Pelajaran Untuk Kakak

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 13 February 2016

Ketukan air rintikan hujan yang jatuh dari atap rumah berbunyi layaknya alunan musik yang indah di pagi itu membuat Dika susah untuk bangun dari tidurnya. Lembutnya hawa dingin pun memaksanya untuk menarik selimut agar menutupi kaki yang merasa kedinginan itu. Namun suasana pagi yang sejuk dan indah itu tiba-tiba terpecah oleh suara keras yang seketika membuat mata Dika pun terbuka dengan lebar dan beranjak bangun dari kasur empuknya kemudian melihat apa yang ia dengar itu. Ternyata suara keras yang membangunkannya itu adalah suara kakak Dika yang bernama Ica yang sedang membentak ibunya. Dengan keadaan yang masih belum tersadar dari tidurnya, Dika menegur Ica kakaknya itu.

“Kenapa kamu ini Kak? Kok tiap hari bentak-bentak Ibu terus?” tanya Dika pada Ica.
“Kamu ini anak kecil gak usah ikut-ikut urusan orang dewasa.” Jawab Ica dengan nada yang membuat suasana pagi itu sangat memanas.
“Aku emang anak kecil Kak, tapi aku tahu bagaimana cara berbicara dengan sopan kepada Ibu. Kakak gak kasihan apa sama Ibu? Dia sendiri Kak, hidup tanpa Ayah. Apa Kakak tidak kasihan?” jawab Dika yang membuat Ica seketika terdiam.
“Sudah Nak. Emang Ibu yang salah tidak bisa memberikan apa yang Kakakmu minta. Sudah-sudah tidak usah bertengkar.” Sahut Ibu dengan sedikit meneteskan air mata.
“Jangan nangis ya Bu. Aku sayaang sama Ibu.” Jawab Dika dengan memeluk erat ibunya.

“Ya sudah kamu cepetan mandi ya, terus makan kemudian berangkat sekolah.” Kata ibu dengan menghapus air mata dari pipinya, “Iya Bu.” Jawab Dika kemudian menuju ke kamar mandi. Dan setelah mandi ia bersiap siap dan berangkat ke sekolah. Di saat Ibu dan Dika sedang berbincang sebelum Dika berangkat ke sekolah, Ica kakak Dika meninggalkan rumah tanpa berpamitan dengan Ibunya. Ia pergi menuju rumah temannya dengan menaiki motor. Ibu Ica yang sedang berada di depan rumah kemudian bertanya kepada Ica, dan memegang tangan Ica.

“Nak, kamu mau ke mana?” dengan nada yang memelas Ibu bertanya kepada Ica. Namun seperti orang yang tidak mendengar apa yang Ibunya katakan, Ica pun menarik tangan yang sedang dipegang oleh ibunya hingga ibunya terjatuh. Melihat keadaan itu, Ica tetap tidak menjawab dan kemudian tetap menghidupkan kendaraannya lalu beranjak berangkat ke tempat yang ia tuju. Ibunya merasa sangat tersakiti akan hal itu. Dika yang sedang berada di samping Ibunya pun mencoba menenangkan Ibunya. “Yang sabar ya Bu. Semoga Allah memberikan hal yang membuat Kak Ica tersadar. Ya sudah saya berangkat ke sekolah dulu ya Bu. Assalamulaikum,” Kata Dika sambil berpamitan berangkat ke sekolah. “Iya Nak, hati-hati ya. Waalaikumsalam.” Jawab ibu dengan nada yang sangat pelan.

Di saat perjalanan ke sekolah Dika melihat sebuah keramaian di depannya. Sepertinya keramaian itu adalah sebuah kejadian kecelakaan. Dika pun mendekatinya dan melihat siapa yang sedang mengalami musibah itu. Tiba-tiba detak jantungnya pun semakin kencang karena melihat motor yang Ica bawa tergeletak di pinggir jalan. Melihat hal itu, Dika memberhentikan sepeda dan berlari menuju kerumunan itu. Ternyata orang yang tergeletak dengan banyak darah yang ke luar dari kepalanya adalah Ica kakak Dika. Dengan menangis Dika memeluk Ica dan berteriak memanggil namanya. Saat sedang mencoba mengangkat kakaknya itu, terdengar suara oleh seseorang yang tak asing di telinganya.

“Dika, jaga Ibu dan Kakakmu baik-baik ya. Raih terus impianmu. Ayah akan sangat bahagia jika melihat anakku sukses.” Kata suara yang tak asing itu.
“Ayaaahh… Ayaaahh… Ayaaaahh..” kata Dika sambil mencari dari mana datangnya suara itu.

Di saat sedang mencoba darimana datangnya suara itu, terdengar suara mobil ambulans yang datang menghampirinya dan membawa kakaknya ke rumah sakit. Saat di perjalanan Ica kakak Dika memanggil nama, “Ibuu.. Ibuu..” dengan keadaan yang masih belum tersadar. Dika pun kaget dan mencoba menenangkannya. Dika pun segera menghubungi ibunya yang sedang berada di rumah. Ibu Dika pun seketika kaget dan sangat terpukul akan kejadian itu. Dengan suasana yang sangat terpukul Ibu Dika berangkat ke rumah sakit dengan keluarganya. Sesampainya di rumah sakit Ica pun langsung diberi perawatan di ruang ICU dan Dika menunggu sendirian di luar ruangan. Beberapa menit kemudian Ibu Dika beserta paman dan kakeknya telah datang dan menuju ruangan di mana Ica dirawat.

“Dika, gimana keadaan Kakakmu? Dia baik-baik saja kan?” tanya ibu kepada Dika.
“Kakak sudah dirawat di dalam Bu. Kata dokter kita disuruh untuk menunggu di luar dan berdoa.” Jawab Dika pada Ibunya. Satu jam pun berlalu. Dan terdengar suara pintu terbuka oleh tangan dokter yang menangani Ica dari kamar tempat di mana Ica sedang dirawat. Melihat dokter yang sudah ke luar dari ruangan itu, Ibu Ica bertanya tentang keadaan Ica.

“Bagaimana keadaan anak saya dok?” tanya Ibu pada dokter yang merawat Ica.
“Sebelumnya Ibu tenang dulu ya. Karena terjadi benturan keras yang mematahkan tulang kaki anak Ibu, jadi harus dilakukan operasi pada kaki anak Ibu.” Jawab dokter itu.
“Subhanallah… iya dok, lakukan yang terbaik untuk anak saya dok. Sekarang apakah saya boleh menengok anak saya dari dalam?” tanya ibu pada dokter itu.
“Iya boleh Bu, tapi dimohon jangan berisik. Ya sudah saya permisi dulu yaa,” jawab dokter itu.
“Iya dok, terima kasih.”

Dika dan Ibunya pun kemudian masuk ke dalam ruangan tempat di mana Ica dirawat. Ibu Ica pun menangis melihat keadaan anak putrinya tergeletak tak berdaya di atas kasur rumah sakit. Dengan memegang tangan Ica, ibu berkata dan berdoa kepada sang pencipta, “Ya Allah, berikanlah yang terbaik kepada anak saya Ya Allah. Senakal-nakalnya dia kepadaku, aku sangat menyayanginya Ya Allah.” kata Ibu dengan meneteskan air mata yang mengalir di pipinya. Entah karena mendengar suara doa dari ibunya itu, tiba-tiba Ica terbangun dan memegang erat tangan ibunya dan berkata.

“Ibuuuu, maafin Ica ya Bu. Selama ini Ica telah berani kepada Ibu. Bahkan kelakuan Ica sering membuat Ibu menangis. Maafin Ica ya Bu.” Kata Ica dengan suara yang sangat lemah.
“Icaaa.. iya nNak, senakal-nakalnya kamu kepada Ibu, Ibu tetap sayang kepadamu Nak.” Jawab Ibu kepada Ica. Sementara itu melihat keadaan yang terjadi, Dika menghampiri Ica dan Ibunya kemudian memeluk mereka erat-erat. Dika berkata kepada Ica dan ibunya, “Ayah akan sangat bahagia melihat kita bahagia di sini Bu. Dan aku berjanji kepada Ibu, Ayah dan Kakak, aku akan terus semangat menggapai mimpi dan cita-citaku.” Kata Dika memeluk Ica dan Ibunya.

Akhirnya setelah melakukan operasi pada kakinya, Ica dapat kembali berjalan dan beraktivitas dengan normal. Setelah kejadian ini pun Ica berubah menjadi anak yang penurut kepada Ibunya. Ica yang dulu sangat amat berani dengan orangtua yang mengandungnya selama sembilan bulan itu, sekarang menjadi anak yang penurut dan berbakti kepada satu-satunya orangtua yang masih ia miliki itu. Sementara dengan Dika, ia semakin semangat mengejar cita-cita dan sebuah impian yang akan ia capai. Dan akhirnya sekarang keluarga kecil ini menjadi sebuah keluarga yang harmonis, dan bahagia selamanya.

Cerpen Karangan: Cahya Prana W. U
Facebook: Cahya Prana

Cerpen Pelajaran Untuk Kakak merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Terlalu Cepat Kau Pergi

Oleh:
Di tengah kesunyian malam. Suara jangkrik terdengar begitu keras. Desir air bersorak begitu ria. Cahaya rembulan tampak tersenyum di malam itu. Dimas, sang pemuda tanggung yang menjadi tulang punggung

Monochrome Rainbow

Oleh:
“Aku sudah tau semuanya, termasuk penyakit yang kau derita.. Tidak apa, aku tidak akan marah.. Aku ingin kita lebih terbuka sekarang, jadi aku akan memberitahukan sedikit rahasiaku padamu… Hidupku

Mendung di Akhir Senja

Oleh:
Malam ini, entah mengapa, Hamid merasakan kantuk yang teramat sangat. Bagai semburan radiasi TV yang tiada habisnya tatkala dihidupkan. Ia sedikit memaklumi, ia belum tidur pada siang ini. Waktunya

Berkaca Sebelum Menghina

Oleh:
Dika adalah seorang anak yang kaya raya dan sangat manja, namun di kelasnya Dika adalah seorang ketua kelas. Entah mengapa, dari dulu dia berwatak angkuh dan suka menghina teman-temannya

Ilmy Berbohong

Oleh:
“Assalamualaikum! Bun! Pah! Dek Dhesmi!!!” salam Ilmy (baca:ilmi) seraya membuka sepatu di depan pintu. Ia sehabis pulang sekolah. “Waalaikum salam, kak Ilmy!!” jawab Adik kandung Ilmy yang masih TK,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *