,” pikir Pak Edi. Dan di pinggir dekat pintu masuk terdapat dua buah kursi rotan, yang salah satunya kini ia duduki. “E.. maaf, Pak. Ada perlu dengan saya?” tanya Tarno dengan sedikit takut. Tersadar dari pengamatannya, Pak Edi menatap Tarno. “Begini, Pak Tarno. Saya ke sini ingin mengabarkan sekaligus menengok bayi,” jelas Pak Edi.

“Dari mana dia tahu namaku, ya?” batin Tarno. Meski selama ini Tarno menganggukkan kepala saat bertemu Pak Edi, Tarno tidak yakin kalau Pak Edi bisa tahu namanya. Ditambah lagi, Pak Edi ingin menengok bayinya. “Bagaimana, putranya laki-laki apa perempuan, Pak? Apakah sehat?” tanya Pak Edi.
“E.. laki-laki, Pak. Ya, syukurlah anak saya sehat,” jelas Tarno. Mereka pun terlibat pembicaraan yang terkesan santai. Sampai di tengah pembicaraan Pak Edi pamit, pergi meninggalkan Tarno yang masih kebingungan.

Sore itu di bale-bale depan Tarno tampak duduk. Rona wajahnya terlihat sedang memikirkan sesuatu. Suara riuh anak-anaknya yang tengah mengagumi benda-benda pemberian Pak Edi tadi, tak membuatnya terusik. Ucapan Pak Edi siang tadi begitu merampas pikirannya. Saat Pak Edi mengutarakan maksudnya untuk mengadopsi anaknya yang baru lahir maka dalam waktu singkat dan tanpa ragu-ragu ia langsung menolak keinginan Pak Edi.

“Gila apa? Mana ada orangtua yang mau menyerahkan anaknya pada orang lain?” batin Tarno, gerah.
“Mentang-mentang orang kaya, seenaknya saja kalau bicara. Apa dikiranya aku ini sudah gila dengan kemiskinanku, sampai aku dikiranya mau menyerahkan anakku?” teriak batin Tarno. Sebelum pergi tadi Pak Edi meninggalkan dua bungkusan besar. “Untuk anak-anak,” katanya. Begitu ke luar dari pintu tak lupa tamu itu berpesan pada Tarno untuk memikirkan kembali tawaran yang ia berikan. “Ah, buat apa dipikirin,” desah Tarno.

Sambil mengubah posisi duduknya, tangan Tarno merogoh saku bajunya. Diambilnya sebuah benda yang terselip di dompetnya, foto Lastri. Dipandanginya foto itu. Lastri tampak bening. Raut wajahnya juga bersih. Bibir tipis menyungging senyum, yang sejak dulu membuat hati Tarno kalang kabut. Rambutnya yang selalu harum dan terurai indah membuat Tarno merasa nyaman mendekapnya. Sungguh Lastri adalah bidadarinya. Tapi sayang bidadarinya kini tidak lagi berseri seperti dulu. Tak lagi menyungging senyum seperti di foto itu. Bandono, Sartini, Sartono, dan kini Pamungkas, telah menyita semua perhatian dan waktu Lastri.

Memang, kalau bukan dari ibunya, dari mana anak-anak mendapatkan perhatian dan kasih sayang. Jadi sebetulnya anak-anak tidak salah, karena itu murni hak mereka. Tarno merasa justru dialah yang paling bersalah. Ia merasa belum pernah membahagiakan Lastri. Meski Lastri tak pernah mengeluh, Tarno yakin bahwa Lastri pun sebenarnya ingin memiliki televisi yang besar seperti milik Mimin, tetangga sebelah, agar anak-anaknya tak perlu ke sana kalau mau menonton tv. Baju yang bagus untuk kondangan masih baju-baju yang dulu waktu Lastri masih gadis.

Pernah Lastri terpaksa menolak baju baru yang ditawarkan Bu Rini yang pembayarannya dicicil 10 kali. Tarno tahu betul, dari roman mukanya, Lastri ingin memiliki baju itu. Tarno ingin berbuat banyak untuk istri tercinta. Tapi apa daya, keadaannya yang pas-pasan memaksanya untuk tidak bisa memenuhi segala harapan itu. Kadang ia mengutuk dirinya yang tak mampu berbuat lebih. Kuli, kuli dan kuli. Sekali kuli tetap kuli. Itulah dirinya. Hanya keajaiban yang bisa mengubah semua itu. Atau sekedar nasib baik yang memihak padanya.

“Oe.. oe..” tangisan Pamungkas mengusik perhatian Tarno. Tapi hanya sebentar, tidak terdengar lagi tangisan Pamungkas. “Pasti Lastri sudah menyusuinya,” pikir Tarno. Tangisan Pamungkas mengusik pikiran Tarno tentang nasib baik. Apakah memang Pamungkas yang menjadi perantara Gusti Allah untuk mengantar nasib baik untuknya? Bukankah kata orang kelahiran anak adalah rezeki? Tapi sampai saat ini belum terlihat tanda-tanda itu. Sudah dua minggu umur Pamungkas, tapi belum ada tanda-tanda perubahan nasib itu.

Hal yang paling tak terduga datang malah kehadiran Pak Edi yang ingin mengadopsi Pamungkas. Pak Edi? Pak Edi dengan banyak hal yang ditawarkan? Kesanggupan Pak Edi untuk menyekolahkan tiga kakak Pamungkas sampai lulus SD? Juga kesediaan Pak Edi untuk memberi perabot rumah seisinya? Dan uang tunai lima puluh juta yang akan segera berada di tangannya? Yang dengan uang itu Tarno bisa mewujudkan banyak harapannya untuk Lastri? Bahkan mungkin untuk modal warung kelontong di rumah? Biar Lastri ada sedikit hiburan? Mungkinkah tawaran Pak Edi itu merupakan nasib baik yang diharapkannya?

Memang dulu sebelum Pamungkas lahir, kelahiran anak keempatnya akan membawa perubahan nasib bagi keluarganya. Tapi mengapa musti harus dengan mengadopsikan anaknya pada orang lain? Meskipun Pak Edi orang kaya yang bisa menjamin tercukupinya kebutuhan Pamungkas hingga dewasa, apakah berarti ia harus dengan merelakan Pamungkas jauh darinya? Belum lagi bagaimana perasaan Lastri? Bukankah ia ingin membahagiakan Lastri? Sambil menghela napas panjang, Tarno bergumam, “Apa ini yang dimaksud Gusti Allah, ya? Apa aku harus merelakan Pamungkas diadopsi?”

Senja baru saja usai menghabiskan kisarannya. Tarno sengaja mengajak Lastri duduk-duduk di depan. Kebetulan keempat anak mereka sudah tidur. “Ada apa, Pak? Kok tumben ada yang akan kamu bicarakan dengan saya. Biasanya kamu tidak terlihat serius seperti sekarang?” tanya Lastri membuka pembicaraan.
“Iya, Las. Aku mau tanya dan cerita sesuatu dengan kamu. Sekaligus aku mau minta pendapatmu,” jawab Tarno sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding. “Tentang apa Pak?” sahut Lastri.
“Kamu bahagia tidak dengan kehidupanmu bersama saya selama ini?” tanya Tarno.
“Ingat kamu harus menjawab dengan jujur,” lanjut Tarno.

“Ada apa ini, kok Bapak tanyakan itu?” tanya Lastri penuh selidik.
“Las aku ini tanya kamu, kok malah balik tanya. Jawab dong,” pinta Tarno sambil menepuk bahu Lastri. Melihat kesungguhan di wajah suaminya, Lastri pun sadar bahwa ia harus menjawab pertanyaan itu. “Aku bahagia kok, Pak. Bapak kan lihat sendiri anak kita sudah empat, bagaimana mungkin aku tidak bahagia, Pak,” jelas Lastri.

“Memang anak kita sudah empat, Tri. Dan itu membuat kita bahagia. Tapi yang saya maksudkan, apa kamu bahagia dengan kita tidak punya barang-barang berharga?” jelas Tarno.
Dengan dahi berkerut, Lastri bertanya lagi, “Barang berharga apa, Pak?”
“Televisi, baju bagus, perhiasan, perabotan rumah, ini, itu. Banyak, Tri. Masak kamu nggak tahu,” jelas Tarno.
“Oh, itu,” sahut Lastri. “kalau itu, saya tahu, Pak. Aku kan sering lihat Bu Mimin. Yah, meskipun dia tidak pakai banyak perhiasan, tapi bajunya bagus-bagus, Pak,” sambil membetulkan duduknya, Lastri melanjutkan, “Kalau perhiasan, Bu Eny jagonya, Pak. Semua perhiasan yang dipakainya bagus-bagus. Pasti mahal-mahal ya, Pak,” ucap Lastri meminta persetujuan suaminya.

“Kamu nggak ingin seperti mereka?” tanya Tarno sambil menatap Lastri. Lastri heran dengan pertanyaan suaminya.
“Apa maksud pertanyaan Mas Tarno, ya? Kalau sekedar bertanya, buat apa? Atau Mas Tarno akan memberikan benda-benda berharga itu padaku?” pikir Lastri. Cepat-cepat Lastri menepis pendapatnya sendiri, “Ah, jelas nggak mungkin!” Lastri tahu betul pendapatan suaminya hanya pas-pasan untuk biaya makan sehari-hari. Bahkan uang untuk persiapan memasukkan Bandono ke TK tahun ini saja belum terkumpul. Jadi tidak mungkin kalau suaminya akan memberi televisi dan teman-temannya itu. Lastri lantas menelaah wajah suaminya. Ada kesungguhan di situ. Tidak sepenuhnya menunjukkan itu. Ada kebimbangan dan kekhawatiran di sana.

“Las, kamu ingin ndak?” tegas Tarno, mengulang pertanyaannya.
“Siapa orangnya sih, Pak, yang tidak ingin. Semua orang juga pasti ingin. Jangankan saya, orang-orang yang sudah punya pun masih ingin, Pak.” jelas Lastri.
“Tapi saya tahu, kita kan tidak mungkin memiliki itu semua,” lanjut Lastri.
“Terus kalau misalnya itu mungkin, bagaimana, Tri?” desak Tarno.
“Ya, nggak mungkin saja,” tegas Lastri. Tarno mendesak lagi, “Kalau mungkin, Tri. Kalau mungkin.” Lastri berdiri dari duduknya.

Sejenak kemudian melipat tangannya, lalu menatap Tarno. “Pak, aku paling tidak mikir hal yang tidak mungkin. Nggak ada gunanya. Kalau kemungkinan yang mas maksudkan itu adalah dengan nyuri, maling, atau dukun, Lastri pilih tetap begini saja, Mas.” Setelah duduk lagi, Lastri melanjutkan ucapannya. “Tapi, kalau yang Mas maksudkan itu dari pemberian orang, Lastri nggak akan menolak, Pak. Orang seperti kita kalau bisa punya barang berharga, paling ya karena dikasih orang. Tapi, mana ada orang ngasih barang berharga. Paling juga barang bekas. Malah bisa juga barang rusak.”

“Kalau memang ada yang ngasih, gimana?” bisik Tarno, dekat di telinga Lastri. Lastri menatap suaminya. Lastri tahu suaminya sangat ingin membahagiakan dirinya.
“Kasihan kau, Mas. Kau sampai berandai-andai seperti ini,” batin Lastri. Ditatapnya suaminya dengan tatapan kasih. “Kalaupun ada orang yang ngasih, pasti dia punya maksud tertentu, Pak. Bapak ingat tidak waktu Pak Danu memberi kita ayam goreng satu kotak. Dia ingin rupanya kita mendukung dia jadi Pak RW, kan? Itu baru ayam goreng, betul nggak?”

“iya, Las,”
“Nah, kalau sekotak ayam untuk tujuan sebesar itu, bagaimana dengan barang berharga, Pak? Lastri nggak bisa membayangkan. Jadi, tidak akan ada orang yang seperti Bapak maksudkan itu.” Malam telah datang. Namun kedatangannya tak membuat Tarno dan Lastri menghentikan pembicaraan mereka. Tarno duduk di dekat Lastri.

“Lalu, bagaimana dengan keinginanmu itu, Tri?” Lastri seperti teringat sesuatu. “Oiya, kemarin Pak Edi mau apa? Kok tumben. Dia kan nggak kenal kita.” Tiba-tiba Lastri menatap suaminya. “Jangan-jangan, karena kedatangan Pak Edi itu, Mas jadi aneh begini. Memangnya dia mau apa, Mas?” Tarno kembali berdiri, tampak berpikir, sesaat kemudian ia duduk lagi di sebelah Lastri. “Sebelum aku menjawab pertanyaanmu itu, jawab dulu pertanyaanku. Lalu bagaiman dengan keinginanmu, Las?”

“Keinginanku kan tinggal keinginan. Orang boleh ingin apa saja, kan? Masalah terpenuhi atau tidak, itu tergantung usaha dan kehendak gusti Allah. Lastri tahu betul, mas sudah berusaha membahagiakan Lastri dan anak-anak. Dan Lastri bahagia kok. Sebagai wanita, Lastri sudah punya suami, ganteng lagi,” Tarno merasa, Lastri meliriknya atau menatapnya. Dan benar, Lastri memang menatapnya. Pada tatapan Lastri, Tarno menemukan mata yang bening. Bening seperti foto di dompetnya. Sebentar kemudian Lastri tersenyum, senyum yang sama di foto itu. Dan bibir yang menyunggingkan senyum itu mulai bergerak lagi.

“Dan sebagai wanita, Lastri sudah punya anak-anak yang manis-manis. Apalagi Pamungkas, Pak. Dia seperti fotocopymu. Persis kamu. Tampannya, juga seperti kamu. Aku jadi tak ingin berpisah sehari pun dengannya,” rona merah menghiasi pipi Lastri. Ada kebahagiaan yang tulus di situ. “Kebahagiaan yang ku kira sudah tak ada, kini ada di paras ayu istriku,” batin Tarno.
“Kalau anak-anak sudah membuatku bahagia, buat apa perhiasan, Pak. Merekalah perhiasan yang tak ternilai buat kita. Mereka adalah intan berlian. Kita harus menjaga dan merawat mereka dengan hati-hati, agar kilauannya tidak pudar. Ya kan, Pak?” Lastri meminta persetujuan lagi.

Tarno semakin lekat memandangi wajah istrinya. Wajah yang bersih, wajah yang berseri-seri. Lastri berkata lagi, “Dan berlian Lastri yang paling besar adalah Mas Tarno. Selama ini Lastri kuat karena kilauanmu, Mas,” sejenak kemudian Lastri berdiri. “Sudah ya, Pak. Las ngantuk. Lastri ingin mendekap Pamungkas, Pak,” Lastri pun menghiang di balik pintu, diikuti tatapan Tarno. Ada sebuah kenyataan baru di hati dan pikiranya. Tarno membaringkan tubuhnya. Ditatapnya genting-genting rumahnya yang tertata rapi. Genting-genting yang disangga oleh kayu-kayu yang kecil tapi berarti.

“Aku juga orang kecil. Aku pasti juga bisa menyangga keluargaku,” pikir Tarno. “Aku juga sebuah berlian bagi Lastri. Aku tak akan memudarkan kilauannya.” Malam itu Tarno sudah tidak berpikir lagi tentang Pak Edi. Tarno hanya tahu bahwa dia sangat berarti buat Lastri, Bandono, Sartini, Sartono, dan… Pamungkas. “Pamungkas, berbahagialah. Kau ada di dekapan bidadariku.” Senyum menyingsing kedua pipinya. Seindah bintang-bintang di langit yang menghiasi gelapnya malam.

Cerpen Karangan: Sapti Ana
Facebook: Sapti Ana Y

Cerpen Pamungkas merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tangga Nada Berjalan

Oleh:
Cahaya terang itu berebutan memasuki area penglihatanku, sehingga aku tak kuasa membuka kedua mataku dan akhirnya akupun menangis sejadi-jadinya. “Oak… oak…” ya begitulah kiranya suara tangisanku yang khas nan

Negeri Sampah

Oleh:
Abidin. Seorang laki-laki bertubuh pendek dibanding tubuh laki-laki seusianya masih duduk di depan pesawat televisi yang ada di ruang tamu rumahnya, oh.. maaf, ruangan dua kali dua meter itu

Cah Ndeso

Oleh:
“Dasar kau anak miskin, pergilah menjauh dari pandangan ku” kata bibinya. Semua orang memandang dirinya rendah, tidak berpendidikan dan yang jelas tidak mempunyai masa depan yang terang. Menganggapnya hanya

Bidadari Tanpa Mata

Oleh:
Dalam malam selalu ada kelam, mungkin itulah setiap malamku selalu penuh ketakutan. Namaku Riri, setiap hariku adalah malam. Ini bukan karena drama, ini nyata. Selama tujuh belas tahun aku

Selamat Jalan Bun

Oleh:
Hai! Namaku Zharine Dyllana Aika. Panggilanku Ana. Suatu sore yang indah, sehabis pulang sekolah, aku mendengar ayah dan bunda sedang membicarakan sesuatu yang serius. Aku mengupingnya dari balik pintu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *