Pantaskah Aku Memanggilnya Ibu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 19 May 2016

Terik matahari yang membakar tubuh ini tak pernah ku pedulikan lagi. Berkeliling ke setiap sudut jalan untuk mencari sesuap nasi, ya hanya itu yang aku butuhkan saat ini. Aku lapar. “Ibu, bisakah kau berbaik hati sedikit saja?” Pikiranku melayang, mengingat orang yang ku panggil “ibu” itu selalu bersikap kejam terhadapku. Ibuku adalah seorang yang amat cantik, aku sangat menyayanginya namun ibu selalu membenciku. Apakah aku anaknya? Apakah aku tidak pantas? Apa aku jelek sekali sampai aku dibenci oleh seseorang yang harusnya menjadi malaikat bagiku? Semua pertanyaan itu tak pernah ku dapatkan jawabannya. Aku pikir aku telah kehabisan air mataku sehingga ingin menangis pun aku tak bisa. Adilkah hidup ini untukku? Aku hanya butuh Ibu.

“Nata! Di mana kau, anak sialan!” Teriak ibu.
Aku takut, Ibu tampak mengerikan. Ia membawa sebilah bambu di tangan kanannya.
“Tolong, siapa saja..” bisikku.
Tiba-tiba aku merasa sesak, tubuhku terjepit. Kolong tempat tidurku itu terasa semakin menyempit bahkan kadang seperti menumbuk punggungku berulang kali. Yah, ibu telah menemukanku. Ia berlompat-lompat di atas tempat tidurku.
“Mampus kau! Pergi saja sana! Siapa kau hingga kau diperbolehkan untuk memakai perhiasanku? Hah! Anak sialan!” jerit ibu.
“a..a..ampun Bu..”
“Ibu? Cuihh!”

Tak ku sangka air mata yang selama ini ku pikir telah kering, menetes tanpa henti kali ini. Hatiku sakit, Tuhan. Ku kepalkan tanganku untuk menahan sakitnya penderitaan ini. Tidak adakah tempat untukku di hatimu ibu? Anakmu ini menyayangimu.

“Keluar kau!” Ibu menarik kakiku ke luar. Aku memberontak, kakiku terus melawannya hingga akhirnya..
“Bukk!!” bilah bambu tadi dilayangkan ke kaki kurusku. Aku mulai meringis kesakitan, jeritan tangisku menggelegar sambil sesekali kata “ibu”-ku ucapkan.

Memar di sekujur tubuhku kini bertambah namun tak membuat ibu sadar akan kehadiranku di dunia ini. Sejak aku dilahirkan, aku tak pernah merasakan bagaimana kasih sayang seorang ibu ataupun ayah. Ayahku meninggal tepat saat aku dilahirkan. Aku bahkan tak pernah melihat wajahnya di foto sekalipun. Aku hanya berharap pada ibu yang mengandungku selama 9 bulan itu. Tapi kenapa sikapnya seperti ini padaku? Aku iri pada semua anak yang dimanjakan oleh kedua orangtua mereka, bahkan mereka “Lengkap”. Kini badan ini hanya tinggal tulang dengan kulit kering yang melapisinya. Berjalan terpontang-panting menyusuri jalan raya, tak ada seorang pun yang menganggapku layak untuk disapa atau dipandang sekalipun.

Yah.. mungkin mereka mengira aku adalah seorang gelandangan yang hanya akan menyusahkan mereka. Suatu hari seekor anjing tua menghampiriku, ia tampak sepertiku. Kurus kering, dan bulunya acak-acakan. Di mulutnya terdapat sebuah roti yang tampaknya sudah basi dan berjamur namun tampak lezat di mataku. Anjing itu meletakkan roti itu tepat di depanku, aku yakin sekali anjing tua itu ingin membagi makanannya padaku.

“Bahkan seekor anjing jalan saja bisa iba pada sesosok orang malang sepertiku,” bisikku sambil mengusap-usap kepalanya dengan lembut. Aku membagi rata roti berjamur itu dan dengan senang hati memakannya. “Sekarang aku harus pulang, Ibu pasti mencariku.” ku tinggalkan anjing itu sendirian.

Entah kenapa hatiku sedih meninggalkannya sendiri, di matanya tersirat hati yang luka sepertiku. Namun, aku tetap melangkahkan kakiku hingga akhirnya sampai ke rumah. Aku masuk ke kamarku dan menguncinya untuk berjaga-jaga ibu tiba-tiba menyerangku. Beberapa menit kemudian ku dengar suara bentakan mama dan hantaman keras yang membuatku mulai takut. Ku buka perlahan pintu kamarku, ku lihat ada yang tergeletak tak bernyawa tepat di depan ibu. Air mataku mulai mengalir, mataku tak berkedip sekalipun.

“Tuan anjing.” kataku dengan perlahan. Ibu memalingkan wajahnya ke arahku, aku hanya mematung sambil perlahan menatap mata ibu yang mulai ku benci.
“Pantaskah aku memanggilmu Ibu?” Akhirnya kata itu keluar dari bibirku yang selama ini ku pendam.

Cerpen Karangan: Kristin Natalis Telaumbanua
Facebook: Kristin Natalis Telaumbanua
Hai, nama saya Kristin Natalis Telaumbanua. Kalian bisa memanggilku Nata. Saya suka menggambar, menulis, dan of course! Mengkhayal! Hihi.. btw, salam kenal.

Cerpen Pantaskah Aku Memanggilnya Ibu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Saudara Tiriku

Oleh:
“Apa? Saudara baru? Enggak. Ya masa aku harus punya saudara tiri. Aku lebih suka jadi anak tunggal. Pokoknya Papah sama Mamah harus milih antara tetep ngangkat anak gembel yang

Midnight Clown (Part 2)

Oleh:
Mengapa aku tidak bisa melihat masa lalu dan masa depanku sendiri, lantas buat apa Tuhan memberikanku suatu kelebihan, jika aku tidak bisa menolong diriku sendiri, pikiranku pun masih terbang

Menyapa Heningmu

Oleh:
Hujan yang mengguyur kota kecil ini yang membuat perasaan gembira pada anak-anak yang menjadikan setiap hujan merupakan balasan dari Tuhan atas doa mereka, dan membasahi jiwa-jiwa yang tandus dengan

Sebuah Diary

Oleh:
Suara tangis sayup-sayup terdengar dari balik kamar. “Rini, ini ayah nak! Buka pintunya Rini” bujuk ayah Rini. Hening sebentar. Tampak Rini dengan mata sembab membuka pintu kamarnya. Lalu dia

Penyesalan

Oleh:
Angin malam berhembus kencang menerjang lapisan kulit setiap insan yang merasakan meski rembulan tampil dengan bulat sempurna meski bintang-bintang terang benderang menghiasi malam, namun pemandangan tersebut tak turut menghibur

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *